SAMPAI saat ini aku masih merasa hidup sebagai penumpang saja. Penumpang yang tidak tahu harus menuju ke mana? Bagi aku, tujuan hidup, seperti dongeng yang tidak mungkin terjadi dalam hidup aku. Sebagai penumpang, aku hanya mengikuti ke mana pun arah pergi si kapal.
Aku, dari yang heran sampai tidak heran lagi kalau melihat orang lain berambisi meraih impiannya. Awalnya aku bertanya-tanya tentang apa yang membuat mereka begitu berambisi? Seiring berjalannya waktu, aku tidak pula menemukan jawaban memuaskan. Untuk apa? Kenapa?
Katanya impian yang berhasil diraih adalah kebahagiaan. Bahagia, ya? Meskipun jawabannya tidak memuaskan, aku dapat melihat betapa orang-orang itu begitu bergairah dan rela jatuh tersungkur hanya demi sesuatu yang mereka idam-idamkan. Aku tidak menafikan bahwa dengan proses perjuangan sebegitunya, lantas berhasil memeluk impiannya. Memang sudah sepantasnya, impian adalah bagi mereka yang layak.
Sementara aku? O, ingat, kan, aku ini hanya penumpang tidak jelas. Kerjaannya hanya memandang langit dan hamparan laut yang tidak pernah berubah bentuk. Namun, setiap pergantian waktu, pagi ke siang, lalu sore hingga malam, sampai matahari merekah kembali. Menunjukkan bahwa hari terus melaju, tidak pernah berbalik arah.
Persis. Aku adalah laut dan langit yang tidak pernah berubah. Matahari dan bulan adalah kehidupan yang terus melangkah. Bedanya, langit dan laut amat berguna bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara aku? Jangankan orang lain, untuk diri sendiri saja tidak ada gunanya. Sialan, mengenaskan sekali aku jadi manusia. Aku mengembuskan napas berat, berat sekali seperti pikiran aku. Pikiran yang menjadi my love-hate relationship.
Sebetulnya aku punya impian, kok, dan hampir saja berambisi untuk meraihnya. Bahkan aku punya beberapa cita-cita yang bergantian seiring berkembangnya diri. Pernah aku ingin menjadi arsitektur karena melihat dan menemukan buku desain interior di meja kerja Papi. Sampai aku pernah membuat desain rumah di beberapa aplikasi seperti Floor Plan, Planner 5D, One Room, bahkan Minecraft. Namun, rasa-rasanya tidak mungkin, ya, terlalu tinggi.
Pernah ada momen sederhana yang polos ketika kelas 4 SD. Waktu itu teman satu kelasku, Adis sedang berulang tahun. Tiba-tiba aku kepikiran meraih buku tulis, pensil, penghapus, dan penggaris. Kemudian membuat sketsa denah rumah sederhana. Setelah selesai, aku sobek bagian kertas itu dan kulipat. Besoknya aku berikan ke Adis sebagai kado ulang tahun. Pada masa itu aku menyalurkan kesukaanku terhadap desain rumah melalui membuat sketsa denah rumah di kertas atau di buku tulis ) sebelum mengenal aplikasi digital).
Kemudian ketika sudah naik kelas—antara 5 atau 6 SD, Mami pernah bertanya tentang cita-cita aku. Dengan polos aku menjawab ingin menjadi guru agama Islam, spesifik. Mungkin karena pada saat itu era aku rajin mengaji ke TPA setiap sore, bahkan siang terkadang harus mengaji private di rumah Abi. Ditambah pelajaran selama SD yang aku suka adalah agama Islam—satu-satunya pelajaran yang mudah aku pahami.
Namanya seorang Ibu, maklum, ya, menceritakan tentang cita-cita anaknya ke tetangga. Sampai-sampai tetangga sebelah rumah aku memberikan hadiah Al-Qur'an yang bagus sekali, tidak diperjual belikan, lembarannya tebal, fon arabnya mudah dibaca.
Aku ingat betul satu kejadian hangat. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas 6 SD. Mami sedang membantu aku mengenakan seragam merah putih. Aku berceletuk, “Mi, Vina mau pakai kerudung, dong!”
Sambil tersenyum, Mami menjawab dengan penuh pengertian, "Boleh. Tapi, nanti aja kalau udah masuk SMP, ya? Nanggung soalnya.”
Pada awalnya ketika sudah masuk SMP, aku masih belum mengenakan kerudung karena menunggu seragam putih birunya selesai dijahit. Ketika masuk bulan Ramadan, para murid diwajibkan mengenakan busana muslim. Dan ini adalah titik awal aku istikamah mengenakan kerudung sampai saat ini. Setidaknya aku masih punya sikap-sikap berjuang menjadi guru agama Islam meskipun dari hal sederhana.
Ketika kelas 9 SMP, cita-citaku berubah. Bu Endang—guru BK—mempertanyakan hal yang sama kepada seluruh murid di kelas, “Sebutkan cita-cita kalian sambil berdiri dari kursi.”
Ingat betul, saat itu aku menjawab dengan lantang, “Aku ingin menjadi penulis!”
Ya. Pada akhirnya aku punya satu cita-cita tetap yang tidak pernah berubah sampai detik ini. Pada masa remaja, era Facebook sedang ramai dan masih ada fitur Notes. Aku suka sekali membaca cerita bersambung fan fiction. Kemudian merambah ke novel-novel remaja. Dari situ aku mulai tertarik untuk menulis cerita pendek. Dan, dengan sadar aku memutuskan untuk bercita-cita ingin menjadi penulis.
Memang, sih, dari satu cita-cita ke cita-cita lain cukup random. Namun, semua itu menjadi sejarah yang pernah ada. Bahwa aku pernah punya cita-cita. Mungkin kamu bertanya-tanya kepada aku, “Bukankah kamu masih bercita-cita jadi penulis? Sampai saat ini, kan, tadi kamu bilang?”
Ah, soal itu. Masih ada satu fase hidup yang belum aku ceritakan. Tepatnya ketika aku sudah menjadi anak SMA. Senang betul ketika pemilihan kelas terdapat opsi bahasa. Dengan cita-cita menjadi penulis, tentunya aku memilih minat kelas bahasa. Namun, kesenian itu hanya bertahan di awal karena peminat bahasa sedikit, pada akhirnya aku memilih IPA. Dan, ini menjadi awal aku tidak percaya diri dan berpengaruh terhadap sikap aku meraih impian.
Masa putih abu-abu itu masa yang berwarna bagi banyak orang. Akan tetapi, bagi aku, putih abu-abu adalah titik terendah dalam hidup. Aku tidak tahu caranya bersosialisasi dan bergaul dengan teman sekelas. Waktu kelas 10, aku duduk sendirian di depan, sendirian. Aku tidak punya teman ngobrol yang intens. Aku benci sekali kalau sudah pembagian tugas kelompok. Aku sama sekali tidak mendapatkan jatah kisah romantis SMA seperti yang kubaca di novel-novel remaja. Bahkan aku tergolong murid yang bodoh.
Bukankah itu ciri-ciri manusia tidak berguna? Manusia yang tidak berguna memangnya pantas apa dalam hidup ini? Wajar tidak punya teman yang mendekat, wajar tidak ada lelaki yang datang memberi hati, wajar saja, pantas saja. Aku memang tidak se-berguna itu. Lantas,. mengapa aku begitu percaya diri sekali untuk menjadi.penulis? Penulis terlalu mengagumkan untuk aku yang tidak ada apa-apanya. Yang benar saja?!
Mulai dari situ, penulis hanyalah sebatas impian. Impian yang terlalu muluk. Ada perasaan tidak layak dan malu. Jangankan meraih, untuk berproses dan berjuang saja aku merasa tidak layak, tidak pantas. Bayangan diri aku sebagai penulis dengan buku-buku best seller hanya ada di kepala, seperti dongeng, mimpi belaka. Dreams come true itu bukan milik aku, dreams come true adalah milik mereka yang pantas dan layak.
Sejujurnya dari tadi yang menulis adalah pikiran dan perasaan aku yang lama dan masih bertahan. Sebenarnya jauh di lubuk hati, paling dalam, ada secercah impian yang begitu lemah. Setiap hari berusaha mati-matian mengelak-mbantah pikiran dan perasaan yang terus memvonis aku tidak berguna. Namun, sayangnya dia terlalu lelah dan tanpa sadar aku abaikan. Hati kecil yang malang.
Menurut kamu apakah aku layak dan bisa.jadi Penulis dengan buku best seller?












