Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact

AKU menyadari, aku sudah jatuh suka dan aku memilih untuk menjaga jarak. Mungkin kamu merasakannya juga, ya? Kamu ingat enggak, aku pernah cerita pengalaman menyatakan perasaan suka dengan seseoransg? Sejujurnya aku ingin melakukan hal yang sama dengan kamu. Namun, keberanian yang sebelumnya entah dapat dari mana, sepertinya sekarang sudah lenyap. Bukannya malu, aku cuma cape. Selalu menjadi peran yang menyukai, enggak pernah disukai.

Bukannya aku enggak punya nyali untuk terus terang soal perasaan aku. Hanya saja, aku masih belum sanggup menerima respons kamu nantinya. Msskipum aku sudah terlalu sering enggak dicintai, tetapi keseringan itu enggak lantas membuat aku jadi terbiasa. Patah hati rasanya selalu baru dan basah. Berulang kali patah hati, maka berulang kali terluka. 

Mungkin belakangan kamu merasa aku enggak seaktif biasanya, ya? Iya, sengaja. Soalnya aku cape, Kak, aku cape jatuh suka sendirian. Aku cape untuk terus-menerus berjuang  seorang diri hanya untuk mengejar sesuatu yang lagi-lagi tidak pernah berpihak kepada aku. Ada kalanya aku juga mau seperti teman perempuan lainnya, dicintai. Sederhana, tetapi kenapa rasa-rasanya aku seperti mengemis cinta? 

Iya. Aku paham, kamu enggak meminta aku untuk jatuh suka kepada kamu. Perasaan ini murni muncul dari hati aku sendiri yang pada awalnya berusaha aku tepis. Akan tetapi, lama-kelamaan, ketika makin aku tepis, aku berseteru dengan hatiku sendiri. Pada akhirnya aku menyerah. Terserah hati maunya seperti apa. Jadi, mau enggak mau dengan sadar akhirnya aku suka dengan kamu.

Kamu pasti cuma anggap teman diskusi, kan? Enggak lebih, dan memang enggak harus lebih. Hanya harapan aku saja yang  ingin kamu menganggap aku lebih dari itu. Hanya harapan aku saja yang ingin nama aku punya tempat spesial di hati kamu. Hanya harapan aku saja yang ingin kamu juga jatuh suka dengan aku. Maaf, ya,  karena aku sudah jatuh suka sama kamu. I am really sorry, sorry.

Mungkin kamu merasa sekarang aku menjauh, ya? Aku juga bingung, Kak, harus bagaimana? Serbasalah. Kalau aku terus berinteraksi sama kamu, hati aku jadi enggak tahu diri. Kalau aku   mengurangi interaksi sama kamu, akal sehatku mengatakan keputusan ini jauh lebih baik. Aku rasa kamu juga enggak masalah, kan, dengan keputusan kedua aku? Iya, pasti enggak apa-apa, aku hanya salah satu teman diskusi kamu, kok. Kamu masih punya teman diskusi lain.

Iya. Mundurnya aku enggak akan meninggalkan arti dalam hidup kamu. Aku cuma teman kamu.

Kamu, kamulah yang berarti dalam hidup aku. Kamu meninggalkan arti sejak pertama kali kamu merekomendasikan buku Self Empowerment by NLP. Buku nonfiksi pertama yang aku baca dengan sadar dan sukarela. Buku nonfiksi pertama yang aku suka. Dan, untuk pertama kalinya dalam hidup, penilaian aku tentang nonfiksi berubah. Kamu ingat, kan?

It's because of you.

O, apakah kamu ingat rekomendasi buku bersampul ungu yang aku tanyakan ke kamu waktu itu? Saat itu aku sedang mengikuti Reading Challenge ODOP dan kebetulan sedang masa check up mata. Judulnya Soul Healing Therapy, penulisnya Irma Rahayu. Bab pertamanya aku baca di ruang tunggu rumah sakit sambil menunggu dipanggil untuk konsultasi dengan dokter penyakit dalam. 

Tahu enggak, Kak? Aku merasa Allah menjawab kegelisahan aku melalui buku itu. Mata aku berair saking tersentuhnya, unung airnya enggak turun, hanya menggenang di pelupuk. Aku tahu, kamu merekomendasikan buku itu karena aku yang minta. Bagi aku, Soul Healing Therapy adalah rekomendasi buku terindah yang pernah direkomendasikan kepada aku. Paham, kan, kenapa kamu berarti dalam hidup aku? Kamu meninggalkan jejak penuh arti, Kak.

Aku pernah mengatakan bahwa buku yang bagus adalah yang memberikan perspektif baru. Kamu juga seperti buku yang bagus itu, Kak. Ketika kita sedang diskusi tentang hubungan dan komunikasi. Intinya kamu memberikan perspektif bahwa komunikasi juga butuh respect. Komunikasi memang segalanya, tetapi komunikasi tanpa respect pun akan gagal. Asal kamu tahu, Kak, perspektif itu aku jadikan prinsip dalam aku selamanya. 

Kamu datang di saat aku baru benar-benar selesai dengan hati aku. Awalnya aku enggak pernah mempertanyakan ujungnya akan Seperti apa? Namun, setelah kita intens berkomunikasi hampir setiap hari, berbulan-bulan, satu tahun berlalu, aku mulai memprediksi ujungnya. Kini, aku menemukan diri aku jatuh suka sendirian di ujung. Lagi. Lagi. Dan, lagi. Padahal akal sehat sudah memberi peringatan berulang kali sejak awal, tapi hati aku punya kendali lebih besar.

Kak, maaf, ya, kalah hal ini membuat kamu enggak nyaman.

Seumur hidup aku, baru kamu lelaki yang mau berdiskfzi panjang dengan aku. Baru kamu lelaki yang menganggap aku ada sebagai perempuan. Baru kamu lelaki yang menghargai cara aku berpikir. Baru kali lelaki yang aku enggak perlu takut untuk bercerita. Baru kamu lelaki yang berinteraksi dan berkomunikasi seintens sampai satu tahun lebih. Baru kamu, Kak. You're still the only one. Even my dad can't do for me like what you do. 

It’s a simple thing, tapi cuma kamu yang bisa.

Orang bilang jatuh cinta itu enggak beralasan. Nyatanya aku punya banyak alasan untuk mencintai kamu.

Aku jatuh suka karena semua itu. Dan, aku takut jatuh suka hanya karena ekspektasi aku. Aku takut, Kak. Aku enggak mau melibatkan kamu ke dalam ekspektasi tanpa kendali. Maka, aku mundur sebelum ekspektasi mengemis cinta pada hati. Jadi, aku memilih menjauh, sebelum aku mencintai kamu terlalu jauh. Sebab aku tahu, aku masih enggak sanggup kembali dihadapkan dengan patah hati yang begitu dalam. 

Soalnya saat ini aku sudah masuk fase patah hati ringan. Meskipun patah hati itu datang dari pikiran aku sendiri. Meski patah hati itu adalah imbas dari keputusan aku untuk menjaga jarak. Kali ini aku ingin menjadi pemendam rasa terlebih dulu, sampai aku sanggup. Kalau aku sudah enggak kuat, aku harap kamu enggak apa,-apa, ya, ketika datang pesan cinta dari aku.

Ketika pesan cinta tiba, saat itu juga aku siap segala risiko dan konsekuensinya.

Thanks, Kak Ed.

MINGGU pagi yang cerah, scrolling Tiktok dan berhenti di salah satu VT dengan username Kandy13. Pada VT tersebut seorang perempuan menceritakan pengalaman sosialisasi dengan penglihatan low vision. Aku sangat relate karena memang aku mengalaminya. Yup, aku adalah orang dengan low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Aku tidak begitu ingat awal mulanya, aku hanya menyadari ada bayangan hitam di mata kanan. Pada saat itu, masih belum tahu istilah medisnya.

Tahun 2025, aku coba check up di Lampung Eye Center, hanya terdeteksi bahwa aku mengalami penurunan penglihatan. Kenapa ‘hanya'? Karena low vision adalah akibat, bukan sebab. Lantas, penyebabnya apa? Aku tidak tahu karena aku masih belum melakukan pengecekan, berhenti ketika dirujuk ke rumah sakit daerah untuk cek autoimun. Banyak alasannya dan aku enggan menceritakannya di tulisan ini. Kalau penasaran, bisa cari dengan keyword My Journeyeling di pencarian blog ini. Aku menceritakan semuanya di situ.

Pada 2026, aku akhirnya menemukan lebih detail terkait gambaran dari low vision yang aku alami. Ingat betul, waktu itu baru selesai meeting komunitas. Sebelum tidur kebiasaan buruk aku adalah scrolling Tiktok. Allah langsung kasih VT mengenai low vision dan gambarannya persis seperti cara aku melihat dunia. Tadinya aku cukup bingung menjelaskan ke orang-orang terkait kondisi mata aku. Sekarang aku tinggal menjelaskan saja bahwa aku mengalami low vision.

Central loss

Melansir situs JEC, low vision adalah kondisi penglihatan mengalami penurunan secara signifikan sehingga cara pandangnya lebih rendah daripada mata orang normal. Low vision adalah kelainan permanen, artinya tidak bisa disembuhkan secara total dengan kacamata biasa atau bahkan operasi. Perlu kacamata khusus dan alat bantu lainnya karena kondisi ini membuat penderita kesulitan beraktivitas normal sehari-hari. Bahkan pengidap low vision juga digolongkan bagian dari tunanetra. Dilansir dari Halodoc, tunanetra sendiri terdiri dari beberapa tingkatan: buta total (total blindness), hampir buta (near-total blindness), dan low vision. Low vision merupakan tingkatan terendah dalam tipe tunanetra. Low vision mengakibatkan pengidapnya tidak bisa membaca dan mengendarai.

Honestly, aku cukup kaget dengan fakta tersebut, dan tiba-tiba jadi sedih. Aku pernah dilanda dilema terkait kondisi mata aku: normal tapi tidak normal, bisa lihat tapi tidak bisa sepenuhnya, secara fisik normal tapi secara gerak seperti orang buta. Aku masih bisa melihat sedikit, tetapi sering nabrak dan meraba-raba. Paham, kan, maksud aku? Terkadang dilema ini membuat aku bingung dan hampir stres. Alhamdulilah sekarang aku sudah tahu dan jelas, intinya aku tunanetra. Meskipun ini tidak bisa divalidasi karena harus check up lebih lanjut. Akan tetapi, setidaknya aku jadi lebih tahu soal kondisi aku secara edukasi. Dan, memang informasi ini tidak banyak orang tahu sehingga banyak orang memandangku aneh.

Dari VT Kandy13 tadi aku langsung stalk profilnya dan aku merasa tidak sendirian. Betul-betul relate. Aku kagum karena dia begitu berani menceritakan pengalamannya. Jujur saja, aku sangat insecure soal mata aku—kecuali dengan orang-orang yang memang aku percaya. Insecure karena aku terlihat normal secara fisik, tetapi secara gesture dan penglihatan cukup aneh. Insecure karena memikirkan masa depan yang cocok untuk kondisi aku. Insecure karena takut tidak bisa bekerja menghasilkan uang. Insecure karena aku merasa menjadi beban orang-orang di sekitar aku. Insecure kalau lagi berbicara dengan seseorang atau sekumpulan karena kesulitan mendeteksi wajahnya.

Insecure masih muda jalannya dituntun.

Sejujurnya aku agak malu menceritakan hal.ini ke publik. Aku takut dianggap caper. Jadi, aku betul-betul menahan semuanya dan hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. Rasanya dilema, aku merasa tidak perlu orang tahu tentang kondisi mata aku, tetapi di sisi lain aku juga merasa orang tahu karena keterbatasan aku ini akan selalu membutuhkan orang lain. Awalnya aku memang malu akan penilaian orang terhadap kondisi aku, tetapi makin ke sini aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan. Toh, mereka hanya tidak tahu kondisiku.dan aku juga kadang tidak ada energi untuk menjelaskannya.

Salah satu hal yang membuat aku insecure adalah ketika berjalan. Apakah aku bisa jalan? Bisa, kok. Akan tetapi, aku tidak bisa berjalan sendirian, harus dituntun seseorang. Aku selalu bilang dengan penuntunku, “Maaf, ya, berasa kayak nuntun nenek-nenek, ya?”. Terdengar jenaka memang, tetapi itu adalah cara aku untuk memupuk rasa malu dan tidak enak. Aku bisa berjalan sendiri kalau aku sudah mengenal betul lokasi atau tempatnya, jadi ketika jalan aku bisa menggunakan insting—ya, kadang masih suka nyasar, sih. Misal ke rumah Eka, sahabat aku. Aku tahu rumahnya karena memang tetangga dari kecil, jadi ketika mata aku masih bisa melihat dengan cukup baik aku sudah tahu rute jalan dan posisi rumahnya. Jadi, aku sekarang kalau ke rumah Eka biasanya naik ojek online, belokannya aku tunjukkan sesuai dengan insting caranya menghitung jumlah gang.

Pernah ada satu kejadian yang membuat aku kapok pulang setelah matahari tenggelam. Biasanya aku kalau main sama teman pulangnya ba’da magrib atau isya. Kalau pulang malam pasti selalu pakai Maps untuk membantu aku sampai ke titik rumah. Namun, suatu hari seperti biasa naik ojol, ketika sudah masuk komplek. Aku ragu dan buyar. Saat itu baru saja petang dan langit mulai menggelap, ditambah hujan rintik gerimis. Waktu itu pengemudinya adalah seorang bapak-bapak. Sepertinya aku salah menunjukkan jalan dan otomatis rute pulang ke rumah di otak aku sudah lenyap karena berubah. Ya, salah jalan.

Aku lumayan panik dan mencoba tenang. Saat itu ada dua kekhawatiran: takut tidak bisa pulang dan merasa tidak enak dengan si bapak. Setelah cukup lama dan berusaha mengikuti rute Google Maps. Dan, alhamdulillah, Allah bantu aku pulang. Coba tebak ketika akhirnya sampai depan rumah—setelah aku memastikan bentuk rumahnya dan memang benar—aku sedikit mendengar si bapak berzikir. Entah itu sebagai mengatasi kekesalan karena hampir menyasar atau bukan. Mulai dari situ aku tidak akan pernah mau lagi pulang sendirian setelah matahari tenggelam.

Ada lagi. Sekarang kalau ambil makan aku harus mengandalkan aroma atau dikasih tahu terlebih dahulu di meja ada makanan apa saja baru bisa aku ambil. Namun, kalau ad# Tante di rumah—ketika beliau sedang tidak kerja—pasti makanan untuk aku diambilkan. Kalau lagi di rumah Mbak juga pasti begitu, makaman aku diambilkan sama mbak atau adik aku. Bukannya manja, tetapi, ya, bagaimana, mata aku begini. Bahkan kondangan saja pun harus diambilkan sama Eka karena aku biasanya kondangan dengan dia.

Aku suka membaca dan menulis, tetapi kondisi low vision ini menyulitkan aku untuk melakukan keduanya. Aku tidak bisa baca buku fisik dan tidak bisa lagi menulis di buku seperti biasanya. Namun, aku bersyukur di era digital saat ini ada ponsel pintar yang menjaga produktivitas aku. Aku bisa baca ebook, aku bisa menulis di word/doc. Meskipun salah satu struggle aku menggunakan ponsel adalah tidak bisa melihat di mode terang/putih, harus mode gelap. Dan, ada berapa aplikasi yang tidak bisa mode gelap, aku akalkan dengan fitur inversi warna di pengaturan.

Banyak hal.yang aku takuti. Salah satunya aku takut tidak ada yang mau menerima aku dengan ke-low-vision-annya. Sebab aku tahu, kondisi ini akan merepotkan pasangan.aku nantinya—low vision sifatnya permanen. Kadang aku sendiri saja kesulitan.mengurus diri sendiri. Aku juga takut kalau aku tidak bisa berpenghasilan karena aku tahu, aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan Tante aku. Bahkan aku takut jika suatu hari menjadi seorang ibu.

Dengan low vision, ruang lihat dan ruang gerak aku memang terbatas. Namun, di sisi lain, Allah kasih banyak privilese. Aku merasa Allah memang sudah mempersiapkan semuanya untuk aku supaya tetap bisa produktif dan berguna ketika Allah turunkan penglihatan aku. Allah hadirkan Tante aku yang baik sehingga aku bisa produktif kapan pun. Allah hadirkan keluarga dan teman yang pengertian dan tidak masalah dengan kondisi aku. Allah hadirkan komunitas literasi daring tempat aku berkembamg dan belajar. Dari teman komunitas itu aku merasakan dunia di luar rumah.

Allah Maha Baik. Ternyata Allah sesayang itu sama aku. Dari awal aku mengalami low vision, aku tidak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan. Aku sadar betul ini sudah takdir dan aku yakin Allah punya alasan. Dan, alasan Allah selalu baik. Allah percayakan low vision ke aku karena Allah tahu aku mampu melaluinya. Allah kasih aku low vision karena Allah tidak mau hamba-Nya ini melihat sesuatu yang tidak baik. Allah sedang menjaga aku, aku yakin itu..


RAMADAN kali ini rasanya masih sama seperti yang sudah-sudah: ketakutan. Dari rekam jejak yang sudah berlalu, biasanya Ramadan aku tidak pernah berakhir menyenangkan. Jarang sekali ada hari kemenangan, adanya hari kekalahan. Kalah karena ekspektasi yang terlalu muluk, sampai-sampai tidak sadar realitas begitu lihai mengutuk. Rangkaian kejadian tidak mengenakkan dari tahun ke tahun, mau tidak mau meninggalkan kekhawatiran. Alih-alih disambut, aku lebih banyak menghadapi Ramadan penuh rasa takut. Tentang bagaimana kalau tidak ada hari kemenangan itu lagi?

Aku jadi kurang menikmati Ramadan yang hanya singgah tiga puluh hari. Aku ingin berlama-lama agar tidak terlalu cepat dekat ujung Ramadan. Akan tetapi, aku juga ingin cepat-cepat menuju hari ujungnya untuk menyudahi rasa takut yang menguasai. Serbasalah. Memangnya salahku apa, ya? Ada kalanya, aku jadi memaklumi ketakutan tersebut imbas dosa yang menggunung. Entahlah—lagi pula, aku sedang belajar untuk selalu husnuzan dengan Allah. 

Ketika orang-orang merayakan hari kemenangan dengan kesenangan tanpa kendala berarti. Seringnya aku harus berjibaku dengan masalah terlebih dahulu untuk akhirnya benar-benar menang dan senang. Namun, satu hal aku sadari bahwa hidup tidak mengenal kata jeda dan kembali, dia bersama waktu berjalan maju. Ramadan yang sudah-sudah menjadi sejarah, Ramadan yang akan datang menjadi misteri—apakah akan sama menakutkannya? Aku sudah belajar untuk tidak lagi berekspektasi tinggi, hidupku berbeda dengan hidup orang lain. Dan, aku juga sedang belajar untuk percaya kepada Allah, salah satunya dengan meyakini: suatu hari Ramadan aku akan terasa membahagiakan dan mengumpulkan maknanya di hari kemenangan.

Iya. Sebetulnya bahagia dan makna itu harusnya aku yang mencari sendiri. Jadi, Ramadan kali ini aku mencoba menelusuri makna terlebih dahulu, meski bahagia terlalu tinggi untuk sebuah keinginan. Dan, tujuan aku menulis konten ini sebenarnya adalah untuk membantu aku menemukan makna dan kebaikan Allah di Ramadhanku kali ini.

Muslimah read Qur'an

Latihan Kembali Lancar Membaca Al-Qur’an 

Per Februari lalu, aku punya komitmen untuk kembali lancar membaca Al-Qur’an. Intinya ada satu momen di mana aku membatin, pengin, deh, lancar baca Qur’an tanpa terbata-bata. Padahal, waktu kecil sampai remaja aku cukup lancar membaca Al-Qur’an, kemudian setop dari usia belasan sampai saat ini. Alhasil kelancaran itu hilang dan jadi terbata-bata ketika akan memulai kembali. Alhamdulillah-nya ada seorang teman yang bersedia menemani aku konsisten baca Qur’an, namanya Kak Ida—salah satu teman komunitas di NPC PABOBA. 

Ini adalah salah satu kebaikan yang Allah kasih ke aku. Maksud aku, ketika aku ingin kembali latihan lancar mengaji, di saat yang bersamaan Allah mendatangkan seorang teman untuk aku rutin mengirim laporan setiap harinya—meski sering bolong. Bahkan Allah langsung kasih teman yang memang kompeten di bidangnya. Kak Ida memang seorang guru pesantren di Bandung. Jadi, aku bisa sekalian belajar tahsin setiap pekannya. Baik, ya, Allah sama pendosa macam aku begini? Namun, untuk sementara aku ingin proses lancar mengaji terlebih dahulu sebelum masuk ke sesi tahsin. Kalau sudah lancar dan konsisten, baru kembali belajar tahsin. Semoga kesabaran Kak Ida dibalas dengan kebaikan dari Allah.

Salah satu tantangan aku  untuk kembali lancar mengaji selain karena sudah lama tidak baca Qur’an, adalah kondisi mata yang cukup kesulitan membaca. Anyway, mata aku mengalami low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Kondisi ini membuat aku sangat kesulitan untuk membaca teks, apa lagi aku sudah tidak bisa baca buku fisik. Artinya aku sudah tidak bisa mengaji melalui mushaf Al-Quran—kecuali kalau aku belajar menggunakan Al-Qur’an braille, tetapi masalahnya aku tidak buta. Kondisi ini juga yang menyadarkan aku selagi masih bisa dikasih lihat sama Allah, aku harus memanfaatkan penglihatan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan membaca Al-Qur’an karena aku tidak tahu, bisa saja suatu hari Allah mengambil penglihatan aku sepenuhnya, kan?

Awalnya, ketika memulai dengan surah Al-Baqarah aku cukup sedih karena sampai terbata-bata, satu halaman saja bacanya menghabiskan delapan menit. Akan tetapi, aku juga harus belajar sabar. Setiap harinya satu halaman. Sampai masuk Ramadan, aku punya target khatam satu kali, one day one juz. Ternyata Ramadan kali ini tantangannya jauh lebih terasa, untuk bisa konsisten satu juz dalam satu hari cukup ngos-ngosan padahal tahun-tahun lalu aku tidak mengalami kendala berarti. Tentunya aku belajar untuk tidak menyerah, momen ini akan jadi ajang aktualisasi diri. 

Ada kalanya, aku kesulitan tadarus karena teks ayatnya  berbayang dan berembun. Ditambah aku baca hanya bisa menggunakan Qur’an Digital di ponsel. Kondisi ini membuat aku hanya bertahan di dua halaman satu hari, bahkan hanya satu halaman. Sebab, kondisinya berlangsung selama satu hari penuh. Aku mencoba  menelusuri untuk mencari solusi karena aku tidak bisa membiarkan kejadian ini berlangsung lebih sering, aku harus khatam! Oke. Aku coba untuk tidur lebih awal di pukul 23 WIB, bangun sahur di pukul 03.20. Pukul 5.30 aku harus tidur dan bangun di pukul 9/10.00. And it works! Really works! Ternyata penyebab mata aku mudah berbayang ketika baca teks adalah karena  durasi tidur tidak efektif. Keesokan hari dan seterusnya aku menjaga durasi tidur at least minimal 6 jam, supaya bisa baca Qur’an. Ya, meskipun ada kalanya sudah cukup tidur, tetapi masih berbayang, nah, kalau ini pasrah saja, deh. 

Dan, alhamdulillah. Allah kasih aku kesempatan untuk khatam di hari ke-30. 

Aku mau cerita satu hal yang menurut aku ini adalah kebaikan Allah. Ada beberapa kali di Ramadan ini, aku cukup kesulitan untuk membaca teks buku digital—meski sudah tidur cukup, tetapi subhanallah, di saat yang sama, Allah justru mudahkan aku untuk baca Qur’an, tanpa kendala, tanpa embun, clear. Dan, oh, satu lagi. FYI kelainan di mata aku mengakibatkan aku ketika membaca lantang (read aloud) suatu teks bacaan seperti mengeja dan terbata-bata. Sebab, aku harus mencerna dan mengenali kata selanjutnya. Akan tetapi, Allah lagi-lagi Allah kasih kemudahan. Aku tidak terlalu terbata-bata dan lumayan lancar. Allah benar-benar Maha Baik.

Ramadan Paling Produktif

Pada awalnya aku ingin fokus ibadah saja, tidak terlalu banyak aktivitas di ranah lain. Walaupun sejak sebelum Ramadan, aku tahu hanya disibukkan mengurus event Journaling Ramadan. Aku pikir itu tidak terlalu mengganggu fokus ibadahku karena hanya memantau dan merekap. Memang betul, tetapi di suatu hari—Ahad, sering jadi hari paling sibuk. 

Bayangkan. Bangun sahur, salat subuh, tadarusan, kajian sampai matahari terbit, tidur, meeting sampai siang, siang fokus rekap Journaling Ramadan, lanjut tadarusan, baca buku untuk laporan NPC, meeting divisi. Hari itu memang cukup kompleks. Akan tetapi, setidaknya waktu aku habis karena hal produktif. 

Memang, sih, segala hal itu memang perlu diperhitungkan. Namun, kadang ada saja situasi yang tidak bisa diprediksi. Dari situ aku menyadari satu hal lagi yang menarik ulang pengakuan sebelumnya. Aku bilang: produktivitas adalah tempat aku mengisi tangki energi hingga penuh. Akan tetapi, ketika tangki itu terlalu penuh sampai isinya tumpah-tumpah pun pada akhirnya terbuang juga. Ternyata produktivitas yang berlebihan tidak baik karena berujung cukup lelah. So, aku perlu membagi antara aku dan produktivitas serta aku dan diri aku sendiri. Ternyata itu adalah dua hal yang berbeda. Bersama produktivitas aku merasa jadi manusia yang bermanfaat. Bersama diri sendiri aku terus belajar untuk mengevaluasi dan mengistirahatkan diri sendiri. 

Memang, ya, Allah selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-Nya satu ini yang tidak sadar kalau sudah overload. It’s a mindfull thing of Ramadan. 

BENAR ADANYA bahwa Allah selalu memberikan hal positif di samping sesuatu yang tidak disenangi. Hanya saja, tergantung dari perspektif dan kemauan kita untuk membekukan hal baik di tengah-tengah ketakutan. Mungkin yang membuat hidup terasa biasa saja bahkan cenderung kelam, bisa jadi karena cara pandang kita yang masih terlalu sempit. Memang tidak mudah untuk menemukan hal baik, sementara keadaan sedang tidak.baik-baik saja. Akan tetapi, mencari selalu lebih baik daripada diam saja, kan?



Tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang sahabat yang selalu bertanya, “Kak Vina, kapan nulis blog lagi?”

•••

Di pulau tengah Indonesia, hiduplah seorang perempuan yang aku sendiri tidak pernah bertemu tatap dengannya. Namun, media sosial telah menyatukan kami dan aku merasa, aku punya sahabat sefrekuensi. Kenalin, namanya Hasmiah, biasanya dipanggil dengan Kak Miah. Perempuan yang tinggal di Makassar ini adalah seorang konten kreator, bookstragram, dan video editor. Keren banget memang.

Aku yakin Kak Miah pasti lagi baca tulisan ini! >,<

Pertama-tama, aku mau minta maaf karena jarang mengunggah tulisan di blog ini. Aku tidak pernah membuka pintu untuk membiarkan Kak Miah masuk karena memang belum ada pembaruan yang bisa dibaca. Ditambah blog sudah penuh debu dan dipadati sarang laba-laba. Jujur aku merasa terhormat dan senang karena memiliki tamu spesial yang setia. Oleh karena itu, tulisan ini aku dedikasikan untuk Kak Hasmiah. Seorang sahabat sekaligus teman pertama aku di Komunitas PABOBA.

Aku lupa awal mulanya kapan, tapi yang kuingat kami pada akhirnya lumayan intens interaksi di chat pribadi. Lebih ke sering balas voice notes. First impression aku ke Kak Miah adalah perempuan yang pintar. Sehingga tanpa sadar aku memisdikannya sebagai role model untuk berkembang di volunteer PABOBA. 

Aku tertarik menjadi PJ Divisi Event karena Kak Miah. Sampai akhirnya di awal tahun 2025 kami satu tim di Divisi Lobby. Itu adalah divisi yang bertugas mengoordinasi grup Lobby PABOBA dengan melaksanakan beberapa agenda setiap pekannya. Bayangkan  sepanjang 2025 kami kerja sama—bahkan sampai saat ini kami kembali berada di divisi yang sama, PABOBA Creative Hub. Aku rasa awal mula interaksi intens kami dimulai dari Divisi Lobby.

Coba sebentar aku cari dulu awal mula chat sehingga bisa intens sampai saat ini. Yeay, I got it!

Kalau dilihat dari tangkapan layar di atas. Dimulai dari pembahasan mengenai teknis event—artinya saat itu untuk pertama kali aku jadi PJ Divisi Event. Kemudian tangkapan layar kedua pada 24 Desember 2024 pembahasan mengenai konsep diskusi literasi di grup Lobby PABOBA. Awalnya memang kami kebanyakan bahas konsep dan juga ide, tetapi lama-kelamaan pembicaraan cukup intens.

 Kak Miah adalah perempuan berdaya yang kukenal. Aku sering menyebutnya dengan kalimat: ketika matahari terbit dia adalah wanita karier, ketika matahari tenggelam dia adalah perempuan produktif. Namun, ada salah satu profil yang tidak pernah lepas meskipun matahari terbit atau tenggelam, yaitu dia adalah seorang muslimah yang senantiasa berdakwah kepada orang-orang terdekatnya. Kak Miah pernah cerita ke aku bahwa skala prioritasnya adalah berdakwah dan kakajian. Mengajar dan belajar. Maa syaa Allah, ya?

Dengan acuan skala prioritas itu, Kak Miah dapat mengelola waktu dengan baik. Bayangkan, ketika pagi sampai sore dia harus bekerja. Sementara sepanjang malam mengurus komunitas. Ditambah lagi, dia punya jadwal kajian dan membuka kajian rutin dengan teman-temannya. Kalau bukan dedikasi, namanya apa? Kalau bukan karena ketulusan hati, namanya apa? Kalau bukan kecerdasan, namanya pun apa? Wajar kalau ketika makin mengenalnya, Aku makin mengaguminya.

Ini serius.

Salah satu hal yang membuat aku kagum adalah produktivitas dan penuhnya dia di Komunitas PABOBA. Pernah, di saat yang bersamaan dia bertugas di tim Divisi Lobby, Koordinator Squad PABOBA Makassar, dan sekretaris. Kehidupannya benar-benar disibukkan dengan hal-hal baik, maka wajar ketika perempuan ini mengalami perkembangan yang menakjubkan. Melalui Squad Makassar, Kak Miah sering kali menjadi pembicara atau narasumber membawa nama harum PABOBA di komunitas lain seperti Yuk Ngaji Makassar, Sister Fillah Makassar, bahkan Semesta Buku. Betul-betul cemerlang, bukan? Kak Miah bukan hanya berdaya untuk dirinya sendiri, melainkan juga berdampak dan berkontribusi untuk banyak orang. Dan aku terinspirasi untuk mengikuti jejaknya, tetapi sesuai dengan versi aku sendiri.

Dengan sepak terjang yang luar biasa, meskipun sayapnya telah mencapai udara di langit biru. Kak Miah tahu caranya merendahkan hati dan merangkul orang-orang di sekitarnya, termasuk aku.

Salah satu hal yang membuat aku terharu adalah, di suatu hari ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Sebuah notifikasi chat masuk. Ternyata dari Kak Miah dan chat-nya berisi ajakan mengikuti kajian yang akan dia isi. Tanpa pikir panjang dan antusias aku mau. Ternyata di dalamnya juga ada Kak Nisa, Kak Septi, dan Kak Wari. Sekarang personilnya sudah bertambah ada Kak Lia dan Kak Nurlina. 

Biasanya menyimak kajian adalah tantangan berat bagi aku karena pasti mengantuk. Akan tetapi,  ketika Kak Miah menyampaikan kajian dengan sederhana dan seperti ngobrol dengan teman, mudah bagi aku menangkap kajian dan esensinya.

Sampai-sampai aku tidak menyangka dan tidak habis pikir. Betapa beruntungnya aku dipertemukan oleh Allah dengan perempuan sehebat itu meskipun online. I'm so grateful to knowing her. Ingat betul juga, ketika aku sakit di akhir tahun 2025, Kak Miah cukup intens dan perhatian terhadap kondisi aku. Kalau begitu bagaimana bisa aku tidak menganggapnya spesial?

Manusia tetaplah manusia. Begitupun Kak Miah.

Perempuan tetaplah perempuan. Begitupun Kak Miah.

Rasa kagum itu berubah ketika buku Memoari: Berdamai dengan Luka—sebuah antologi garapan Komunitas PABOBA yang berisi 30 kisah si penulis, dua di antaranya tulisan aku dan Kak Miah. Sebenarnya sebelum naskah itu rilis, aku sempat menyunting naskah Kak Miah. Aku tersentak dan termenung. Inikah perempuan hebat itu? Inikah muslimah luar biasa itu? Dan, inikah wanita tangguh itu? Dari situ aku menyadari bahwa kehebatan dan luar biasanya Kak Miah adalah proses yang panjang dan tidak mudah. Betapa badai di belakang tubuhnya begitu kencang, tetapi di depanku Kak Miah seperti pohon yang begitu kuat dan tinggi, tidak mudah goyah meskipun badai menerpa.

Rasa kagum itu meningkat menjadi rasa sayang.

Aku merasa punya keterikatan dengan Kak Miah. Sejujurnya kami punya cerita yang hampir sama, tetapi posisinya berbeda. Aku banyak belajar dari Kak Miah. Muslimah itu bukan hanya harus cerdas dan berdaya, melainkan menjadi tangguh. Akan tetapi, aku tidak meminta Kak Miah untuk terus-menerus menjadi kuat. Ada kalanya, manusia perlu rehat sejenak dan tidak apa-apa untuk merasa lemah. Rasa kuat untuk mempertahankan diri, dan rasa lemah untuk menjaga kewarasan diri.

Aku tidak tahu kapan Kak Miah akan baca tulisan ini. Entah lagi kerja atau sudah pulang kerja? Apakah Kak Miah hari ini ada adegan tidur di toilet? Haha.

Sekarang aku lagi berdoa untuk Kak Miah sambil memejamkan mata.

Ya Allah. Terima kasih Engkau telah menghadirkan sosok perempuan hebat dalam hidup aku. Dengan kecemerlangannya, meskipun aku ada di sampingnya aku tidak merasa terasingkan. Ya Allah, engkau tahu bahwa hamba yang baik memang tidak akan pernah lepas dari ujian. Oleh karena itu, ya Allah, mohon berikan Kak Miah keberkahan, kebaikan, kemudahan, dan perlindungan sebaik-baiknya. Dan, ya Allah, hamba tahu engkau sedang mempersiapkan pertemuan antara aku dan Kak Miah. Pada saat itu kami akan saling berpelukan. Hehe.

Kak Miah, terima kasih sudah mau menjadi inspirasiku dan temanku. Terima kasih karena mau menganggapku ada. Terima kasih atas kerendahan hatinya. Terima kasih untuk semuanya.


Pura-pura

AKU tumbuh menjadi manusia yang banyak sekali kekurangannya. Rasa-rasanya hampir semua yang melekat dalam diriku adalah kekurangan. Sekitar 90% mungkin? At least, masih ada beberapa kelebihan yang harus kuakui dan yakini karena Tuhan amat adil. Iya, setelah sekian lama mengiba pada kekurangan, aku baru menyadari betapa Allah Maha Baik. Betul bahwa selalu ada kemudahan di samping kesulitan.

Sebetulnya aku bukan tipe orang yang banyak mengeluh terhadap kekurangan—bukan berarti tidak pernah. Lebih ke mau bagaimana lagi? Aku tidak berani banyak protes terhadap apa-apa yang sudah Allah kasih. Dan, aku meyakini sesuatu yang datang dari-Nya adalah kebaikan. Kalau kita merasa kesulitan dengan pemberian Allah, itu ujian, itu wajar, maka aku tidak banyak mengeluh.

Hanya saja, kadang namanya manusia, ya? Ada kalanya mempertanyakan hal-hal yang jawabannya sederhana: bersyukur. Kenapa, ya, pengllhatan aku tidak sejernih orang lain? Kenapa, ya, pendengaran aku tidak sejelas orang lain? Kenapa, ya, otak aku tidak se-encer orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-berguna orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-wow orang lain? Iya, sih, semua pertanyaan itu mengandung self comparison. Seakan-akan menjadikan diri seperti sampah. Ujung-ujungnya memicu penurunan kepercayaan diri. Sementara susah payah aku memang untuk self confidence.

Banyaknya kekurangan yang aku punya, pada akhirnya berakar pada satu hal: manusia tidak berguna. Jujur, itu sakit sekali rasanya. Bayangkan, bisa-bisanya manusia hidup tanpa kebermanfaatan. Oke, enough. Sudah terlalu jauh, I love myself much more. Me is me. Everton is everyone. Sampai mana tadi? O, iya, soal kekurangan, ya?

Kekurangan akan selalu menjadi kekurangan ketika dipandang dari sisi negatif. Aku baru menyadari, ketika kekurangan dipandang dari sisi positif, kekurangan adalah bentuk rasa syukur yang begitu nikmat. Dan, hal itu sering kali aku alami dalam kehidupan ini. Intinya aku menggunakan kekuranganku untuk berpura-pura—in a good way. Meskipun pada akhirnya kepura-puraan itu, menyerang diri sendiri. Akan tetapi, setidaknya orang lain tidak menyadarinya. Pernah dengar istilah bersikap tidak tahu, padahal mengetahui. Bersikap tidak peduli, tetapi cukup peduli. Kurang lebih seperti itu. 

Memang. Pendengaran aku mungkin tidak sejelas orang lain ketika mendengarkan. Banyak hal di dunia ini yang membuat aku kesulitan untuk mendengarkan dengan baik. Setidaknya aku butuh beberapa kali pengulangan atau suara lebih keras untuk bisa mendengar. Akan tetapi, di sisi lain, ada masanya aku tidak perlu susah payah mendengarkan omongan orang lain yang tidak enak. Namun, pernah suatu hari, entah bagaimana, tetapi aku bisa mendengarkan dalam sekali tangkap. 

Sejujurnya aku tidak bisa menjelaskan kalimatnya di sini. Sebab, kalimat itu cukup personal dan membuat aku sakit hati. Namun, karena orang di sekitarku sudah mengetahui kondisi telinga aku, jadi dia berpikir bahwa aku tidak mendengarkan ucapan dia. Padahal aku mendengarnya. Padahal aku merasakannya. Padahal aku mengetahuinya dan masih teringat sampai saat ini. Aku bersikap pura-pura tidak mendengar karena tidak mau ambil pusing. Meskipun pada akhirnya membuat aku overthinking cukup lama.

Orang-orang di sekitar aku juga mengenal aku yang kekanak-kanakan. Wajar karena dari dulu aku selalu dianggap tidak bisa apa-apa seperti anak kecil. Kalau aku boleh memberikan pembelaan. Aku bukannya tidak bisa apa-apa apa lagi tidak berguna. Aku hanya tidak diberi kesempatan untuk menjadi bisa dan berguna. I don't have a chance. Mereka lebih dulu menghardik dan menghakimi daripada memberikan kepercayaan.

Itu memang menyakitkan dan sejujurnya masih terbawa sampai saat ini. Namun, ada beberapa masalah di hidup ini yang kemudian tidak terlalu dibebankan kepadaku karena mereka menganggap aku tidak akan mampu mengembannya. Maksudnya adalah anak kecil mana yang mampu mengemban masalah hidup? Terkadang aku menjadi manusia yang pura-pura tidak bisa apa-apa dan tidak berguna agar tidak terlalu jauh masuk ke masalah mereka. Ada kalanya memang aku hanya ingin menjadi anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. 

Dari kecil aku juga bukan anak yang pintar. Ketiga kakak perempuanku adalah orang-orang dengan nilai terbaik di sekolah, berbeda denganku. Sehingga aku tumbuh menjadi orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sudah tidak bisa apa-apa, ditambah tidak tahu apa-apa, haha. Sebetulnya kebodohan itu masih melekat dalam diriku sampai saat ini. Maksudnya adalah aku masih sering merasa bodoh dan tidak pintar sehingga membuat aku sangat kesulitan untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun, tidak apa-apa, setidaknya aku sudah menyadari bahwa aku tidak sebodoh itu, kok. Aku hanya butuh sedikit validasi dan usaha lebih keras. 

Ada kalanya juga aku berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Pura-pura yang satu ini untuk membentengi diri dari permasalahan yang begitu rumit dalam hidup. Ketika aku tidak mampu menjelaskan sesuatu, maka aku mengeluarkan tameng kebodohan paling hakiki. Again and again, orang-orang di sekitarku kebanyakan menganggap aku bodoh dan tidak bisa apa-apa. Sehingga mereka memaklumi, meskipun dalam diri mereka terdapat kekesalan yang luar biasa. 

Kalau dipikir-pikir. Kepura-puraan yang aku lakukan memang tidak baik. Tidak baik untuk diri aku dan untuk orang lain. Ke pura-puraan itu menghambat aku untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Hanya saja, ada beberapa hal yang justru kepura-puraan adalah puncak dari penyelesaian masalah. Bersikap tidak tahu kadang-kadang jauh lebih baik daripada mengetahui, tetapi kemudian aku tidak bisa menghadapinya.




Revolusi cinta
SOAL CINTA memang kompleks. Selama dua puluh enam tahun hidup aku, cinta selalu mengalami evolusi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dan selalu mendekam: jatuh cinta sendirian. Cerita sejuta umat kalau bicara perkara cinta bertepuk sebelah tangan. Memang bukan cuma aku saja yang mengalami, di luar sana banyak korbannya. 

Kadang-kadang aku suka heran, kenapa Tuhan menggariskan percintaan seorang Vina selalu berujung memilukan—bukan menyedihkan lagi. Aku yakin sekali betapa banyak bak yang terisi penuh hanya karena menampung air mata kebodohan imbas patah hati. Bahkan membiarkan perut kelaparan mengais sesuap nasi hanya untuk mengamini rasa sakit yang mendalam.

Ketika remaja, patah hati menjadi perkenalan yang mengejutkan. Masih tidak menyangka, responsnya mengguncang emosional sehingga berimbas pada fisik. Ingat betul, ketika mengurung diri di kamar tidur. Jendela terkunci, matahari tidak dibiarkannya menerobos karena tirai sebagai perisai. Pintu yang selalu tertutup—tidak kukunci. Sementara, seonggok gadis tidak berdaya di atas ranjang.

Ya. Gadis bodoh itu aku. Kalau dipikir-pikir kenapa aku harus sampai se-berlebihan itu? Ternyata itu merupakan hal normal karena merupakan patah hati pertama di kala remaja. Sebuah kewajaran juga kalau dipikir-pikir sekarang seperti menjijikkan. Sebuah respons yang berbeda ketika aku remaja dan saat ini ketika aku dewasa. Itu artinya menunjukkan, pengalaman percintaan aku mengalami evolusi emosional.

Masuk ke masa remaja menuju dewasa. Di sini adalah masa-masa, sudah mengenal cinta beserta patah hatinya. Akan tetapi, tetap saja, remaja selalu ditempa dengan pembelajaran. Apa lagi kalau sudah ada pada fase menuju pintu dewasa. Lagi-lagi aku ingat betul ketika “akhirnya” ada seorang lelaki yang menunjukkan cintanya kepadaku. Seperti kupu-kupu yang menerbangkanku di langit-langit taman bunga.

Waktu itu dunia berwarna merah jambu, sampai-sampai aku lupa bahwa ada warna lain di dunia ini. Ada warna kuning, hijau, merah, iya, itu adalah rambu-rambu lalu lintas. Kumpulan warna yang mengingatkan aku kembali bahwa di dunia ini ada warna hitam dan abu-abu. Suatu hari merah jambu berubah menjadi abu-abu. Aku mulai khawatir dan overthinking, aku merasakan firasat buruk dan benar terjadi.

Lagi-lagi Aku patah hati. Kali ini bukan karena bertepuk sebelah tangan, melainkan ditinggal ketika sedang cinta-cintanya. Kamu tahu rasanya, ketika kamu membeli makanan itu-itu saja dalam durasi yang lama. Suatu hari kamu bosan dan melupakannya. Analogi itu merepresentasikan kamu seperti dia. Dan aku seperti makanan yang dilupakan. 

Untuk kedua kalinya. Aku patah hati. Tentu saja meskipun sebelumnya sudah pernah patah hati. Anehnya, rasa patah hati itu rasanya selalu baru dan basah. Sama-sama seperti ada sesuatu yang menusuk jantung, mengoyak hati, memporak-porandakan pikiran, hidup pun tidak tenang. Salah satu perjalanan pada fase remaja menuju dewasa aku memang terlalu pahit. 

Setidaknya patah hati untuk kedua kalinya sukses melahirkan kebencian terhadap cinta dalam diriku. Apa itu cinta? Aku betul-betul jadi manusia anti-cinta. Aku sangat jijik dengan hal-hal berbau romantisme dan asmara. Aku sampai bergidik ngeri ketika tidak sengaja melihat tayangan drama menye-menye. Kadang-kadang aku heran kenapa banyak sekali orang tergila-gila dengan cerita cinta? Apa mereka tidak tahu atau bahkan lupa rasanya patah hati karena cinta? 

Selama lima tahun menjadi perempuan yang hidup tanpa cinta. Perempuan yang menolak keras akan kampanye cinta. Perempuan yang pernah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi kepada siapa pun. Namun, aku tetaplah perempuan yang punya hati dan perasaan. Pada kenyataannya, aku tetaplah perempuan yang ternyata membutuhkan cinta. Dengan kata lain, anti-cinta selama lima tahun itu adalah alibi bahwa aku ketakutan setengah mati untuk patah hati lagi.

Puncaknya ketika jatuh cinta setelah masuk di usia dewasa. Kali ini konsep patah hati di kepala aku sudah matang betul. Untuk kesekian kalinya dalam hidup—setelah lima tahun menjadi pembenci cinta—aku memilih untuk jatuh cinta lagi. Iya, aku memilih, artinya aku sadar aku akan jatuh cinta, aku menyadari akan ada peluang besar untuk kembali patah hati. Setidaknya, fase jatuh cinta yang satu ini, menjadi Ajeng menelusuri apakah aku lebih siap menghadapi patah hati? 

Nyata sekali. Aku rasa cinta dan patah hati memang jadi sahabat yang tidak terpisahkan. Aku patah hati lagi karena perasaan yang tidak sama. Ternyata aku masih menangisi patah hati di pagi hari yang cerah. Rasanya pun masih sama-sama menyakiti hati. Namun, kali ini aku jauh lebih siap dan menerima kenyataan. Jatuh Cinta kali ini, kembali menunjukkan sikapku menghadapi cinta mengalami evolusi yang lebih baik lagi. 

Satu hal yang aku banggakan dari jatuh Cinta kali ini dari diriku: keberanian. Aku berani memutuskan jatuh cinta secara sadar. Aku berani mengambil risiko dan konsekuensi. Aku berani mengantisipasi peluang patah hati yang ada. Aku berani patah hati lagi. Aku berani menikmati dan belajar bangkit dari patah hati. Aku berani jujur dengan perasaanku sendiri. Dan, Aku berani mengungkapkan perasaanku kepada seseorang yang aku cinta.

Yeah. Ada kalanya aku bertanya-tanya, “Kenapa aku tidak pernah merasa dicintai? Apakah aku se-tidak-layak itu? Apakah aku memang dilahirkan untuk tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang? Kalau seperti itu, kenapa aku dilahirkan dengan hati yang begitu perasa? Kenapa aku diciptakan sebagai perempuan yang mudah jatuh cinta, tetapi sulit untuk melupakan cinta? Can you tell me, why?"
Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Cara Memiliki Sikap Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
  • Mengenal Sosok ENFJ-T [1/2]: Seperti Protagonis di Film-Film
  • Kebutuhan Bahasa Cinta: What's Your Love Language?
  • Halo, Kak Miah!
  • Agar Hidup Tidak Gengsian: Setop Visi Foya Misi Foya!
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 7
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template