AKU menyadari, aku sudah jatuh suka dan aku memilih untuk menjaga jarak. Mungkin kamu merasakannya juga, ya? Kamu ingat enggak, aku pernah cerita pengalaman menyatakan perasaan suka dengan seseoransg? Sejujurnya aku ingin melakukan hal yang sama dengan kamu. Namun, keberanian yang sebelumnya entah dapat dari mana, sepertinya sekarang sudah lenyap. Bukannya malu, aku cuma cape. Selalu menjadi peran yang menyukai, enggak pernah disukai.
Bukannya aku enggak punya nyali untuk terus terang soal perasaan aku. Hanya saja, aku masih belum sanggup menerima respons kamu nantinya. Msskipum aku sudah terlalu sering enggak dicintai, tetapi keseringan itu enggak lantas membuat aku jadi terbiasa. Patah hati rasanya selalu baru dan basah. Berulang kali patah hati, maka berulang kali terluka.
Mungkin belakangan kamu merasa aku enggak seaktif biasanya, ya? Iya, sengaja. Soalnya aku cape, Kak, aku cape jatuh suka sendirian. Aku cape untuk terus-menerus berjuang seorang diri hanya untuk mengejar sesuatu yang lagi-lagi tidak pernah berpihak kepada aku. Ada kalanya aku juga mau seperti teman perempuan lainnya, dicintai. Sederhana, tetapi kenapa rasa-rasanya aku seperti mengemis cinta?
Iya. Aku paham, kamu enggak meminta aku untuk jatuh suka kepada kamu. Perasaan ini murni muncul dari hati aku sendiri yang pada awalnya berusaha aku tepis. Akan tetapi, lama-kelamaan, ketika makin aku tepis, aku berseteru dengan hatiku sendiri. Pada akhirnya aku menyerah. Terserah hati maunya seperti apa. Jadi, mau enggak mau dengan sadar akhirnya aku suka dengan kamu.
Kamu pasti cuma anggap teman diskusi, kan? Enggak lebih, dan memang enggak harus lebih. Hanya harapan aku saja yang ingin kamu menganggap aku lebih dari itu. Hanya harapan aku saja yang ingin nama aku punya tempat spesial di hati kamu. Hanya harapan aku saja yang ingin kamu juga jatuh suka dengan aku. Maaf, ya, karena aku sudah jatuh suka sama kamu. I am really sorry, sorry.
Mungkin kamu merasa sekarang aku menjauh, ya? Aku juga bingung, Kak, harus bagaimana? Serbasalah. Kalau aku terus berinteraksi sama kamu, hati aku jadi enggak tahu diri. Kalau aku mengurangi interaksi sama kamu, akal sehatku mengatakan keputusan ini jauh lebih baik. Aku rasa kamu juga enggak masalah, kan, dengan keputusan kedua aku? Iya, pasti enggak apa-apa, aku hanya salah satu teman diskusi kamu, kok. Kamu masih punya teman diskusi lain.
Iya. Mundurnya aku enggak akan meninggalkan arti dalam hidup kamu. Aku cuma teman kamu.
Kamu, kamulah yang berarti dalam hidup aku. Kamu meninggalkan arti sejak pertama kali kamu merekomendasikan buku Self Empowerment by NLP. Buku nonfiksi pertama yang aku baca dengan sadar dan sukarela. Buku nonfiksi pertama yang aku suka. Dan, untuk pertama kalinya dalam hidup, penilaian aku tentang nonfiksi berubah. Kamu ingat, kan?
It's because of you.
O, apakah kamu ingat rekomendasi buku bersampul ungu yang aku tanyakan ke kamu waktu itu? Saat itu aku sedang mengikuti Reading Challenge ODOP dan kebetulan sedang masa check up mata. Judulnya Soul Healing Therapy, penulisnya Irma Rahayu. Bab pertamanya aku baca di ruang tunggu rumah sakit sambil menunggu dipanggil untuk konsultasi dengan dokter penyakit dalam.
Tahu enggak, Kak? Aku merasa Allah menjawab kegelisahan aku melalui buku itu. Mata aku berair saking tersentuhnya, unung airnya enggak turun, hanya menggenang di pelupuk. Aku tahu, kamu merekomendasikan buku itu karena aku yang minta. Bagi aku, Soul Healing Therapy adalah rekomendasi buku terindah yang pernah direkomendasikan kepada aku. Paham, kan, kenapa kamu berarti dalam hidup aku? Kamu meninggalkan jejak penuh arti, Kak.
Aku pernah mengatakan bahwa buku yang bagus adalah yang memberikan perspektif baru. Kamu juga seperti buku yang bagus itu, Kak. Ketika kita sedang diskusi tentang hubungan dan komunikasi. Intinya kamu memberikan perspektif bahwa komunikasi juga butuh respect. Komunikasi memang segalanya, tetapi komunikasi tanpa respect pun akan gagal. Asal kamu tahu, Kak, perspektif itu aku jadikan prinsip dalam aku selamanya.
Kamu datang di saat aku baru benar-benar selesai dengan hati aku. Awalnya aku enggak pernah mempertanyakan ujungnya akan Seperti apa? Namun, setelah kita intens berkomunikasi hampir setiap hari, berbulan-bulan, satu tahun berlalu, aku mulai memprediksi ujungnya. Kini, aku menemukan diri aku jatuh suka sendirian di ujung. Lagi. Lagi. Dan, lagi. Padahal akal sehat sudah memberi peringatan berulang kali sejak awal, tapi hati aku punya kendali lebih besar.
Kak, maaf, ya, kalah hal ini membuat kamu enggak nyaman.
Seumur hidup aku, baru kamu lelaki yang mau berdiskfzi panjang dengan aku. Baru kamu lelaki yang menganggap aku ada sebagai perempuan. Baru kamu lelaki yang menghargai cara aku berpikir. Baru kali lelaki yang aku enggak perlu takut untuk bercerita. Baru kamu lelaki yang berinteraksi dan berkomunikasi seintens sampai satu tahun lebih. Baru kamu, Kak. You're still the only one. Even my dad can't do for me like what you do.
It’s a simple thing, tapi cuma kamu yang bisa.
Orang bilang jatuh cinta itu enggak beralasan. Nyatanya aku punya banyak alasan untuk mencintai kamu.
Aku jatuh suka karena semua itu. Dan, aku takut jatuh suka hanya karena ekspektasi aku. Aku takut, Kak. Aku enggak mau melibatkan kamu ke dalam ekspektasi tanpa kendali. Maka, aku mundur sebelum ekspektasi mengemis cinta pada hati. Jadi, aku memilih menjauh, sebelum aku mencintai kamu terlalu jauh. Sebab aku tahu, aku masih enggak sanggup kembali dihadapkan dengan patah hati yang begitu dalam.
Soalnya saat ini aku sudah masuk fase patah hati ringan. Meskipun patah hati itu datang dari pikiran aku sendiri. Meski patah hati itu adalah imbas dari keputusan aku untuk menjaga jarak. Kali ini aku ingin menjadi pemendam rasa terlebih dulu, sampai aku sanggup. Kalau aku sudah enggak kuat, aku harap kamu enggak apa,-apa, ya, ketika datang pesan cinta dari aku.
Ketika pesan cinta tiba, saat itu juga aku siap segala risiko dan konsekuensinya.
Thanks, Kak Ed.










