SOAL CINTA memang kompleks. Selama dua puluh enam tahun hidup aku, cinta selalu mengalami evolusi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dan selalu mendekam: jatuh cinta sendirian. Cerita sejuta umat kalau bicara perkara cinta bertepuk sebelah tangan. Memang bukan cuma aku saja yang mengalami, di luar sana banyak korbannya.
Kadang-kadang aku suka heran, kenapa Tuhan menggariskan percintaan seorang Vina selalu berujung memilukan—bukan menyedihkan lagi. Aku yakin sekali betapa banyak bak yang terisi penuh hanya karena menampung air mata kebodohan imbas patah hati. Bahkan membiarkan perut kelaparan mengais sesuap nasi hanya untuk mengamini rasa sakit yang mendalam.
Ketika remaja, patah hati menjadi perkenalan yang mengejutkan. Masih tidak menyangka, responsnya mengguncang emosional sehingga berimbas pada fisik. Ingat betul, ketika mengurung diri di kamar tidur. Jendela terkunci, matahari tidak dibiarkannya menerobos karena tirai sebagai perisai. Pintu yang selalu tertutup—tidak kukunci. Sementara, seonggok gadis tidak berdaya di atas ranjang.
Ya. Gadis bodoh itu aku. Kalau dipikir-pikir kenapa aku harus sampai se-berlebihan itu? Ternyata itu merupakan hal normal karena merupakan patah hati pertama di kala remaja. Sebuah kewajaran juga kalau dipikir-pikir sekarang seperti menjijikkan. Sebuah respons yang berbeda ketika aku remaja dan saat ini ketika aku dewasa. Itu artinya menunjukkan, pengalaman percintaan aku mengalami evolusi emosional.
Masuk ke masa remaja menuju dewasa. Di sini adalah masa-masa, sudah mengenal cinta beserta patah hatinya. Akan tetapi, tetap saja, remaja selalu ditempa dengan pembelajaran. Apa lagi kalau sudah ada pada fase menuju pintu dewasa. Lagi-lagi aku ingat betul ketika “akhirnya” ada seorang lelaki yang menunjukkan cintanya kepadaku. Seperti kupu-kupu yang menerbangkanku di langit-langit taman bunga.
Waktu itu dunia berwarna merah jambu, sampai-sampai aku lupa bahwa ada warna lain di dunia ini. Ada warna kuning, hijau, merah, iya, itu adalah rambu-rambu lalu lintas. Kumpulan warna yang mengingatkan aku kembali bahwa di dunia ini ada warna hitam dan abu-abu. Suatu hari merah jambu berubah menjadi abu-abu. Aku mulai khawatir dan overthinking, aku merasakan firasat buruk dan benar terjadi.
Lagi-lagi Aku patah hati. Kali ini bukan karena bertepuk sebelah tangan, melainkan ditinggal ketika sedang cinta-cintanya. Kamu tahu rasanya, ketika kamu membeli makanan itu-itu saja dalam durasi yang lama. Suatu hari kamu bosan dan melupakannya. Analogi itu merepresentasikan kamu seperti dia. Dan aku seperti makanan yang dilupakan.
Untuk kedua kalinya. Aku patah hati. Tentu saja meskipun sebelumnya sudah pernah patah hati. Anehnya, rasa patah hati itu rasanya selalu baru dan basah. Sama-sama seperti ada sesuatu yang menusuk jantung, mengoyak hati, memporak-porandakan pikiran, hidup pun tidak tenang. Salah satu perjalanan pada fase remaja menuju dewasa aku memang terlalu pahit.
Setidaknya patah hati untuk kedua kalinya sukses melahirkan kebencian terhadap cinta dalam diriku. Apa itu cinta? Aku betul-betul jadi manusia anti-cinta. Aku sangat jijik dengan hal-hal berbau romantisme dan asmara. Aku sampai bergidik ngeri ketika tidak sengaja melihat tayangan drama menye-menye. Kadang-kadang aku heran kenapa banyak sekali orang tergila-gila dengan cerita cinta? Apa mereka tidak tahu atau bahkan lupa rasanya patah hati karena cinta?
Selama lima tahun menjadi perempuan yang hidup tanpa cinta. Perempuan yang menolak keras akan kampanye cinta. Perempuan yang pernah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi kepada siapa pun. Namun, aku tetaplah perempuan yang punya hati dan perasaan. Pada kenyataannya, aku tetaplah perempuan yang ternyata membutuhkan cinta. Dengan kata lain, anti-cinta selama lima tahun itu adalah alibi bahwa aku ketakutan setengah mati untuk patah hati lagi.
Puncaknya ketika jatuh cinta setelah masuk di usia dewasa. Kali ini konsep patah hati di kepala aku sudah matang betul. Untuk kesekian kalinya dalam hidup—setelah lima tahun menjadi pembenci cinta—aku memilih untuk jatuh cinta lagi. Iya, aku memilih, artinya aku sadar aku akan jatuh cinta, aku menyadari akan ada peluang besar untuk kembali patah hati. Setidaknya, fase jatuh cinta yang satu ini, menjadi Ajeng menelusuri apakah aku lebih siap menghadapi patah hati?
Nyata sekali. Aku rasa cinta dan patah hati memang jadi sahabat yang tidak terpisahkan. Aku patah hati lagi karena perasaan yang tidak sama. Ternyata aku masih menangisi patah hati di pagi hari yang cerah. Rasanya pun masih sama-sama menyakiti hati. Namun, kali ini aku jauh lebih siap dan menerima kenyataan. Jatuh Cinta kali ini, kembali menunjukkan sikapku menghadapi cinta mengalami evolusi yang lebih baik lagi.
Satu hal yang aku banggakan dari jatuh Cinta kali ini dari diriku: keberanian. Aku berani memutuskan jatuh cinta secara sadar. Aku berani mengambil risiko dan konsekuensi. Aku berani mengantisipasi peluang patah hati yang ada. Aku berani patah hati lagi. Aku berani menikmati dan belajar bangkit dari patah hati. Aku berani jujur dengan perasaanku sendiri. Dan, Aku berani mengungkapkan perasaanku kepada seseorang yang aku cinta.
Yeah. Ada kalanya aku bertanya-tanya, “Kenapa aku tidak pernah merasa dicintai? Apakah aku se-tidak-layak itu? Apakah aku memang dilahirkan untuk tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang? Kalau seperti itu, kenapa aku dilahirkan dengan hati yang begitu perasa? Kenapa aku diciptakan sebagai perempuan yang mudah jatuh cinta, tetapi sulit untuk melupakan cinta? Can you tell me, why?"

0 Comment