Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
SEUPAYA apa pun aku bersikap aman, ternyata tetap saja, namanya hidup tidak lepas dari masalah. Justru dari sikap “aman” itulah yang menjadi cikal bakal masalah. Masalah yang kemudian membawaku pada satu titik balik. Persoalan diri yang nyatanya belum pernah selesai. Tentang tangki hati yang tidak pernah penuh. Tentang perkembangan diri yang belum pernah ada hasilnya. Tentang masa depan yang terlihat samar. Dan, tentang pola pikir yang terus menyerang diri sendiri.

Dan, lagi-lagi, semua itu datang dari perasaan tidak berharga. Perasaan tidak berharga yang membuat aku haus validasi demi mengisi tangki. Perasaan tidak berharga yang memblokade mental aku untuk berkembang dan bertumbuh. Perasaan tidak berharga yang menakut-nakuti betapa suramnya masa depanku. Perasaan tidak berharga yang mengendalikan pikiran untuk selalu merendahkan diri sendiri.

Perasaan tidak berharga yang kemudian dibalut dengan kepedulian palsu. Balutannya tampak indah, sementara orang lain tidak melihat betapa di balik balutan itu terdapat diri yang terkoyak karena kehilangan identitas. Setelah sekian lama diri itu bertahan di belenggu oleh balutan indah yang palsu, akhirnya berontak dan menyerang. Seperti ledakan besar, diri itu akhirnya merobek balutan dan memperlihatkan aslinya. Bahwasanya keindahan itu hanya balutan yang mudah hancur dan sejatinya adalah diri yang butuh diperbaiki.

Sudah saatnya untuk merevisi hidup besar-besaran. Bukan hanya dari potensi yang perlu digali lebih dalam, melainkan juga dari sisi diri sendiri yang perlu ditemukan seutuhnya. Menurut aku kehidupan yang selalu berujung stagnan adalah karena meragukan diri sendiri. Dan, alasan aku masih tidak benar-benar menjadi diri sendiri adalah karena masih takut kehilangan validasi. Bersumber dari dua masalah tersebut, aku mulai merevisi hidup dari satu titik, pola pikir. Iya, kamu juga pasti pernah dengar, untuk bisa berubah harus diawali dari membenahi pola pikir. Apa lagi mengubah sesuatu yang sifatnya kebiasaan, ini bukan perkara mudah.

Padahal, sebelum-sebelumnya beberapa kali ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terutama di produktivitas. Sebelumnya produktivitas aku hanya berkutat sebagai volunteering di PABOBA. Tidak ada kesibukan lain selain di PABOBA. Kemudian ketika seorang teman menyadarkanku bahwa selama ini pencarian validasiku masih menyasar orang lain. Padahal, validasi dari diri sendiri perlu diakui. Dan, aku menceritakannya secara lengkap di tulisan Tangki Hati yang Tidak Pernah Terisi Penuh. Dari situ aku mulai berkontemplasi dan menyentuh ruang pikiran yang hampir tidak terkendali. Satu hal yang pasti, aku memutuskan untuk menemukan diri sendiri. Menemukan diri dengan cara merevisi hidup dan menentukan tujuannya.

Setelah dua kejadian memuncak beberapa bulan lalu. Tentang diri yang kehilangan ketulusannya. Tentang mental diri yang terus terblokade untuk berkembang. Revisi hidup kali ini memiliki tujuan yang pasti: mencapai rida Allah. Terlalu religius, ya? Padahal, aku bukan muslimah yang taat. Hanya saja, aku menyadari hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding Allah. Bahkan apa-apa yang aku lakukan saat ini terjadi atas izin Allah. Selama ini seakan-akan menuhankan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi. Ketika mendapatkan pencapaian kecil, selalu menganggap karena aku. Oke, secara proses memang aku yang melakukan. Akan tetapi, Allah yang memberi izin dan kendali. 

Dan, kalau kata Alvi Syahrin dalam bukunya berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, mencintai diri sendiri sama halnya dengan mencintai Allah karena diri adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Kebetulan belakangan aku memang sedang belajar tentang iman dan mencintai Allah. Maka satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Aku mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa membuatku merasa berharga. Menjadikan kelebihan dan potensiku sebagai sesuatu yang luar biasa dan perlu dikembangkan. Menjadikan kelemahan sebagai pengingat diri bahwa aku adalah manusia yang akan selalu butuh Allah.


Ada beberapa revisi hidup yang mulai aku lakukan. 

Social & Self Relations

Pertama. Dari sisi diri dan hubungan dengan orang lain. Ketika menyadari bahwa aku bukan orang yang tulus dalam menjalani suatu hubungan, apa pun itu. Revisi yang aku terapkan adalah belajar untuk mengutamakan diri sendiri. Memang ini sedikit egois, tetapi bertujuan untuk mengetahui kapasitas diri. Kapan aku harus mendengarkan orang lain dan kapan aku butuh waktu sendiri. Aku belajar untuk berani berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak bisa atau tidak mampu aku lakukan. Aku belajar untuk mendengarkan dan memeluk diri sendiri. Aku mengubah pola pikir bahwa aku juga sama pentingnya dengan orang lain. Sebab, Aku tidak pernah merasakan dicintai diri sendiri.

Dan, ketika aku sudah mencintai diri sendiri, maka hubunganku dengan orang lain akan jauh lebih bermakna, tanpa paksaan dan menjadi diri yang apa adanya.

Volunteering Goals

Kedua. Tujuan volunteering. Salah satu tempat paling efektif untuk aku mengais validasi tanpa henti adalah dengan memanfaatkan volunteering. Sebetulnya adalah hal wajar ketika kita melakukan sesuatu karena butuh validasi. Apa lagi namanya komunitas ada timbal balik dan saling menguntungkan. Komunitas butuh volunteer untuk penggerak dan volunteer butuh berkembang di komunitas. Itu sudah aku terapkan dan ternyata membuatku lelah. Maka aku belajar untuk bekerja ikhlas karena PABOBA merupakan tempat yang membuat aku jadi lebih baik. PABOBA yang memberi harapan tentang masa depan. Dan, PABOBA memberikan kesempatan aku untuk mencoba, sampai akhirnya ada di titik saat ini.

Jadi, fokus aku menjadi volunteer PABOBA bukan mengais validasi, melainkan berkontribusi. 

Create Personal Productivity

Ketiga. Membangun produktivitas personal. Ini yang paling penting karena adalah jalan untuk menemukan dan mencintai diri sendiri. Sebetulnya sudah dari lama sekali aku ingin punya produktivitas secara pribadi, maksudnya tidak terikat dengan komunitas ataupun orang lain. Sudah pernah dicoba, tetapi ujung-ujungnya tidak konsisten. Antara malas dan mental block, beda tipis memang. Sampai akhirnya ada di satu titik, motivasi 1% dari seorang teman mendorongku untuk akhirnya menyusun jadwal produktif. Pertama-tama aku list terlebih dahulu bentuk produktivitas. Misal: video Tiktok/Reels, blogging, carousel & story Instagram, dan drafting untuk buku solo. Kemudian, menyusun list proses produksi: take & edit video, menulis blog, menulis skrip untuk carousel, membagikan proses produktif ke IGs & SW, mencari naskah di blog lama untuk dijadikan buku solo.

Kalau dijadikan jadwal akan berbentuk seperti ini:

> MONDAY
Creative
- Banking script video & outlind blog idea #NW
Upload:
- Weekly Goals: A Small Step, has Begun!

> TUESDAY 
Creative
- Take video #NW
- Start writing #NW
- Prepare Vina Reads
Upload
- VT #1

> WEDNESDAY
Creative
- Editing video #NW
- Self edit blogscript & desain thumbnail #NW
Upload
- Post blog
- Upload Vina Reads

> THURSDAY
Creative
- Edit Vina Writes #NW
- +5 book drafting
- Prepare Vina Gratitudes
Upload
- Vina Gratitudes

> FRIDAY
Creative
- +5 book drafting
Upload:
- Vina Writes

> SATURDaAY
Creative 
- Prepare Vina Growth
Upload
- VT #2

> SUNDAY
Creative
- Prepare Vina Goals
Upload
- Vina Growth

Semua itu merupakan produktivitas pribadi yang harus diprioritaskan. Sebetulnya jadwal di atas tidak termasuk dengan jadwalku sebagai Kordiv PABOBA Creative Hub. Dan, ini menjadi kesempatan aku untuk belajar manajemen waktu. Satu hal yang aku pelajari, produktivitas yang efektif menurut aku dimulai dari sepagi mungkin dan tidur lebih awal. Supaya tetap konsisten dan terlihat progresnya, aku memanfaatkan akun Instagram JourneYou Room yang aku buat awal tahun untuk merekam proses produktivitas. Agar makin terlihat aktif, aku kolaborasikan dengan akun utamaku, yuvinazaharany_. Kalau ditanya, dengan produktivitas sebanyak itu memang bisa fokus? Bukankah kita harus mulai dari satu produktivitas dulu untuk bisa konsisten? 

Betul. Aku memilih untuk fokus produktif menulis blog dan baca buku. Tahu, tidak, justru dari dua produktivitas tersebut mampu melahirkan cabang-cabang produktif lainnya sekaligus sebagai personal branding. Dari postingan blog, bisa dibuat konten Vina Writes dan Vina Talks. Dari baca buku, bisa dibuat konten Vina Reads dan Vina Talks. Bahkan produktivitas yang aku lakukan bisa jadi konten journaling Vina Goals, Vina Gratitudes, Vina Growth, dan To-Do List di JourneYou Room. Jadi, tidak pusing karena memang saling berkaitan. Aku juga menurunkan ekspektasi dan standar berlebihan. Sebelumnya harus bisa menulis 1000 kata per tulisan, sekarang aku kurangi jadi minimal 800 kata saja. 

Dan, sekarang sudah berjalan satu bulan merevisi hidup. Sejujurnya aku tidak menyangka masih bisa mempertahankan produktivitas sampai detik ini. Biasanya jika sudah berjalan sehari dua hari, pasti akan berhenti. Mungkin karena kali ini memiliki tujuan yang lebih jelas dan telah melakukan identifikasi masalah. Sekarang aku merasa bersemangat dan berupaya keras untuk tidak berhenti karena kalau berhenti, akan sulit untuk bangkit lagi. Satu hal yang terpenting, Aku belajar untuk fokus pada progres dan proses, bukan pada kesempurnaan dan validasi.

AKU wmengakui bahwa imanku memang mengalami kelusuhan. Bahwa bentuk iman itu layaknya baju yang sering dipakai berulang kali sampai akhirnya lusuh. Iman yang kemudian luntur adalah wajar, tetapi menjadi tidak tepat ketika membiarkannya luntur hingga akhirnya tenggelam tak tertolong. Sementara, ketika baju kotor sedikit langsung dicuci, ketika baju rusak langsung beli baru. Bagaimana dengan iman yang terlanjur koyak, kotor dan rusak? 

Keimanan yang melemah ini terjadi setelah aku pesimis terhadap harapan yang tidak pernah ada jawaban. Berulang kali berharap, berulang kali pula nyaris tiarap. Akhirnya menyerah—entah pada apa atau siapa—mengikuti alur tanpa merencanakan apa pun. Buat apa? Toh, hidup aku begini-begini saja. Aku memang tidak layak dan tidak pantas bahagia. Tidak berani pula jika harus menyalahkan Tuhan, lebih kepada terserah saja jika hidupku tidak menarik.

Sudah sejak lama aku menganut hidup-pesimistis, percuma berharap, tidak akan ada yang berubah. Sampai-sampai aku jadi orang rasional dan logis, cenderung memblokade diri sendiri dari segala hal positif. Tidak mungkin bahagia, tidak mungkin sukses, tidak mungkin tercapai, tidak mungkin … pokoknya tidak mungkin, deh. Meski perlahan-lahan, kutipan mutiara mulai masuk telinga: Tuhan mengabulkan doa kita di waktu yang tepat, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kalau doa tidak terkabul berarti Tuhan sudah mempersiapkan rencana baik untuk kita, dan kutipan mainstream lainnya.

Sebetulnya aku sudah mengamini dan mengerti. Akan tetapi, kutipan-kutipan itu tidak cukup untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keimanan langsung seratus persen. Aku masih tidak yakin kepada Tuhan atas doa dan harapanku. Sampai ketika seseorang yang spesial memberikan buku digital berjudul Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Sepuluh halaman pertama, aku mendapatkan satu insight yang segar dan baru. Tidak pernah aku temui sebelumnya. 

Aku pernah berpikir tentang perasaan insecure terhadap diri sendiri. Merasa tidak layak dan tidak pantas untuk—sesederhana—bahagia, bahkan aku merasa malu berdoa karena banyak menimbun dosa. Logikanya begini, terlalu tidak tahu diri ketika aku si pendosa ini kemudian memohon permintaan kepada Allah, sementara aku banyak melanggar-Nya.

Walaupun. Seperti yang sebelumnya sudah aku ceritakan, aku sudah pernah mencobanya—berdoa dan menyandarkan harapan. Tidak pernah ada jawaban, yang ada aku malah makin merasa berdosa. Perasaan-perasaan negatif itu lahir dari harapan yang hampa tiada ujungnya. Kemudian ada yang berbisik, “Bagaimana kalau perasaan itu datang dari setan?”

Ketika aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? di halaman ke-11, bisikan yang telah lama berputar itu teramini. Betapa aku telah kalah dari setan yang berhasil meniupkan perasaan tidak pantas dan tidak layak. Betapa selama ini, aku telah tidak berdaya di bawah rayuan setan. Imanku lemah. Imanku goyah. Imanku rapuh. Ditempa oleh berbagai kerendahan diri akut, sampai-sampai melupakan bahwa ada fase bangkit. Aku hanya tahu jatuh dan makin terjerembab ke dalam kegelapan. Setidaknya sampai aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? yang kemudian kembali menuntunku untuk berdiri.

Mulai dari perombakan pola pikir yang bobrok. Pola pikir yang bermental menyerah. Buku ini perlahan-lahan-lahan membantuku berdiri. Seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya berjalan. Atau, yang lebih menyentuh lagi, aku merasa buku ini menjadi perantara Allah untuk menuntunku berdiri. Berdiri untuk kembali berjalan, berjalan untuk kembali kepada-Nya. Mulai dari hal terkecil, mengubah pola pikir. Mengubah sudut pandangku tentang kehidupan dan konsep Tuhan.

Satu tahun belakangan, aku sering mempertanyakan Tuhan. Bukan soal keberadaannya, melainkan konsep Tuhan dalam mengabulkan doa dan harapan. Berangkat dari apa-apa yang terjadi di masa lalu, aku tumbuh jadi seseorang yang sudah tidak percaya lagi dengan masa depan cemerlang. Jangankan masa depan, masa kini yang sifatnya nyata pun terasa tidak mungkin. Setiap memiliki keinginan atau cita-cita, secara otomatis langsung aku kubur dalam-dalam. Banyak faktornya, mulai dari perasaan tidak layak karena tidak ada kemampuan. Kemudian merasa tidak pantas karena aku seperti hidup bagaikan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Aku merasa tidak berharga karena tidak ada kegunaan dan manfaat.

Semua perasaan yang kemudian meruntuhkan harapan dan doa. Aku ada di titik merasa tidak pantas dan tidak layak untuk berharap dan berdoa. Bukan tanpa alasan. Pernah mencoba, tetapi setiap berharap, berujung pada kecewa. Setiap berdoa, aku makin terjerembab dalam kegelapan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan, yang aku lakukan adalah terserah Tuhan mau mengatur hidup aku seperti apa. Aku takut, tetapi aku marah pada Tuhan yang tidak pernah adil dengan hidup aku. Aku marah karena hidup aku seperti sampah. Dan, aku hanya bisa diam. Balas dendam adalah dengan merendahkan diri sendiri. Kemarahan yang aku lampiaskan kepada pola pikir negatif terhadap diri sendiri. Sebab, hanya aku yang bisa aku salahkan.

Itu aku yang sebelumnya. Sebelum aku akhirnya mulai menelusuri dunia literasi. Sebelum aku menjadi bagian dari Komunitas 30 Hari Membaca. Dan, sebelum aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Aku merasa Allah, perlahan-lahan menuntun aku menemukan jawaban dari 2019 sampai sekarang akhirnya terjawab sempurna. Seakan-akan buku ini menjadi panduan aku untuk kembali ke Allah lagi. Bahkan dari buku ini mampu memberikan perspektif sekaligus jawaban mutlak atas pertanyaan yang selama ini mengusik. Soal konsep Tuhan yang tadi kusampaikan. 

Satu poin penting. Satu saja. Jangan-kamahan selama ini aku telah berdoa dan berharap kepada Tuhan yang salah? Jadi, ketika aku merasa marah karena Tuhan yang acuh tidak acuh, Tuhan mana yang aku maksud? Aku menyadari, ternyata selama ini aku telah memiliki konsep Tuhan tersendiri di kepala. Tuhan Maha Mendengarkan, Maha Baik, Maha Kaya, Maha Pemberi, Maha Pengasih Lagi Penyayang. Sehingga ketika aku berharap dan berdoa, ekspektasiku akan menyesuaikan konsep Tuhan yang tercetak di kepala. Kemudian aku menjadi marah karena Tuhan mengabulkan harapan dan doaku. Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Kenapa harapan dan doaku tidak dikabulkan? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Kenapa Tuhan tidak memakmurkan hidupku? Bukankah Tuhan Maha Penyayang? Kenapa ujian terus hadir tanpa henti?

Padahal, bukankah Allah memiliki 99 asmaul husna? Bukankah Allah juga Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui? Allah bukan hanya Mendengarkan, melainkan juga Mengetahui apa yang terbaik untuk aku. Allah Menyayangi aku dengan Bijaksana melalui ujian-ujian yang diberikan. Allah itu Adil, amatlah adil, jika Allah tidak adil, Allah tidak akan peduli dan menuntun aku untuk kembali kepada-Nya. Buku ini telah mendobrak pintu hati untuk segera membenahi kerusakan yang masih singgah di kepala. Bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah Ta’ala, bukan tuhan palsu yang aku buat sendiri di kepala. Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah yang tahu kebutuhanku, bukan tuhan palsu yang harus sesuai dengan keinginanku.

Allah yang sejati dan sesungguhnya, Dialah pemilik 99 asmaul husna, bukan hanya sebagian. Artinya, konsep Tuhan yang selama ini terbentuk di kepalaku masih kurang lengkap. Aku hanya meyakini sifat Allah yang aku ingin saja. Selama ini aku telah salah memusatkan Tuhan. Wajar aku kecewa karena berharap pada tuhan palsu di kepala, bukan kepada Allah. Wajar aku marah, itu karena aku telah mengabaikan sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan, wajar aku marah karena aku telah bersikap menuntut Allah untuk sesuai dengan apa yang aku inginkan. Padahal, Allah lebih tahu, Allah lebih memahami apa yang aku butuhkan.

Di tengah perjalanan membaca buku ini, karena Allah, aku punya kisah ajaib yang aku ceritakan dalam tulisan blog Jejak-Jejak Allah dalam Hidup Aku.
 

KADANG-KADANG aku merasa egois dengan diri sendiri. Terlalu sering mengabaikan diri yang butuh hiburan. Sesekali tidak masalah, kok, menggunakan sebagian uang untuk sekadar menyenangkan diri. Lagian sudah berapa lama dan sering coba mengabaikan diri? Manusia memang perlu memahami kebutuhan. Akan tetapi, bukan berarti jadi pincang untuk jalan-jalan sendirian.

Kalau aku normal, keluhan tadi terasa masuk akal dan menampar diri. Masalahnya, aku tidak normal. Aku lupa, kapan terakhir kali akhirnya memanjakan dan menyenangkan diri sendiri. Makin aku pikirkan, makin ragu, jangan-jangan aku tak pernah menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. Kebanyakan kalau main di luar pasti selalu bareng teman atau keluarga. Tidak pernah ada kesempatan untuk bercengkerama dengan diri sendiri di luar rumah.

Baiklah. Satu temuan besar yang baru saja kusadari hari ini adalah aku tidak pernah me time. Serius. Dan, aku butuh me time!!!

Setidaknya hampir delapan tahun hidup, 90%-nya dihabiskan di dalam rumah. Bukannya aku cosplay jadi Rapunzel. Selain memng betah di rumah, kondisi penglihatan aku cukup menghambat kakiku melangkah seorang diri ke luar rumah. Dan, aku punya masalah “tidak enakan” kalau harus bergantung dengan orang lain hanya untuk sekadar menemaniku me tune. Itu akan merepotkan mereka karena harus “menjagsku”. Lagi pula yang aku mau, kan, me time sendirian. Lumayan lelah sebetulnya karena terus bersandar dengan orang lain.

Aku mengidamkan untuk bisa eksplorasi kota Bandar Lampung sendirian. Menikmati beberapa tempat kuliner tanpa harus menunggu teman berminat. Pergi ke wisata alam tanpa harus menunggu waktu libur orang lain. Dan, ke tempat-tempat lainnya yang memungkinkan aku jangkar. Atau sekadar jalan-jalan ke mal dan melakukan produktivitas di sana sambil menikmati potato plates serta matcha latte.

Dan—lagi—aku juga tipe anak rumahan yang tidak masalah lebih banyak di rumah. Di rumah juga ada fasilitas yang bisa menopang produktivitas aku dengan baik. Soal makanan, mulai dari camilan sampai makanan berat pun sudah tersedia. Terkadang jajanan-jajanan juga suka diberikan oleh Tanteku. Bahkan akses wifi 24/7 amat membantu produktivitas di komunitas online dan media sosial. Bisa dibilang aku yatim-piatu yang cukup makmur. Namun, aku hanya ingin menhhirup udara segar dan menikmati vibes kehidupan dengan diri sendiri.

Padahal keinginannya sederhana, tetapi aku tidak bisa mendapatkannya. Seseorang bilang kepadaku, “Kok, kamu bisa bahagia, padahal di rumah aja?”

Satu pertanyaan yang membuat aku tersadar tentang tindakan yang diambil oleh tubuh dan pikiranku selama ini. Kalau dikatakan bahagia, aku tidak bisa memungkiri selama di rumah tidak ada kendala berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja, kalaupun ada masalah, tidak herlarut lama. Kemudian yang membuat kebahagiaan itu sedikit terusik adalah keinginan yang muncul. Kdimginn untuk jalan-jalan semdiri dan sebetulnya itu wajar, kok, sudah terlalu lama di rumah. Menjadi tidak wajar dan mengusik ketenangan ketika terlalu memaksakan keinginan. Terlalu dipaksa, padahal aku tidak mampu, tidak bisa, realitasnya sedang tidak berpihak. Dan, aku rasa, butuh waktu yang lama sekali sampai aku bisa mencapai keinginan itu. Belum lagi harus melewati proses panjang, seperti misalnya check up dan pengobatan mata. Sementara untuk sampai ke proses itu saja, aku sendiri sangsi. Lantas, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah: menerima, jangan memaksakan.

Aku menerima bahwa realitasnya tidak bisa me tim dengan jalan-jalan sendirian. Dan, aku tidak akan memaksakan diri untuk keluar rumah sendiri karena itu akan membahayakan diri sendiri. Toh, sebetulnya kalau bicara soal me time memang kebutuhan, kan, tidak harus keluar rumah, di rumah juga bisa, kok. Tidak semua keinginan harus direalisasikan, kan? Selama kebutuhannya terpenuhi, itu sudah cukup membahagiakan. Bisa jadi sebetulnya hidup kita sudah jadi standar kebahagiaan tersendiri, tetapi yang membuat kebahagiaan itu musik adalah standar yang terlalu memaksa. Standar yang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kapasitas diri. Akan tetapi, bukankah segalanya butuh proses?

Aku yakin bukan tanpa alasan, kenapa Allah memberikan kendala pada mataku. Aku yakin tidak serta-merta Allah memberikan keterbatasan dalam diri aku. Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawaban semua itu, tetapi aku tidak berusaha untuk mencarinya. Ada beberapa jawaban-jawaban yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Dan, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus waktu, itu adalah ranah Allah. Sementara aku sebagai manusia hanya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik-baiknya.

Sekarang aku memilih untuk menghargai waktu dengan tidak memaksakan keinginan di luar batasku. Apa pun itu, tidak hanya soal masalah me time. Aku sedang menciptakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang kubuat dalam hidup. Bukan berarti tidak mau hidup tanpa masalah, melainkan bagaimana caranya agar tetap bahagia dan tenang meski dalam masalah. Sebab, kalau dipikir-pikir lagi, sejak 2022 sampai saat ini, aku punya masalah yang tidak pernah berhenti dan terus berkelanjutan entah sampai kapan. Kondisi mata yang membatasiku adalah masalah. Namun, karena aku tidak mau menganggapnya sebagai masalah dan makin membatasi hidup aku, aku merasa tidak punya masalah. Benar kata orang-orang bahwa ternyata bahagia itu pilihan. Bisa jadi kita sendiri yang memilih untuk tidak bahagia.

Kini, aku tetap pergi ke luar rumah dengan teman aku percaya. Apa lagi, mulai bulan ini, setiap pekannya aku punya agenda rutin, kajian offline bersama Kak Septi dan Mbak Riska. Lokasi kajiannya pun tidak begitu jauh dari rumah, di Masid Ad-Du’a atau bisa fleksibel di masjid atau tempat lain. Biasanya agenda aku main keluar rumah hanya sebulan sekali ke rumah teman atau ke tempat kuliner. Cuma kalau dipikir-pikir lagi, agak disayangkan ketika uang habis untuk bermain jika rutin satu pekan satu kali. Berbeda dengan kajian yang sifatnya menuntut ilmu, justru malah sekarang aku memiliki pos uang tersendiri untuk kajian.

Kalau dalam buku Tuhan Engkau Pembohong? Allah mengabulkan doa kita tidak melulu sesuai dengan keinginan kita. Justru aku merasa kajian offline ini menjadi jawaban atas keinginan aku. Allah lebih tahu kebutuhanku, bisa jadi yang aku butuhkan adalah pengalaman beraktivitas di luar rumah, tidak harus sendiri, tetapi dengan teman. Apa lagi pertemuan pertama aku dengan Mbak Riska juga baik banget. Mbak Riska mentraktir aku dan Kak Septi mi ayam Jogja. Bahkan, biasanya setelah kajian aku dan Kak Septi pergi ke suatu tempat. Pekan lalu kami makan es krim di Momoyo. Kalau kemarin, kami jajan somay dan pop ice di sekitar Stadion Sumpah Pemuda. Dan tanpa disadari Allah mengabulkan keinginanku untuk jajan di sekitar stadion melalui Kak Septi.

SEJAK awal tahun, aku sudah tidak percaya lagi dengan kebetulan. Hidup. Aku terlalu bermakna, hal sesederhana apa pun akan memiliki arti. Lagi pula terlalu dangkal tidak, sih, menganggap sesuatu yang kebetulan dengan “kebetulan belaka”? Awalnya aku juga begitu, menganggap kebetulan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah itu keajaiban? Kapan lagi, kita menyaksikan dan mengalami fenomena ajaib yang terjadi di tengah kehidupan biasa-biasa saja ini?

Kemarin aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong karya Taufiq RH yang memberikan perspektif. Betapa Allah hadir dalam hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Saking kecilnya, hanya dianggap layaknya angin yang berembus sepersekian detik. Padahal angin itu tidak akan berembus tanpa ada pengendali, kan? Ada sesuatu di baliknya. Begitu pun dengan momen-momen kecil yang kita pikir tidak terlalu penting sehingga terabaikan. Pasti ada pengendalinya. Pasti ada yang mengizinkan momen itu terjadi. Dikendalikan dan diizinkan oleh sesuatu yang amat besar dan kuasa, Dialah Allah.

Itulah jejak-jejak Allah, di baliknya ada sebuah pesan terselip. Bisa jadi pesan penghibur lara atas doa yang belum juga terkabul. Seakan-akan Allah ingin berkata bahwa percayalah kepada-Nya, pilihan Allah tidak pernah salah. Bisa jadi pesan itu adalah petunjuk. Seakan-akan Allah sedang menuntun kita untuk kembali ke jalan-Nya. Betapa baiknya Allah, hadir di setiap kesederhanaan. Memeluk di momen yang mudah dijangkau. Itu artinya Allah tidak pernah meninggalkan kita, barangkali kita yang perlahan-lahan meninggalkan-Nya. Mulai sekarang, aku ingin mengajak kamu untuk mengubah sudut pandang tentang kebetulan. Memang tidak ada yang kebetulan, kok, bukankah segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah? Pasti ada pesan. Pasti ada makna yang baik.

Satu tahun belakangan, banyak sekali kejadian-kejadian kecil yang membuat aku merasa Allah masih peduli dengan aku. Tadinya aku ragu, aku banyak sekali dosa, bukan manusia yang baik. Namun, makin ke sini, makin sadar dan terenyuh. Bahkan dari masa lalu, banyak sekali jejak-jejak Allah yang menolong aku. Aku tidak ingin momen-momen itu hanya terekam di kepala. Pada tulisan kali ini, aku ingin lebih bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkanku.

Makanan-Makanan di Kepala yang Tiba-Tiba Terhidang

Kadang-kadang aku tipe yang loyal dengan diri sendiri, lagi mau makan apa, tidak peduli sisa uang yang terpenting kebutuhan banyak mau terpenuhi. Namun, ada juga kalanya jadi pelit dengan diri sendiri, biasanya dikarenakan ada kebutuhan lain yang lebih urgen atau masih merasa sayang dengan sisa uang yang ada. Pada akhirnya kalau sedang dalam fase tipe kedua, aku lebih banyak mengubur keinginan-keinginan itu di dalam kepala. Nanti saja, deh, untuk saat ini masih belum perlu. Namun, pernah tidak, ketika keinginan itu hanya terkubur di dalam kepala tanpa diucapkan satu kata pun. Jangankan dikatakan, didoakan dalam hati pun tidak. Maksud aku, ini masalah sepele yang tidak perlu aku harus berdoa untuk meminta. Namun, ternyata sesuatu yang ada di kepala itu hadir secara nyata dalam jangka waktu dekat.

Misalnya Oreo, iya, Oreo. Kenapa tidak beli di warung saja? Toh, harusnya tidak sampai lima ribu. Bukan, bukan itu yang aku mau. Kamu tahu, kan, Oreo yang isi banyak dan kemasan panjang? Biasanya hanya tersedia di minimarket. Masalah lainnya aku tidak bisa kemana-mana sendirian. Akhirnya keinginan makan Oreo hanya menjadi isapan jempol. Aku berpikir bahwa itu hanya kemauan yang sifatnya sesaat, besok atau lusa pasti sudah tidak mau lagi, jadi lupakan saja. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Aku lupa, tetapi dalam waktu beberapa hari kemudian, Tanteku memberikan kemasan Oreo persis seperti yang aku mau. Itu satu.

Kedua. Malam hari, aku sedang chatting-an dengan Eka. Aku lupa kala itu bahas tentang apa, tetapi yang jelas pada chat itu aku berseletup bahwa tiba-tiba menginginkan bubur ayam. Aku sadar bahwa itu hanya keinginan sesaat dan tidak begitu penting. Jadi, lagi-lagi aku abaikan dan lupakan, kemudian lanjut tidur. Besok harinya, ketika matahari sudah terbit pertanda waktunya sarapan. Aku menuju meja makan dan sudah terhidang semangkuk bubur ayam. Siap untuk aku makan dengan hangat di pagi hari. Apa ini maksudnya? Tidak mungkin, kan, Tanteku menyadap WhatsApp aku?!

Ketiga. Dulu, waktu Ibu masih ada, aku beberapa kali pernah memakan ayam serundeng. Ini menjadi salah satu jenis makanan yang aku suka karena memang bumbunya sangat kuat. Lagi-lagi malam hari, berkhayal kira-kira di mana kok bisa mendapatkan atau memesan ayam serundeng? Balik lagi karena aku jarang keluar rumah dan tidak pernah eksplorasi kuliner, aku tidak tahu. Dan, aku juga tidak mau cari tahu, toh, aku juga tidak terlalu menginginkannya. Hanya terbayang di kepala dan menahan diri. Namun, esok harinya ketika aku buka tudung saji. Ta-da, ayam serundeng terhidang dengan nikmat. Ingat, ya, aku sama sekali tidak mengucapkannya. Dan, aku yakin, Tanteku bukan seorang mind reader.

Ada lagi! Jangan khawatir~

Keempat. Bulan lalu ketika aku sedang ingin makan chicken katsu. Kali ini aku tidak memendamnya atau mengubur keinginan di kepala. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk memesan online di outlet Gokatsu. Sore itu aku cukup puas dan senang menyantap chicken katsu. Kemudian bungkus kotaknya langsung aku buang ke tempat sampah bersamaan dengan struknya. Besok pagi ketika akan sarapan, betul dan tentu saja, terhidang satu piring chicken katsu. Fiks, Allah betul-betul sebaik itu.

Aku yakin kejadian itu tidak hanya sekali dua kali.

Jasmine Tea

Jadi, belakangan aku mulai menyiapkan pengharum ruangan untuk di kamar. Kemudian aku membeli pengharum ruangan Stella berbentuk spray. Tinggal semprot jadi harum semerbak. Dikarenakan aku cukup Gen Z, waktu itu aku membeli aroma kopi latte. Secara wangi, sih, harum, tetapi aromanya tidak cocok untuk tipe kamarku. Sebetulnya sebelum membeli aku cukup tertarik dengan satu wewangian bernama Jasmine Tea. Hanya saja aku cukup ragu untuk membelinya karena takut baunya seperti menyan. Konyol, sih, tetapi itu memang alasan yang terlintas di kepala. Sambil menghabiskan pengharum ruangan coffe latte, nantinya aku berniat untuk mencoba wangi Jasmine Tea.

Tidak perlu menunggu waktu lama. Di hari Minggu yang cukup panas. Biasanya aku beraktivitas di lantai bawah. Siang harinya baru ke kamar yang terletak di lantai atas. Baru saja masuk kamar, wangi teh langsung menyergap indra penciuman. Udara yang begitu hangat dan nyaman, sampai-sampai aku enggan untuk keluar kamar lagi. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah di kamarku. Namun, masalahnya, mataku tidak mampu menangkap detail objek yang ada di sekitar. Jadi, aku hanya mengira-ngira pengharum ruangan ini pasti disemprot oleh Tanteku.

Sehari berlalu, ketika tanteku naik ke kamarku sambil memberikan camilan. Di saat itulah aku bertanya, “Mama ini wangi teh dari mana? Pengharum ruangan, ya?”

Tanteku menjawab, “Oh, iya. Ini wangi Jasmine Tea. Mama gantung di jendela kamar Vina.”

Ini terlalu spesifik tidak, sih? Kok, bisa, ya?

Progress, Bukan Perfection

Hari Sabtu malam, aku melanjutkan bacaan buku Tuhan Engkau Pembohong yang belum rampung. Aku membaca sampai di hal yang membahas tentang jejak-jejak kecil Allah dalam hidup manusia. Seperti yang sudah aku jelaskan di awal, bahwa Allah hadir di setiap momen kecil yang tidak disadari. Momen yang sering dianggap sebagai suatu kebetulan. Padahal tidak ada namanya kebetulan. Apakah dunia ini hadir karena kebetulan? Tentu tidak. Begitu pun dengan momen kecil dalam hidup kita. Ada alasannya.

Kemudian, aku menyelesaikan bacaan sampai di halaman 184. Setelah rampung 10 halaman yang dibaca hari itu, aku laporan ke grup Next Page Challenge (NPC). Challenge next level membaca dari Komunitas 30 Hari Membaca. Masih tersisa sekitar 60 halaman lagi untuk menyelesaikan satu buku ini. Kemudian aku melanjutkan produktivitas dengan menyusun outline untuk konten carousel Instagram: Vina Growth untuk dipublikasikan besoknya di hari Minggu.

Dan, di akhir script outline pada sub self reminder, aku menuliskan: Focus on progress, not perfection. Sebagai penutup Carousel dan motivasi diri sendiri. Minggu siang, setelah aku meng-input script tersebut ke dalam desain Canva, aku melanjutkan bacaan buku tadi malam. Mulai dari halaman 186 dan akan berakhir di 195. Kemudian aku terpaku pada satu kalimat judul di halaman 187. Coba tebak. Apa yang aku baca? Di judul tersebut tertulis: Progress, bukan Perfection. Iya. Satu kalimat yang sama persis dengan apa yang aku tulis tadi malam. Persis. Padahal, aku semalam tidak melanjutkan bacaan karena memang sengaja dilanjutkan besok. Namun, apa yang dibahas pada Sabtu malam tentang jejak-jejak kecil Allah, langsung terjadi esok harinya.

Aku yakin ini bukanlah momen kosong. Ini adalah pesan dari Allah untuk aku semangat produktif dan ... kembali kepada-Nya. Momen yang sangat tepat karena aku sudah memulai produktivitas personal. Aku sedang membuka blokade mental yang selama ini terkunci rapat. Allah sedang menghilangkan keraguan besar dalam hidup aku. Dua keraguan sekaligus: keraguan bahwa aku tidak mungkin berhasil dan keraguan bahwa apakah Allah masih peduli? Namun, kejadian hari itu, sudah sangat membuktikan bahwa Allah akan selalu peduli dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

CARA dunia memandangku, tidak beda jauh dengan caraku melihat diri sendiri. Sering kali, ketika mematut diri di layar ponsel—entah saat kamera menyala atau hasil potret. Kalau dilihat-lihat sebetulnya tidak buruk juga, kok, lumayanlah. Hanya saja, di balik tampang yang lumayan itu, ada sisi gelap yang masih terlalu mendominasi. Sisi yang berasal dari masa lalu dengan segala sisanya. Sisanya terlalu banyak, atau bahkan sisanya tidak pernah pergi. Sisa-sisa yang tetap singgah bertahun-tahun, sampai membentuk luka mendalam.

Belakangan, aku sedang mengalami krisis harga diri, cukup parah. Bukan tentang gengsi atau prestise, ini soal pengakuan, validasi, penganggapan, dan penghargaan. Sesuatu yang dahulu sulit sekali didapatkan—bahkan tidak pernah aku rasakan. Kalau di kelas, aku terbiasa duduk sendirian. Kalau di rumnah, aku terbiasa bermain dan sibuk sendiri. Kalau di tengah-tengah circle pertemanan, aku lebih sering mendengar. Padahal, aku ingin sekali ada seorang teman yang menghampiriku di kelas. Aku ingin sekali suaraku didengar di rumah. Dan, Aku ingin sekali ceritaku didengarkan. Namun, kenapa aku tidak pernah mendapatkannya? 

Banyak sekali asumsi yang berputar di kepala.

Pertama, faktor fisik yang tidak menarik. Tidak bisa dinafikan, penampilan menjadi visualisasi paling awal yang terlihat dan ternilai. Sementara aku tidak punya daya tarik yang memikat visual orang-orang. Aku jauh dari frasa biasa-biasa saja. Pakaianku sering lusuh, bahkan beberapa teman berkomentar soal noda pakaianku. Terkadang ada juga yang mengatakan bahwa hijabku tidak rapi. Mendengar itu, aku merasa malu sekali. Aku makin menarik diri dan perlahan-lahan pikiran berbisik, “Sepertinya sendirian lebih baik.”

Kedua, aku tidak tahu caranya bergaul dan bersosialisasi. Awalnya aku pikir berteman itu mudah karena ketika masa kecil semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika memasuki remaja, bertemu banyak orang-orang baru. Kenapa mencari teman jadi terasa sulit? Aku tidak bisa berkomunikasi yang asyik dan seru. Bisa dikatakan, pengetahuan dan referensi aku tentang kehidupan amat minim. Aku meyakini bahwa setiap pembicaraan di antara manusia dapat terjadi ketika si manusianya sama-sama punya referensi dan frekuensi yang sama. Kadang-kadang aku masih merasa seperti anak kecil yang terjebak di tubuh anak remaja. Oleh karena itu, aku lebih banyak diam daripada berbicara. Sebab aku tahu, ketika aku berbicara, yang terdengar hanyalah sesuatu yang tidak penting. Jujur saja, ada masanya aku jijik mendengar suara sendiri.

Dan, aku juga tidak punya kehidupan menarik yang layak diceritakan. Biasanya obrolan pertemanan dihiasi dengan cerita-cerita kehidupan mereka yang seru untuk didengar dan diceritakan. Apa lagi, mereka tidak ragu-ragu dan antusias ketika menyampaikan cerita, sehingga yang mendengar pun ikut masuk ke dalam cerita. Kendalaku adalah. Selain tidak punya cerita hidup yang menarik, aku lebih banyak ragu dan tidak begitu percaya diri untuk menyampaikan cerita. Bukan hanya cerita yang tidak menarik, melainkan ada rasa takut jika ceritaku tidak seru, takut ketika ceritaku tidak didengar, takut ceritaku hanya dianggap angin lalu yang tidak penting.

Ketiga, aku bodoh. Tidak bisa dimungkiri dalam suatu circle pertemanan pasti ada sesuatu yang menjadi timbal balik. Realitasnya tanpa disadari suatu hubungan hadir karena adanya transaksional. Sesederhana kita merasa nyaman dengan seseorang, rasa nyaman itu sebetulnya timbal balik dari reaksi orang tersebut terhadap kita. Artinya ketika kita punya kelebihan, orang-orang tidak akan menjauh. Memanfaatkan di sini bukan berarti buruk, ya, but in a good way. Dan, aku sama sekali tidak pintar. Baik secara akademis maupun nonakademik. Lagian siapa sih yang mau mendekat atau berteman dengan orang bodoh, tidak tahu cara bergaul dan berbicara, serta tidak memiliki daya tarik?

Seakan-akan semua bentuk keburukan dan kejelekan ada di dalam diriku. Dari situ aku merasa wajar ketika tidak ada orang yang mengakui aku ada. Jarang sekali ada orang yang menganggapku ada. Lebih banyak diam dan mendengarkan di suatu circle pertemanan. Sampai ada di titik, aku merasa rendah bukan hanya karena sikap dan penilaian orang lain, melainkan aku ikut serta merendahkan diri sendiri. Sehingga aku tidak punya siapa pun lagi yang benar-benar berdiri di pihakku.

Pola pikir dan perilaku itu tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk dari pengalaman dan peristiwa selama bertahun-tahun. Bukan hanya soal waktu, melainkan juga hampir semua lingkungan—tanpa disadari—berperan dalam menentukan siapa aku hari ini. Tidak jarang, aku sering menyalahkan orang-orang di sekitar. Tentang mereka yang tidak pernah menganggap dan mendengarkan aku, sehingga aku merasa tidak dihargai. Aku berasumsi hari-hariku yang kosong dan menyedihkan ini disebabkan oleh mereka yang tidak pernah datang menemaniku. Alasanku sulit bergaul dan tidak bisa berkomunikasi adalah karena aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk didengar. 

Kemudian aku di hari ini kembali mencoba untuk mempertanyakan, atau lebih tepatnya memastikan betul-betul. 

Apakah mereka adalah pelakunya? 

Bagaimana kalau ternyata aku yang salah? Aku pelakunya? 

Bagaimana kalau ternyata mereka tidak pernah merendahkan aku? 

Dan, bagaimana kalau ternyata selama ini dalang utamanya adalah pikiranku yang terlalu negatif?

Banyak pertanyaan berkecamuk ketika berkelana ke masa lalu dan menelisik apa yang menjadi penyebab aku merasa tidak dihargai. Bukannya aku mau mendiagnosis, aku hanya ingin menapak tilas lagi ke masa lalu. Memastikan apakah orang-orang melakukan kesalahan sesuai asumsiku Belakangan aku jadi berpikir dan bertanya-tanya. Kalau memang aku merasa tidak menarik, kenapa aku tidak mencoba memperbaiki penampilan? Kalau memang tidak ada teman yang mengajakku berbicara, kenapa aku tidak mengajak bicara lebih dulu? Ketika aku ingin didengarkan, kenapa aku tidak mencoba untuk bercerita? Ketika aku merasa tidak ada yang menemani, kenapa aku tidak memulai untuk berteman? 

Sederhana, tetapi butuh waktu sepuluh tahun lebih untuk menyadari pertanyaan-pertanyaan itu. Bahwa dunia ini tidak hanya berputar di aku saja. Kalau mereka tidak nyaman denganku, pasti ada yang salah dengan diriku. Hak mereka juga untuk mendengarkan atau menjadikanku teman. Kenapa aku harus marah dan sampai harus menganggap bahwa mereka tidak menghargaiku? Lagian mereka juga tidak bertanggung jawab atas hiduku, aku yang harusnya bertanggung jawab atas diri aku sendiri. Kenapa aku harus memaksa orang lain untuk menganggapku ada? Kenapa aku harus mengais validasi orang lain untuk mengakuiku? Kenapa aku harus menuntut selalu didengarkan untuk dianggap keberadaanku? Kenapa harus mereka? Kenapa bukan aku?.

Lantas, Apa yang membuat aku ingin sekali dihargai? Sederhana. Aku ingin diakui. Atau bahkan, sisi jahatnya, Aku ingin menjadi pusat perhatian.

Lagi pula bagaimana orang lain bisa menghargai aku, kalau aku saja tidak menghargai diriku sendiri? Bagaimana orang lain bisa menganggapku ada, kalau aku saja masih menarik diri? Bagaimana orang lain mau memvalidasi aku, sementara aku tidak pernah memvalidasi diri sendiri? Aku sadar kesalahan terbesarku adalah ketika aku berasumsi penilaian dan validasi diri sendiri adalah sesuatu yang tidak penting. Malah menganggap penilaian dan validasi dari orang lain adalah krusial dan bahkan dijadikan acuan. Kalau begitu artinya aku adalah orang yang haus perhatian. Dan, aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. 

Aku ingin jadi seseorang yang berdiri di atas kaki sendiri. Bukan egois dan bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya perlu berjalan di atas kaki sendiri, bukan berjalan di atas kaki orang lain. Jadi ketika sendirian, aku punya kakiku. Ketika ada orang lain, aku hanya berjalan di samping kaki mereka. Aku harus mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Tidak boleh lagi menyalahkan orang lain yang tidak terlibat. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan atau bahkan masa laluku. Siapa aku hari ini tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi aku hari ini ditentukan oleh diriku sendiri. Aku telah salah menilai orang lain. Dan, aku salah besar karena telah meninggalkan diri sendiri. Sekarang aku mencoba hadir sepenuhnya untuk diriku sendiri. Aku punya kaki untuk berjalan sendiri. Aku punya telinga untuk mendengarkan hatiku. Aku punya tangan untuk memeluk diriku sendiri. Aku punya pikiran dan hati yang perlu dijaga agar selalu berada di ranah positif. Aku ingin tumbuh menjadi diri yang apa adanya dan versi terbaik. 

Bisa jadi selama ini alasan aku ingin sekali dihargai adalah karena aku tidak pernah menghargai diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk aku mulai menghargai diri sendiri. 





“Tangki hati kamu bukan urusan orang lain, itu tanggung jawab kamu.”

Sekarang aku betul-betul percaya bahwa setiap orang yang hadir dalam hidup aku, akan selalu punya alasannya masing-masing. Mereka bukan hanya datang dan pergi, melainkan setiap jejaknya akan selalu memberikan arti. Salah satunya pada suatu diskusi daring di salah satu platform media sosial. Seorang perempuan yang tegas, cerdas, dan apa adanya. Kehadirannya dalam hidup aku cukup singkat, tetapi dari beberapa kali pertemuan itu ada satu perspektif darinya yang mengubah sudut pandangku.

Selama ini aku sudah salah menilai diri aku sendiri, aku gagal mengenal siapakah aku sebenarnya? Aku berusaha untuk selalu all out terhadap apa yang aku lakukan ke orang lain. Ada kalanya aku berupaya mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Menahan diri agar tidak membuat orang kesal atau marah kepadaku. Memosisikan diri menjadi pendengar yang baik bagi siapa pun yang butuh telingaku. Semua itu baik, tetapi sesuatu yang baik menjadi tidak menjadi baik ketika niat dan tujuannya salah.

Aku pikir, aku telah berubah menjadi versi terbaik. Memang betul, mungkin orang lain melihatnya baik, tetapi sekarang sudah bisa melihatnya dan hatiku mulai berlubang-lubang. Aku tidak sebaik itu, aku tidak pernah menjadi baik untuk orang lain, apalagi untuk diri aku sendiri. Aku memang berubah, tetapi aku berubah menjadi sosok pendendam. Dendam atas masa lalu yang tidak pernah menyajikan kebahagiaan. Dendam akan masa lalu yang melulu menorehkan luka. Kemudian, aku berubah menjadi si pemeran ulung yang berperan tanpa hati. Hanya mempertahankan apa-apa yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Perasaan dihargai. Keberadaan aku yang dianggap. Suara aku yang didengar. Kesalahan yang diberikan kesempatan. Dan … pertemanan yang manis, manis sekali.

Semua itu ternyata hanya topeng, aku sedang berperan. Peran baik yang dirancang sedemikian rupa. Peran baik yang tiba-tiba terbangun begitu saja tanpa memberi sinyal. Protagonis yang tidak mau kembali terjebak dalam masa lalu. Masa lalu ketika aku tidak dihargai, tidak didengar, tidak diberi kesempatan, dan tidak punya teman. Aku ketakutan setengah mati jika masa lalu itu datang lagi. Aku tidak mau lagi berada di lembah senyap yang memberikan. Aku akan mempertahankan mereka yang membuat hidupku terasa penuh makna. Mereka yang kembali melahirkan harapan yang hampir ikut mati. Dengan cara apa pun, aku akan memastikan mereka bertahan, meski aku lelah.

Sebuah cara yang tidak lagi menjadikan aku protagonis. Sebuah cara yang pada akhirnya menjadi bom waktu. Sebuah cara yang justru perlahan tapi pasti, menarikku paksa kembali ke masa lalu. Si protagonis yang kemudian berubah menjadi si antagonis. Tanpa sadar aku menjadi orang yang berpura-pura. Pura-pura mendengarkan, padahal aku adalah orang yang mudah menyerap emosi. Pura-pura selalu ada, padahal ada diri yang perlu diprioritaskan. Pura-pura selalu mengiyakan, padahal hati dan pikiran aku butuh istirahat. Pura-pura baik, padahal aku tidak baik. Pura-pura berlaku dengan hati, padahal hati aku sedang sekarat. Sebuah kepura-puraan yang menjadikan aku tidak tulus, tidak pakai hati. Semua hanya demi kebahagiaan semu yang sulit sekali aku dapatkan sebelumnya.

Sampai bom waktu itu meledak, aku lelah berpura-pura. Ketika tubuhku tidak lagi mau bekerja sama dengan egoku. Ada dua kejadian yang datang dalam waktu bersamaan. Keduanya menjadi pemicu yang kemudian mengambil alih pikiran dan hati. Ketika pikiran dan hati sebelumnya berhasil dikuasai ego, kini pikiran dan hati kembali ke tempat asalnya. Tempat yang membuat pikiran dan hati bisa menjadi diri yang apa adanya tanpa dikekang. Tempat yang menjadikan pikiran dan hati memiliki ruang kendali secara penuh. Pada awalnya, aku lelah setengah mati, roti dari berbagai sisi. Kelelahan yang berasal dari tumpukan-tumpukan aksi males validasi.

Peristiwa sifatnya pemicu, bukan penyebab. Dua kejadian yang entah bagaimana bisa datang di waktu yang tidak disangka-sangka dan memutar alur. Ibarat novel, ada adegan flashback. Akan tetapi, bedanya bukan aku yang kembali ke masa lalu. Sesuatu dari masa lalu itulah yang entah sejak kapan berlari melesat ke masa kini. Sesuatu yang aku takut sekali, takut untuk kembali merasa sendirian. Nyatanya, kehidupan sedang menguji nyaliku yang setipis tisu, seringan kapas. Nyali yang terlalu rapuh karena tidak pernah dibiarkan berbenturan dengan masalah. Kehidupan sedang kembali menghadirkan ruang sepi yang kelam. Ketakutan itu menyergap, kencang sekali menggenggam tanganku.

Fenomena putar balik itu tentu bukan tanpa alasan terjadi. Ia datang membawakan catatan-catatan berisi kebenaran yang berapa tahun belakangan tidak aku sadari. Kebenaran yang membuat koleksi topeng di lemari menumpuk. Kebenaran yang tanpa sadar memaksa diri mengisi daya energi. Padahal topeng adalah benda mati yang tidak bisa mewakili perasaan. Dan, ponsel yang terus-menerus diisi daya tanpa henti pada akhirnya akan rusak. Aku tidak menyadari karena dikuasai ego. Kemudian bom waktu meledak ketika pikiran dan hati berontak. Sudah terlalu lelah dan penuh oleh kebohongan. Sudah tidak bisa diteruskan atau jika dipaksakan untuk terus berpura-pura. Mungkin aku akan menjadi orang yang mati rasa dan hidup tanpa hati.

Dan, aku memilih untuk membiarkan bom waktu itu meledak dan memporak-porandakan kehidupan yang tadinya aku pertahankan setengah mati. Awalnya aku biarkan karena aku menyerah pada kelelahan yang menyiksa. Membiarkan orang-orang pergi satu per satu karena kesalahanku sendiri. Aku sendirian lagi karena kejahatan yang aku perbuat. Itu setimpal dan aku menerima. Namun, ada satu orang yang kemudian memilih bertahan daripada menjauh. Seseorang yang aku minta untuk pergi saja dari aku yang tidak baik. Seseorang yang merupakan salah satu dari pemicu bom waktu. Dia adalah pemicu yang indah di tengah-tengah perang-pertanda perasaan. Seseorang yang membuatku tidak benar-benar sendirian. Dia yang mengenalkan aku dengan seseorang yang mengingatkanku bahwa tangki itu tanggung jawabku.

Lantas apa hubungannya dengan tangki? Dan, tangki apa yang dimaksud?

Sederhana. Aku salah karena berteman dan berelasi demi validasi. Kenapa aku harus mengais validasi? Tidak lain dan tidak bukan untuk mengisi tangki hati yang tidak pernah penuh. Tangki hati yang terdiri dari perasaan dihargai, perasaan ditemani, dan perasaan dicintai. Oleh karena itu, mati-matian aku pertahankan suatu hubungan relasi dan pertemanan demi tangki yang anehnya tidak pernah penuh. Dikarenakan tangki yang tidak pernah penuh, aku terus mengais-ngais validasi dari mereka. Akibat terlalu fokus mengisi tangki, aku melupakan bahwa hubungan pertemanan dan relasi dibutuhkan ketulusan. Dan, sampai kapan pun tangki hati itu tidak akan pernah penuh karena sejatinya pensi tangki yang banyak adalah diri sendiri bukan orang lain.

Tangki aku yang tidak pernah Terisi dengan penuh itu karena aku meminta dari orang lain yang tidak punya kapasitas untuk mengisinya. Padahal pengisi tangki yang sesungguhnya adalah diri aku sendiri, bukan orang lain. Memang orang lain dapat mengisi tangki itu, tetapi bukan untuk memenuhi. Akulah yang bertugas memenuhi tangki hati aku sendiri. 

Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • 5 Kiat Mengendalikan Rasa Takut
  • Kiat Menjadi Tetangga Idaman, Anti Julid!
  • Reviu Novel Represi: Menerima Kepahitan
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template