SEUPAYA apa pun aku bersikap aman, ternyata tetap saja, namanya hidup tidak lepas dari masalah. Justru dari sikap “aman” itulah yang menjadi cikal bakal masalah. Masalah yang kemudian membawaku pada satu titik balik. Persoalan diri yang nyatanya belum pernah selesai. Tentang tangki hati yang tidak pernah penuh. Tentang perkembangan diri yang belum pernah ada hasilnya. Tentang masa depan yang terlihat samar. Dan, tentang pola pikir yang terus menyerang diri sendiri.
Dan, lagi-lagi, semua itu datang dari perasaan tidak berharga. Perasaan tidak berharga yang membuat aku haus validasi demi mengisi tangki. Perasaan tidak berharga yang memblokade mental aku untuk berkembang dan bertumbuh. Perasaan tidak berharga yang menakut-nakuti betapa suramnya masa depanku. Perasaan tidak berharga yang mengendalikan pikiran untuk selalu merendahkan diri sendiri.
Perasaan tidak berharga yang kemudian dibalut dengan kepedulian palsu. Balutannya tampak indah, sementara orang lain tidak melihat betapa di balik balutan itu terdapat diri yang terkoyak karena kehilangan identitas. Setelah sekian lama diri itu bertahan di belenggu oleh balutan indah yang palsu, akhirnya berontak dan menyerang. Seperti ledakan besar, diri itu akhirnya merobek balutan dan memperlihatkan aslinya. Bahwasanya keindahan itu hanya balutan yang mudah hancur dan sejatinya adalah diri yang butuh diperbaiki.
Sudah saatnya untuk merevisi hidup besar-besaran. Bukan hanya dari potensi yang perlu digali lebih dalam, melainkan juga dari sisi diri sendiri yang perlu ditemukan seutuhnya. Menurut aku kehidupan yang selalu berujung stagnan adalah karena meragukan diri sendiri. Dan, alasan aku masih tidak benar-benar menjadi diri sendiri adalah karena masih takut kehilangan validasi. Bersumber dari dua masalah tersebut, aku mulai merevisi hidup dari satu titik, pola pikir. Iya, kamu juga pasti pernah dengar, untuk bisa berubah harus diawali dari membenahi pola pikir. Apa lagi mengubah sesuatu yang sifatnya kebiasaan, ini bukan perkara mudah.
Padahal, sebelum-sebelumnya beberapa kali ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terutama di produktivitas. Sebelumnya produktivitas aku hanya berkutat sebagai volunteering di PABOBA. Tidak ada kesibukan lain selain di PABOBA. Kemudian ketika seorang teman menyadarkanku bahwa selama ini pencarian validasiku masih menyasar orang lain. Padahal, validasi dari diri sendiri perlu diakui. Dan, aku menceritakannya secara lengkap di tulisan Tangki Hati yang Tidak Pernah Terisi Penuh. Dari situ aku mulai berkontemplasi dan menyentuh ruang pikiran yang hampir tidak terkendali. Satu hal yang pasti, aku memutuskan untuk menemukan diri sendiri. Menemukan diri dengan cara merevisi hidup dan menentukan tujuannya.
Setelah dua kejadian memuncak beberapa bulan lalu. Tentang diri yang kehilangan ketulusannya. Tentang mental diri yang terus terblokade untuk berkembang. Revisi hidup kali ini memiliki tujuan yang pasti: mencapai rida Allah. Terlalu religius, ya? Padahal, aku bukan muslimah yang taat. Hanya saja, aku menyadari hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding Allah. Bahkan apa-apa yang aku lakukan saat ini terjadi atas izin Allah. Selama ini seakan-akan menuhankan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi. Ketika mendapatkan pencapaian kecil, selalu menganggap karena aku. Oke, secara proses memang aku yang melakukan. Akan tetapi, Allah yang memberi izin dan kendali.
Dan, kalau kata Alvi Syahrin dalam bukunya berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, mencintai diri sendiri sama halnya dengan mencintai Allah karena diri adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Kebetulan belakangan aku memang sedang belajar tentang iman dan mencintai Allah. Maka satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Aku mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa membuatku merasa berharga. Menjadikan kelebihan dan potensiku sebagai sesuatu yang luar biasa dan perlu dikembangkan. Menjadikan kelemahan sebagai pengingat diri bahwa aku adalah manusia yang akan selalu butuh Allah.
Ada beberapa revisi hidup yang mulai aku lakukan.
Social & Self Relations
Pertama. Dari sisi diri dan hubungan dengan orang lain. Ketika menyadari bahwa aku bukan orang yang tulus dalam menjalani suatu hubungan, apa pun itu. Revisi yang aku terapkan adalah belajar untuk mengutamakan diri sendiri. Memang ini sedikit egois, tetapi bertujuan untuk mengetahui kapasitas diri. Kapan aku harus mendengarkan orang lain dan kapan aku butuh waktu sendiri. Aku belajar untuk berani berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak bisa atau tidak mampu aku lakukan. Aku belajar untuk mendengarkan dan memeluk diri sendiri. Aku mengubah pola pikir bahwa aku juga sama pentingnya dengan orang lain. Sebab, Aku tidak pernah merasakan dicintai diri sendiri.
Dan, ketika aku sudah mencintai diri sendiri, maka hubunganku dengan orang lain akan jauh lebih bermakna, tanpa paksaan dan menjadi diri yang apa adanya.
Volunteering Goals
Kedua. Tujuan volunteering. Salah satu tempat paling efektif untuk aku mengais validasi tanpa henti adalah dengan memanfaatkan volunteering. Sebetulnya adalah hal wajar ketika kita melakukan sesuatu karena butuh validasi. Apa lagi namanya komunitas ada timbal balik dan saling menguntungkan. Komunitas butuh volunteer untuk penggerak dan volunteer butuh berkembang di komunitas. Itu sudah aku terapkan dan ternyata membuatku lelah. Maka aku belajar untuk bekerja ikhlas karena PABOBA merupakan tempat yang membuat aku jadi lebih baik. PABOBA yang memberi harapan tentang masa depan. Dan, PABOBA memberikan kesempatan aku untuk mencoba, sampai akhirnya ada di titik saat ini.
Jadi, fokus aku menjadi volunteer PABOBA bukan mengais validasi, melainkan berkontribusi.
Create Personal Productivity
Ketiga. Membangun produktivitas personal. Ini yang paling penting karena adalah jalan untuk menemukan dan mencintai diri sendiri. Sebetulnya sudah dari lama sekali aku ingin punya produktivitas secara pribadi, maksudnya tidak terikat dengan komunitas ataupun orang lain. Sudah pernah dicoba, tetapi ujung-ujungnya tidak konsisten. Antara malas dan mental block, beda tipis memang. Sampai akhirnya ada di satu titik, motivasi 1% dari seorang teman mendorongku untuk akhirnya menyusun jadwal produktif. Pertama-tama aku list terlebih dahulu bentuk produktivitas. Misal: video Tiktok/Reels, blogging, carousel & story Instagram, dan drafting untuk buku solo. Kemudian, menyusun list proses produksi: take & edit video, menulis blog, menulis skrip untuk carousel, membagikan proses produktif ke IGs & SW, mencari naskah di blog lama untuk dijadikan buku solo.
Kalau dijadikan jadwal akan berbentuk seperti ini:
> MONDAY
Creative
- Banking script video & outlind blog idea #NW
Upload:
- Weekly Goals: A Small Step, has Begun!
> TUESDAY
Creative
- Take video #NW
- Start writing #NW
- Prepare Vina Reads
Upload
- VT #1
> WEDNESDAY
Creative
- Editing video #NW
- Self edit blogscript & desain thumbnail #NW
Upload
- Post blog
- Upload Vina Reads
> THURSDAY
Creative
- Edit Vina Writes #NW
- +5 book drafting
- Prepare Vina Gratitudes
Upload
- Vina Gratitudes
> FRIDAY
Creative
- +5 book drafting
Upload:
- Vina Writes
> SATURDaAY
Creative
- Prepare Vina Growth
Upload
- VT #2
> SUNDAY
Creative
- Prepare Vina Goals
Upload
- Vina Growth
Semua itu merupakan produktivitas pribadi yang harus diprioritaskan. Sebetulnya jadwal di atas tidak termasuk dengan jadwalku sebagai Kordiv PABOBA Creative Hub. Dan, ini menjadi kesempatan aku untuk belajar manajemen waktu. Satu hal yang aku pelajari, produktivitas yang efektif menurut aku dimulai dari sepagi mungkin dan tidur lebih awal. Supaya tetap konsisten dan terlihat progresnya, aku memanfaatkan akun Instagram JourneYou Room yang aku buat awal tahun untuk merekam proses produktivitas. Agar makin terlihat aktif, aku kolaborasikan dengan akun utamaku, yuvinazaharany_. Kalau ditanya, dengan produktivitas sebanyak itu memang bisa fokus? Bukankah kita harus mulai dari satu produktivitas dulu untuk bisa konsisten?
Betul. Aku memilih untuk fokus produktif menulis blog dan baca buku. Tahu, tidak, justru dari dua produktivitas tersebut mampu melahirkan cabang-cabang produktif lainnya sekaligus sebagai personal branding. Dari postingan blog, bisa dibuat konten Vina Writes dan Vina Talks. Dari baca buku, bisa dibuat konten Vina Reads dan Vina Talks. Bahkan produktivitas yang aku lakukan bisa jadi konten journaling Vina Goals, Vina Gratitudes, Vina Growth, dan To-Do List di JourneYou Room. Jadi, tidak pusing karena memang saling berkaitan. Aku juga menurunkan ekspektasi dan standar berlebihan. Sebelumnya harus bisa menulis 1000 kata per tulisan, sekarang aku kurangi jadi minimal 800 kata saja.
Dan, sekarang sudah berjalan satu bulan merevisi hidup. Sejujurnya aku tidak menyangka masih bisa mempertahankan produktivitas sampai detik ini. Biasanya jika sudah berjalan sehari dua hari, pasti akan berhenti. Mungkin karena kali ini memiliki tujuan yang lebih jelas dan telah melakukan identifikasi masalah. Sekarang aku merasa bersemangat dan berupaya keras untuk tidak berhenti karena kalau berhenti, akan sulit untuk bangkit lagi. Satu hal yang terpenting, Aku belajar untuk fokus pada progres dan proses, bukan pada kesempurnaan dan validasi.





