TIGA tahun lalu aku masih bai-baik saja menggulirkan media sosial yang dipenuhi berita-berita politik. Mulai dari kasus korupsi sampai sistem pemerintahan yang selalu menyulut api kemarahan dari masa ke masa. Yeah, bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat itu selalu ada saja tingkah laku lucunya yang menggemaskan. Dari era periode terakhirnya Jkw, kepercayaan terhadap kinerja pemerintah makin terkikis. Omong-omong aku bukan pemudi yang paham politik secara mendalam, hanya permukaan saja. Sebut saja tulisan ini ditulis oleh orang awam politik, tetapi kesal setengah mati dengan kondisi rezim saat ini yang membabi buta.
Dari masa pemilu 2024, aku sudah tidak yakin dengan pasangan calon nomor 2. Kita sama-sama tahu track record-nya era kisruh 98. Memang, sih, aku belum lahir, tetapi masa iya seseorang yang pernah melanggar HAM dan menculik aktivis menjadi orang nomor 1 di negara yang masih berkembang? Bukan soal people change better atau we can not see someone from the past. Akan tetapi, ini soal sejarah tentang seseorang yang mencoreng nilai-nilai kenegaraan dan kemanusiaan. Dalam kehidupan sehari-hari, dua konsep tadi bisa diterapkan, tetapi tidak dalam konteks kehidupan bernegara.
Dengan memiliki calon wakil presiden yang melanggar aturan konstitusi saja sudah janggal. Menurutku, sesuatu yang sejak awal sudah ada kecurangan, ke depannya tidak akan berjalan dengan baik. Oke, cukup sampai saat ini pembahasan era pemilu 2024 yang memenangkan telak pasangan calon nomor tengah. Aku menerima itu dan mulai belajar percaya, baiklah semoga saja pemimpin yang kali ini lebih baik. Satu tahun awal, masih aku lihatin. Masif berita MBG yang kemudian menuai kontroversi. Anggaran tidak masuk akal, keracunan di mana-mana, sistemasi yang tidak efektif. Sementara di sisi lain, gaji guru yang masih belum layak, akses pendidikan belum merata. Anggaran sebanyak itu, sangat mendiskriminasi dunia pendidikan dan makanan yang merundung sistem pencernaan anak-anak. Kemudian dampak MBG yang justru mengakibatkan efisiensi besar-besaran, selain meracuni ternyata juga merugikan masyarakat.
Pajak yang memnbengkak, rupanya kabinetnya menggemuk. Kalau sampai kabinet jadi obesitas, akan sebombastiz apa pajak nantinya? Masalahnya sudah rahasia umum ketika alokasi pajak diterima sebagai gaya hidup pejabat yang mewah. Mempertontonkan tas mahal dan mobil mahal menjadi cara halus pejabat mencekik rakyat yang notabenenya adalah bos mereka. Belum lagi harga BBM yang naik fantastis, yang di atas sibuk mengais-ngais, rakyatnya menangis-nangis. Tidak hanya dibuat menangis, kita juga dibuat geram dan muak ketika tiba-tiba koperasi desa merah putih tersebar di berbagai titik di Indonesia, mulai dari pinggir jalan sampai tengah hutan. Mau ngapain? Untuk apa? Wah, anggaran kita banyak juga, ya, ternyata? Namun, anggaran yang banyak itu kalau dilihat-lihat, kok, malah membahagiakan bapak ibu pejabat sekalian, ya, daripada masyarakatnya? Sungguh anomali paling kurang ajar.
Puncaknya ketika seruan demonstrasi justru mengorbankan luka dan nyawa. Mulai dari asal tankap, jurnalis yang disiram air keras, sampai seorang ojek daring yang meninggal dilindas mobil brimob. Negeri ini kenapa, ya, apakah sedang dirasuki setan? Hati nuraninya sudah rusak, sudah cacat! Terbukti ketika bencana terjadi, dimulai dari banjir bandang dan tanah longsor di sebagian Sumatera. Gempa NTT, sampai Karhutla yang berdampak ke pulau seberang bahkan negeri seberang. Dan masih banyak lagi bencana yang tersebar di hampir seluruh tanah air. Coba perhatikan sikap-sikap pada pemangku kekuasaan yang tidak beradab itu! Fatalnya beberapa bencana besar yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan sampai sekarang bahkan tidak ada tindakan tegas, yang ada sikap lelet dan lamban. Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan makhluk macam apa mereka itu, yang jelas bukan manusia.
Aku marah, marah sekali. Itu orang-orang hatinya sudah membusuk oleh kekuasaan atau sudah mati dimakan jabatan? Aku penasaran apakah mereka masih bisa tidur nyenyak dan hidup tenanng? Aku marah, tetapi aku bingung harus berbuat apa?!
Setidaknya dua tahun belakangan, aku mulai sampai titik lelahku dalam mengonsumsi berita-berita politik dan kemanusiaan. Jangankan menonton atau membaca, mengingat saja dadaku langsung sesak. Korupsi MBG, korupsi jampidsus, dan statement-statement para politikus tukang tipu! Ah, sialan, marah sekali aku. Tahu tidak, sih, ketika rasa marah tidak bisa dialokasikan dan tertaham di dada, jadinya sesak dan penuh. Walaupun sebetulnya aku cukup bersyukur masih bisa menjalani hidup dengan baik dan menghirup udara segar. Hanya saja, membayangkan mereka yang sedang dalam situasi bencana dan tidak mendapatkan penanganan cepat dari pemerintah adalah sesuatu yang menyesakkan. Rasanya sulit menjalani keadaan baik-baik saja, tetapi banyak orang di luar sana yang tidak baik-baik saja. Sementara aku tidak dapat berbuat apa-apa, selain mendoakan dan bersuara melalui tulisan ini.
Aku sering mendapatkan informasi bahwa tingkat stres saat ini di Indonesia meningkat. Utamanya disebabkan oleh paparan berita-berita negatif yang kemudian menciptakan emosi negatif berupa sampah dalam diri. Sebetulnya aku lumayan menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi berita-berita politik demi menghindari stressful. Namun, Aku tidak akan membiarkanku menjadi orang paling tidak peduli seperti para pejabat. Bagaimanapun aku harus tetap mengawal dan memantau situasi negara porak-poranda. Makin ke sini, rasa-rasanya makin dekat dengan ujung kehidupan yang mencekam. Seakan-akan tidak ada harapan lagi untuk percaya. Sekarang semuanya serba terimpit dari berbagai bidang dan sektor. Akan tetapi, satu hal, bertahanlah menjadi manusia waras sampai tahun 2029. Dan, pastikan kita tidak memilih orang yang salah.
Marah boleh, tetapi Jangan lupa berdoa untuk perubahan dan kebaikan negara ini, ya? Bagaimanapun kita lahir dan tumbuh di tanah air ini.





