Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact

Pura-pura

AKU tumbuh menjadi manusia yang banyak sekali kekurangannya. Rasa-rasanya hampir semua yang melekat dalam diriku adalah kekurangan. Sekitar 90% mungkin? At least, masih ada beberapa kelebihan yang harus kuakui dan yakini karena Tuhan amat adil. Iya, setelah sekian lama mengiba pada kekurangan, aku baru menyadari betapa Allah Maha Baik. Betul bahwa selalu ada kemudahan di samping kesulitan.

Sebetulnya aku bukan tipe orang yang banyak mengeluh terhadap kekurangan—bukan berarti tidak pernah. Lebih ke mau bagaimana lagi? Aku tidak berani banyak protes terhadap apa-apa yang sudah Allah kasih. Dan, aku meyakini sesuatu yang datang dari-Nya adalah kebaikan. Kalau kita merasa kesulitan dengan pemberian Allah, itu ujian, itu wajar, maka aku tidak banyak mengeluh.

Hanya saja, kadang namanya manusia, ya? Ada kalanya mempertanyakan hal-hal yang jawabannya sederhana: bersyukur. Kenapa, ya, pengllhatan aku tidak sejernih orang lain? Kenapa, ya, pendengaran aku tidak sejelas orang lain? Kenapa, ya, otak aku tidak se-encer orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-berguna orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-wow orang lain? Iya, sih, semua pertanyaan itu mengandung self comparison. Seakan-akan menjadikan diri seperti sampah. Ujung-ujungnya memicu penurunan kepercayaan diri. Sementara susah payah aku memang untuk self confidence.

Banyaknya kekurangan yang aku punya, pada akhirnya berakar pada satu hal: manusia tidak berguna. Jujur, itu sakit sekali rasanya. Bayangkan, bisa-bisanya manusia hidup tanpa kebermanfaatan. Oke, enough. Sudah terlalu jauh, I love myself much more. Me is me. Everton is everyone. Sampai mana tadi? O, iya, soal kekurangan, ya?

Kekurangan akan selalu menjadi kekurangan ketika dipandang dari sisi negatif. Aku baru menyadari, ketika kekurangan dipandang dari sisi positif, kekurangan adalah bentuk rasa syukur yang begitu nikmat. Dan, hal itu sering kali aku alami dalam kehidupan ini. Intinya aku menggunakan kekuranganku untuk berpura-pura—in a good way. Meskipun pada akhirnya kepura-puraan itu, menyerang diri sendiri. Akan tetapi, setidaknya orang lain tidak menyadarinya. Pernah dengar istilah bersikap tidak tahu, padahal mengetahui. Bersikap tidak peduli, tetapi cukup peduli. Kurang lebih seperti itu. 

Memang. Pendengaran aku mungkin tidak sejelas orang lain ketika mendengarkan. Banyak hal di dunia ini yang membuat aku kesulitan untuk mendengarkan dengan baik. Setidaknya aku butuh beberapa kali pengulangan atau suara lebih keras untuk bisa mendengar. Akan tetapi, di sisi lain, ada masanya aku tidak perlu susah payah mendengarkan omongan orang lain yang tidak enak. Namun, pernah suatu hari, entah bagaimana, tetapi aku bisa mendengarkan dalam sekali tangkap. 

Sejujurnya aku tidak bisa menjelaskan kalimatnya di sini. Sebab, kalimat itu cukup personal dan membuat aku sakit hati. Namun, karena orang di sekitarku sudah mengetahui kondisi telinga aku, jadi dia berpikir bahwa aku tidak mendengarkan ucapan dia. Padahal aku mendengarnya. Padahal aku merasakannya. Padahal aku mengetahuinya dan masih teringat sampai saat ini. Aku bersikap pura-pura tidak mendengar karena tidak mau ambil pusing. Meskipun pada akhirnya membuat aku overthinking cukup lama.

Orang-orang di sekitar aku juga mengenal aku yang kekanak-kanakan. Wajar karena dari dulu aku selalu dianggap tidak bisa apa-apa seperti anak kecil. Kalau aku boleh memberikan pembelaan. Aku bukannya tidak bisa apa-apa apa lagi tidak berguna. Aku hanya tidak diberi kesempatan untuk menjadi bisa dan berguna. I don't have a chance. Mereka lebih dulu menghardik dan menghakimi daripada memberikan kepercayaan.

Itu memang menyakitkan dan sejujurnya masih terbawa sampai saat ini. Namun, ada beberapa masalah di hidup ini yang kemudian tidak terlalu dibebankan kepadaku karena mereka menganggap aku tidak akan mampu mengembannya. Maksudnya adalah anak kecil mana yang mampu mengemban masalah hidup? Terkadang aku menjadi manusia yang pura-pura tidak bisa apa-apa dan tidak berguna agar tidak terlalu jauh masuk ke masalah mereka. Ada kalanya memang aku hanya ingin menjadi anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. 

Dari kecil aku juga bukan anak yang pintar. Ketiga kakak perempuanku adalah orang-orang dengan nilai terbaik di sekolah, berbeda denganku. Sehingga aku tumbuh menjadi orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sudah tidak bisa apa-apa, ditambah tidak tahu apa-apa, haha. Sebetulnya kebodohan itu masih melekat dalam diriku sampai saat ini. Maksudnya adalah aku masih sering merasa bodoh dan tidak pintar sehingga membuat aku sangat kesulitan untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun, tidak apa-apa, setidaknya aku sudah menyadari bahwa aku tidak sebodoh itu, kok. Aku hanya butuh sedikit validasi dan usaha lebih keras. 

Ada kalanya juga aku berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Pura-pura yang satu ini untuk membentengi diri dari permasalahan yang begitu rumit dalam hidup. Ketika aku tidak mampu menjelaskan sesuatu, maka aku mengeluarkan tameng kebodohan paling hakiki. Again and again, orang-orang di sekitarku kebanyakan menganggap aku bodoh dan tidak bisa apa-apa. Sehingga mereka memaklumi, meskipun dalam diri mereka terdapat kekesalan yang luar biasa. 

Kalau dipikir-pikir. Kepura-puraan yang aku lakukan memang tidak baik. Tidak baik untuk diri aku dan untuk orang lain. Ke pura-puraan itu menghambat aku untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Hanya saja, ada beberapa hal yang justru kepura-puraan adalah puncak dari penyelesaian masalah. Bersikap tidak tahu kadang-kadang jauh lebih baik daripada mengetahui, tetapi kemudian aku tidak bisa menghadapinya.




Revolusi cinta
SOAL CINTA memang kompleks. Selama dua puluh enam tahun hidup aku, cinta selalu mengalami evolusi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dan selalu mendekam: jatuh cinta sendirian. Cerita sejuta umat kalau bicara perkara cinta bertepuk sebelah tangan. Memang bukan cuma aku saja yang mengalami, di luar sana banyak korbannya. 

Kadang-kadang aku suka heran, kenapa Tuhan menggariskan percintaan seorang Vina selalu berujung memilukan—bukan menyedihkan lagi. Aku yakin sekali betapa banyak bak yang terisi penuh hanya karena menampung air mata kebodohan imbas patah hati. Bahkan membiarkan perut kelaparan mengais sesuap nasi hanya untuk mengamini rasa sakit yang mendalam.

Ketika remaja, patah hati menjadi perkenalan yang mengejutkan. Masih tidak menyangka, responsnya mengguncang emosional sehingga berimbas pada fisik. Ingat betul, ketika mengurung diri di kamar tidur. Jendela terkunci, matahari tidak dibiarkannya menerobos karena tirai sebagai perisai. Pintu yang selalu tertutup—tidak kukunci. Sementara, seonggok gadis tidak berdaya di atas ranjang.

Ya. Gadis bodoh itu aku. Kalau dipikir-pikir kenapa aku harus sampai se-berlebihan itu? Ternyata itu merupakan hal normal karena merupakan patah hati pertama di kala remaja. Sebuah kewajaran juga kalau dipikir-pikir sekarang seperti menjijikkan. Sebuah respons yang berbeda ketika aku remaja dan saat ini ketika aku dewasa. Itu artinya menunjukkan, pengalaman percintaan aku mengalami evolusi emosional.

Masuk ke masa remaja menuju dewasa. Di sini adalah masa-masa, sudah mengenal cinta beserta patah hatinya. Akan tetapi, tetap saja, remaja selalu ditempa dengan pembelajaran. Apa lagi kalau sudah ada pada fase menuju pintu dewasa. Lagi-lagi aku ingat betul ketika “akhirnya” ada seorang lelaki yang menunjukkan cintanya kepadaku. Seperti kupu-kupu yang menerbangkanku di langit-langit taman bunga.

Waktu itu dunia berwarna merah jambu, sampai-sampai aku lupa bahwa ada warna lain di dunia ini. Ada warna kuning, hijau, merah, iya, itu adalah rambu-rambu lalu lintas. Kumpulan warna yang mengingatkan aku kembali bahwa di dunia ini ada warna hitam dan abu-abu. Suatu hari merah jambu berubah menjadi abu-abu. Aku mulai khawatir dan overthinking, aku merasakan firasat buruk dan benar terjadi.

Lagi-lagi Aku patah hati. Kali ini bukan karena bertepuk sebelah tangan, melainkan ditinggal ketika sedang cinta-cintanya. Kamu tahu rasanya, ketika kamu membeli makanan itu-itu saja dalam durasi yang lama. Suatu hari kamu bosan dan melupakannya. Analogi itu merepresentasikan kamu seperti dia. Dan aku seperti makanan yang dilupakan. 

Untuk kedua kalinya. Aku patah hati. Tentu saja meskipun sebelumnya sudah pernah patah hati. Anehnya, rasa patah hati itu rasanya selalu baru dan basah. Sama-sama seperti ada sesuatu yang menusuk jantung, mengoyak hati, memporak-porandakan pikiran, hidup pun tidak tenang. Salah satu perjalanan pada fase remaja menuju dewasa aku memang terlalu pahit. 

Setidaknya patah hati untuk kedua kalinya sukses melahirkan kebencian terhadap cinta dalam diriku. Apa itu cinta? Aku betul-betul jadi manusia anti-cinta. Aku sangat jijik dengan hal-hal berbau romantisme dan asmara. Aku sampai bergidik ngeri ketika tidak sengaja melihat tayangan drama menye-menye. Kadang-kadang aku heran kenapa banyak sekali orang tergila-gila dengan cerita cinta? Apa mereka tidak tahu atau bahkan lupa rasanya patah hati karena cinta? 

Selama lima tahun menjadi perempuan yang hidup tanpa cinta. Perempuan yang menolak keras akan kampanye cinta. Perempuan yang pernah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi kepada siapa pun. Namun, aku tetaplah perempuan yang punya hati dan perasaan. Pada kenyataannya, aku tetaplah perempuan yang ternyata membutuhkan cinta. Dengan kata lain, anti-cinta selama lima tahun itu adalah alibi bahwa aku ketakutan setengah mati untuk patah hati lagi.

Puncaknya ketika jatuh cinta setelah masuk di usia dewasa. Kali ini konsep patah hati di kepala aku sudah matang betul. Untuk kesekian kalinya dalam hidup—setelah lima tahun menjadi pembenci cinta—aku memilih untuk jatuh cinta lagi. Iya, aku memilih, artinya aku sadar aku akan jatuh cinta, aku menyadari akan ada peluang besar untuk kembali patah hati. Setidaknya, fase jatuh cinta yang satu ini, menjadi Ajeng menelusuri apakah aku lebih siap menghadapi patah hati? 

Nyata sekali. Aku rasa cinta dan patah hati memang jadi sahabat yang tidak terpisahkan. Aku patah hati lagi karena perasaan yang tidak sama. Ternyata aku masih menangisi patah hati di pagi hari yang cerah. Rasanya pun masih sama-sama menyakiti hati. Namun, kali ini aku jauh lebih siap dan menerima kenyataan. Jatuh Cinta kali ini, kembali menunjukkan sikapku menghadapi cinta mengalami evolusi yang lebih baik lagi. 

Satu hal yang aku banggakan dari jatuh Cinta kali ini dari diriku: keberanian. Aku berani memutuskan jatuh cinta secara sadar. Aku berani mengambil risiko dan konsekuensi. Aku berani mengantisipasi peluang patah hati yang ada. Aku berani patah hati lagi. Aku berani menikmati dan belajar bangkit dari patah hati. Aku berani jujur dengan perasaanku sendiri. Dan, Aku berani mengungkapkan perasaanku kepada seseorang yang aku cinta.

Yeah. Ada kalanya aku bertanya-tanya, “Kenapa aku tidak pernah merasa dicintai? Apakah aku se-tidak-layak itu? Apakah aku memang dilahirkan untuk tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang? Kalau seperti itu, kenapa aku dilahirkan dengan hati yang begitu perasa? Kenapa aku diciptakan sebagai perempuan yang mudah jatuh cinta, tetapi sulit untuk melupakan cinta? Can you tell me, why?"

Suasana kota Bandar Lampung
Suasana Kota Bandar Lampung

LAGU Sang Bumi Ruwa Jurai diputar hampir di setiap titik jalanan Lampung. Huruf aksara Lampung terpampang jelas di jalan besar tengah kota. Jangan lupakan patung gajah yang menjadi teman pengendara ketika dihadang lampu merah. Kota yang dikenal tapis berseri ini begitu gencar mengenalkan budayanya. Namun, bagaimana dengan eksistensi seni musik tradisional Lampung itu sendiri?

“Apa alat musik tradisional Lampung yang kamu ketahui?” atau “Selain Cangget Agung, sebutkan lagu Lampung yang kamu ketahui!”. Ketika pertanyaan tersebut dilempar ke masyarakat Lampung itu sendiri ... rasa-rasanya cukup sangsi. Hafal—bahkan mengetahui satu lagu khas Lampung saja sudah syukur.

Tidak bisa dimungkiri, eksistensi kesenian musik tradisional Lampung masih belum familiar di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. Namun, ada satu sosok yang kemudian menjadi pejuang dalam pelestarian seni musik tradisional Lampung. Satu sosok yang bukan hanya berdedikasi, melainkan memberikan dampak nyata kepada banyak orang.

Perkenalkan, Erizal Barnawi.

Putra daerah Lampung yang memiliki harapan akan tempat kelahirannya sendiri. Bahkan dia rela mengarungi provinsi Lampung untuk melatih seni musik tradisional Lampung. Menurut Erizal, masyarakat—bahkan pemerintah daerah masih menganggap seni musik tradisional sebagai hiburan. Sebuah paradigma yang sangat disayangkan olehnya sebagai praktisi seni musik tradisional. 

“Kalau dilihat dari kacamata saya, pemerintah masih memandang sebelah mata tentang seni budaya Lampung. Karena mereka melihat seni budaya itu hiburan. Mereka enggak memandang seni budaya sebagai karya dengan nilai luhur, identitas budaya yang begitu sakral,” seru Erizal.

Memang, di setiap kelurahan sudah ada fasilitas alat musik tradisional. Namun, bagaimana dengan kecamatan? Lebih spesifik lagi, bagaimana dengan desa? Apakah alat musik tradisional Lampung tersebut betul-betul sudah meluas hingga sudut Lampung? Apakah pemerintah daerah bersedia menggelontorkan dana untuk lebih maksimal lagi dalam melestarikan budaya Lampung?

Erizal juga mengusulkan gebrakan Satu Desa Satu Alat Musik. Meski tidak banyak penduduk bukan asli (suku) Lampung. Tidak menjadi pengaruh dalam pelestarian seni musik tradisional. Menurut dosen Universitas Lampung (UNILA) tersebut, kurangnya eksistensi seni musik tradisional Lampung dikarenakan minim fasilitas yang tersedia di setiap daerah. Ditambah mayoritas masyarakat Lampung tidak memiliki minat di bidang tersebut. Tentunya kita tidak bisa memaksakan minat seseorang. Akan tetapi, warisan budaya tidak memerlukan minat untuk dilestarikan.

Erizal Barnawi: Bersedekah melalui Seni Musik Tradisional Lampung 

Sosok Erizal Barnawi
Erizal Barnawi

Erizal Barnawi. Putra asli daerah Lampung yang lahir di Kotabumi, tahun 1990. Sejak kecil dia sudah berada di lingkungan dengan konsentrasi terhadap seni musik tradisional Lampung begitu lestari. Sebelumnya dia memang tertarik dengan musik modern, tetapi gitar tunggal klasik milik kakaknya telah menyita perhatian. 

Mulai dari situ, Erizal menekuni seni musik tradisional Lampung bersama teman sebaya di lingkungan sekitar. Proses belajarnya tidak pernah putus, sampai dia masuk SMP dan SMA. Di sekolah dia mengikuti ekstrakulikuler seni musik. Dengan tekun, dia banyak bertanya dan belajar kepada teman satu ekskul. Hal ini membuatnya makin kaya akan wawasan seni musik tradisional Lampung.

Ketekunannya tersebut kemudian membawa dia menempuh jenjang pendidikan di salah satu universitas kesenian bergengsi di Indonesia, ISI Yogyakarta. Benar, ketika kita punya keyakinan kuat terhadap passion. Ketika kita memiliki kecintaan yang mendalam terhadap sesuatu. Pada akhirnya alam semesta akan menuntun pada takdir yang tepat. Erizal meraup sebanyak-banyaknya ilmu di ISI demi menempuh takdir mulianya, mendedikasikan dirinya untuk Lampung. 

Meskipun seluruh hidupnya berkutat dengan seni musik tradisional Lampung, Erizal tidak pernah bosan sama sekali. Namun, memang, ada kalanya dia istirahat sejenak. Walaupun berprofesi sebagai dosen musik, tetapi dia tidak selalu bermain musik. Sebab, Erizal mengungkapkan bahwa dalam bermusik perlu memakai hati dan perasaan supaya pesannya bisa sampai.

“Kalau saya itu nyari hati dulu—mood. Kalau enggak dapat, jangan dipaksa. Bakal enggak oke juga. Tapi, ketika saya menjiwai musik secara total, beberapa kali orang mendengar sampai menangis dan tersentuh karena permainan musik saya.”

Hal ini membuktikan ketika cinta yang murni didukung oleh dedikasi dan kontribusi terhadap masyarakat secara luas, getaran hati itu akan sampai. Segala aspek kehidupannya ditemani dengan seni musik tradisional Lampung. Oleh karenanya, Dia memiliki ambisi untuk terus menjaga seni musik tradisional agar tetap lestari.

Passion musik telah membawanya ke titik saat ini. Seni musik bukan lagi sekadar hobi menyenangkan. Seni musik telah menjadi mata pencahariannya. Tidak jarang, dia menggunakan dana pribadinya untuk melatih bahkan memberikan secara gratis alat musik tradisional kepada yang memerlukan. Bagi Erizal, ini merupakan bentuk sedekah yang dia lakukan untuk masyarakat Lampung. 

“Kalau ditanya, apa cara kamu bersedekah? Ya, beginilah cara saya bersedekah.”

Walaupun passion bermusik telah menjadi pekerjaannya. Hal tersebut tidak menjadi beban bagi Erizal. Justru privilese tersebut dia gunakan untuk memberikan dampak besar terhadap masyarakat Lampung. Erizal bercerita telah diberi gaji sebagai dosen. Kemudian sebagian gajinya dia sisihkan untuk bersedekah melalui seni musik tradisional Lampung.

Dampak Nyata melalui Pelatihan Alat Musik Tradisional Lampung 

Pelatihan sektor musik
Pelatihan sektor musik penyelenggara Disparekraf Lampung

Lulus dari mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta, Erizal pulang membawa banyak bekal untuk masyarakat Lampung. Setelah diangkat kerja menjadi dosen di Universitas Lampung, menjadi titik awal mendedikasikan dirinya dalam pelatihan alat musik tradisional Lampung. Dia melatih di berbagai daerah Lampung: Bandar Lampung, Metro, Tulang Bawang Barat, Pesawaran, Lampung Utara, dll.

Semuanya dia gunakan dengan dana pribadinya. Tidak jarang juga mendapatkan dukungan dari teman-teman sekitarnya. Sesekali dia mengajukan dana ke UNILA untuk kemudian dibelikan alat musik tradisional Lampung. Bahkan, bertanya kepada teman-teman jika memiliki alat musik tradisional yang sudah tidak digunakan untuk disumbangkan. Ini merupakan upaya Erizal untuk memberikan dampak nyata terhadap masyarakat Lampung.

Ketika melakukan pengabdian di Lampung Utara
Pengabdian di Lampung Utara

Dalam proses pelatihannya, banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Apa lagi jika harus menelusuri daerah dengan jalanan yang rusak. Pernah suatu ketika, dalam rangka Gerakan Seniman Masuk Sekolah untuk melakukan pelatihan di sana. Ketika itu Erizal dan teman-teman seniman berangkat menggunakan mobil pribadinya. Dikarenakan jalan rusak, melewati kawat-kawat, mobilnya sampai remuk.

Erizal tidak menjadikan tantangan sebagai halangan, melainkan semangat untuk memperjuangkan seni budaya musik tradisional Lampung. Dia juga berharap melalui artikel ini, pemerintah bahkan masyarakat sosial—khususnya Lampung—dapat melestarikan dan memiliki kesadaran pentingnya menjaga seni musik tradisional. 

Terlepas dari paradigma terkait seni budaya adalah hiburan. Pemerintah Lampung kerap memberikan dukungan terhadap pelatihan seni musik tradisional Lampung oleh Erizal Barnawi. Sesekali pemerintah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi juri, bahkan narasumber dalam bidang kesenian musik. Ini juga merupakan salah satu dampak nyata dari gerakan-gerakan yang dia lakukan. 

Baru beberapa hari yang lalu ketika tulisan ini dibuat. Erizal telah memberikan 10 gamolan pekhing ke SMAN 1 Kotabumi. Erizal memiliki kebijakan menggunakan dana pribadi untuk berbagi alat musik tradisional Lampung. Tidak hanya itu, bahkan dia melakukan kontribusi dengan melatih anak-anak sekolah tersebut. 

“Karena ini bentuk kontribusi. Saya pikir kalau enggak gitu kapan lagi?

Melatih polwan alat musik tradisional Lampung
Melatih Polwan Alat Musik Tradisional

Dia telah melatih seni musik tradisional Lampung ke berbagai lini. Mulai dari sektor pendidikan hingga masyarakat. Masing-masing pelatihan punya tujuannya sendiri. Ada yang Erizal latih untuk dipentaskan atau diikutsertakan dalam lomba. Ada juga yang dilatih untuk mengembangkan sanggarnya. Bahkan pada 2016, dia pernah melatih alat musik tradisional Lampung ke polwan.

Kontribusi yang Erizal sangat berdampak terhadap peningkatan kesadaran anak muda Lampung akan seni musik tradisional. Terbukti anak didiknya yang kemudian menjadi mahasiswa di periode musik UNILA. Dengan senang dia mengungkapkan per tahun ini, UNILA menambah satu kelas untuk prodi musik. Hal ini merupakan peningkatan dan kabar baik. Bahkan salah satu anak didiknya berhasil membuat gebrakan karya hingga pentas di Thailand.

Pendidikan Harus Memprioritaskan Budaya Setempat

“Enggak perlu jauh-jauh. Sekolah anak saya saja diajarkan tari Saman. Tentu saja boleh dan menarik. Tapi, ajarkanlah terlebih dahulu anak-anak murid alat musik dan tarian Lampung.”

Erizal memang tidak bisa mengintervensi para guru kesenian di sekolah. Akan tetapi, sangat disayangkan ketika para pendidik kurang memprioritaskan untuk mengajarkan budaya Lampung terlebih dahulu. Baginya sektor pendidikan harus menjadi tonggak utama dalam melestarikan budaya terutama seni musik tradisional Lampung.

Untungnya, FLS3N hadir sebagai salah satu ajang kompetisi bergengsi untuk sekolah. Kompetisi tersebut memacu sekolah untuk mengajarkan dan melatih kesenian Lampung. Dengan begitu sekolah akan saling bersaing menampilkan ajang kesenian dalam kompetisi bergengsi FLS3N. Menurut Erizal, kompetisi tersebut berhasil menyumbang kesadaran seni musik tradisional terutama bagi pelajar.

Bergema Musikku, Lestari Budayaku 

Seminar kebudayaan

Seni musik tradisional sangat berperan besar dalam hidup Erizal. Kecintaannya terhadap musik tidak hanya dia simpan untuk dirinya sendiri. Dia menyebarkan seni musik tradisional dengan penuh cinta terhadap masyarakat Lampung. Memang, dia memiliki keturunan bakat seni musik dari sang nenek. Akan tetapi, cinta itu murni lahir dari dalam dirinya. Sampai-sampai mendarah daging.

“Cintailah budayamu, maka budayamu akan mencintaimu. Dasarnya dari bergema musikku, lestari budayaku!”

Seni musik yang sudah merasuk ke dalam tubuhnya. Bahkan dia punya kata kunci sendiri: Bergema Musikku, Lestari Budayaku. Dia selalu menggaungkan kata kunci tersebut kepada teman-temannya, siswa-siswanya, bahkan orang yang dia temui. Erizal yakin ketika kita menggemakan musik (tradisional), maka budaya itu akan didengarkan. Akan tetapi, ketika seni musik tidak digemakan, dia akan redup. 

Erizal tidak akan pernah berhenti memperjuangkan dan melestarikan seni musik tradisional Lampung. Selama napasnya masih berembus, dia akan terus menggemakan seni musik tradisional Lampung. Baik melalui pelatihan dan edukasi di media sosialnya. Bahkan, dia sangat senang ketika media sosialnya ramai belakangan ini, sampai disebut dengan “melampungkan Lampung”. Istilah tersebut menjadi dampak nyata akan edukasi seni musik tradisional melalui media sosialnya.

Erizal berharap upayanya dalam mengenalkan seni musik tradisional Lampung dapat membuat masyarakat lebih sadar lagi. Tidak ada lagi paradigma bahwa seni musik tradisional adalah hiburan. Seni musik tradisional memiliki nilai luhur yang begitu sakral. Seni budaya tidak bisa dimaknai hanya secara harfiah, melainkan seni budaya punya makna yang begitu dalam dan esensial. 

Tidak peduli apa sukunya. Selama kita lahir dan dibesarkan di tanah Lampung, kita punya tugas untuk menjaga dan melestarikan budaya terutama seni musik tradisional Lampung. Kita tidak boleh membiarkan warisan budaya ini terkikis oleh perkembangan zaman. Justru kita perlu memanfaatkan perkembangan zaman untuk menyebarkan nilai kesenian musik Lampung. 

“Ibaratnya gini, ari-ari kita ini ditanam di tanah Lampung. Masa kita enggak mau melestarikan budaya kita sendiri?”

Salah satu penerima SATU Indonesia Award ini ke depannya akan terus melakukan pelatihan. Dan dia mengaku sangat terbantu dengan adanya SATU Indonesia Award. Astra telah memberikan kesempatan besar bagi Erizal untuk terus berdampak lebih luas lagi bukan hanya masyarakat lokal, melainkan nasional hingga internasional. Setelah dua kali lolos menjadi penerima SIA pada tahun 2022 dan 2024. Tahun ini dia kembali mengajukan pelatihannya.

Melestarikan seni musik tradisional Lampung, bukan hanya tentang mengetahui dan memahami. Seni budaya yang lestari adalah ketika kita sebagai masyarakat menghargai karya sakral dan nilai luhur di dalamnya. Kita punya tugas untuk sama-sama menjaga warisan budaya, terutama seni musik tradisional Lampung. Bukan tentang suku, melainkan warisan budaya merupakan identitas penting bagi diri kita sebagai penduduk Lampung.

#SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia #APA2025-ODOP/PLM/BLOGSPEDIA


Aku berpikir tentang Indonesia

AKU pikir negara tenteram dan makmur itu hanya ada di dongeng-dongeng saja. Semua negara pasti sama, sama seperti Indonesia. Carut marut dan kasak kusuk.

Aku pikir rakyat kita sudah makmur-makmur saja. Namun, nyatanya mereka hanya enggak tahu harus berbuat apa lagi? Seakan-akan tanah air yang dipijak ini tengah mengekang dan membungkam.

Aku pikir hidup sudah berjalan seperti apa adanya dan menganggap itu normal. Nyatanya, semua ini adalah aksi dalam cekam—mengutip frasa ini dari Alisssa Wahid pada program ROSI di Kompas TV.

Aku pikir jadi pengajar di Indonesia itu memang dibayar sedikit, enggak sepadan dengan ilmu dan dampak positif bagi masa depan bangsa. Nyatanya, negara ini enggak tahu caranya menghargai jasa para guru.

Aku pikir negara memang hanya menghukum orang-orang kecil, enggak punya daya. Enggak pernah ada hukum yang tegak dan tegas terhadap orang-orang besar. Lantas, apa arti sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Aku pikir pengkhianatan, penyalahgunaan kekuasaan, kecurangan dalam penyelenggara negara adalah hal wajar. Nyatanya, itu kurang ajar.

Dari dulu. Sudah dibesarkan di negara yang sistemnya menormalisasi kejahatan. Maka, aku tumbuh menjadi rakyat yang menormalisasikan hal itu juga. Makin aku berpikir, makin aku menemukan bahwa aku enggak normal!

Ternyata semua itu enggak masuk akal! Aku telah hidup di negara yang sudah sakit.

Sudah dua pekan berlalu semenjak tulisan ini dibuat. Aksi unjuk rasa massa menjadi puncak rasa marah dan lelah karema berita dari politik.

Bertahun-tahun dibohongi kampanye palsu, kepercayaan yang dikhianati dengan janji manis, sebuah penghianatan yang lahir dari kebijakan enggak masuk akal. Mereka bilang akan membuat rakyat sejahtera, nyatanya membuat sengsara.

Saat kampanye, mengemis dengan tutur lembut dan perilaku kasih untuk dipilih dan didukung. Ketika kursi kekuasaan berhasil dirampas, mereka sudah lupa caranya bertutur kata sopan dan berperilaku santun.

Seakan-akan mata mereka menjadi gelap ditutupi oleh tumpukan rupiah dan kursi empuk di dalam gedung bertembok tinggi. Sebuah jabatan yang mengempaskan hati nurani dan empati.

KEWARASAN diri dapat dijaga dengan menyibukkan diri. Tentunya kesibukan harus dicari, enggak ujuk-ujuk datang sendiri. Kalau pun memang muncul sendiri, tetapi enggak semua orang sadar dan mau mengambilnya.

Kesibukan bukan hanya soal pekerjaan, kemudian mendapatkan uang. Enggak semua hasil, output-nya harus berupa uang atau gaji. Namun, lebih dari itu.

Aku menyadari, salah satu hal yang membuat aku tetap waras dalam hidup adalah dengan produktif. Dan, aku bersyukur karena bisa menemukan dan melakukan kegiatan produktif.

Persoalannya, aku seorang pengangguran. In this reality, enggak semua pengangguran bisa membaca atau mengambil kesempatan.

Menganggur artinya kita punya waktu luang lebih banyak. Let you know, waktu luang merupakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Apakah kita bisa memanfaatkannya dengan baik?

Aku mengerti, sih, in this economy, betapa susahnya mencari pekerjaan. Belum lagi tekanan eksternal yang menuntut untuk segera mendapatkan penghasilan. Sebuah pemicu yang menyebabkan enggak kepikiran untuk memanfaatkan waktu luang. Sebab, pikirannya hanya sibuk mencari pekerjaan.

Dan, itu bukan sebuah kesalahan, kok! Namun, rasanya kita perlu memanfaatkan “waktu menganggur” kita dengan baik. Kenapa enggak coba melakukan hal produktif?

“Ah, Produktif juga butuh uang!”

Memang, betul. Akan tetapi, kalau aku lihat banyak sekali pengangguran yang aktif di media sosial. Artinya dia punya kuota. Artinya lagi, betapa besar kesempatan dia melakukan produktivitas.

Right?

Cara Aku Menjaga Kewarasan dengan Produktivitas

Menjaga kewarasan dengan produktivitas

Produktivitas merupakan sebuah kemampuan individu, tim, ataupun organisasi dalam melakukan pekerjaan dengan efisien. Tujuannya untuk mencapai hasil yang memuaskan.

Meskipun bagi beberapa orang punya perspektif sendiri tentang produktivitas. Ada yang menganggap produktif berarti melakukan banyak hal dalam satu hari. Ada pula menganggap produktif sebagai menyelesaikan pekerjaan/kegiatan dengan cepat supaya memiliki banyak waktu luang.

Apa pun itu, menurut aku selama kita—paling enggak—memiliki satu kegiatan produktif dalam satu hari. Itu lebih baik, daripada waktu luang terbuang sia-sia.

Kita perlu mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif. Kabar baiknya, kegiatan di waktu luang dapat berdampak positif terhadap kesehatan mental.

Melansir situs Fakultas Psikologi UI, penelitian Verghese et al (2006) menunjukkan bahwa kegiatan waktu luang berperan dalam mempertahankan kesehatan mental seseorang.

Enggak ada ruginya melakukan hal produktif. Dan, hal ini aku rasakan sendiri dampaknya: aku merasa enggak menganggur banget. Bahkan, aku sering melabeli diri dengan “pengangguran produktif”.

Bisa dibilang aku lumayan jarang stres. Aku meyakini bahwa hal ini karena produktivitas yang aku lakukan secara individu maupun organisasi.

Bagaimana enggak? Output dari produktivitas yang kudapatkan adalah perasaan berharga, menyenangkan, dan kepuasan. Sebab, jika dalam satu hari aku enggak produktif, akan muncul perasaan bersalah.

Output produktivitas tersebut yang meningkatkan well-being, kehidupan yang tenang dan juga sejahtera. Kemudian membantu aku dalam menyusun skala prioritas.

Kegiatan produktif juga membantu untuk meningkatkan rasa tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sebab produktivitas adalah kegiatan produktif yang selesai dan ada hasilnya.

Tentu saja hasil dari produktivitas bukan hanya soal uang. Pencapaian terkait rasa senang, puas, dan sejahtera, juga merupakan bentuk dari hasil produktivitas.

Produktivitas biasanya didorong dengan elemen-elemen seperti energi mental dan motivasi. Motivasi di sini bisa berasal dari internal maupun eksternal. Baik energi mental dan motivasi punya keterikatan yang kuat.

Menguasai Skill Produktivitas ala Brian Tracy

Perkenalkan, Brian Tracy, seorang motivator dan juga konsultan yang dengan intens membahas topik-topik mengenai produktivitas, manajemen waktu, public speaking, dan lain sebagainya.

Motivator asal Kanada ini telah menjadi konsultan lebih dari 1000 perusahaan. Bahkan dia telah menjadi pembicara dengan audience sebanyak 5 juta orang dalam 5000 seminar.

Tentunya dengan berbagai atau segudang pengalaman yang dimiliki. Brian membuat 10 specific skills and tips to help anyone master productivity. Yup, produktivitas sendiri pun merupakan sebuah life skill. Berikut lansiran dari High Gear.

Produktivitas ala Brian Tracy

Utilize the “one-touch”

One-touch yang berarti satu kali sentuh maksudnya adalah kita perlu mengerjakan tugas atau proyek dalam satu kali sentuh.

Ketika dalam satu hari kita memiliki beberapa tugas. Daripada mengerjakan semuanya dalam satu waktu. Sebaiknya diselesaikan satu per satu.

Dengan begitu ketika mengerjakan tugas atau proyek lain, kita enggak merasa terbebani.

Write it down

Kadang-kadang kita punya bentuk pikiran yang rumit. Sehingga membuat kita kesulitan dalam menyusun rangkaian tugas untuk diselesaikan.

Ada perlunya kita menuliskan tugas tersebut dalam jurnal, catatan, ataupun bentuk teks lainnya baik fisik maupun digital.

Kemudian kita memberikan tanda coret untuk tugas yang selesai. Atau memberikan warna tertentu pada tugas penting. Hal ini membantu kita untuk menguasai skill produktivitas.

Set small goals

Salah satu hal yang mempengaruhi kualitas produktivitas adalah adanya tujuan. Memang betul tujuan yang besar akan berpengaruh besar pula terhadap proses.

Hanya saja, bagi beberapa orang tujuan yang begitu besar dan perfeksionis justru malah membuat mereka menunda-nunda pekerjaan. Alhasil produktivitas menurun.

Tujuan-tujuan kecil dapat membantu kita menyelesaikan proyek atau tugas sedikit demi sedikit. Misal ada proyek ada tugas yang begitu besar. Kita perlu membagi proyek tersebut dalam sub kecil.

 Kita bisa menyelipkan tujuan kecil di sela-sela proyek yang sudah dibagi. Adanya tujuan kecil tersebut juga meningkatkan motivasi dalam meningkatkan produktivitas.

Plan ahad

Tentukan rencana di masa depan dengan membuat to doa list. Apa lagi untuk kita tipe yang sangat struktural dan butuh perencanaan mendetail. Menyusun to do list dan merancang rencana menjadi salah satu acuan menguasai skill produktivitas.

Stop multitasking

 Dalam mengerjakan sesuatu, sebaiknya kita fokus pada pekerjaan tersebut. Hindari hal-hal lain yang dapat mendistraksi. Distraksi bisa membuat kita melupakan kegiatan produktif.

Bila perlu jauhkan ponsel dan matikan notifikasi saat sedang melakukan hal produktif. Jika memang sulit untuk dimatikan, at least kita bisa berkomitmen terhadap proyek atau tugas yang harus kita selesaikan.

Eliminate disruptions

Salah satu cara untuk meminimalisir gangguan atau distraksi adalah dengan menciptakan ruangan kerja yang nyaman. Enggak hanya ruangan, mungkin kita bisa menentukan tempat yang tepat dan strategis.

Melakukan hal produktif tentunya memerlukan ketenangan dan juga fokus. Produktivitas yang baik adalah ketika kita terhindar dari berbagai macam gangguan eksternal.

Start the hardest task first

Mungkin salah satu hal yang membuat kita merasa terbebani dalam mengerjakan produktivitas. Salah satunya adalah kurang manajemen skala prioritas.

Menurut Brian Tracy, mengerjakan tugas yang lebih berat terlebih dahulu dapat menjaga produktivitas tetap mengalir.

Determine when you are most productive

Kita perlu mengenali golden hours diri sendiri. Misal, apakah kita tipe orang yang lebih produktif di pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari? Tentukan waktu-waktu yang tepat untuk mendapatkan kualitas produktif yang lebih baik.

Set time limits

Sering kali kita tenggelam dalam kegiatan produktif. Hal ini dikarenakan betapa kita menyukai pekerjaan atau tugas yang kita lakukan. Akan tetapi, kita pun harus punya batasan.

Bahwa segala sesuatu, meskipun itu hal positif, jika dilakukan secara berlebihan sampai lupa waktu bahkan lupa diri sendiri. Tentunya akan memiliki output yang kurang baik.

Avoid over-committing

Salah satu hal mendasar dalam menguasai skill produktif adalah dengan berkomitmen. Komitmen membantu kita memahami betapa pentingnya bertanggung jawab terhadap tugas atau kegiatan yang kita ambil.

Hanya saja ketika kita terlalu berkomitmen, tetapi kita melupakan bahwa kita juga perlu bersosialisasi, kita perlu melakukan kegiatan dengan orang lain. Kadang-kadang enggak ada salahnya meminimalisir komitmen untuk menghargai orang-orang di sekitar kita.

Produktivitas aku

SEMUA aspek  produktivitas ala Brayan Tracy, beberapa diantaranya atau bahkan hampir semua sudah aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. And it walks!

Hanya ada satu poin yang kurang relevan dengan aku. Aku adalah tipe orang yang lebih baik menyelesaikan tugas kecil lebih dulu baru kemudian mengerjakan tugas yang lebih besar.

Terkadang butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas besar. Bahkan enggak bisa diprediksi waktu selesainya. Sebaiknya menyelesaikan tugas ringan atau kecil yang hanya memerlukan waktu beberapa jam untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Sisanya, aturan menguasai skill produktivitas dari Brian Tracy sangat berguna.

Mulai dari menentukan golden hours produktivitas. Kemudian menyelesaikan satu tugas dalam satu waktu. Menghindari berbagai gangguan ataupun distraksi dengan mengerjakan di tempat yang nyaman dan aman.

Dikarenakan aku bukan tipe orang yang bisa multitasking. Aku merasa enggak perlu effort untuk bisa fokus terhadap tugas atau proyek yang aku kerjakan. Salah satu hambatannya adalah, kadang-kadang masih kesulitan untuk menghindari notifikasi atau aplikasi lain.

Hanya saja mengingat output dari hal produktif yang aku lakukan: perasaan berharga, merasa puas, dan merasa senang. Hal ini menjadi motivasi internal tersendiri untuk meningkatkan produktivitas aku.

Bahkan saat ini aku berusaha untuk at least, melakukan minimal satu kegiatan produktif per hari. Hal ini bertujuan agar aku enggak merasa bersalah karena dapat menimbulkan perasaan enggak berguna.

Dengan adanya to do list, membuat perencanaan jangka panjang, dan menentukan small goals. Membantu aku untuk berkomitmen dan bertanggung jawab terhadap produktivitas aku.

Untungnya aku bukan orang yang over terhadap sesuatu. Aku punya batasan. Dan, aku punya golden act in every golden hours. Misal:

  • Pagi: baca buku dan beberes
  • Siang: menulis untuk konten blog 
  • Sore: istirahat dan beberah sedikit
  • Malam: kegiatan komunitas dan take video

Produktivitas yang aku punya bukan hanya berkaitan dengan diri sendiri, melainkan juga tim atau organisasi. Hal ini menjadi wadah aku dalam belajar berkomitmen dan bertanggung jawab.

Jadi, kalau kamu merasa punya self esteem yang kurang baik. Kamu bisa mulai produktivitas dari hal-hal yang kamu sukai terlebih dahulu. Dengan begitu kamu akan menemukan kehidupan yang lebih waras dan tenang.

TULISAN kali ini bisa dibilang sebagai catatan dari apa yang sudah aku pelajari tentang matriks dasar Google Analytics 4. Mungkin akan sedikit keluar dari niche utama blog ini, tetapi tetap ada benang merah yang menjembatani.

Sebetulnya sudah lama betul, aku ingin bisa membaca—at least—matriks dasar laporan GA4. Namun, baru “gerak” beberapa waktu lalu. Mengingat aku lumayan agak kesulitan memahami artikel di Google.

Salah satu cara agar aku bisa mencapai pemahaman tanpa ragu, adalah dengan bertanya dan berdiskusi. Sementara, aku enggak punya mentor yang bisa dengan intens dan sabar untuk memenuhi kebutuhan pemahaman aku.

Pada akhirnya—dengan segenap hati, aku memutuskan untuk menggunakan Chat GPT. Let you know, sebelumnya aku sangat idealis dan menghindari AI dalam proses belajar maupun kreativitas. Akan tetapi, mau bagaimana lagi?

Well, ternyata Chat GPT mampu menjawab pertanyaan aku tepat sasaran. Untungnya dia enggak punya emosi sehingga aku bisa banyak bertanya, meskipun berulang kali. Sampai akhirnya aku dapat memahami, tanpa ragu.

Oleh karena itu, aku enggak mau apa yang sudah aku pahami hanya tersimpan dalam memori otakku yang hanya berkapasitas 64 GB. Better, aku catat ulang kembali dalam tulisan di blog ini. Harapannya juga bisa membantu Teman-Teman untuk memahami GA4.

Catatan Belajar: Memahami Matriks Dasar Google Analytics 4 (GA4)

Memahami Google Analytics 4

Google Analytics 4 merupakan tools yang disediakan Google kepada pemilik website. Tujuannya untuk menganalisis data dan demografi pengguna. Hampir semua bloger profesional memasang GA4 pada website-nya.

Sebetulnya pada dasbor blog sendiri sudah ada statistik terkait data pengunjung blog. Namun, dasbor tersebut dinilai kurang valid. Sehingga banyak klien yang selalu meminta laporan GA4 sebagai acuan penilaian suatu website.

Jadi, kalau kamu betul-betul ingin mendapatkan penghasilan dari blogging, kamu perlu memasang GA4 terlebih dahulu. Supaya bisa menentukan rate card untuk blog kamu kepada klien yang ingin content placemant.

Enggak hanya itu, kalau tujuan kamu blogging sebagai personal branding. GA4 dapat membantu menganalisis demografi pengunjung. Misal, asal dari negara mana, perempuan atau laki-laki, dsb. Bahkan dapat melihat konten mana yang lebih banyak dijangkau pengunjung.

Hal pertama tentunya kita harus memasang tools GA4 terlebih dahulu agar bisa membaca laporannya. Namun, di sini aku enggak akan membahasnya. Kita akan fokus pada matriks yang muncul di beranda GA4.

O, iya. Angka yang muncul di beranda Google Analytics 4 merupakan perbandingan dari periode sebelumnya dengan periode sekarang. Misal periode sekarang adalah laporan dari bulan Agustus. Artinya dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu bulan Juli. 

Pengguna Aktif

Memahami GA4

Pada beranda awal Google Analytics 4, akan terdapat matriks Pengguna Aktif. Pengguna aktif merupakan akumulasi dari jumlah pengunjung yang mengunjungi blog atau website kita.

Di bagian bawah angka jumlah Pengguna Aktif, terdapat persentase yang menunjukkan hasil perbandingan dari periode sebelumnya. Persentase ini bisa menaik atau menurun.

Contoh, angka Pengguna Aktif menunjukkan angka 100 pada bulan Agustus. Kemudian persentase di bawahnya menunjukkan kenaikan sebanyak +500,0%. Artinya pada bulan Agustus, website kita mengalami lonjakan jumlah pengunjung lima kali lipat dari periode sebelumnya atau bulan Juli.

Untuk melacak Pengguna Aktif yang mengunjungi website kita. GA4 menanam Client ID melalui kuki pada browser pengguna/pengunjung. Analoginya, setiap satu pengguna baru yang mengunjungi website kita akan diberi name tag.

Jika si pengguna tersebut menghapus kuki pada browser-nya. Client ID akan menghilang dan terhitung sebagai Pengguna Baru jika mengunjungi website kita kembali.

Pengguna Baru

Catatan belajar

Yup, Pengguna Baru merupakan para pengunjung yang baru saja datang pertama kali ke website kita. Kecuali jika dia menghapus kuki. Akan tetapi, enggak semua Pengguna Baru akan menjadi Pengguna Aktif.

Pengguna Baru dianalisis dari pengunjung yang baru datang dan hanya melakukan satu peristiwa (event), misal session_start. Namun, jika Pengguna Baru tersebut kembali mengunjungi website kita beberapa jam kemudian atau esok hari, maka dia termasuk Pengguna Aktif. 

Peristiwa (Event)

Makin banyak Pengguna Aktif, maka Peristiwa yang dihasilkan pun akan meningkat. Peristiwa (Event) merupakan aktivitas yang dilakukan oleh Pengguna Aktif ketika mengunjungi website atau blog kita ini

Jadi, Pengguna Aktif adalah orangnya. Sementara Peristiwa adalah aktivitas si pengguna.

Event session

Ada beberapa sub matriks atau peristiwa yang menjadi aktivitas pengguna/pengunjung. Beberapa di antaranya:

session_start

Peristiwa ini akan dimulai ketika Pengguna Aktif/Baru pertama kali mendarat di website.

page_view

Halaman yang dibuka oleh Pengguna Aktif/Baru. Biasanya berupa beranda, konten tulisan/artikel, ataupun halaman dari menu atau side bar.

Halaman yang dibuka tergantung dari mana pengunjung membuka halaman website atau blog kita. Misal, dari kegiatan blog walking, link promosi di media sosial, atau bahkan dari pencarian organik (Google).

Assalamualaikum, Kak Janna. Melanjutkan terkait informasi sponsorship. Berikut aku lampirkan proposal dan susahnya, yaa .

Pengguna Aktif/Baru yang melakukan scrolling pada website pun akan masuk dalam rangkaian Peristiwa (Event). Entah dia scrolling di halaman awal atau halaman artikel. GA4 akan menganalisisnya lebih detail.

click

Aktivitas seperti mengklik pun akan masuk dalam rangkaian Peristiwa. Pengguna Aktif/Baru yang melakukan klik satu halaman artikel atau lebih. Bahkan mengklik navigasi pun akan masuk perhitungan.

Hal ini menjadi salah satu alasan betapa pentingnya memilih template yang sederhana dan mudah digunakan oleh pengunjung. Supaya para pengunjung enggak kesulitan menemukan tombol navigasi dan juga menu side bar.

Nah, sebetulnya masih ada beberapa lagi sub matriks Peristiwa (Event), tetapi aku rasa dalam belajar pun kita perlu pelan-pelan. At least, kita bisa memahami dasar terlebih dahulu.

Pengguna yang mendarat pertama kali di website maka sesi awal/baru akan dimulai (sessoon_start). Artinya secara otomatis pengguna tersebut sedang membuka halaman website (page_view). Maka dihitung satu sesi.

Jika, pengguna melakukan session_start, page_view, kemudian melakukan scrolling -(scroll), ditanbah mengklik salah satu artikel (click). Maka, dihitung satu sesi.

Apabila pengguna hanya melakukan session_start + otomatis page_view, kemudian enggak melakukan aktivitas apa pun selama 30 menit. Maka GA4 secara otomatis akan mengakhiri sesi tersebut dan tetap mencatat satu sesi.

Jika pengguna tersebut kembali lagi 15 menit kemudian. Maka dia akan memulai sesi yang baru (session_start + page_view), bukan melanjutkan sesi dari yang sebelumnya enggak melakukan aktivitas apa pun.

Lebih detail lagi. Ketika si pengguna melakukan aktivitas atau peristiwa secara intens dan kontinu lebih dari 30 menit. Maka tetap dihitung satu sesi.

Perlu diingat. Peristiwa session_start sudah serangkai dengan peristiwa page_view. Sebab, ketika kita memulai sesi baru, secara otomatis di saat yang bersamaan kita sedang membuka halaman. Sementara, aktivitas atau peristiwa seperti click, scroll, dll, hanya sebagai tambahan. 

Jadi, Peristiwa (Event) merupakan akumulasi dari rangkaian sesi yang dilakukan oleh seluruh jumlah Pengguna Aktif.

Misal, matriks menunjukkan 100 Penggunaan Aktif dan 3000 Peristiwa (Event). Perkiraannya adalah satu Pengguna Aktif melakukan aktivitas sebanyak 30 sesi pada periode tertentu (misal bulan Agustus).

MEMANG butuh waktu lama dan pelan-pelan ketika mempelajari matrik satu ini. Bahkan, aku pun perlu memvalidasi catatan belajar ini kepada Chat GPT untuk memastikan bahwa pemahaman aku sudah betul.

Sebelumnya aku merasa enggak akan mampu dalam memahami aspek yang begitu sulit. Dan, ditambah aku sudah menyerah lebih dulu. Sehingga membuat aku pun enggan untuk mencoba.

Padahal dari awal aku sudah punya keinginan untuk bisa memahami laporan Google Analytics 4. Namun, keraguan aku yang begitu besar menjadi hambatan.

Ketika aku memutuskan untuk mencoba dan bertanya pada Chat GPT. Nyatanya keraguan tersebut enggak terbukti.. dengan proses yang memang enggak sebentar, tetapi pada akhirnya aku bisa memahami.

Sebetulnya segala aspek di hidup ini enggak ada yang semudah itu. Pada akhirnya, tergantung dari bagaimana respons kita dalam menghadapi kesulitan. Mau menyerah atau mau mengubahnya menjadi mudah?

Tentunya mengubah kesulitan menjadi kemudahan membutuhkan proses yang enggak sebentar. Jadi, keliru ketika kita berekspektasi bisa memudahkan kesulitan dengan hal yang instan.

Segalanya butuh proses. Dan, yang namanya proses perlu dinikmati. Sebab, yang paling penting dalam mencapai keberhasilan adalah bagaimana kita bisa menghargai proses.


Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Aku bukan Orang Baik, Aku Jahat
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Evolusi Cinta: Perkara Patah Hati
  • Erizal Barnawi: Seni Musik Tradisional Lampung bukan Sekadar Hiburan
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Catatan Belajar: Memahami Matriks Dasar Google Analytics 4 (GA4)
  • Menjaga Kewarasan dengan Produktivitas

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 6
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

CONTACT FORM

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template