Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact

SEJAK awal tahun, aku sudah tidak percaya lagi dengan kebetulan. Hidup. Aku terlalu bermakna, hal sesederhana apa pun akan memiliki arti. Lagi pula terlalu dangkal tidak, sih, menganggap sesuatu yang kebetulan dengan “kebetulan belaka”? Awalnya aku juga begitu, menganggap kebetulan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah itu keajaiban? Kapan lagi, kita menyaksikan dan mengalami fenomena ajaib yang terjadi di tengah kehidupan biasa-biasa saja ini?

Kemarin aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong karya Taufiq RH yang memberikan perspektif. Betapa Allah hadir dalam hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Saking kecilnya, hanya dianggap layaknya angin yang berembus sepersekian detik. Padahal angin itu tidak akan berembus tanpa ada pengendali, kan? Ada sesuatu di baliknya. Begitu pun dengan momen-momen kecil yang kita pikir tidak terlalu penting sehingga terabaikan. Pasti ada pengendalinya. Pasti ada yang mengizinkan momen itu terjadi. Dikendalikan dan diizinkan oleh sesuatu yang amat besar dan kuasa, Dialah Allah.

Itulah jejak-jejak Allah, di baliknya ada sebuah pesan terselip. Bisa jadi pesan penghibur lara atas doa yang belum juga terkabul. Seakan-akan Allah ingin berkata bahwa percayalah kepada-Nya, pilihan Allah tidak pernah salah. Bisa jadi pesan itu adalah petunjuk. Seakan-akan Allah sedang menuntun kita untuk kembali ke jalan-Nya. Betapa baiknya Allah, hadir di setiap kesederhanaan. Memeluk di momen yang mudah dijangkau. Itu artinya Allah tidak pernah meninggalkan kita, barangkali kita yang perlahan-lahan meninggalkan-Nya. Mulai sekarang, aku ingin mengajak kamu untuk mengubah sudut pandang tentang kebetulan. Memang tidak ada yang kebetulan, kok, bukankah segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah? Pasti ada pesan. Pasti ada makna yang baik.

Satu tahun belakangan, banyak sekali kejadian-kejadian kecil yang membuat aku merasa Allah masih peduli dengan aku. Tadinya aku ragu, aku banyak sekali dosa, bukan manusia yang baik. Namun, makin ke sini, makin sadar dan terenyuh. Bahkan dari masa lalu, banyak sekali jejak-jejak Allah yang menolong aku. Aku tidak ingin momen-momen itu hanya terekam di kepala. Pada tulisan kali ini, aku ingin lebih bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkanku.

Makanan-Makanan di Kepala yang Tiba-Tiba Terhidang

Kadang-kadang aku tipe yang loyal dengan diri sendiri, lagi mau makan apa, tidak peduli sisa uang yang terpenting kebutuhan banyak mau terpenuhi. Namun, ada juga kalanya jadi pelit dengan diri sendiri, biasanya dikarenakan ada kebutuhan lain yang lebih urgen atau masih merasa sayang dengan sisa uang yang ada. Pada akhirnya kalau sedang dalam fase tipe kedua, aku lebih banyak mengubur keinginan-keinginan itu di dalam kepala. Nanti saja, deh, untuk saat ini masih belum perlu. Namun, pernah tidak, ketika keinginan itu hanya terkubur di dalam kepala tanpa diucapkan satu kata pun. Jangankan dikatakan, didoakan dalam hati pun tidak. Maksud aku, ini masalah sepele yang tidak perlu aku harus berdoa untuk meminta. Namun, ternyata sesuatu yang ada di kepala itu hadir secara nyata dalam jangka waktu dekat.

Misalnya Oreo, iya, Oreo. Kenapa tidak beli di warung saja? Toh, harusnya tidak sampai lima ribu. Bukan, bukan itu yang aku mau. Kamu tahu, kan, Oreo yang isi banyak dan kemasan panjang? Biasanya hanya tersedia di minimarket. Masalah lainnya aku tidak bisa kemana-mana sendirian. Akhirnya keinginan makan Oreo hanya menjadi isapan jempol. Aku berpikir bahwa itu hanya kemauan yang sifatnya sesaat, besok atau lusa pasti sudah tidak mau lagi, jadi lupakan saja. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Aku lupa, tetapi dalam waktu beberapa hari kemudian, Tanteku memberikan kemasan Oreo persis seperti yang aku mau. Itu satu.

Kedua. Malam hari, aku sedang chatting-an dengan Eka. Aku lupa kala itu bahas tentang apa, tetapi yang jelas pada chat itu aku berseletup bahwa tiba-tiba menginginkan bubur ayam. Aku sadar bahwa itu hanya keinginan sesaat dan tidak begitu penting. Jadi, lagi-lagi aku abaikan dan lupakan, kemudian lanjut tidur. Besok harinya, ketika matahari sudah terbit pertanda waktunya sarapan. Aku menuju meja makan dan sudah terhidang semangkuk bubur ayam. Siap untuk aku makan dengan hangat di pagi hari. Apa ini maksudnya? Tidak mungkin, kan, Tanteku menyadap WhatsApp aku?!

Ketiga. Dulu, waktu Ibu masih ada, aku beberapa kali pernah memakan ayam serundeng. Ini menjadi salah satu jenis makanan yang aku suka karena memang bumbunya sangat kuat. Lagi-lagi malam hari, berkhayal kira-kira di mana kok bisa mendapatkan atau memesan ayam serundeng? Balik lagi karena aku jarang keluar rumah dan tidak pernah eksplorasi kuliner, aku tidak tahu. Dan, aku juga tidak mau cari tahu, toh, aku juga tidak terlalu menginginkannya. Hanya terbayang di kepala dan menahan diri. Namun, esok harinya ketika aku buka tudung saji. Ta-da, ayam serundeng terhidang dengan nikmat. Ingat, ya, aku sama sekali tidak mengucapkannya. Dan, aku yakin, Tanteku bukan seorang mind reader.

Ada lagi! Jangan khawatir~

Keempat. Bulan lalu ketika aku sedang ingin makan chicken katsu. Kali ini aku tidak memendamnya atau mengubur keinginan di kepala. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk memesan online di outlet Gokatsu. Sore itu aku cukup puas dan senang menyantap chicken katsu. Kemudian bungkus kotaknya langsung aku buang ke tempat sampah bersamaan dengan struknya. Besok pagi ketika akan sarapan, betul dan tentu saja, terhidang satu piring chicken katsu. Fiks, Allah betul-betul sebaik itu.

Aku yakin kejadian itu tidak hanya sekali dua kali.

Jasmine Tea

Jadi, belakangan aku mulai menyiapkan pengharum ruangan untuk di kamar. Kemudian aku membeli pengharum ruangan Stella berbentuk spray. Tinggal semprot jadi harum semerbak. Dikarenakan aku cukup Gen Z, waktu itu aku membeli aroma kopi latte. Secara wangi, sih, harum, tetapi aromanya tidak cocok untuk tipe kamarku. Sebetulnya sebelum membeli aku cukup tertarik dengan satu wewangian bernama Jasmine Tea. Hanya saja aku cukup ragu untuk membelinya karena takut baunya seperti menyan. Konyol, sih, tetapi itu memang alasan yang terlintas di kepala. Sambil menghabiskan pengharum ruangan coffe latte, nantinya aku berniat untuk mencoba wangi Jasmine Tea.

Tidak perlu menunggu waktu lama. Di hari Minggu yang cukup panas. Biasanya aku beraktivitas di lantai bawah. Siang harinya baru ke kamar yang terletak di lantai atas. Baru saja masuk kamar, wangi teh langsung menyergap indra penciuman. Udara yang begitu hangat dan nyaman, sampai-sampai aku enggan untuk keluar kamar lagi. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah di kamarku. Namun, masalahnya, mataku tidak mampu menangkap detail objek yang ada di sekitar. Jadi, aku hanya mengira-ngira pengharum ruangan ini pasti disemprot oleh Tanteku.

Sehari berlalu, ketika tanteku naik ke kamarku sambil memberikan camilan. Di saat itulah aku bertanya, “Mama ini wangi teh dari mana? Pengharum ruangan, ya?”

Tanteku menjawab, “Oh, iya. Ini wangi Jasmine Tea. Mama gantung di jendela kamar Vina.”

Ini terlalu spesifik tidak, sih? Kok, bisa, ya?

Progress, Bukan Perfection

Hari Sabtu malam, aku melanjutkan bacaan buku Tuhan Engkau Pembohong yang belum rampung. Aku membaca sampai di hal yang membahas tentang jejak-jejak kecil Allah dalam hidup manusia. Seperti yang sudah aku jelaskan di awal, bahwa Allah hadir di setiap momen kecil yang tidak disadari. Momen yang sering dianggap sebagai suatu kebetulan. Padahal tidak ada namanya kebetulan. Apakah dunia ini hadir karena kebetulan? Tentu tidak. Begitu pun dengan momen kecil dalam hidup kita. Ada alasannya.

Kemudian, aku menyelesaikan bacaan sampai di halaman 184. Setelah rampung 10 halaman yang dibaca hari itu, aku laporan ke grup Next Page Challenge (NPC). Challenge next level membaca dari Komunitas 30 Hari Membaca. Masih tersisa sekitar 60 halaman lagi untuk menyelesaikan satu buku ini. Kemudian aku melanjutkan produktivitas dengan menyusun outline untuk konten carousel Instagram: Vina Growth untuk dipublikasikan besoknya di hari Minggu.

Dan, di akhir script outline pada sub self reminder, aku menuliskan: Focus on progress, not perfection. Sebagai penutup Carousel dan motivasi diri sendiri. Minggu siang, setelah aku meng-input script tersebut ke dalam desain Canva, aku melanjutkan bacaan buku tadi malam. Mulai dari halaman 186 dan akan berakhir di 195. Kemudian aku terpaku pada satu kalimat judul di halaman 187. Coba tebak. Apa yang aku baca? Di judul tersebut tertulis: Progress, bukan Perfection. Iya. Satu kalimat yang sama persis dengan apa yang aku tulis tadi malam. Persis. Padahal, aku semalam tidak melanjutkan bacaan karena memang sengaja dilanjutkan besok. Namun, apa yang dibahas pada Sabtu malam tentang jejak-jejak kecil Allah, langsung terjadi esok harinya.

Aku yakin ini bukanlah momen kosong. Ini adalah pesan dari Allah untuk aku semangat produktif dan ... kembali kepada-Nya. Momen yang sangat tepat karena aku sudah memulai produktivitas personal. Aku sedang membuka blokade mental yang selama ini terkunci rapat. Allah sedang menghilangkan keraguan besar dalam hidup aku. Dua keraguan sekaligus: keraguan bahwa aku tidak mungkin berhasil dan keraguan bahwa apakah Allah masih peduli? Namun, kejadian hari itu, sudah sangat membuktikan bahwa Allah akan selalu peduli dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

CARA dunia memandangku, tidak beda jauh dengan caraku melihat diri sendiri. Sering kali, ketika mematut diri di layar ponsel—entah saat kamera menyala atau hasil potret. Kalau dilihat-lihat sebetulnya tidak buruk juga, kok, lumayanlah. Hanya saja, di balik tampang yang lumayan itu, ada sisi gelap yang masih terlalu mendominasi. Sisi yang berasal dari masa lalu dengan segala sisanya. Sisanya terlalu banyak, atau bahkan sisanya tidak pernah pergi. Sisa-sisa yang tetap singgah bertahun-tahun, sampai membentuk luka mendalam.

Belakangan, aku sedang mengalami krisis harga diri, cukup parah. Bukan tentang gengsi atau prestise, ini soal pengakuan, validasi, penganggapan, dan penghargaan. Sesuatu yang dahulu sulit sekali didapatkan—bahkan tidak pernah aku rasakan. Kalau di kelas, aku terbiasa duduk sendirian. Kalau di rumnah, aku terbiasa bermain dan sibuk sendiri. Kalau di tengah-tengah circle pertemanan, aku lebih sering mendengar. Padahal, aku ingin sekali ada seorang teman yang menghampiriku di kelas. Aku ingin sekali suaraku didengar di rumah. Dan, Aku ingin sekali ceritaku didengarkan. Namun, kenapa aku tidak pernah mendapatkannya? 

Banyak sekali asumsi yang berputar di kepala.

Pertama, faktor fisik yang tidak menarik. Tidak bisa dinafikan, penampilan menjadi visualisasi paling awal yang terlihat dan ternilai. Sementara aku tidak punya daya tarik yang memikat visual orang-orang. Aku jauh dari frasa biasa-biasa saja. Pakaianku sering lusuh, bahkan beberapa teman berkomentar soal noda pakaianku. Terkadang ada juga yang mengatakan bahwa hijabku tidak rapi. Mendengar itu, aku merasa malu sekali. Aku makin menarik diri dan perlahan-lahan pikiran berbisik, “Sepertinya sendirian lebih baik.”

Kedua, aku tidak tahu caranya bergaul dan bersosialisasi. Awalnya aku pikir berteman itu mudah karena ketika masa kecil semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika memasuki remaja, bertemu banyak orang-orang baru. Kenapa mencari teman jadi terasa sulit? Aku tidak bisa berkomunikasi yang asyik dan seru. Bisa dikatakan, pengetahuan dan referensi aku tentang kehidupan amat minim. Aku meyakini bahwa setiap pembicaraan di antara manusia dapat terjadi ketika si manusianya sama-sama punya referensi dan frekuensi yang sama. Kadang-kadang aku masih merasa seperti anak kecil yang terjebak di tubuh anak remaja. Oleh karena itu, aku lebih banyak diam daripada berbicara. Sebab aku tahu, ketika aku berbicara, yang terdengar hanyalah sesuatu yang tidak penting. Jujur saja, ada masanya aku jijik mendengar suara sendiri.

Dan, aku juga tidak punya kehidupan menarik yang layak diceritakan. Biasanya obrolan pertemanan dihiasi dengan cerita-cerita kehidupan mereka yang seru untuk didengar dan diceritakan. Apa lagi, mereka tidak ragu-ragu dan antusias ketika menyampaikan cerita, sehingga yang mendengar pun ikut masuk ke dalam cerita. Kendalaku adalah. Selain tidak punya cerita hidup yang menarik, aku lebih banyak ragu dan tidak begitu percaya diri untuk menyampaikan cerita. Bukan hanya cerita yang tidak menarik, melainkan ada rasa takut jika ceritaku tidak seru, takut ketika ceritaku tidak didengar, takut ceritaku hanya dianggap angin lalu yang tidak penting.

Ketiga, aku bodoh. Tidak bisa dimungkiri dalam suatu circle pertemanan pasti ada sesuatu yang menjadi timbal balik. Realitasnya tanpa disadari suatu hubungan hadir karena adanya transaksional. Sesederhana kita merasa nyaman dengan seseorang, rasa nyaman itu sebetulnya timbal balik dari reaksi orang tersebut terhadap kita. Artinya ketika kita punya kelebihan, orang-orang tidak akan menjauh. Memanfaatkan di sini bukan berarti buruk, ya, but in a good way. Dan, aku sama sekali tidak pintar. Baik secara akademis maupun nonakademik. Lagian siapa sih yang mau mendekat atau berteman dengan orang bodoh, tidak tahu cara bergaul dan berbicara, serta tidak memiliki daya tarik?

Seakan-akan semua bentuk keburukan dan kejelekan ada di dalam diriku. Dari situ aku merasa wajar ketika tidak ada orang yang mengakui aku ada. Jarang sekali ada orang yang menganggapku ada. Lebih banyak diam dan mendengarkan di suatu circle pertemanan. Sampai ada di titik, aku merasa rendah bukan hanya karena sikap dan penilaian orang lain, melainkan aku ikut serta merendahkan diri sendiri. Sehingga aku tidak punya siapa pun lagi yang benar-benar berdiri di pihakku.

Pola pikir dan perilaku itu tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk dari pengalaman dan peristiwa selama bertahun-tahun. Bukan hanya soal waktu, melainkan juga hampir semua lingkungan—tanpa disadari—berperan dalam menentukan siapa aku hari ini. Tidak jarang, aku sering menyalahkan orang-orang di sekitar. Tentang mereka yang tidak pernah menganggap dan mendengarkan aku, sehingga aku merasa tidak dihargai. Aku berasumsi hari-hariku yang kosong dan menyedihkan ini disebabkan oleh mereka yang tidak pernah datang menemaniku. Alasanku sulit bergaul dan tidak bisa berkomunikasi adalah karena aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk didengar. 

Kemudian aku di hari ini kembali mencoba untuk mempertanyakan, atau lebih tepatnya memastikan betul-betul. 

Apakah mereka adalah pelakunya? 

Bagaimana kalau ternyata aku yang salah? Aku pelakunya? 

Bagaimana kalau ternyata mereka tidak pernah merendahkan aku? 

Dan, bagaimana kalau ternyata selama ini dalang utamanya adalah pikiranku yang terlalu negatif?

Banyak pertanyaan berkecamuk ketika berkelana ke masa lalu dan menelisik apa yang menjadi penyebab aku merasa tidak dihargai. Bukannya aku mau mendiagnosis, aku hanya ingin menapak tilas lagi ke masa lalu. Memastikan apakah orang-orang melakukan kesalahan sesuai asumsiku Belakangan aku jadi berpikir dan bertanya-tanya. Kalau memang aku merasa tidak menarik, kenapa aku tidak mencoba memperbaiki penampilan? Kalau memang tidak ada teman yang mengajakku berbicara, kenapa aku tidak mengajak bicara lebih dulu? Ketika aku ingin didengarkan, kenapa aku tidak mencoba untuk bercerita? Ketika aku merasa tidak ada yang menemani, kenapa aku tidak memulai untuk berteman? 

Sederhana, tetapi butuh waktu sepuluh tahun lebih untuk menyadari pertanyaan-pertanyaan itu. Bahwa dunia ini tidak hanya berputar di aku saja. Kalau mereka tidak nyaman denganku, pasti ada yang salah dengan diriku. Hak mereka juga untuk mendengarkan atau menjadikanku teman. Kenapa aku harus marah dan sampai harus menganggap bahwa mereka tidak menghargaiku? Lagian mereka juga tidak bertanggung jawab atas hiduku, aku yang harusnya bertanggung jawab atas diri aku sendiri. Kenapa aku harus memaksa orang lain untuk menganggapku ada? Kenapa aku harus mengais validasi orang lain untuk mengakuiku? Kenapa aku harus menuntut selalu didengarkan untuk dianggap keberadaanku? Kenapa harus mereka? Kenapa bukan aku?.

Lantas, Apa yang membuat aku ingin sekali dihargai? Sederhana. Aku ingin diakui. Atau bahkan, sisi jahatnya, Aku ingin menjadi pusat perhatian.

Lagi pula bagaimana orang lain bisa menghargai aku, kalau aku saja tidak menghargai diriku sendiri? Bagaimana orang lain bisa menganggapku ada, kalau aku saja masih menarik diri? Bagaimana orang lain mau memvalidasi aku, sementara aku tidak pernah memvalidasi diri sendiri? Aku sadar kesalahan terbesarku adalah ketika aku berasumsi penilaian dan validasi diri sendiri adalah sesuatu yang tidak penting. Malah menganggap penilaian dan validasi dari orang lain adalah krusial dan bahkan dijadikan acuan. Kalau begitu artinya aku adalah orang yang haus perhatian. Dan, aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. 

Aku ingin jadi seseorang yang berdiri di atas kaki sendiri. Bukan egois dan bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya perlu berjalan di atas kaki sendiri, bukan berjalan di atas kaki orang lain. Jadi ketika sendirian, aku punya kakiku. Ketika ada orang lain, aku hanya berjalan di samping kaki mereka. Aku harus mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Tidak boleh lagi menyalahkan orang lain yang tidak terlibat. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan atau bahkan masa laluku. Siapa aku hari ini tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi aku hari ini ditentukan oleh diriku sendiri. Aku telah salah menilai orang lain. Dan, aku salah besar karena telah meninggalkan diri sendiri. Sekarang aku mencoba hadir sepenuhnya untuk diriku sendiri. Aku punya kaki untuk berjalan sendiri. Aku punya telinga untuk mendengarkan hatiku. Aku punya tangan untuk memeluk diriku sendiri. Aku punya pikiran dan hati yang perlu dijaga agar selalu berada di ranah positif. Aku ingin tumbuh menjadi diri yang apa adanya dan versi terbaik. 

Bisa jadi selama ini alasan aku ingin sekali dihargai adalah karena aku tidak pernah menghargai diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk aku mulai menghargai diri sendiri. 





“Tangki hati kamu bukan urusan orang lain, itu tanggung jawab kamu.”

Sekarang aku betul-betul percaya bahwa setiap orang yang hadir dalam hidup aku, akan selalu punya alasannya masing-masing. Mereka bukan hanya datang dan pergi, melainkan setiap jejaknya akan selalu memberikan arti. Salah satunya pada suatu diskusi daring di salah satu platform media sosial. Seorang perempuan yang tegas, cerdas, dan apa adanya. Kehadirannya dalam hidup aku cukup singkat, tetapi dari beberapa kali pertemuan itu ada satu perspektif darinya yang mengubah sudut pandangku.

Selama ini aku sudah salah menilai diri aku sendiri, aku gagal mengenal siapakah aku sebenarnya? Aku berusaha untuk selalu all out terhadap apa yang aku lakukan ke orang lain. Ada kalanya aku berupaya mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Menahan diri agar tidak membuat orang kesal atau marah kepadaku. Memosisikan diri menjadi pendengar yang baik bagi siapa pun yang butuh telingaku. Semua itu baik, tetapi sesuatu yang baik menjadi tidak menjadi baik ketika niat dan tujuannya salah.

Aku pikir, aku telah berubah menjadi versi terbaik. Memang betul, mungkin orang lain melihatnya baik, tetapi sekarang sudah bisa melihatnya dan hatiku mulai berlubang-lubang. Aku tidak sebaik itu, aku tidak pernah menjadi baik untuk orang lain, apalagi untuk diri aku sendiri. Aku memang berubah, tetapi aku berubah menjadi sosok pendendam. Dendam atas masa lalu yang tidak pernah menyajikan kebahagiaan. Dendam akan masa lalu yang melulu menorehkan luka. Kemudian, aku berubah menjadi si pemeran ulung yang berperan tanpa hati. Hanya mempertahankan apa-apa yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Perasaan dihargai. Keberadaan aku yang dianggap. Suara aku yang didengar. Kesalahan yang diberikan kesempatan. Dan … pertemanan yang manis, manis sekali.

Semua itu ternyata hanya topeng, aku sedang berperan. Peran baik yang dirancang sedemikian rupa. Peran baik yang tiba-tiba terbangun begitu saja tanpa memberi sinyal. Protagonis yang tidak mau kembali terjebak dalam masa lalu. Masa lalu ketika aku tidak dihargai, tidak didengar, tidak diberi kesempatan, dan tidak punya teman. Aku ketakutan setengah mati jika masa lalu itu datang lagi. Aku tidak mau lagi berada di lembah senyap yang memberikan. Aku akan mempertahankan mereka yang membuat hidupku terasa penuh makna. Mereka yang kembali melahirkan harapan yang hampir ikut mati. Dengan cara apa pun, aku akan memastikan mereka bertahan, meski aku lelah.

Sebuah cara yang tidak lagi menjadikan aku protagonis. Sebuah cara yang pada akhirnya menjadi bom waktu. Sebuah cara yang justru perlahan tapi pasti, menarikku paksa kembali ke masa lalu. Si protagonis yang kemudian berubah menjadi si antagonis. Tanpa sadar aku menjadi orang yang berpura-pura. Pura-pura mendengarkan, padahal aku adalah orang yang mudah menyerap emosi. Pura-pura selalu ada, padahal ada diri yang perlu diprioritaskan. Pura-pura selalu mengiyakan, padahal hati dan pikiran aku butuh istirahat. Pura-pura baik, padahal aku tidak baik. Pura-pura berlaku dengan hati, padahal hati aku sedang sekarat. Sebuah kepura-puraan yang menjadikan aku tidak tulus, tidak pakai hati. Semua hanya demi kebahagiaan semu yang sulit sekali aku dapatkan sebelumnya.

Sampai bom waktu itu meledak, aku lelah berpura-pura. Ketika tubuhku tidak lagi mau bekerja sama dengan egoku. Ada dua kejadian yang datang dalam waktu bersamaan. Keduanya menjadi pemicu yang kemudian mengambil alih pikiran dan hati. Ketika pikiran dan hati sebelumnya berhasil dikuasai ego, kini pikiran dan hati kembali ke tempat asalnya. Tempat yang membuat pikiran dan hati bisa menjadi diri yang apa adanya tanpa dikekang. Tempat yang menjadikan pikiran dan hati memiliki ruang kendali secara penuh. Pada awalnya, aku lelah setengah mati, roti dari berbagai sisi. Kelelahan yang berasal dari tumpukan-tumpukan aksi males validasi.

Peristiwa sifatnya pemicu, bukan penyebab. Dua kejadian yang entah bagaimana bisa datang di waktu yang tidak disangka-sangka dan memutar alur. Ibarat novel, ada adegan flashback. Akan tetapi, bedanya bukan aku yang kembali ke masa lalu. Sesuatu dari masa lalu itulah yang entah sejak kapan berlari melesat ke masa kini. Sesuatu yang aku takut sekali, takut untuk kembali merasa sendirian. Nyatanya, kehidupan sedang menguji nyaliku yang setipis tisu, seringan kapas. Nyali yang terlalu rapuh karena tidak pernah dibiarkan berbenturan dengan masalah. Kehidupan sedang kembali menghadirkan ruang sepi yang kelam. Ketakutan itu menyergap, kencang sekali menggenggam tanganku.

Fenomena putar balik itu tentu bukan tanpa alasan terjadi. Ia datang membawakan catatan-catatan berisi kebenaran yang berapa tahun belakangan tidak aku sadari. Kebenaran yang membuat koleksi topeng di lemari menumpuk. Kebenaran yang tanpa sadar memaksa diri mengisi daya energi. Padahal topeng adalah benda mati yang tidak bisa mewakili perasaan. Dan, ponsel yang terus-menerus diisi daya tanpa henti pada akhirnya akan rusak. Aku tidak menyadari karena dikuasai ego. Kemudian bom waktu meledak ketika pikiran dan hati berontak. Sudah terlalu lelah dan penuh oleh kebohongan. Sudah tidak bisa diteruskan atau jika dipaksakan untuk terus berpura-pura. Mungkin aku akan menjadi orang yang mati rasa dan hidup tanpa hati.

Dan, aku memilih untuk membiarkan bom waktu itu meledak dan memporak-porandakan kehidupan yang tadinya aku pertahankan setengah mati. Awalnya aku biarkan karena aku menyerah pada kelelahan yang menyiksa. Membiarkan orang-orang pergi satu per satu karena kesalahanku sendiri. Aku sendirian lagi karena kejahatan yang aku perbuat. Itu setimpal dan aku menerima. Namun, ada satu orang yang kemudian memilih bertahan daripada menjauh. Seseorang yang aku minta untuk pergi saja dari aku yang tidak baik. Seseorang yang merupakan salah satu dari pemicu bom waktu. Dia adalah pemicu yang indah di tengah-tengah perang-pertanda perasaan. Seseorang yang membuatku tidak benar-benar sendirian. Dia yang mengenalkan aku dengan seseorang yang mengingatkanku bahwa tangki itu tanggung jawabku.

Lantas apa hubungannya dengan tangki? Dan, tangki apa yang dimaksud?

Sederhana. Aku salah karena berteman dan berelasi demi validasi. Kenapa aku harus mengais validasi? Tidak lain dan tidak bukan untuk mengisi tangki hati yang tidak pernah penuh. Tangki hati yang terdiri dari perasaan dihargai, perasaan ditemani, dan perasaan dicintai. Oleh karena itu, mati-matian aku pertahankan suatu hubungan relasi dan pertemanan demi tangki yang anehnya tidak pernah penuh. Dikarenakan tangki yang tidak pernah penuh, aku terus mengais-ngais validasi dari mereka. Akibat terlalu fokus mengisi tangki, aku melupakan bahwa hubungan pertemanan dan relasi dibutuhkan ketulusan. Dan, sampai kapan pun tangki hati itu tidak akan pernah penuh karena sejatinya pensi tangki yang banyak adalah diri sendiri bukan orang lain.

Tangki aku yang tidak pernah Terisi dengan penuh itu karena aku meminta dari orang lain yang tidak punya kapasitas untuk mengisinya. Padahal pengisi tangki yang sesungguhnya adalah diri aku sendiri, bukan orang lain. Memang orang lain dapat mengisi tangki itu, tetapi bukan untuk memenuhi. Akulah yang bertugas memenuhi tangki hati aku sendiri. 

Impian

SAMPAI saat ini aku masih merasa hidup sebagai penumpang saja. Penumpang yang tidak tahu harus menuju ke mana? Bagi aku, tujuan hidup, seperti dongeng yang tidak mungkin terjadi dalam hidup aku. Sebagai penumpang, aku hanya mengikuti ke mana pun arah pergi si kapal.

Aku, dari yang heran sampai tidak heran lagi kalau melihat orang lain berambisi meraih impiannya. Awalnya aku bertanya-tanya tentang apa yang membuat mereka begitu berambisi? Seiring berjalannya waktu, aku tidak pula menemukan jawaban memuaskan. Untuk apa? Kenapa?

Katanya impian yang berhasil diraih adalah kebahagiaan. Bahagia, ya? Meskipun jawabannya tidak memuaskan, aku dapat melihat betapa orang-orang itu begitu bergairah dan rela jatuh tersungkur hanya demi sesuatu yang mereka idam-idamkan. Aku tidak menafikan bahwa dengan proses perjuangan sebegitunya, lantas berhasil memeluk impiannya. Memang sudah sepantasnya, impian adalah bagi mereka yang layak.

Sementara aku? O, ingat, kan, aku ini hanya penumpang tidak jelas. Kerjaannya hanya memandang langit dan hamparan laut yang tidak pernah berubah bentuk. Namun, setiap pergantian waktu, pagi ke siang, lalu sore hingga malam, sampai matahari merekah kembali. Menunjukkan bahwa hari terus melaju, tidak pernah berbalik arah.

Persis. Aku adalah laut dan langit yang tidak pernah berubah. Matahari dan bulan adalah kehidupan yang terus melangkah. Bedanya, langit dan laut amat berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara aku? Jangankan orang lain, untuk diri sendiri saja tidak ada gunanya. Sialan, mengenaskan sekali aku jadi manusia. Aku mengembuskan napas berat, berat sekali seperti pikiran aku. Pikiran yang menjadi my love-hate relationship.

Sebetulnya aku punya impian, kok, dan hampir saja berambisi untuk meraihnya. Bahkan aku punya beberapa cita-cita yang bergantian seiring berkembangnya diri. Pernah aku ingin menjadi arsitektur karena melihat dan menemukan buku desain interior di meja kerja Papi. Sampai aku pernah membuat desain rumah di beberapa aplikasi seperti Floor Plan, Planner 5D, One Room, bahkan Minecraft. Namun, rasa-rasanya tidak mungkin, ya, terlalu tinggi.

Pernah ada momen sederhana yang polos ketika kelas 4 SD. Waktu itu teman satu kelasku, Adis sedang berulang tahun. Tiba-tiba aku kepikiran meraih buku tulis, pensil, penghapus, dan penggaris. Kemudian membuat sketsa denah rumah sederhana. Setelah selesai, aku sobek bagian kertas itu dan kulipat. Besoknya aku berikan ke Adis sebagai kado ulang tahun. Pada masa itu aku menyalurkan kesukaanku terhadap desain rumah melalui membuat sketsa denah rumah di kertas atau di buku tulis ) sebelum mengenal aplikasi digital).

Kemudian ketika sudah naik kelas—antara 5 atau 6 SD, Mami pernah bertanya tentang cita-cita aku. Dengan polos aku menjawab ingin menjadi guru agama Islam, spesifik. Mungkin karena pada saat itu era aku rajin mengaji ke TPA setiap sore, bahkan siang terkadang harus mengaji private di rumah Abi. Ditambah pelajaran selama SD yang aku suka adalah agama Islam—satu-satunya pelajaran yang mudah aku pahami.

Namanya seorang Ibu, maklum, ya, menceritakan tentang cita-cita anaknya ke tetangga. Sampai-sampai tetangga sebelah rumah aku memberikan hadiah Al-Qur'an yang bagus sekali, tidak diperjual belikan, lembarannya tebal, fon arabnya mudah dibaca.

Aku ingat betul satu kejadian hangat. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas 6 SD. Mami sedang membantu aku mengenakan seragam merah putih. Aku berceletuk, “Mi, Vina mau pakai kerudung, dong!”

Sambil tersenyum, Mami menjawab dengan penuh pengertian, "Boleh. Tapi, nanti aja kalau udah masuk SMP, ya? Nanggung soalnya.”

Pada awalnya ketika sudah masuk SMP, aku masih belum mengenakan kerudung karena menunggu seragam putih birunya selesai dijahit. Ketika masuk bulan Ramadan, para murid diwajibkan mengenakan busana muslim. Dan ini adalah titik awal aku istikamah mengenakan kerudung sampai saat ini. Setidaknya aku masih punya sikap-sikap berjuang menjadi guru agama Islam meskipun dari hal sederhana.

Ketika kelas 9 SMP, cita-citaku berubah. Bu Endang—guru BK—mempertanyakan hal yang sama kepada seluruh murid di kelas, “Sebutkan cita-cita kalian sambil berdiri dari kursi.”

Ingat betul, saat itu aku menjawab dengan lantang, “Aku ingin menjadi penulis!”

Ya. Pada akhirnya aku punya satu cita-cita tetap yang tidak pernah berubah sampai detik ini. Pada masa remaja, era Facebook sedang ramai dan masih ada fitur Notes. Aku suka sekali membaca cerita bersambung fan fiction. Kemudian merambah ke novel-novel remaja. Dari situ aku mulai tertarik untuk menulis cerita pendek. Dan, dengan sadar aku memutuskan untuk bercita-cita ingin menjadi penulis.

Memang, sih, dari satu cita-cita ke cita-cita lain cukup random. Namun, semua itu menjadi sejarah yang pernah ada. Bahwa aku pernah punya cita-cita. Mungkin kamu bertanya-tanya kepada aku, “Bukankah kamu masih bercita-cita jadi penulis? Sampai saat ini, kan, tadi kamu bilang?”

Ah, soal itu. Masih ada satu fase hidup yang belum aku ceritakan. Tepatnya ketika aku sudah menjadi anak SMA. Senang betul ketika pemilihan kelas terdapat opsi bahasa. Dengan cita-cita menjadi penulis, tentunya aku memilih minat kelas bahasa. Namun, kesenian itu hanya bertahan di awal karena peminat bahasa sedikit, pada akhirnya aku memilih IPA. Dan, ini menjadi awal aku tidak percaya diri dan berpengaruh terhadap sikap aku meraih impian. 

Masa putih abu-abu itu masa yang berwarna bagi banyak orang. Akan tetapi, bagi aku, putih abu-abu adalah titik terendah dalam hidup. Aku tidak tahu caranya bersosialisasi dan bergaul dengan teman sekelas. Waktu kelas 10, aku duduk sendirian di depan, sendirian. Aku tidak punya teman ngobrol yang intens. Aku benci sekali kalau sudah pembagian tugas kelompok. Aku sama sekali tidak mendapatkan jatah kisah romantis SMA seperti yang kubaca di novel-novel remaja. Bahkan aku tergolong murid yang bodoh.

Bukankah itu ciri-ciri manusia tidak berguna? Manusia yang tidak berguna memangnya pantas apa dalam hidup ini? Wajar tidak punya teman yang mendekat, wajar tidak ada lelaki yang datang memberi hati, wajar saja, pantas saja. Aku memang tidak se-berguna itu. Lantas,. mengapa aku begitu percaya diri sekali untuk menjadi.penulis? Penulis terlalu mengagumkan untuk aku yang tidak ada apa-apanya. Yang benar saja?!

Mulai dari situ, penulis hanyalah sebatas impian. Impian yang terlalu muluk. Ada perasaan tidak layak dan malu. Jangankan meraih, untuk berproses dan berjuang saja aku merasa tidak layak, tidak pantas. Bayangan diri aku sebagai penulis dengan buku-buku best seller hanya ada di kepala, seperti dongeng, mimpi belaka. Dreams come true itu bukan milik aku, dreams come true adalah milik mereka yang pantas dan layak.

Sejujurnya dari tadi yang menulis adalah pikiran dan perasaan aku yang lama dan masih bertahan. Sebenarnya jauh di lubuk hati, paling dalam, ada secercah impian yang begitu lemah. Setiap hari berusaha mati-matian mengelak-mbantah pikiran dan perasaan yang terus memvonis aku tidak berguna. Namun, sayangnya dia terlalu lelah dan tanpa sadar aku abaikan. Hati kecil yang malang.

Menurut kamu apakah aku layak dan bisa.jadi Penulis dengan buku best seller?

MINGGU pagi yang cerah, scrolling Tiktok dan berhenti di salah satu VT dengan username Kandy13. Pada VT tersebut seorang perempuan menceritakan pengalaman sosialisasi dengan penglihatan low vision. Aku sangat relate karena memang aku mengalaminya. Yup, aku adalah orang dengan low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Aku tidak begitu ingat awal mulanya, aku hanya menyadari ada bayangan hitam di mata kanan. Pada saat itu, masih belum tahu istilah medisnya.

Tahun 2025, aku coba check up di Lampung Eye Center, hanya terdeteksi bahwa aku mengalami penurunan penglihatan. Kenapa ‘hanya'? Karena low vision adalah akibat, bukan sebab. Lantas, penyebabnya apa? Aku tidak tahu karena aku masih belum melakukan pengecekan, berhenti ketika dirujuk ke rumah sakit daerah untuk cek autoimun. Banyak alasannya dan aku enggan menceritakannya di tulisan ini. Kalau penasaran, bisa cari dengan keyword My Journeyeling di pencarian blog ini. Aku menceritakan semuanya di situ.

Pada 2026, aku akhirnya menemukan lebih detail terkait gambaran dari low vision yang aku alami. Ingat betul, waktu itu baru selesai meeting komunitas. Sebelum tidur kebiasaan buruk aku adalah scrolling Tiktok. Allah langsung kasih VT mengenai low vision dan gambarannya persis seperti cara aku melihat dunia. Tadinya aku cukup bingung menjelaskan ke orang-orang terkait kondisi mata aku. Sekarang aku tinggal menjelaskan saja bahwa aku mengalami low vision.

Central loss

Melansir situs JEC, low vision adalah kondisi penglihatan mengalami penurunan secara signifikan sehingga cara pandangnya lebih rendah daripada mata orang normal. Low vision adalah kelainan permanen, artinya tidak bisa disembuhkan secara total dengan kacamata biasa atau bahkan operasi. Perlu kacamata khusus dan alat bantu lainnya karena kondisi ini membuat penderita kesulitan beraktivitas normal sehari-hari. Bahkan pengidap low vision juga digolongkan bagian dari tunanetra. Dilansir dari Halodoc, tunanetra sendiri terdiri dari beberapa tingkatan: buta total (total blindness), hampir buta (near-total blindness), dan low vision. Low vision merupakan tingkatan terendah dalam tipe tunanetra. Low vision mengakibatkan pengidapnya tidak bisa membaca dan mengendarai.

Honestly, aku cukup kaget dengan fakta tersebut, dan tiba-tiba jadi sedih. Aku pernah dilanda dilema terkait kondisi mata aku: normal tapi tidak normal, bisa lihat tapi tidak bisa sepenuhnya, secara fisik normal tapi secara gerak seperti orang buta. Aku masih bisa melihat sedikit, tetapi sering nabrak dan meraba-raba. Paham, kan, maksud aku? Terkadang dilema ini membuat aku bingung dan hampir stres. Alhamdulilah sekarang aku sudah tahu dan jelas, intinya aku tunanetra. Meskipun ini tidak bisa divalidasi karena harus check up lebih lanjut. Akan tetapi, setidaknya aku jadi lebih tahu soal kondisi aku secara edukasi. Dan, memang informasi ini tidak banyak orang tahu sehingga banyak orang memandangku aneh.

Dari VT Kandy13 tadi aku langsung stalk profilnya dan aku merasa tidak sendirian. Betul-betul relate. Aku kagum karena dia begitu berani menceritakan pengalamannya. Jujur saja, aku sangat insecure soal mata aku—kecuali dengan orang-orang yang memang aku percaya. Insecure karena aku terlihat normal secara fisik, tetapi secara gesture dan penglihatan cukup aneh. Insecure karena memikirkan masa depan yang cocok untuk kondisi aku. Insecure karena takut tidak bisa bekerja menghasilkan uang. Insecure karena aku merasa menjadi beban orang-orang di sekitar aku. Insecure kalau lagi berbicara dengan seseorang atau sekumpulan karena kesulitan mendeteksi wajahnya.

Insecure masih muda jalannya dituntun.

Sejujurnya aku agak malu menceritakan hal.ini ke publik. Aku takut dianggap caper. Jadi, aku betul-betul menahan semuanya dan hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. Rasanya dilema, aku merasa tidak perlu orang tahu tentang kondisi mata aku, tetapi di sisi lain aku juga merasa orang tahu karena keterbatasan aku ini akan selalu membutuhkan orang lain. Awalnya aku memang malu akan penilaian orang terhadap kondisi aku, tetapi makin ke sini aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan. Toh, mereka hanya tidak tahu kondisiku.dan aku juga kadang tidak ada energi untuk menjelaskannya.

Salah satu hal yang membuat aku insecure adalah ketika berjalan. Apakah aku bisa jalan? Bisa, kok. Akan tetapi, aku tidak bisa berjalan sendirian, harus dituntun seseorang. Aku selalu bilang dengan penuntunku, “Maaf, ya, berasa kayak nuntun nenek-nenek, ya?”. Terdengar jenaka memang, tetapi itu adalah cara aku untuk memupuk rasa malu dan tidak enak. Aku bisa berjalan sendiri kalau aku sudah mengenal betul lokasi atau tempatnya, jadi ketika jalan aku bisa menggunakan insting—ya, kadang masih suka nyasar, sih. Misal ke rumah Eka, sahabat aku. Aku tahu rumahnya karena memang tetangga dari kecil, jadi ketika mata aku masih bisa melihat dengan cukup baik aku sudah tahu rute jalan dan posisi rumahnya. Jadi, aku sekarang kalau ke rumah Eka biasanya naik ojek online, belokannya aku tunjukkan sesuai dengan insting caranya menghitung jumlah gang.

Pernah ada satu kejadian yang membuat aku kapok pulang setelah matahari tenggelam. Biasanya aku kalau main sama teman pulangnya ba’da magrib atau isya. Kalau pulang malam pasti selalu pakai Maps untuk membantu aku sampai ke titik rumah. Namun, suatu hari seperti biasa naik ojol, ketika sudah masuk komplek. Aku ragu dan buyar. Saat itu baru saja petang dan langit mulai menggelap, ditambah hujan rintik gerimis. Waktu itu pengemudinya adalah seorang bapak-bapak. Sepertinya aku salah menunjukkan jalan dan otomatis rute pulang ke rumah di otak aku sudah lenyap karena berubah. Ya, salah jalan.

Aku lumayan panik dan mencoba tenang. Saat itu ada dua kekhawatiran: takut tidak bisa pulang dan merasa tidak enak dengan si bapak. Setelah cukup lama dan berusaha mengikuti rute Google Maps. Dan, alhamdulillah, Allah bantu aku pulang. Coba tebak ketika akhirnya sampai depan rumah—setelah aku memastikan bentuk rumahnya dan memang benar—aku sedikit mendengar si bapak berzikir. Entah itu sebagai mengatasi kekesalan karena hampir menyasar atau bukan. Mulai dari situ aku tidak akan pernah mau lagi pulang sendirian setelah matahari tenggelam.

Ada lagi. Sekarang kalau ambil makan aku harus mengandalkan aroma atau dikasih tahu terlebih dahulu di meja ada makanan apa saja baru bisa aku ambil. Namun, kalau ad# Tante di rumah—ketika beliau sedang tidak kerja—pasti makanan untuk aku diambilkan. Kalau lagi di rumah Mbak juga pasti begitu, makaman aku diambilkan sama mbak atau adik aku. Bukannya manja, tetapi, ya, bagaimana, mata aku begini. Bahkan kondangan saja pun harus diambilkan sama Eka karena aku biasanya kondangan dengan dia.

Aku suka membaca dan menulis, tetapi kondisi low vision ini menyulitkan aku untuk melakukan keduanya. Aku tidak bisa baca buku fisik dan tidak bisa lagi menulis di buku seperti biasanya. Namun, aku bersyukur di era digital saat ini ada ponsel pintar yang menjaga produktivitas aku. Aku bisa baca ebook, aku bisa menulis di word/doc. Meskipun salah satu struggle aku menggunakan ponsel adalah tidak bisa melihat di mode terang/putih, harus mode gelap. Dan, ada berapa aplikasi yang tidak bisa mode gelap, aku akalkan dengan fitur inversi warna di pengaturan.

Banyak hal.yang aku takuti. Salah satunya aku takut tidak ada yang mau menerima aku dengan ke-low-vision-annya. Sebab aku tahu, kondisi ini akan merepotkan pasangan.aku nantinya—low vision sifatnya permanen. Kadang aku sendiri saja kesulitan.mengurus diri sendiri. Aku juga takut kalau aku tidak bisa berpenghasilan karena aku tahu, aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan Tante aku. Bahkan aku takut jika suatu hari menjadi seorang ibu.

Dengan low vision, ruang lihat dan ruang gerak aku memang terbatas. Namun, di sisi lain, Allah kasih banyak privilese. Aku merasa Allah memang sudah mempersiapkan semuanya untuk aku supaya tetap bisa produktif dan berguna ketika Allah turunkan penglihatan aku. Allah hadirkan Tante aku yang baik sehingga aku bisa produktif kapan pun. Allah hadirkan keluarga dan teman yang pengertian dan tidak masalah dengan kondisi aku. Allah hadirkan komunitas literasi daring tempat aku berkembamg dan belajar. Dari teman komunitas itu aku merasakan dunia di luar rumah.

Allah Maha Baik. Ternyata Allah sesayang itu sama aku. Dari awal aku mengalami low vision, aku tidak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan. Aku sadar betul ini sudah takdir dan aku yakin Allah punya alasan. Dan, alasan Allah selalu baik. Allah percayakan low vision ke aku karena Allah tahu aku mampu melaluinya. Allah kasih aku low vision karena Allah tidak mau hamba-Nya ini melihat sesuatu yang tidak baik. Allah sedang menjaga aku, aku yakin itu..


RAMADAN kali ini rasanya masih sama seperti yang sudah-sudah: ketakutan. Dari rekam jejak yang sudah berlalu, biasanya Ramadan aku tidak pernah berakhir menyenangkan. Jarang sekali ada hari kemenangan, adanya hari kekalahan. Kalah karena ekspektasi yang terlalu muluk, sampai-sampai tidak sadar realitas begitu lihai mengutuk. Rangkaian kejadian tidak mengenakkan dari tahun ke tahun, mau tidak mau meninggalkan kekhawatiran. Alih-alih disambut, aku lebih banyak menghadapi Ramadan penuh rasa takut. Tentang bagaimana kalau tidak ada hari kemenangan itu lagi?

Aku jadi kurang menikmati Ramadan yang hanya singgah tiga puluh hari. Aku ingin berlama-lama agar tidak terlalu cepat dekat ujung Ramadan. Akan tetapi, aku juga ingin cepat-cepat menuju hari ujungnya untuk menyudahi rasa takut yang menguasai. Serbasalah. Memangnya salahku apa, ya? Ada kalanya, aku jadi memaklumi ketakutan tersebut imbas dosa yang menggunung. Entahlah—lagi pula, aku sedang belajar untuk selalu husnuzan dengan Allah. 

Ketika orang-orang merayakan hari kemenangan dengan kesenangan tanpa kendala berarti. Seringnya aku harus berjibaku dengan masalah terlebih dahulu untuk akhirnya benar-benar menang dan senang. Namun, satu hal aku sadari bahwa hidup tidak mengenal kata jeda dan kembali, dia bersama waktu berjalan maju. Ramadan yang sudah-sudah menjadi sejarah, Ramadan yang akan datang menjadi misteri—apakah akan sama menakutkannya? Aku sudah belajar untuk tidak lagi berekspektasi tinggi, hidupku berbeda dengan hidup orang lain. Dan, aku juga sedang belajar untuk percaya kepada Allah, salah satunya dengan meyakini: suatu hari Ramadan aku akan terasa membahagiakan dan mengumpulkan maknanya di hari kemenangan.

Iya. Sebetulnya bahagia dan makna itu harusnya aku yang mencari sendiri. Jadi, Ramadan kali ini aku mencoba menelusuri makna terlebih dahulu, meski bahagia terlalu tinggi untuk sebuah keinginan. Dan, tujuan aku menulis konten ini sebenarnya adalah untuk membantu aku menemukan makna dan kebaikan Allah di Ramadhanku kali ini.

Muslimah read Qur'an

Latihan Kembali Lancar Membaca Al-Qur’an 

Per Februari lalu, aku punya komitmen untuk kembali lancar membaca Al-Qur’an. Intinya ada satu momen di mana aku membatin, pengin, deh, lancar baca Qur’an tanpa terbata-bata. Padahal, waktu kecil sampai remaja aku cukup lancar membaca Al-Qur’an, kemudian setop dari usia belasan sampai saat ini. Alhasil kelancaran itu hilang dan jadi terbata-bata ketika akan memulai kembali. Alhamdulillah-nya ada seorang teman yang bersedia menemani aku konsisten baca Qur’an, namanya Kak Ida—salah satu teman komunitas di NPC PABOBA. 

Ini adalah salah satu kebaikan yang Allah kasih ke aku. Maksud aku, ketika aku ingin kembali latihan lancar mengaji, di saat yang bersamaan Allah mendatangkan seorang teman untuk aku rutin mengirim laporan setiap harinya—meski sering bolong. Bahkan Allah langsung kasih teman yang memang kompeten di bidangnya. Kak Ida memang seorang guru pesantren di Bandung. Jadi, aku bisa sekalian belajar tahsin setiap pekannya. Baik, ya, Allah sama pendosa macam aku begini? Namun, untuk sementara aku ingin proses lancar mengaji terlebih dahulu sebelum masuk ke sesi tahsin. Kalau sudah lancar dan konsisten, baru kembali belajar tahsin. Semoga kesabaran Kak Ida dibalas dengan kebaikan dari Allah.

Salah satu tantangan aku  untuk kembali lancar mengaji selain karena sudah lama tidak baca Qur’an, adalah kondisi mata yang cukup kesulitan membaca. Anyway, mata aku mengalami low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Kondisi ini membuat aku sangat kesulitan untuk membaca teks, apa lagi aku sudah tidak bisa baca buku fisik. Artinya aku sudah tidak bisa mengaji melalui mushaf Al-Quran—kecuali kalau aku belajar menggunakan Al-Qur’an braille, tetapi masalahnya aku tidak buta. Kondisi ini juga yang menyadarkan aku selagi masih bisa dikasih lihat sama Allah, aku harus memanfaatkan penglihatan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan membaca Al-Qur’an karena aku tidak tahu, bisa saja suatu hari Allah mengambil penglihatan aku sepenuhnya, kan?

Awalnya, ketika memulai dengan surah Al-Baqarah aku cukup sedih karena sampai terbata-bata, satu halaman saja bacanya menghabiskan delapan menit. Akan tetapi, aku juga harus belajar sabar. Setiap harinya satu halaman. Sampai masuk Ramadan, aku punya target khatam satu kali, one day one juz. Ternyata Ramadan kali ini tantangannya jauh lebih terasa, untuk bisa konsisten satu juz dalam satu hari cukup ngos-ngosan padahal tahun-tahun lalu aku tidak mengalami kendala berarti. Tentunya aku belajar untuk tidak menyerah, momen ini akan jadi ajang aktualisasi diri. 

Ada kalanya, aku kesulitan tadarus karena teks ayatnya  berbayang dan berembun. Ditambah aku baca hanya bisa menggunakan Qur’an Digital di ponsel. Kondisi ini membuat aku hanya bertahan di dua halaman satu hari, bahkan hanya satu halaman. Sebab, kondisinya berlangsung selama satu hari penuh. Aku mencoba  menelusuri untuk mencari solusi karena aku tidak bisa membiarkan kejadian ini berlangsung lebih sering, aku harus khatam! Oke. Aku coba untuk tidur lebih awal di pukul 23 WIB, bangun sahur di pukul 03.20. Pukul 5.30 aku harus tidur dan bangun di pukul 9/10.00. And it works! Really works! Ternyata penyebab mata aku mudah berbayang ketika baca teks adalah karena  durasi tidur tidak efektif. Keesokan hari dan seterusnya aku menjaga durasi tidur at least minimal 6 jam, supaya bisa baca Qur’an. Ya, meskipun ada kalanya sudah cukup tidur, tetapi masih berbayang, nah, kalau ini pasrah saja, deh. 

Dan, alhamdulillah. Allah kasih aku kesempatan untuk khatam di hari ke-30. 

Aku mau cerita satu hal yang menurut aku ini adalah kebaikan Allah. Ada beberapa kali di Ramadan ini, aku cukup kesulitan untuk membaca teks buku digital—meski sudah tidur cukup, tetapi subhanallah, di saat yang sama, Allah justru mudahkan aku untuk baca Qur’an, tanpa kendala, tanpa embun, clear. Dan, oh, satu lagi. FYI kelainan di mata aku mengakibatkan aku ketika membaca lantang (read aloud) suatu teks bacaan seperti mengeja dan terbata-bata. Sebab, aku harus mencerna dan mengenali kata selanjutnya. Akan tetapi, Allah lagi-lagi Allah kasih kemudahan. Aku tidak terlalu terbata-bata dan lumayan lancar. Allah benar-benar Maha Baik.

Ramadan Paling Produktif

Pada awalnya aku ingin fokus ibadah saja, tidak terlalu banyak aktivitas di ranah lain. Walaupun sejak sebelum Ramadan, aku tahu hanya disibukkan mengurus event Journaling Ramadan. Aku pikir itu tidak terlalu mengganggu fokus ibadahku karena hanya memantau dan merekap. Memang betul, tetapi di suatu hari—Ahad, sering jadi hari paling sibuk. 

Bayangkan. Bangun sahur, salat subuh, tadarusan, kajian sampai matahari terbit, tidur, meeting sampai siang, siang fokus rekap Journaling Ramadan, lanjut tadarusan, baca buku untuk laporan NPC, meeting divisi. Hari itu memang cukup kompleks. Akan tetapi, setidaknya waktu aku habis karena hal produktif. 

Memang, sih, segala hal itu memang perlu diperhitungkan. Namun, kadang ada saja situasi yang tidak bisa diprediksi. Dari situ aku menyadari satu hal lagi yang menarik ulang pengakuan sebelumnya. Aku bilang: produktivitas adalah tempat aku mengisi tangki energi hingga penuh. Akan tetapi, ketika tangki itu terlalu penuh sampai isinya tumpah-tumpah pun pada akhirnya terbuang juga. Ternyata produktivitas yang berlebihan tidak baik karena berujung cukup lelah. So, aku perlu membagi antara aku dan produktivitas serta aku dan diri aku sendiri. Ternyata itu adalah dua hal yang berbeda. Bersama produktivitas aku merasa jadi manusia yang bermanfaat. Bersama diri sendiri aku terus belajar untuk mengevaluasi dan mengistirahatkan diri sendiri. 

Memang, ya, Allah selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-Nya satu ini yang tidak sadar kalau sudah overload. It’s a mindfull thing of Ramadan. 

BENAR ADANYA bahwa Allah selalu memberikan hal positif di samping sesuatu yang tidak disenangi. Hanya saja, tergantung dari perspektif dan kemauan kita untuk membekukan hal baik di tengah-tengah ketakutan. Mungkin yang membuat hidup terasa biasa saja bahkan cenderung kelam, bisa jadi karena cara pandang kita yang masih terlalu sempit. Memang tidak mudah untuk menemukan hal baik, sementara keadaan sedang tidak.baik-baik saja. Akan tetapi, mencari selalu lebih baik daripada diam saja, kan?



Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Belajar Mengakui Kesalahan Sendiri
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Alasan Kita Merasa Kecewa
  • Persiapan Mental Sebelum Pergi Haji
  • Kiat Menjadi Pribadi yang Berempati
  • Kisah Jihan Mawaddah: Bloger Berprestasi yang Tidak Takut Gagal

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template