![]() |
Tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang sahabat yang selalu ertanya, “Kak Vina, kapan nulis blog lagi?”
•••
Di pulau tengah Indonesia, hiduplah seorang perempuan yang aku sendiri tidak pernah bertemu tatap dengannya. Namun, media sosial telah menyatukan kami dan aku merasa, aku punya sahabat sefrekuensi. Kenalin, namanya Hasmiah, biasanya dipanggil dengan Kak Miah. Perempuan yang tinggal di Makassar ini adalah seorang konten kreator, bookstragram, dan video editor. Keren banget memang.
Aku yakin Kak Miah pasti lagi baca tulisan ini! >,<
Pertama-tama, aku mau minta maaf karena jarang mengunggah tulisan di blog ini. Aku tidak pernah membuka pintu untuk membiarkan Kak Miah masuk karena memang belum ada pembaruan yang bisa dibaca. Ditambah blog sudah penuh debu dan dipadati sarang laba-laba. Jujur aku merasa terhormat dan senang karena memiliki tamu spesial yang setia. Oleh karena itu, tulisan ini aku dedikasikan untuk Kak Hasmiah. Seorang sahabat sekaligus teman pertama aku di Komunitas PABOBA.
Aku lupa awal mulanya kapan, tapi yang kuingat kami pada akhirnya lumayan intens interaksi di chat pribadi. Lebih ke sering balas voice notes. First impression aku ke Kak Miah adalah perempuan yang pintar. Sehingga tanpa sadar aku memisdikannya sebagai role model untuk berkembang di volunteer PABOBA.
Aku tertarik menjadi PJ Divisi Event karena Kak Miah. Sampai akhirnya di awal tahun 2025 kami satu tim di Divisi Lobby. Itu adalah divisi yang bertugas mengoordinasi grup Lobby PABOBA dengan melaksanakan beberapa agenda setiap pekannya. Bayangkan sepanjang 2025 kami kerja sama—bahkan sampai saat ini kami kembali berada di divisi yang sama, PABOBA Creative Hub. Aku rasa awal mula interaksi intens kami dimulai dari Divisi Lobby.
Coba sebentar aku cari dulu awal mula chat sehingga bisa intens sampai saat ini. Yeay, I got it!
Kalau dilihat dari tangkapan layar di atas. Dimulai dari pembahasan mengenai teknis event—artinya saat itu untuk pertama kali aku jadi PJ Divisi Event. Kemudian tangkapan layar kedua pada 24 Desember 2024 pembahasan mengenai konsep diskusi literasi di grup Lobby PABOBA. Awalnya memang kami kebanyakan bahas konsep dan juga ide, tetapi lama-kelamaan pembicaraan cukup intens.
Kak Miah adalah perempuan berdaya yang kukenal. Aku sering menyebutnya dengan kalimat: ketika matahari terbit dia adalah wanita karier, ketika matahari tenggelam dia adalah perempuan produktif. Namun, ada salah satu profil yang tidak pernah lepas meskipun matahari terbit atau tenggelam, yaitu dia adalah seorang muslimah yang senantiasa berdakwah kepada orang-orang terdekatnya. Kak Miah pernah cerita ke aku bahwa skala prioritasnya adalah berdakwah dan kakajian. Mengajar dan belajar. Maa syaa Allah, ya?
Dengan acuan skala prioritas itu, Kak Miah dapat mengelola waktu dengan baik. Bayangkan, ketika pagi sampai sore dia harus bekerja. Sementara sepanjang malam mengurus komunitas. Ditambah lagi, dia punya jadwal kajian dan membuka kajian rutin dengan teman-temannya. Kalau bukan dedikasi, namanya apa? Kalau bukan karena ketulusan hati, namanya apa? Kalau bukan kecerdasan, namanya pun apa? Wajar kalau ketika makin mengenalnya, Aku makin mengaguminya.
Ini serius.
Salah satu hal yang membuat aku kagum adalah produktivitas dan penuhnya dia di Komunitas PABOBA. Pernah, di saat yang bersamaan dia bertugas di tim Divisi Lobby, Koordinator Squad PABOBA Makassar, dan sekretaris. Kehidupannya benar-benar disibukkan dengan hal-hal baik, maka wajar ketika perempuan ini mengalami perkembangan yang menakjubkan. Melalui Squad Makassar, Kak Miah sering kali menjadi pembicara atau narasumber membawa nama harum PABOBA di komunitas lain seperti Yuk Ngaji Makassar, Sister Fillah Makassar, bahkan Semesta Buku. Betul-betul cemerlang, bukan? Kak Miah bukan hanya berdaya untuk dirinya sendiri, melainkan juga berdampak dan berkontribusi untuk banyak orang. Dan aku terinspirasi untuk mengikuti jejaknya, tetapi sesuai dengan versi aku sendiri.
Dengan sepak terjang yang luar biasa, meskipun sayapnya telah mencapai udara di langit biru. Kak Miah tahu caranya merendahkan hati dan merangkul orang-orang di sekitarnya, termasuk aku.
Salah satu hal yang membuat aku terharu adalah, di suatu hari ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Sebuah notifikasi chat masuk. Ternyata dari Kak Miah dan chat-nya berisi ajakan mengikuti kajian yang akan dia isi. Tanpa pikir panjang dan antusias aku mau. Ternyata di dalamnya juga ada Kak Nisa, Kak Septi, dan Kak Wari. Sekarang personilnya sudah bertambah ada Kak Lia dan Kak Nurlina.
Biasanya menyimak kajian adalah tantangan berat bagi aku karena pasti mengantuk. Akan tetapi, ketika Kak Miah menyampaikan kajian dengan sederhana dan seperti ngobrol dengan teman, mudah bagi aku menangkap kajian dan esensinya.
Sampai-sampai aku tidak menyangka dan tidak habis pikir. Betapa beruntungnya aku dipertemukan oleh Allah dengan perempuan sehebat itu meskipun online. I'm so grateful to knowing her. Ingat betul juga, ketika aku sakit di akhir tahun 2025, Kak Miah cukup intens dan perhatian terhadap kondisi aku. Kalau begitu bagaimana bisa aku tidak menganggapnya spesial?
Manusia tetaplah manusia. Begitupun Kak Miah.
Perempuan tetaplah perempuan. Begitupun Kak Miah.
Rasa kagum itu berubah ketika buku Memoari: Berdamai dengan Luka—sebuah antologi garapan Komunitas PABOBA yang berisi 30 kisah si penulis, dua di antaranya tulisan aku dan Kak Miah. Sebenarnya sebelum naskah itu rilis, aku sempat menyunting naskah Kak Miah. Aku tersentak dan termenung. Inikah perempuan hebat itu? Inikah muslimah luar biasa itu? Dan, inikah wanita tangguh itu? Dari situ aku menyadari bahwa kehebatan dan luar biasanya Kak Miah adalah proses yang panjang dan tidak mudah. Betapa badai di belakang tubuhnya begitu kencang, tetapi di depanku Kak Miah seperti pohon yang begitu kuat dan tinggi, tidak mudah goyah meskipun badai menerpa.
Rasa kagum itu meningkat menjadi rasa sayang.
Aku merasa punya keterikatan dengan Kak Miah. Sejujurnya kami punya cerita yang hampir sama, tetapi posisinya berbeda. Aku banyak belajar dari Kak Miah. Muslimah itu bukan hanya harus cerdas dan berdaya, melainkan menjadi tangguh. Akan tetapi, aku tidak meminta Kak Miah untuk terus-menerus menjadi kuat. Ada kalanya, manusia perlu rehat sejenak dan tidak apa-apa untuk merasa lemah. Rasa kuat untuk mempertahankan diri, dan rasa lemah untuk menjaga kewarasan diri.
Aku tidak tahu kapan Kak Miah akan baca tulisan ini. Entah lagi kerja atau sudah pulang kerja? Apakah Kak Miah hari ini ada adegan tidur di toilet? Haha.
Sekarang aku lagi berdoa untuk Kak Miah sambil memejamkan mata.
Ya Allah. Terima kasih engkau telah menghadirkan sosok perempuan hebat dalam hidup aku. Dengan kecemerlangannya, meskipun aku ada di sampingnya aku tidak merasa terasingkan. Ya Allah, engkau tahu bahwa hamba yang baik memang tidak akan pernah lepas dari ujian. Oleh karena itu, ya Allah, mohon berikan Kak Miah keberkahan, kebaikan, kemudahan, dan perlindungan sebaik-baiknya. Dan, ya Allah, hamba tahu engkau sedang mempersiapkan pertemuan antara aku dan Kak Miah. Pada saat itu kami akan saling berpelukan. Hehe.
Kak Miah, terima kasih sudah mau menjadi inspirasiku dan temanku. Terima kasih karena mau menganggapku ada. Terima kasih atas kerendahan hatinya. Terima kasih untuk semuanya.














