Teruntuk negeri tercinta,
AKU tidak pernah meminta untuk dilahirkan di negeri ini. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya usia, perlahan-lahan aku mulai menyukai dan mencintai apa-apa yang ada di negeri ini. Negeri ini memberikan tempat-tempat sederhana untuk bermain ketika kecil. Main air di sungai, main petak umpet di kebun, mencari buah cherry di pohonnya. Masa kecilku tidak lepas dari kehidupan alam, meski tinggal di tengah perkotaan. Belum lagi teman-teman masa kecil yang melengkapi kebahagiaan.
Negeri ini memberikan sesuatu yang tidak dimiliki negeri lain. Sesederhana permainan tradisional yang menghiasi masa kecil sampai remaja. Congklak, bekel, taplak, lompat tali, uber hem, gobak sodor, dan lainnya. Belum lagi semarak acara yang sering dirayakan setiap tahun pada 17-an. Selain berkompetisi sehat, 17 Agustus melestarikan kebersamaan antarwarga. Negeri ini mengajarkan tentang kepedulian dan gotong royong terhadap sesama masyarakat. Dengan begitu akan terwujud hidup rukun dan damai.
Negeri ini lahir dengan kekayaan budaya yang banyak dan luar biasa. Sejak remaja aku diperkenalkan dengan kesenian tradisional daerah Lampung, tempatku tinggal. Salah satu hal yang kusyukuri dan banggakan dari masa putih abu-abu adalah bergabung dalam ekstrakulikuler Seni. Secara spesifik aku memilih divisi musik, tetapi sanggar sekolah menerapkannya sistem seluruh anggotanya harus mempelajari bidang seni yang tersedia. Ada tiga divisi yang dipelajari: divisi musik, divisi tari, dan divisi teater.
Pada awalnya, kupikir sanggar seni tersebut terfokus pada alat musik modern. Setelah resmi menjadi “anak seni”, aku justru belajar hal baru yang menyenangkan. Untuk pertama kalinya aku mengetahui dan mempelajari alat musik gamolan pekhing atau cetik. Alat musik tradisional yang terbuat dari bambu ini berasal dari Lampung Barat. Uniknya, cetik merupakan alat musik Pentatonix karena tidak memiliki tangga nada “fa/4”. Ada beberapa tabuhan yang kupelajari: Tabuh Alau-Alau, Tahun Sermenung Serlis, Tabuh Khapot, dan Tabuh Sanak Miwang Dija, Tabuh Ghapet, dan Tabuh Tari. Aku juga mempelajari talo balak yang terdiri dari: kulintamg, rebana, tarbuka, kecrekan, canang, dan gong.
Perlahan-lahan aku mulai menyukai si cetik. Kalau ditanya, mengapa tidak memilih divisi tari? Jujur, aku merasa tubuhku tidak dilahirkan untuk menari, terlalu kaku dan jelek. Pun sebetulnya aku lebih menyukai musik. Dan, aku tetap mempelajari seni tari tradisional Lampung seperti tari Sigeh Pengunten dan tari Bedana. Melalui seni tari itulah sanggar sekolah kami sering meraih juara. Meskipun aku bukan penari, tetapi aku ikut bangga. Dan, selama ada perlombaan tari tradisional di Bandar Lampung, aku akan ikut menjadi pemusik pengiring penari. Biasanya aku akan memegang gong yang berfungsi sebagai penjaga tempo permainan talo balak.
Melalui budayanya, negeri ini membuatku memiliki prestasi di bidang kesenian. Dan, kesenianlah yang tanpa sadar menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini.
Selesai dari masa putih abu-abu, selesai pula kedekatanku dengan cetik. Memasuki usia menuju dewasa, aku mulai mengetahui bahwa negeri ini bukan hanya soal kerukunan dan kesenian budaya. Ternyata negeri ini justru berotasi karena adanya politik dan sistem pemerintahan. Sebagai orang awam, yang ku ketahui hanyalah struktur kenegaraan seperti presiden, wakil presiden, menteri, DPR, MPR, gubernur, walikota, bupati, dll. Aku tidak mengerti bagaimana sistem bisa berjalan. Ketika akhirnya mulai aktif menjadi pengguna media sosial. Sudut pandangku terhadap negeri ini mulai luas sekali. Pelan-pelan sedikit memahami bagaimana negeri ini berjalan semestinya. Bagaimana presiden' dan wakilnya menjadi pemimpin yang memastikan negeri dan rakyat di dalamnya hidup aman dan nyaman. Bagaimana para menteri kemudian menjadi pembantu presiden dalam mengelola negeri. Tentang DPR yang menjadi jembatan dan sambungan tangan antara rakyat dan pemerintah, tanpa ada sekat. Bagaimana para aparat TNI/Polri yang menjaga keamanan negara dan melindungi masyarakat. Wah … ternyata mereka adalah orang-orang luar biasa yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.
Bahkan ketika bencana datang, mereka sudah menyiapkan antisipasi dengan adanya lembaga BNPB. Menjadi sebuah lembaga yang humanis, mengingat negeri ini berada dalam lingkaran cincin api. Aku sangat mencintai negeri ini sampai ketika tahun 2025 menjelang. Kecintaanku terhadap negeri ini mulai menyusut. Pajak naik. Kecelakaan alam yang disebabkan keserakahan manusia menyebar. Korupsi besar-besaran merajalela. Para pemangku tanggung jawab membangun sekat begitu tebal dan tinggi antara pemerintah dan masyarakat. Mereka yang seharusnya membela dan memastikan rakyat hidup aman makmur, kemudian banting stir menjadi bertugas dengan ngawur. Ketika posisi adalah hasil dari hati nurani dan kepedulian, tetapi menjadi tempat untuk menindas rakyat dengan kekuasaan..
Ah, ya, yang salah bukan negerinya, yang salah adalah manusia yang melupa. Seperti munafik, pada saat kampanye dan pemilihan, berapi-api dan menunjukkan kepedulian dengan janji-janji yang ternyata hanya janji tanpa bukti. Janjinya palsu, buktinya lesu. Seakan-akan pemerintahan memiliki pintu masuk yang secara otomatis dapat mematikan hati nurani dan empati. Sampai-sampai beredar rumor “orang baik pada akhirnya skan jahat ketika mendapatkan jabatan pemerintahan”. Meskipun ada pula yang bersikap optimis bahwa setidaknya ada satu dua orang baik di dalamnya. Namun, untuk apa? Lihatlah menteri keuangan sebelumnya yang melakukan tugas sesuai dengan prosedur dan semestinya. Bekerja dengan benar, tetapi dipecat dengan semena-mena. Aku sendiri sangsi bahwa negeri ini akan menjadi “emas” yang digadang-gadang oleh sang pemimpin atau jangan-jangan semua itu hanya janji bualan?
Kasihan sekali negeri ini. Kasihan sekali rakyat di negeri ini. Tidak dipedulikan oleh wakil rakyat. Lucu sekali ada wakil rakyat yang berani menindas rakyat yang membayar mereka. Oh. Katanya sejarah harus dilestarikan. Apakah maksud dari sejarah ini adalah budaya korupsi yang tidak pernah ada ujungnya? Negeri ini memang kaya akan budaya, tetapi budaya korupsi telah menjajah negeri ini. Bahkan budaya serakah yang kemudian menyiksa rakyat. Melakukan kelakuan arogansi, tidak berkompetensi, tidak memiliki kapabilitas dalam bidangnya. Ketidakmampuan tersebut seakan-akan kepentingan rakyat tidak terlalu penting bagi mereka.
Lihatlah para pembantu presiden itu, menjadikan amanah sebagai ladang korupsi. Dana haji, Al-Qur’an, dana MBG, dana BNPB, apa lagi? Anggaran-anggaran tersebut tidak dipandang sebagai tanggung jawab dan amanah, tetapi dijadikan proyek untuk mereka korupsi besar-besaran. Ah, ya, orang-orang rakus itu akan selalu haus dan tidak kenal kata cukup. Orang-orang rakus itu hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Mata mereka tidak digunakan untuk melihat betapa parahnya negeri ini. Telinga mereka tidak digunakan untuk mendengarkan yang menggaji mereka. Nyatanya bukan hanya hati yang cacat, mata mereka buta, telinga mereka tuli. Entah kata-kata apalagi yang pantas untuk menyebut sosok mereka selain manusia karena mereka tidak manusiawi.
Aku lelah harus terus-menerus disuapi berita korupsi yang nilainya sangat tinggi. Aku muak terus mendapati presiden dengan pidato tidak bermutunya. Namun … aku tidak sampai hati jika harus usai dari media sosial. Ada saudara-saudara sebangsa yang perlu perhatian besar. Mereka yang terdampak karhutla. Di Kalimantan, Papua, Palembang, dan Jambi. Ada mereka yang masih belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Aceh dan NTT. Ditambah sebagian besar bencana alam disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Orang-orang serakah itu lagi yang membakar hutan, yang melakukan deforestasi hingga terjadi banjir bandang. Tidak sampai ke hati jika aku harus menutup mata dan telinga akan kondisi di luar sana.
Aku memang lelah dan muak. Akan tetapi, lelah dan muak aku masih bisa menghirup udara segar, tidur di tempat tinggal yang nyaman, dan makan dengan nikmat. Sementara mereka di luar sana yang terdampak, mereka bukan hanya lelah dan muak, tetapi kehidupan mereka betul-betul diganggu dan dirusak. Nyawa mereka menjadi taruhan akan keserakahan orang-orang tidak punya empati. Aku memang manusia pengecut yang tidak berani bersuara dengan lantang, tetapi melalui tulisan ini, Aku berani berbicara dan bersuara





