Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
unsplash

DAUN-DAUN pepohonan berguguran, dari yang warnanya hijau hingga kuning, berjatuhan melapisi tanah. Suara gergaji saling beradu satu sama lain. Sementara, sinar matahari perlahan-lahan bisa dengan mudah memasuki ruangan rimbun milik para pohon. Orang-orang itu—maksudnya mereka dengan kostum keamanan, helm proyek, dan rompi—dengan sigap dan penuh kekuatan mengikis perlahan sampai satu pohon berhasil ditumbangkan oleh gergaji sakti. Tumbangnya pohon adalah pelepas dahaga dan kebahagiaan bagi perusahaan hak operasional.

Namun, orang-orang itu tidak pernah tahu, kedatangan mereka adalah sinyal bahaya dan ancaman bagi para pohon. Orang-orang itu entah tidak menyadari atau tidak peduli akan riuhnya pengiriman sinyal pertahanan melalui jaringan mikorizhosphere akan kepanikan nasib mereka yang sebentar lagi tumbang. Belajar dari yang sudah-sudah, para pohon di hutan itu tidak percaya lagi. Mana janji setelah ditebang akan ditanami ulang? Lihat, ekosistem mereka justru makin menipis, hari-hari mereka seakan-akan menanti giliran untuk ditebang.

Itu keadaan di perhutanan, belum lagi apabila memijak di hiruk pikuk perkotaan. Kutantang kamu untuk menemukan setidaknya sekumpulan pohon dalam satu kawasan di tengah kota. Namun, daripada itu, pandangan mata dibuat mencolok dengan kilauan dinding kaca para gedung setinggi langit yang memantulkan sinar matahari. Bahkan udara yang dipasok untuk bernapas pun rasa-rasanya sesak—bayangkan asap kendaraan dan terik panas menyatu di udara kemudian dihirup. Lantas, lebih nyaman di dalam rumah atau gedung di bawah dinginnya air conditioner yang melepaskan gas rumah kaca. 

Ini bukan fiktif. Apa yang kutulis bukan tentang hiperbola akan lingkungan. Ini kenyataan dan fakta yang tidak dipedulikan banyak manusia. Apa itu peduli lingkungan? Sekarang zaman sudah modern, mau tidak mau kita dipaksa hidup dalam modernisasi. Sementara, ancaman alam telah menggaung. Sampah kekurangan penampungan, perairan kotor karena limbah, udara terpolusi asap pabrik. Lantas, sampai kapan kita akan terus diam dan tidak peduli? Di mana orang muda milik bumi yang mampu menjadi harapan bagi masa depan bumi?

Ketika Fakta Diabaikan, Sementara Sibuk Menyalahkan Sana-Sini saat Bumi Marah

unsplash

Bumi menyediakan tameng berupa atmosfer untuk melindungi manusia dari paparan matahari secara langsung. Bumi menenangkan manusia, katanya, "Tidak usah risau, di dalam sudah disediakan para pohon untuk menyerap gas karbon dioksida sehingga kalian tetap merasa sejuk hidup di tempatku."

Seperti yang kita ketahui, kondisi bumi—terutama cuaca—mengalami peningkatan yang tidak baik, cenderung mengancam. Pelepasan gas rumah kaca (GRK) di udara makin bertambah setiap tahunnya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melansir bahwa setiap tahunnya aktivitas manusia telah melepaskan 30 miliar ton karbon dioksida (CO²) ke atmosfer. Hal ini meningkat 40% lebih sejak sebelum era industri. 

Sementara, salah satu penyebab peningkatan perubahan iklim terjadi lebih cepat adalah karena sinar matahari terperangkap oleh gas rumah kaca di atmosfer. Keberadaan gas rumah kaca di lapisan atmosfer sebetulnya memberikan efek hangat pada bumil sehingga layak dihuni oleh makhluk hidup. Akan tetapi, gas rumah kaca yang berlebihan akan memerangkap sinar matahari dan membuat suhu di bumi makin panas. Alhasil, terjadilah fenomena perubahan iklim atau sekarang lebih kita kenal sebagai pemanasan global.

Tentunya perubahan iklim telah mengubah teori para ilmuwan menjadi sebuah fakta. Apa saja faktanya?

freepik

1. Kontribusi Fesyen terhadap Pemanasan Global

Sektor industri merupakan salah satu penyumbang dengan konsentrasi tinggi terhadap perubahan iklim. Bagaimana tidak? Proses industri tekstil cenderung mencemari lingkungan karena menggunakan bahan berbahaya seperti serat sintetis, poliester, dan juga kapas yang dasarnya diolah menggunakan pestisida non-organik. Bahan tersebut juga terindikasi dari penggunaan bahan bakar fosil yang juga memberi emisi GRK.

Dilansir dari CNN Indonesia, pada tahun 2018 industri tekstil berkontribusi sebanyak 2,1 miliar metrik ton emisi GRK, hal ini setara 4% dari total emisi global. 70%-nya diakibatkan dari pengolahan proses industri tekstil itu sendiri yang mencemari lingkungan. Faktanya, limbah tekstil ini berperan besar mengotori air dan lingkungan sekitar. Apabila proses ini tidak ditindaklanjuti, para ahli mengatakan pada 2030, fesyen akan berkontribusi sebanyak 2,7 miliar ton per tahunnya.

2. Timbunan Sampah Plastik

Penggunaan plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahannya yang murah dan mudah didapatkan, sehingga banyak dari kita yang tidak sedikit mengonsumsi plastik setiap harinya dalam berbagai aspek baik sandang maupun papan. Namun, di balik mudah dan merajalelanya produk plastik, hal itu berbanding lurus dengan limbah atau sampah plastik yang dihasilkan. Bahkan, produksi plastik yang dihasilkan tidak seimbang dengan pengelolaan sampah plastik. 

Program lingkungan PBB mengungkapkan bahwa manusia setiap tahunnya menghasilkan 400 juta ton sampah plastik. Hal itu dinilai hampir setara dengan berat manusia di seluruh dunia. Bahkan, dari KLHK menyatakan Indonesia sendiri menjadi negara ke-2 dengan sampah plastik di lautan terbanyak. Padahal Indonesia tercatat memproduksi plastik nomor 5 lebih sedikit dari 4 negara lainnya. Sepanjang tahun 2022 tercatat 12,5 juta ton sampah di Indonesia dan hanya sedikit yang terkelola. Dikatakan oleh Direktur Pengelolaan Sampah KLHK bahwa timbunan itu didorong karena masyarakat sering mengonsumsi sampah plastik sekali pakai.

3. Beberapa Kota di Indonesia Terancam Tenggelam

Perubahan iklim yang terjadi dan terus meningkat pun mengungkap fakta akan banyak kota-kota besar di dunia tenggelam karena tanah mengalami penurunan dan air laut makin tinggi. Di Indonesia sendiri, kota-kota besar juga tidak luput dari ancaman tenggelam. Hal itu bukanlah ancaman belaka, melainkan peneliti dari Climate Central telah memprediksi ada beberapa kota di seluruh dunia yang akan tenggelam pada 2050.

Kota-kota di Indonesia yang disebutkan di antaranya: Bali, Banda Aceh, Semarang, Surabaya, Pangkal Pinang, Medan, dan tentunya Jakarta. Bahkan, kota Jakarta sendiri diprediksi akan tenggelam pada 2030. Hal ini dikarenakan permukaan dan volume air laut meningkat. Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti bahwa setiap tahunnya air laut mengalami peningkatan hingga 3-8 mm.

4. Perubahan Pola Cuaca

Teman-Teman pasti tiga bulan terakhir ini sudah merasakan suhu yang meningkat drastis. Dimulai dari 33* sampai paling tinggi di 38*. Hal ini tentu merupakan angka yang tinggal, tidak lain tidak bukan dikarenakan banyaknya emisi GRK yang menerangkap sinar matahari di atmosfer, sehingga menyebabkan suhu bumi meningkat. Selain itu, juga berkaitan dengan pola cuaca. Di mana, kita lebih sering menghadapi musim panas dibanding musim hujan. Hal ini dilansir pula oleh United Nations bahwa sejak 2011-2020 hampir seluruh daratan di dunia, daratan lebih sering dilanda musim panas. Perubahan pola cuaca ini pun dapat mengganggu keseimbangan alam.

5. Berkurangnya Sumber Daya Air

Perubahan iklim sangat mempengaruhi ekosistem bumi, salah satunya adalah sumber daya air. Akibat kenaikan suhu, air laut jadi meningkat karena lelehan es, mencairnya es pun terjadi karena pemanasan global. Sementara, air tanah tidak bertambah. Di samping itu, air amat krusial bagi kelangsungan hidup manusia seperti untuk operasional industri, sektor pangan, dll. Survei Geologi Amerika Serikat menyatakan bahwa 72% bumi tertutupi oleh air, tetapi 97%-nya merupakan air asin yang tidak bisa dikonsumsi. Studi tersebut juga menunjukkan jumlah air di bumi saat ini mencapai 1,36 miliar km³. Faktanya bahwa hanya ada 1% air tawar yang bisa diakses dengan mudah dan 70% terkunci di lapisan es. Kabar baiknya Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan air tawar terbanyak yaitu 50% lebih.

Dampak Perubahan Iklim Sudah Terjadi dan Akan Terus Berjalan


unsplash

Perubahan iklim setidaknya sudah terjadi ratusan ribu tahun lamanya. Memang, manusia harus melakukan kegiatan yang mau tidak mau melepaskan gas rumah kaca. Akan tetapi, kadar konsentrasi cuaca panas makin hari makin meningkat. Hal itu dikarenakan aktivitas manusia dalam melepaskan gas rumah kaca secara konsisten dan berlebihan. Dampaknya memang tidak terlihat saat itu juga, tetapi masa depan sudah pasti terkena imbasnya. Namun, kenyataannya hal itu masih membuat banyak masyarakat justru bersikap acuh tidak acuh. Menganggap bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi tidak ada aksi yang dilakukan—daripada aksi justru berkontribusi meningkatkan pemanasan global.

Perubahan iklim membawa dampak nyata seperti: bencana alam, kebakaran hutan, suhu bumi meningkat, pencemaran air. Dampak tersebut bersatu paru memberikan efek langsung kepada manusia itu sendiri. Berikut ini dampak yang secara langsung berimbas pada makhluk hidup

freepik

1. Kemiskinan Merajalela

Perubahan iklim nyatanya mampu menempatkan manusia di posisi sulit. Kemiskinan di mana-mana. Bagaimana tidak? Banjir dan tanah longsor menyerang perkotaan dan pedesaan, ketersediaan air yang langka dan berpengaruh pada proses dan hasil pangan, belum lagi kemiskinan geografis dari daerah yang sudah ditenggelamkan oleh air. KLHK menyebutkan setiap tahunnya ada 23,1 juta orang mengungsi akibat perubahan iklim.

Masalah kemiskinan bukan hanya tentang krisis ekonomi, yang perlu menjadi perhatian juga adalah dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di kalangan masyarakat. Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi pada 2030 pemanasan global akan meningkat dan artinya kemiskinan ikut melonjak, mencapai hingga 100 juta orang miskin.

2. Pangan Makin Langka

Sebelumnya sempat disinggung bahwa air merupakan sumber daya krusial bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya bagi sektor pangan, baik pertanian, peternakan, dan perikanan. Semua bidang terkena imbasnya. Air laut yang asam memicu kerusakan makhluk hidup di bawah laut. Pertanian yang kesulitan air. Kesulitan pangan ini berdampak pada kondisi gizi buruk dan kelaparan.

FAO juga mengatakan pada 2030 akan terjadi peningkatan harga pangan sampai 12%, sementara pengeluaran orang miskin terkait pangan mencapai 60%. Selanjutnya, diperkirakan pada 2050 produksi tanaman pangan mengalami penurunan 10-25%, mengancam ketahanan pangan, dan menciptakan 1 miliar penduduk migran.

3. Mengganggu Kesehatan

Kesehatan pun akan mendapatkan imbas dari perubahan iklim. Mulai dari kemarau berkepanjangan yang menghadirkan bakteri-bakteri atau mikroorganisme, dari situ akan memunculkan penyakit yang berkaitan dengan bakteri tersebut. Kemudian, polusi udara yang tidak jarang menyergap perkotaan disebabkan oleh asap industri, asap kendaraan, dan bahkan kebakaran hutan, sehingga udara tidak bersih. Belum lagi kurangnya ketersediaan air minum bersih pada rumah tangga.

Prof. dr. Ova Emilia, Guru Besar Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK} UGM mengatakan perubahan iklim memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsungnya seperti cuaca ekstrem. Dampak tidak langsung berupa perubahan iklim yang mempengaruhi penyebab penyakit (seperti nyamuk) bertahan lebih lama atau berubah perilaku.

4. Spesies Hewan dan Tumbuhan Punah

Cuaca ekstrem dan suhu bumi yang meningkat otomatis akan membuat spesies hewan dan tumbuhan mau tidak mau ikut beradaptasi. Artinya hewan yang tidak bisa beradaptasi dengan iklim saat ini akn mengalami kepunahan. Sementara tumbuhan di bawah laut pun mengalami kepunahan akibat keputihan, limbah, dan air laut asam. Pohon-pohon ditebang. KLHK menyebutkan rata-rata saat ini dunia kehilangan spesies sampai 1000 kali lebih besar. Diperkirakan pula 1 juta spesies dalam risiko ancaman kepunahan beberapa dekade ke depan. 

5. Meningkatnya Suhu Bumi

Cuaca panas yang terjadi 3 bulan terakhir ini membuat kita jadi lebih suka mendekam di dalam ruangan ber-AC. Hal ini tentunya disebabkan karena emisi GRK di atmosfer semakin tebal dan menerangkap panas matahari, alhasil suhu bumi pun meningkat. Ini akan terus terjadi apabila aktivitas manusia masih berlebihan dalam melepaskan gas rumah kaca. Ditambah tidak ada penanganan dan kesadaran yang baik dari sebagian masyarakat. Disebutkan oleh Badan Meteorologi Britania Raya (Met Office) memprediksikan peluang meningkatnya pemanasan global sekitar 50% mencapai 1,5 derajat pada lima tahun mendatang (2022).

Orang Muda Bisa Berdedikasi dan Berkontribusi untuk Masa Depan Lingkungan

freepik

Cara sederhana orang muda menjaga lingkungan dan menekan laju perubahan iklim adslah dengan mengubah pola hidup.
Gaya hidup kadang kala menjadikan diri egois. Pura-pura buta untuk melihat ancaman di masa depan. Pura-pura tuli akan pentingnya menjaga lingkungan. Tahan banting akan cuaca panas yang kian meningkat. Bukan tanpa alasan, apa lagi kalau bukan karena gengsi?

Pada akhirnya yang akan merasakan imbas dari perubahan iklim adalah generasi muda. Perubahan iklim bukan lagi tentang isu semata, melainkan kenyataan yang harus dihadapi bersama-sama. Pada dasarnya, kita tidak akan pernah bisa menghentikan perubahan iklim itu sendiri karena memang aktivitas manusia yang kerap terjadi setiap harinya. Namun, konsentrasi aktivitas manusia yang berlebih membuat perubahan iklim makin dekat terjadi dan seakan-akan tampak di pandangan mata. 

Hanya saja, seperti yang kita lihat, saat ini banyak aspek kehidupan bersikap acuh tidak acuh terhadap perubahan lingkungan. Jangankan lingkungan, kadang kala kita tidak tahu atau menutup mata dan telinga akan ancaman perubahan iklim. Katanya, perubahan iklim hanya fenomena biasa yang akan cepat berakhir. Padahal, hari-hari kita dihantui oleh kecaman pemanasan global sana-sini. Lantas, apabila orang muda tidak acuh, bagaimana masa depan kita?

Pohon dan hutan, bagaimana dengan dua elemen penting bumi itu? Pohon bersedia menampung udara dan menghasilkan oksigen untuk kita bernapas. Menyimpan banyak sekali cadangan air dan makanan untuk sumber daya manusia. Sebagai penangkal terjadinya bencana banjir maupun longsor. Paling penting, pohon menyimpan karbon dioksida dan melindungi manusia. Namun, manusia sendiri yang menebangnya dan memusnahkan keajaiban pohon itu. Parahnya membakar hutan. Bahkan, beberapa oknum kian mengeksploitasi untuk kepentingan tertentu. Lantas, di mana letak balas budi kita terhadap pohon dan hutan?

Sebagai orang muda harus melek akan isu lingkungan. Jika tidak bisa berkontribusi banyak, maka kita mendedikasikan diri kita untuk menambah wawasan terkait lingkungan sekitar dan tidak ketinggalan informasi soal perubahan iklim. Di era internet serbacepat ini seharusnya dipergunakan sebaik mungkin. 

Harapannya adalah reboisasi kembali dilakukan. Sebab, hal yang membuat resah adalah ketika penebangan pohon yang kemudian dibiarkan gundul tanpa adanya reboisasi.

Salah satu hal yang membuat kita tutup mata terhadap perubahan iklim adalah pola hidup. Betul tidak? Bahwa kita terlalu pemain gengsi, ingin mengikuti tren yang ada. Membeli baju baru dengan harga murah mengikuti perkembangan mode. Alhasil baju menumpuk dan tidak terpakai kemudian berakhir menjadi limbah rumah tangga. Belum lagi mengonsumsi produk plastik sekali pakai yang terus dilakukan setiap hari. Sehingga bumi dapat terjaga.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Evolusi Cinta: Perkara Patah Hati
  • Aku bukan Orang Baik, Aku Jahat
  • Erizal Barnawi: Seni Musik Tradisional Lampung bukan Sekadar Hiburan
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Catatan Belajar: Memahami Matriks Dasar Google Analytics 4 (GA4)
  • Menjaga Kewarasan dengan Produktivitas

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 6
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

CONTACT FORM

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template