“Tangki hati kamu bukan urusan orang lain, itu tanggung jawab kamu.”
Sekarang aku betul-betul percaya bahwa setiap orang yang hadir dalam hidup aku, akan selalu punya alasannya masing-masing. Mereka bukan hanya datang dan pergi, melainkan setiap jejaknya akan selalu memberikan arti. Salah satunya pada suatu diskusi daring di salah satu platform media sosial. Seorang perempuan yang tegas, cerdas, dan apa adanya. Kehadirannya dalam hidup aku cukup singkat, tetapi dari beberapa kali pertemuan itu ada satu perspektif darinya yang mengubah sudut pandangku.
Selama ini aku sudah salah menilai diri aku sendiri, aku gagal mengenal siapakah aku sebenarnya? Aku berusaha untuk selalu all out terhadap apa yang aku lakukan ke orang lain. Ada kalanya aku berupaya mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Menahan diri agar tidak membuat orang kesal atau marah kepadaku. Memosisikan diri menjadi pendengar yang baik bagi siapa pun yang butuh telingaku. Semua itu baik, tetapi sesuatu yang baik menjadi tidak menjadi baik ketika niat dan tujuannya salah.
Aku pikir, aku telah berubah menjadi versi terbaik. Memang betul, mungkin orang lain melihatnya baik, tetapi sekarang sudah bisa melihatnya dan hatiku mulai berlubang-lubang. Aku tidak sebaik itu, aku tidak pernah menjadi baik untuk orang lain, apalagi untuk diri aku sendiri. Aku memang berubah, tetapi aku berubah menjadi sosok pendendam. Dendam atas masa lalu yang tidak pernah menyajikan kebahagiaan. Dendam akan masa lalu yang melulu menorehkan luka. Kemudian, aku berubah menjadi si pemeran ulung yang berperan tanpa hati. Hanya mempertahankan apa-apa yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Perasaan dihargai. Keberadaan aku yang dianggap. Suara aku yang didengar. Kesalahan yang diberikan kesempatan. Dan … pertemanan yang manis, manis sekali.
Semua itu ternyata hanya topeng, aku sedang berperan. Peran baik yang dirancang sedemikian rupa. Peran baik yang tiba-tiba terbangun begitu saja tanpa memberi sinyal. Protagonis yang tidak mau kembali terjebak dalam masa lalu. Masa lalu ketika aku tidak dihargai, tidak didengar, tidak diberi kesempatan, dan tidak punya teman. Aku ketakutan setengah mati jika masa lalu itu datang lagi. Aku tidak mau lagi berada di lembah senyap yang memberikan. Aku akan mempertahankan mereka yang membuat hidupku terasa penuh makna. Mereka yang kembali melahirkan harapan yang hampir ikut mati. Dengan cara apa pun, aku akan memastikan mereka bertahan, meski aku lelah.
Sebuah cara yang tidak lagi menjadikan aku protagonis. Sebuah cara yang pada akhirnya menjadi bom waktu. Sebuah cara yang justru perlahan tapi pasti, menarikku paksa kembali ke masa lalu. Si protagonis yang kemudian berubah menjadi si antagonis. Tanpa sadar aku menjadi orang yang berpura-pura. Pura-pura mendengarkan, padahal aku adalah orang yang mudah menyerap emosi. Pura-pura selalu ada, padahal ada diri yang perlu diprioritaskan. Pura-pura selalu mengiyakan, padahal hati dan pikiran aku butuh istirahat. Pura-pura baik, padahal aku tidak baik. Pura-pura berlaku dengan hati, padahal hati aku sedang sekarat. Sebuah kepura-puraan yang menjadikan aku tidak tulus, tidak pakai hati. Semua hanya demi kebahagiaan semu yang sulit sekali aku dapatkan sebelumnya.
Sampai bom waktu itu meledak, aku lelah berpura-pura. Ketika tubuhku tidak lagi mau bekerja sama dengan egoku. Ada dua kejadian yang datang dalam waktu bersamaan. Keduanya menjadi pemicu yang kemudian mengambil alih pikiran dan hati. Ketika pikiran dan hati sebelumnya berhasil dikuasai ego, kini pikiran dan hati kembali ke tempat asalnya. Tempat yang membuat pikiran dan hati bisa menjadi diri yang apa adanya tanpa dikekang. Tempat yang menjadikan pikiran dan hati memiliki ruang kendali secara penuh. Pada awalnya, aku lelah setengah mati, roti dari berbagai sisi. Kelelahan yang berasal dari tumpukan-tumpukan aksi males validasi.
Peristiwa sifatnya pemicu, bukan penyebab. Dua kejadian yang entah bagaimana bisa datang di waktu yang tidak disangka-sangka dan memutar alur. Ibarat novel, ada adegan flashback. Akan tetapi, bedanya bukan aku yang kembali ke masa lalu. Sesuatu dari masa lalu itulah yang entah sejak kapan berlari melesat ke masa kini. Sesuatu yang aku takut sekali, takut untuk kembali merasa sendirian. Nyatanya, kehidupan sedang menguji nyaliku yang setipis tisu, seringan kapas. Nyali yang terlalu rapuh karena tidak pernah dibiarkan berbenturan dengan masalah. Kehidupan sedang kembali menghadirkan ruang sepi yang kelam. Ketakutan itu menyergap, kencang sekali menggenggam tanganku.
Fenomena putar balik itu tentu bukan tanpa alasan terjadi. Ia datang membawakan catatan-catatan berisi kebenaran yang berapa tahun belakangan tidak aku sadari. Kebenaran yang membuat koleksi topeng di lemari menumpuk. Kebenaran yang tanpa sadar memaksa diri mengisi daya energi. Padahal topeng adalah benda mati yang tidak bisa mewakili perasaan. Dan, ponsel yang terus-menerus diisi daya tanpa henti pada akhirnya akan rusak. Aku tidak menyadari karena dikuasai ego. Kemudian bom waktu meledak ketika pikiran dan hati berontak. Sudah terlalu lelah dan penuh oleh kebohongan. Sudah tidak bisa diteruskan atau jika dipaksakan untuk terus berpura-pura. Mungkin aku akan menjadi orang yang mati rasa dan hidup tanpa hati.
Dan, aku memilih untuk membiarkan bom waktu itu meledak dan memporak-porandakan kehidupan yang tadinya aku pertahankan setengah mati. Awalnya aku biarkan karena aku menyerah pada kelelahan yang menyiksa. Membiarkan orang-orang pergi satu per satu karena kesalahanku sendiri. Aku sendirian lagi karena kejahatan yang aku perbuat. Itu setimpal dan aku menerima. Namun, ada satu orang yang kemudian memilih bertahan daripada menjauh. Seseorang yang aku minta untuk pergi saja dari aku yang tidak baik. Seseorang yang merupakan salah satu dari pemicu bom waktu. Dia adalah pemicu yang indah di tengah-tengah perang-pertanda perasaan. Seseorang yang membuatku tidak benar-benar sendirian. Dia yang mengenalkan aku dengan seseorang yang mengingatkanku bahwa tangki itu tanggung jawabku.
Lantas apa hubungannya dengan tangki? Dan, tangki apa yang dimaksud?
Sederhana. Aku salah karena berteman dan berelasi demi validasi. Kenapa aku harus mengais validasi? Tidak lain dan tidak bukan untuk mengisi tangki hati yang tidak pernah penuh. Tangki hati yang terdiri dari perasaan dihargai, perasaan ditemani, dan perasaan dicintai. Oleh karena itu, mati-matian aku pertahankan suatu hubungan relasi dan pertemanan demi tangki yang anehnya tidak pernah penuh. Dikarenakan tangki yang tidak pernah penuh, aku terus mengais-ngais validasi dari mereka. Akibat terlalu fokus mengisi tangki, aku melupakan bahwa hubungan pertemanan dan relasi dibutuhkan ketulusan. Dan, sampai kapan pun tangki hati itu tidak akan pernah penuh karena sejatinya pensi tangki yang banyak adalah diri sendiri bukan orang lain.
Tangki aku yang tidak pernah Terisi dengan penuh itu karena aku meminta dari orang lain yang tidak punya kapasitas untuk mengisinya. Padahal pengisi tangki yang sesungguhnya adalah diri aku sendiri, bukan orang lain. Memang orang lain dapat mengisi tangki itu, tetapi bukan untuk memenuhi. Akulah yang bertugas memenuhi tangki hati aku sendiri.







