AKU wmengakui bahwa imanku memang mengalami kelusuhan. Bahwa bentuk iman itu layaknya baju yang sering dipakai berulang kali sampai akhirnya lusuh. Iman yang kemudian luntur adalah wajar, tetapi menjadi tidak tepat ketika membiarkannya luntur hingga akhirnya tenggelam tak tertolong. Sementara, ketika baju kotor sedikit langsung dicuci, ketika baju rusak langsung beli baru. Bagaimana dengan iman yang terlanjur koyak, kotor dan rusak?
Keimanan yang melemah ini terjadi setelah aku pesimis terhadap harapan yang tidak pernah ada jawaban. Berulang kali berharap, berulang kali pula nyaris tiarap. Akhirnya menyerah—entah pada apa atau siapa—mengikuti alur tanpa merencanakan apa pun. Buat apa? Toh, hidup aku begini-begini saja. Aku memang tidak layak dan tidak pantas bahagia. Tidak berani pula jika harus menyalahkan Tuhan, lebih kepada terserah saja jika hidupku tidak menarik.
Sudah sejak lama aku menganut hidup-pesimistis, percuma berharap, tidak akan ada yang berubah. Sampai-sampai aku jadi orang rasional dan logis, cenderung memblokade diri sendiri dari segala hal positif. Tidak mungkin bahagia, tidak mungkin sukses, tidak mungkin tercapai, tidak mungkin … pokoknya tidak mungkin, deh. Meski perlahan-lahan, kutipan mutiara mulai masuk telinga: Tuhan mengabulkan doa kita di waktu yang tepat, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kalau doa tidak terkabul berarti Tuhan sudah mempersiapkan rencana baik untuk kita, dan kutipan mainstream lainnya.
Sebetulnya aku sudah mengamini dan mengerti. Akan tetapi, kutipan-kutipan itu tidak cukup untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keimanan langsung seratus persen. Aku masih tidak yakin kepada Tuhan atas doa dan harapanku. Sampai ketika seseorang yang spesial memberikan buku digital berjudul Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Sepuluh halaman pertama, aku mendapatkan satu insight yang segar dan baru. Tidak pernah aku temui sebelumnya.
Aku pernah berpikir tentang perasaan insecure terhadap diri sendiri. Merasa tidak layak dan tidak pantas untuk—sesederhana—bahagia, bahkan aku merasa malu berdoa karena banyak menimbun dosa. Logikanya begini, terlalu tidak tahu diri ketika aku si pendosa ini kemudian memohon permintaan kepada Allah, sementara aku banyak melanggar-Nya.
Walaupun. Seperti yang sebelumnya sudah aku ceritakan, aku sudah pernah mencobanya—berdoa dan menyandarkan harapan. Tidak pernah ada jawaban, yang ada aku malah makin merasa berdosa. Perasaan-perasaan negatif itu lahir dari harapan yang hampa tiada ujungnya. Kemudian ada yang berbisik, “Bagaimana kalau perasaan itu datang dari setan?”
Ketika aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? di halaman ke-11, bisikan yang telah lama berputar itu teramini. Betapa aku telah kalah dari setan yang berhasil meniupkan perasaan tidak pantas dan tidak layak. Betapa selama ini, aku telah tidak berdaya di bawah rayuan setan. Imanku lemah. Imanku goyah. Imanku rapuh. Ditempa oleh berbagai kerendahan diri akut, sampai-sampai melupakan bahwa ada fase bangkit. Aku hanya tahu jatuh dan makin terjerembab ke dalam kegelapan. Setidaknya sampai aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? yang kemudian kembali menuntunku untuk berdiri.
Mulai dari perombakan pola pikir yang bobrok. Pola pikir yang bermental menyerah. Buku ini perlahan-lahan-lahan membantuku berdiri. Seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya berjalan. Atau, yang lebih menyentuh lagi, aku merasa buku ini menjadi perantara Allah untuk menuntunku berdiri. Berdiri untuk kembali berjalan, berjalan untuk kembali kepada-Nya. Mulai dari hal terkecil, mengubah pola pikir. Mengubah sudut pandangku tentang kehidupan dan konsep Tuhan.
Satu tahun belakangan, aku sering mempertanyakan Tuhan. Bukan soal keberadaannya, melainkan konsep Tuhan dalam mengabulkan doa dan harapan. Berangkat dari apa-apa yang terjadi di masa lalu, aku tumbuh jadi seseorang yang sudah tidak percaya lagi dengan masa depan cemerlang. Jangankan masa depan, masa kini yang sifatnya nyata pun terasa tidak mungkin. Setiap memiliki keinginan atau cita-cita, secara otomatis langsung aku kubur dalam-dalam. Banyak faktornya, mulai dari perasaan tidak layak karena tidak ada kemampuan. Kemudian merasa tidak pantas karena aku seperti hidup bagaikan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Aku merasa tidak berharga karena tidak ada kegunaan dan manfaat.
Semua perasaan yang kemudian meruntuhkan harapan dan doa. Aku ada di titik merasa tidak pantas dan tidak layak untuk berharap dan berdoa. Bukan tanpa alasan. Pernah mencoba, tetapi setiap berharap, berujung pada kecewa. Setiap berdoa, aku makin terjerembab dalam kegelapan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan, yang aku lakukan adalah terserah Tuhan mau mengatur hidup aku seperti apa. Aku takut, tetapi aku marah pada Tuhan yang tidak pernah adil dengan hidup aku. Aku marah karena hidup aku seperti sampah. Dan, aku hanya bisa diam. Balas dendam adalah dengan merendahkan diri sendiri. Kemarahan yang aku lampiaskan kepada pola pikir negatif terhadap diri sendiri. Sebab, hanya aku yang bisa aku salahkan.
Itu aku yang sebelumnya. Sebelum aku akhirnya mulai menelusuri dunia literasi. Sebelum aku menjadi bagian dari Komunitas 30 Hari Membaca. Dan, sebelum aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Aku merasa Allah, perlahan-lahan menuntun aku menemukan jawaban dari 2019 sampai sekarang akhirnya terjawab sempurna. Seakan-akan buku ini menjadi panduan aku untuk kembali ke Allah lagi. Bahkan dari buku ini mampu memberikan perspektif sekaligus jawaban mutlak atas pertanyaan yang selama ini mengusik. Soal konsep Tuhan yang tadi kusampaikan.
Satu poin penting. Satu saja. Jangan-kamahan selama ini aku telah berdoa dan berharap kepada Tuhan yang salah? Jadi, ketika aku merasa marah karena Tuhan yang acuh tidak acuh, Tuhan mana yang aku maksud? Aku menyadari, ternyata selama ini aku telah memiliki konsep Tuhan tersendiri di kepala. Tuhan Maha Mendengarkan, Maha Baik, Maha Kaya, Maha Pemberi, Maha Pengasih Lagi Penyayang. Sehingga ketika aku berharap dan berdoa, ekspektasiku akan menyesuaikan konsep Tuhan yang tercetak di kepala. Kemudian aku menjadi marah karena Tuhan mengabulkan harapan dan doaku. Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Kenapa harapan dan doaku tidak dikabulkan? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Kenapa Tuhan tidak memakmurkan hidupku? Bukankah Tuhan Maha Penyayang? Kenapa ujian terus hadir tanpa henti?
Padahal, bukankah Allah memiliki 99 asmaul husna? Bukankah Allah juga Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui? Allah bukan hanya Mendengarkan, melainkan juga Mengetahui apa yang terbaik untuk aku. Allah Menyayangi aku dengan Bijaksana melalui ujian-ujian yang diberikan. Allah itu Adil, amatlah adil, jika Allah tidak adil, Allah tidak akan peduli dan menuntun aku untuk kembali kepada-Nya. Buku ini telah mendobrak pintu hati untuk segera membenahi kerusakan yang masih singgah di kepala. Bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah Ta’ala, bukan tuhan palsu yang aku buat sendiri di kepala. Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah yang tahu kebutuhanku, bukan tuhan palsu yang harus sesuai dengan keinginanku.
Allah yang sejati dan sesungguhnya, Dialah pemilik 99 asmaul husna, bukan hanya sebagian. Artinya, konsep Tuhan yang selama ini terbentuk di kepalaku masih kurang lengkap. Aku hanya meyakini sifat Allah yang aku ingin saja. Selama ini aku telah salah memusatkan Tuhan. Wajar aku kecewa karena berharap pada tuhan palsu di kepala, bukan kepada Allah. Wajar aku marah, itu karena aku telah mengabaikan sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan, wajar aku marah karena aku telah bersikap menuntut Allah untuk sesuai dengan apa yang aku inginkan. Padahal, Allah lebih tahu, Allah lebih memahami apa yang aku butuhkan.
Di tengah perjalanan membaca buku ini, karena Allah, aku punya kisah ajaib yang aku ceritakan dalam tulisan blog Jejak-Jejak Allah dalam Hidup Aku.





