Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
Ada Tetangga
TETANGGA baik kini menjadi sesuatu yang diidam-idamkan. Bahkan, tetangga baik jadi kriteria tersendiri saat mencari rumah.

Tidak bisa dipungkiri, drama hidup bertetangga sering terdengar meresahkan dan menggelitik. Tentunya kita ingin tinggal dalam lingkungan bertetangga yang menyenangkan. 

Dengan banyaknya karakteristik orang yang berbeda. Kadang-kadang kita juga mesti bisa memahaminya. Akan tetapi, dalam bersikap tetap ada batasan tersendiri. 

Tinggal di sebuah lingkungan dengan tetangga yang baik adalah anugerah terindah. Dimulai dari tetangga yang peduli, ramah, bahkan tidak julid. 

Konflik dalam bertetangga memang wajar. Bukan berarti hal tersebut bisa berlangsung lama dan membuat lingkungan jadi terasa tidak nyaman. 

Bagaimanapun kita akan selalu membutuhkan tetangga untuk membantu kita. Penting bagi kita mengetahui kiat menjadi tetangga idaman. 

Kiat Menjadi Tetangga Idaman biar Tidak Dikira Julid!

Ada sebuah peribahasa dari Arab yang berbunyi, "Pilih tetangga terlebih dulu, baru pilih rumah."

Peribahasa tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa tetangga punya peran penting dalam memilih rumah untuk ditinggali.

Seakan-akan tetangga punya karakter yang mesti diwaspadai. Kadang-kadang kita tidak bisa mengontrol cara orang bersikap. 

Ada yang lebih penting dari memilih tetangga sebelum memilih rumah. Yaitu, menjadi tetangga yang baik untuk tetangga kita sendiri. 

Pernah dengar, ‘kan, kalau apa yang kita tanam pasti itu yang dituai? Nah, ada baiknya kita berusaha menjadi tetangga yang baik lebih dulu untuk mendapat tetangga yang baik. 

Jadi, bagaimana kiat menjadi tetangga idaman? Yuk, kita simak!

Kiat menjadi Tetangga idaman

1. erprasangka Baik dan Hindari Ngegosip

Dalam suatu lingkungan pasti akan ada spot-spot tertentu yang biasanya dijadikan sebagai tempat 'berdiskusi'. Ibu-ibu biasanya diskusiin apa, sih?

Apakah mereka membahas harga sayur yang naik? Atau ngomongin soal stunting terhadap anak? Atau para ibu-ibu akan mengemukakan dan menghargai pendapat terhadap statement childfree?

Hmm, di manakah kita akan menemukan para ibu berdaster abis ngejemur pakaian, kemudian buru-buru ke warung sebelah buat bahas hal berbobot tersebut?

Sulit, tetapi kita harus berprasangka baik kalau pasti ada ibu-ibu seperti itu dan ibu-ibu itu adalah kita! Ya, jika kita adalah ibu-ibu, jadilah ibu-ibu yang seperti itu

Dalam diskusi ibu-ibu, kita harus berprasangka baik untuk menjadi tetangga idaman. Janganlah kita berasumsi buruk terhadap tetangga tanpa ada bukti. 

Apa lagi kalau kita berasumsi hanya karena melihat dan mendengar. Pun, kalau ada bukti valid, tidak perlu disebar ke orang lain, nanti jadi julid!

Kalau sudah begitu pasti ujung-ujungnya berakhir gibah. Pada tau, ‘kan, gibah itu seperti makan bangkai? Masih mau gibah?

Kalau bertemu tetangga, coba bahas sesuatu yang kalau dibawa pulang ada makna dan pesan. Bahas soal rahasia suami tidak selingkuh, misalnya. 

Kalau misal ada anak tetangga yang pulang malam. Jangan berpikir aneh-aneh, bisa aja dia kerja, kan? Kalau ada tetangga yang belum nikah-nikah, bisa saja dia sedang menabung, kan?

Betapa omongan julid kita yang berprasangka buruk terhadap tetangga kita itu beracun. Secara tidak sadar kita menyerang mentalnya, lo!

Bahasan ringan semacam basa-basi selama tidak menjelekkan dan berprasangka buruk kepada orang lain lebih baik. Jadilah tetangga yang selalu berprasangka baik terhadap tetangga, ya!

2. Saling Membantu

Kiat menjadi tetangga idaman yang paling penting dan harus dimiliki oleh kita dalam hidup bertetangga. Membantu satu sama lain. 

Tetangga adalah teman, keluarga, orang luar terdekat yang akan dengan mudah kita temui. Rumah yang saling berdampingan, pasti akan mudah berinteraksi. 

Tanpa sengaja, mungkin kita sedikit tahu keseharian tetangga. Misal, jika ada permasalahan, kita bisa bantu dengan tidak menyebarkan gosip.

Seperti contoh, memberi makanan kepada tetangga yang membutuhkan. Jika ada tetangga yang sakit, inisiatif untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan. Jika terkena musibah, kita membantunya dengan bersimpati dan berempati. 

3. Partisipasi dalam Kegiatan Sosial

Untuk menjaga komunikasi dan kebersamaan dalam suatu lingkungan bertetangga. Para pengurus lingkungan pasti akan mengadakan kegiatan sosial. 

Sebagai contoh membuat organisasi ibu-ibu PKK yang melakukan kegiatan pengajian rutin di masjid/musala. Acara arisan yang juga melakukan perkumpulan rutin. 

Bagi bapak-bapak ada pula kegiatan keamanan atau kerja bakti. Kemudian, bisa juga membuat persatuan sepak bola agar kebersamaan makin erat. 

Untuk para remaja dan dewasa pun bisa membuat organisasi risma atau remaja islam masjid. Membuat perkumpulan untuk memeriahkan acara-acara besar untuk diadakan di lingkungan.

Seperti kegiatan 17 Agustusan, hari-hari besar lainnya yang bisa dirayakan bersama-sama dengan para tetangga. 

Aktif berpartisipasi, kita bisa kenal lebih dekat dengan para tetangga. Selain itu, kehidupan sosial juga jadi lebih berwarna dan berkualitas. 

Yuk, mulai terapkan kiat menjadi tetangga idaman satu ini!

4. Bersikap Ramah dan Sopan

Kita menjadi tetangga idaman satu ini penting banget. Dari sini para tetangga akan menilai, kita ini orang yang seperti apa? Apakah membuat mereka nyaman atau sebaliknya?

Sederhananya, tentang sikap dan sifat kita terhadap tetangga. Misalnya, kalau bertemu di jalan, usahakan untuk menyapa, minimal melempar senyum. 

Menyapa dengan sopan misal kepada orang yang lebih tua, menggunakan kata ganti yang sepantasnya. Begitu juga yang lebih muda, sehingga kita tidak dicap tetangga sombong. 

Pun, sebenarnya kalau kita bertemu tetangga lain dan tidak disapa, jangan berburuk sangka, ya! Inisiatif aja dulu, kalau masih dicuekin, ya sudah, tidak apa-apa. 

Selama kita berbuat baik dengan orang lain dan tidak punya prasangka buruk terhadap orang lain. Itu udah cerminan diri bahkan tetangga yang baik. 

Selain itu, kita juga bisa memberi makanan yang kita bikin, seperti kue, dll. Atau memberikan hadiah dan oleh-oleh. 

5. Menjaga Keamanan dan Kenyamanan Bersama

Menjaga keamanan bukan hanya petugas keamanan saja dalam suatu komplek (bila ada). Akan tetapi, hal tersebut menjadi hak bersama demi kenyamanan bersama. 

Misal dengan membayar petugas keamanan, atau kalau mau lebih hemat mengadakan kegiatan siskamling dengan jadwal beda-beda per hari oleh bapak-bapak. 

Jika ada kemalingan, jangan menyalahkan satu sama lain. Meskipun sudah ada penjagaan, tetap kita harus punya parameter dalam menjaga rumah kita sendiri. 

Tidak cuma itu, kalau ada pohon tetangga berbuah, jangan diambil tanpa izin meski sudah mengenal. Tidak mengotori halaman rumah tetangga. Tidak menghalangi rumah tetangga dengan parkir sembarangan. 

Jika akan ada hajatan di rumah kita, lakukan perizinan agar tidak mengganggu. Ajak dan undang mereka sebagai bentuk terima kasih. 

Dengan begitu, keamanan dan kenyamanan akan saling menjaga satu sama lain. 

Jadi tetangga idola
ITU dia kiat menjadi tetangga idaman, sebelum kita mulai memilih mencari tetangga yang baik. Sebab, kita harus mulai dari diri sendiri lebih dulu, baru orang lain. 

Hal paling dasar dalam hidup bertetangga adalah bagaimana kita bisa menghargai dan menghormati mereka. Dengan begitu, kita akan diperlakukan dengan sama. 

Namun, bukan berarti kita berbuat baik hanya untuk mendapatkan balasan pula. Melainkan, kita harus berbuat baik dengan tulus. 

Apabila perbuatan baik kita justru dibalas dengan hal buruk, maka kita bisa mengurangi interaksi dengannya. Balas dendam dan menyebarkan keburukannya bukanlah solusi, melainkan kita pun telah berbuat buruk kepadanya. 

Jadi, sudah siap menerapkan kiat menjadi tetangga idaman

Manusia memiliki perasaan
EMOSI merupakan salah satu ekspresi yang sering kali kita dengar. Bisa ditandai dengan pemberitaan terkait peristiwa yang memancing emosi. 

Misal, kalau ada postingan atau status yang mengejek kita. Kemudian kita bergumam bahwa kita emosi karena melihat hal tersebut. 

Memang emosi seperti apa, sih, yang terpancing? Marah? Bahagia? Takut? Lo, bukannya emosi itu punya arti marah, ya? Banyak, kok, orang yang bilang begitu! 

Kadang sesuatu yang mendominasi itu belum tentu tepat. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena adanya kebiasaan yang kurang tepat. 

Dalam pembahasan kali ini, emosi yang diasumsikan oleh banyak orang sebagai sebuah amarah adalah kekeliruan. Nyatanya, emosi tidak hanya mencerminkan satu perasaan. 

Nah, sekarang kita harus tahu kalau emosi bukan mencakup perasaan marah saja, melainkan ada emosi-emosi dasar yang berpengaruh dalam kehidupan kita sehari. 

Emosi Bukan Amarah: Mengenal Jenis Emosi dalam Diri Manusia!

Sebelum kita mengenal jenis emosi yang ada dalam diri manusia. Ada baiknya untuk memahami terkait pemahaman emosi yang selama ini disalahartikan. 

Menurut Don Hockenbury dan Sandra E. Hockenbury dalam bukunya “Discovering Psychology”, emosi adalah kondisi psikologi yang kompleks yang mencakup tiga komponen berbeda, yaitu pengalaman subjektif, respon fisiologis, dan respons perilaku/ekspresif (Cherry, 2019).

Dalam artikel milik Robert C. Solomon, disebutkan bahwa emosi adalah pengalaman kompleks akan kesadaran, sensasi jasmani, dan perilaku yang mencerminkan pemaknaan perseorangan terhadap sebuah kejadian, keadaan, atau peristiwa.

Dari pengertian tersebut, emosi ini mencakup komponen yang bisa berasal dari eksternal maupun internal. Oleh sebabnya, emosi punya pengaruh dalam kehidupan kita. 

Salah satunya seperti emosi dapat memengaruhi kita dalam bertindak dan berpikir. Contoh, tatkala kita mengambil keputusan tentu dibutuhkan emosi yang stabil. 

Otak kita memiliki elemen bernama amigdala. Amigdala yaitu filter emosi tertentu yang dimiliki otak. Di dalam otak, terdapat sistem limbik otak yang memproses pengalaman emosional. 

Amigdala menyimpan memori sensorik dari pengalaman kita sebelumnya. Kemudian pengalaman tersebut digunakan sebagai informasi untuk menentukan perasaan/emosi kita terhadap pengalaman yang sedang terjadi. 

Selanjutnya, tugas amigdala yaitu mengirim informasi tersebut ke bagian otak lainnya. Proses pengiriman tersebut akan menghasilkan pelepasan neurotransmitter dan hormon sesuai dengan peristiwa/pengalaman yang sedang terjadi. 

Misalnya, pada saat kita merasa senang terhadap suatu peristiwa. Akan terjadi proses pelepasan dopamin, serotonin, endorfin, dan lainnya. Sehingga memengaruhi reaksi tubuh terhadap peristiwa tersebut. 

Permisalan lain jika amigdala merespons reaksi jengkel dan kekhawatiran. Akan terjadi pelepasan epinefrin, norepinefrin, adrenalin, dan kortisol. Pelepasan tersebut bertanggung jawab atas respons lari atau lawan demi menjaga keamanan diri. 

Sekarang, kita sudah mengetahui bahwa emosi punya makna yang berbeda dengan marah dan cara kerjanya. Yuk, kita kenali jenis emosi dalam diri manusia! 

Kenali jenis emosi dalam diri manusiawi

1. Bahagia

Jenis emosi dalam diri manusia satu ini pasti pernah kita rasakan. Dalam beberapa peristiwa mampu memancing emosi kita untuk merasa bahagia. 

Contohnya, ketika kita mendapat nama kita sebagai salah satu pemenang atas lomba yang telah diikuti. Atau, ketika ssst perasaan cinta kita disambut dengan baik. 

Perasaan bahagia tersebut memunculkan ekspresi yang riang. Respons fisiologis seperti tersenyum baik kecil maupun lebar.

Kebahagiaan sendiri merupakan emosi positif. Sebab, dapat memengaruhi kehidupan jadi lebih semangat dan lebih gembira dalam mengerjakan sesuatu. 

2. Sedih

Bukan hidup namanya kalau tidak menghadirkan peristiwa-peristiwa yang membuat kita sedih. Nyatanya, sedih merupakan jenis emosi dalam diri manusia yang terkenal. 

Bisa dikatakan sebagai lawan kata dari bahagia. Kesedihan yang sering terjadi di antara hiruk-pikuk manusia adalah ketika menghadapi kehilangan atau kepergian. 

Respons fisik yang terjadi biasanya akan terlihat wajah murung. Pandangan mata jadi sendu atau tidak seceria biasanya. 

Bagi kita yang lihai dalam menyembunyikan perasaan sedih akan dibutuhkan kepekaan orang lain terhadap emosi kita. Sepandai apa pun kita memanipulasi emosi. Mata tidak pernah berbohong. 

Perasaan sedih akan memengaruhi kinerja aktivitas. Seperti kita jadi kurang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga, segalanya jadi kurang maksimal. 

3. Marah

Marah merupakan jenis emosi dalam diri manusia yang biasa disebut sumbu pendek. Artinya, orang sumbu pendek tersebut mudah terpancing amarah. 

Rasa marah biasanya terjadi karena sesuatu hal yang bertolak belakang. Masing-masing orang pasti punya pengalaman berbeda yang memicu reaksi alami marah. 

Marah dapat ditandai dengan kening berkerut dan mata melotot. Wajah orang marah akan berpaling atau justru menampilkan ketidaksukaan terang-terangan. 

Emosi ini punya dampak positif dan negatif. Tergantung bagaimana kendali kita atas emosi yang bereaksi. Artinya, kita harus bisa manajemen rasa marah. 

Dampak positifnya bisa membantu memperbaiki kesalahan orang lain atau kita sendiri. Dampak negatif, apabila marah tidak terkendali, biasanya akan berujung pada rasa penyesalan. 

Amarah tidak melulu diekspresikan dengan eksplisit. Kadang-kadang, diamnya seseorang bisa termasuk reaksi amarah. 

4. Takut

Manusia wajar, kok, punya sisi takutnya. Sebab, emosi takut merupakan jenis emosi dalam diri manusia. Jadi, tidak perlu malu. 

Balik lagi, bagaimana mengendalikan rasa takut tersebut? Kadang-kadang keberanian jadi salah satu cara menutupi ketakutan dan solusi dalam menghadapi ketakutan. 

Reaksi takut ini bisa macam-macam. Bisa karena takut akan sesuatu yang tidak ada atau ada. Emosi ini akan membuat respons kita terjaga dan waspada. 

Takut dapat ditandai dengan tubuh yang bergetar, wajah pucat pasi, keringat mulai bercucuran, belum lagi suhu tubuh jadi panas dingin. 

5. Terkejut

Jenis emosi dalam diri manusia selanjutnya adalah terkejut atau kaget. Emosi ini jadi salah satu emosi dasar yang pernah kita rasakan.

Terkejut biasanya timbul ketika pancaindra menangkap sesuatu secara mendadak atau tidak diduga. Bisa berupa kejadian langsung atau sebuah kabar. 

Terkejut bisa termasuk emosi positif atau negatif. Tergantung dari apa penyebabnya. Kalau disebabkan oleh sesuatu bahagia akan jadi emosi positif. Begitu pun sebaliknya. 

6. Jijik

Jenis emosi dalam diri manusia yang tidak boleh dilewatkan adalah reaksi emosi jijik. Jijik terhadap hal-hal yang tidak kita sukai. 

Biasanya terjadi karena pancaindra menangkap sesuatu yang membuat kita bergidik. Bisa dari pemandangan, bau, atau tekstur. 

Tidak hanya itu. Emosi jijik bisa terjadi karena kita melihat perilaku atau tindakan seseorang yang tidak sesuai moral. Sehingga kita akan berpaling. 

Emosi bukan hanya amarah
NAH, itu dia jenis emosi dalam diri manusia yang kita semua harus tahu. Emosi-emosi yang tadi disebutkan merupakan emosi dasar yang pasti dimiliki manusia. 

Emosi-emosi tersebut biasanya akan memunculkan reaksi-reaksi lainnya. Seperti kecewa karena sedih, kesal karena marah, malu karena takut, dll. 

Sudah saatnya untuk tidak menyalahartikan emosi sebagai amarah, ya, Teman-Teman! Ganti kalimat emosian mulu dengan marah-marah melulu, deh!

Hal itu penting untuk diubah agar kita terbiasa dengan kebiasaan baik dan benar. Apa lagi kita juga perlu memahami terkait aspek-aspek emosi tersebut. 

Yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengendalikan emosi. Emosi yang berlebihan, tentu akan memberi dampak tidak baik. 

Segalanya harus diposisikan dengan seimbang, ya! Jadi, jenis emosi dalam diri manusia mana, nih, yang sering kamu rasakan?

—

Referensi:

https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/jenis-emosi-dan-fungsinya/

https://satupersen.net/blog/emosi-itu-bukan-marah-mari-mengenal-emosi

Eid adha
HAJI merupakan salah satu rukun islam yang harus dilakukan jika mampu. Namun, kita tidak pernah luput dari cerita-cerita. Mereka yang rela menabung bertahun-tahun lamanya untuk bisa menunaikan haji.

Bahkan sampai ada yang rela menempuh perjalanan jauh menuju Mekah dengan mengendarai sepeda. Dia sempat viral di media sosial karena membagikan jurnal perjalanannya di Instagram. Butuh waktu berbulan-bulan untuk tiba di sana.

Artinya, mampu di sini bukan hanya dari segi finansial. Akan tetapi, kemampuan seorang muslim mau berusaha untuk berangkat haji dengan cara apa pun—selama itu baik. 

Secara finansial memang penting, secara pengetahuan ibadah haji pun sama pentingnya. Akan tetapi, kita juga harus tahu pentingnya persiapan mental sebelum pergi haji.

Persiapan Mental Sebelum Pergi Haji Agar Tidak Sia-Sia

Kita sudah masuk di bulan Dzulhijjah. Besok—17 Juni 2024, Senin—umat muslim kembali memperingati hari iduladha. Di sisi lain, rombongan haji tahun ini sudah berangkat dan melakukan ibadah haji di tanah suci. 

Siapa pun bisa berangkat haji, tetapi tidak semua umat muslim memiliki kesempatan tersebut. Sebab, selain membutuhkan banyak biaya, jadwal keberangkatan dengan batasan jemaah, serta niat dan usaha pribadinya untuk pergi haji.

Oleh karena itu, bagi umat muslim yang diberikan kesempatan dan kemauan untuk pergi haji. Perlu mempersiapkan diri supaya ibadah haji lancar dan tidak sia-sia.

Persiapan yang dilakukan pun bukan hanya pengetahuan terkait rukun dan tata cara haji. Kita juga harus melakukan persiapan mental. Mengingat akan banyak tantangan yang mesti dihadapi.

Persiapan mental sebelum haji

1. Keikhlasan

Bukan hal mudah dalam menjalani ibadah haji. Bahkan, tidak semua umat muslim memiliki keinginan penuh untuk pergi haji. Artinya perlu keikhlasan hati untuk menjalani ibadah haji.

Ikhlas melakukan haji semata hanya karena Allah Ta’ala. Ikhlas pergi haji karena memiliki kemampuan untuk menyempurnakan rukun islam. Persiapan mental sebelum pergi haji satu ini paling utama.

Teguhkan keikhlasan dengan meningkatkan ibadah wajib dan sunah sebelum haji. Seperti makin khusyuk dalam salat, melakukan salat sunah, memperbanyak zikir, bersedekah, memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Keikhlasan tentunya akan terbangun dan kita akan siap untuk beribadah haji di tanah suci. Persiapan tersebut setidaknya akan melatih kebiasaan baik saat di tanah suci, bahkan ketika pulang.

2. Meneguhkan Hati dan Kesabaran

Seperti yang kita ketahui bahwa ibadah haji memiliki serangkaian kegiatan yang wajib diikuti. Maka, persiapan mental sebelum pergi haji selanjutnya adalah meneguhkan hati.

Mengingat secara suhu dan lingkungan di tanah suci berbeda dengan Indonesia. Kegiatan haji yang akan berdesakan dengan jemaah dari negara lain. Belum lagi jika ingin mendatangi tempat sakral seperti hajar aswad.

Jika keteguhan hati tidak dijaga dengan baik, khawatir akan mengganggu niat ikhlas kita dalam beribadah haji. Dalam hal ini, perlu yang namanya kesabaran. Kesabaran adalah solusi keteguhan hati.

3. Mengelola Emosi dan Pikiran

Persiapan mental sebelum pergi haji satu ini masih berkaitan erat dengan poin sebelumnya. Keteguhan hati dan kesabaran tidak lepas dari cara kita mengelola pikiran dan emosi.

Saat di tanah suci, manusiawi jika pikiran kita akan berkecamuk. Menatap keindahan Ka’bah. Berada di tengah-tengah kerumunan besar. Berimpitan dan berdesakan dengan jemaah lain.

Kita perlu menjaga pikiran, kembali ingat tujuan pergi haji. Hindari pula berburuk sangka apabila ada hal-hal kurang menyenangkan terjadi. Sebab, tidak menutup kemungkinan perjalan di tanah suci akan mulus-mulus saja.

Menginjakkan kaki di tanah suci akan mengguncang emosi kita. Bahagia tiada tara, haru tidak menyangka, ingin menangis. Tidak jarang pula timbul rasa marah dan kesal dengan orang sekitar.

Emosi-emosi tersebut—terutama emos negatif, perlu dikelola dan diseimbangkan. Jangan sampai emosi negatif tadi membuat ibadah haji kita jadi sia-sia. Apa lagi kita telah melakukan banyak persiapan.

4. Bertawakal dan Memperkuat Keimanan 

Tidak bisa dipungkiri, ada kekhawatiran sebelum pergi haji. Apakah kita akan ‘diterima’ di tanah suci? Apakah segala perbuatan kurang baik kita akan terpampang di sana? Konon katanya seperti itu.

Persiapan mental sebelum pergi haji pun perlu memperkuat keimanan. Meyakini bahwa niat baik kita pasti akan sampai kepada Allah Ta’ala. Meyakini ibadah haji yang kita lakukan semata untuk mencari dan mendapatkan rida Allah Ta’ala.

Yakini juga bahwa apa-apa yang terjadi baik eebelum, saat, dan sesudah pergi haji merupakan takdir baik dari Allah Ta’ala. Dalam hal ini, kita perlu bertawakal atau memasrahkan diri.

Pasrah bukan berarti tidak melakukan apa pun. Justru, pasrah dilakukan setelah kita melakukan usaha dan perjuangan. Dengan bertawakal, tidak menutup kemungkinan kita akan mendapat ketenangan dalam menjalani ibadah haji.

Menjaga kesehatan

5. Menjaga Kesehatan

Ibadah haji juga membutuhkan fisik yang kuat. Persiapan mental sebelum pergi haji juga perlu dilakukan dengan memastikan kesehatan fisik. Mental yang sehat harus diimbangi dengan fisik yang kuat pula.

Dilansir dari laman Halodoc, mempersiapkan kekuatan tubuh sebelum haji bisa dilakukan dengan rutin berjalan kaki setiap pagi selama 30—60 menit. Kemudian berenang dan juga bersepeda.

Bagi lansia, cukup melakukan yoga atau pilates sebanyak lima kali dalam sepekan. Sehingga keseimbangan tubuh dapat terjaga.

Selain itu, selama persiapan kita perlu mengonsumsi makanan sehat dan bernutrisi seperti buah dan sayuran yang mengandung vitamin D dan kalsium. Bertujuan untuk menjaga kekuatan tulang.

Kita perlu mengecek kesehatan kita, melakukan vaksinasi wajib bagi jemaah haji, memperbanyak minum agar terhindar dari dehidrasi. Tidak lupa menjaga pola istirahat dan melakukan kegiatan yang membuat kita lebih baik dan tenang. Hal ini supaya stres dapat dikendalikan.

Pemerintah Indonesia juga memberikan saran melakukan pencegahan terjadinya heat stroke saat ibadah haji. Dapat dicegah dengan menggunakan topi, kacamata hitam, tabir surya, dan semprotan yang diberikan untuk menghindari suhu ekstrem.

PERSIAPAN mental sebelum pergi haji ini perlu dipahami agar ibadah haji kita berjalan lancar dan sesuai. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Kita pun perlu menjaga kebersamaan dan solidaritas sesama jemaah haji. Itulah persiapan-persiapan yang dapat kita lakukan. Semoga kita semua mendapatkan kesempatan untuk beribadah haji. Aamiin. 

—

Referensi:

https://www.pusatumroh.id/pentingnya-persiapan-mental-dalam-menjalani-ibadah-haji/

https://www.cermati.com/artikel/persiapan-mental-sebelum-haji

https://www.halodoc.com/artikel/pentingnya-persiapan-fisik-dan-mental-sebelum-berangkat-haji

Ketika kita takut


RASA TAKUT merupakan hal yang manusiawi. Namun, ketakutan akan memiliki dampak buruk kalau-kalau sudah mengganggu kehidupan sehari-hari. Artinya, kita harus bisa mengendalikan rasa takut.

Memang, rasa takut itu wajar ketika akan menghadapi sesuatu. Baik itu hal baru atau sesuatu yang dianggap menyeramkan. Misal, takut dengan keberadaan hantu atau hal-hal yang sifatnya subjektif.

Rasa takut sendiri punya dua tahapan tersendiri. Dilansir dari Halo Sehat, dua tahap ketakutan tersebut yakni biokimia dan reaksi emosional.

Ketika kita merasa takut, tubuh akan melepaskan banyak sekali hormon stres adrenalin. Akibatnya, fisik akan mengeluarkan keringat dan jantung berdegup kencang.

Seperti misal ketika kita akan mencoba atau melakukan hal baru. Atau hal umum lainnya seperti harus presentasi di muka umum. Hal tersebut akan memicu rasa takut dan gugup. Alhasil kita harus mengendalikan rasa takut tersebut.

Hal-hal seperti itu wajar karena semua orang pasti mengalaminya. Akan tetapi, ketika rasa takut sudah menjadi momok bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari mungkin sudah saatnya untuk ke dokter spesialis, ya!

Kiat-Kiat Mengendalikan Rasa Takut!

Kita pasti pernah berada di posisi ingin mencoba, tetapi takut gagal. Akhirnya malah membuat kita melewatkan kesempatan. Nah, perasaan seperti ini sebenarnya bagus.

Bagus kalau jadi bahan introspeksi diri untuk kemudian mengusahakannya dengan cara menjadi lebih baik. Namun, akan menjadi tidak bagus kalau-kalau malah bikin tidak mau melangkah dan takut mencoba.

Kalau takut mencoba, lantas bagaimana cara mengatasinya, ya? Ini kiat-kiat mengendalikan rasa takut!

Kiat mengendalikan rasa takut

1. Berpikiran Positif

Pola pikir yang positif juga penting untuk mengendalikan rasa takut. Namanya proses akan selalu ada up and down-nya. Tidak ada proses yang mudah.

Begitu pun dalam mencoba hal baru. Awalnya akan ada rasa takut karena kita belum pernah berada di posisi tersebut. Bukankah untuk mengetahuinya kita harus mencoba lebih dulu?

Sebelum itu kita harus punya pikiran yang positif. Akan selalu ada pikiran buruk yang menjatuhkan dan menghambat. Dan itu asalnya dari diri sendiri.

Mulai sekarang coba ubah dari frasa tidak bisa menjadi aku pasti bisa, aku tidak layak menjadi aku berhak dan layak untuk mencoba, takut menghadapi kegagalan menjadi siap menghadapi kegagalan.

Najwa Shihab pernah mengatakan kalau gagal itu penting karena di situ akan memicu keberhasilan. Ingat, ya, ada usaha pasti ada kegagalan.

Kegagalan itu bukan hal yang buruk, kok, kalau kita mau berpikir positif. Sebab, perkembangan akan selalu butuh kegagalan untuk dipelajari, kan?

2. Membayangkan Skenario Terburuk

Yup, ternyata skenario terburuk juga dibutuhkan, lo! Namun, kiat satu ini harus diterapkan dengan amat bijak. Dalam artian, tujuannya harus jelas.

Membayangkan hal buruk di sini bukan berarti harus berpikir negatif, melainkan jadi salah satu pikiran positif. Misalkan, membayangkan hal buruk akan terjadi ketika mencoba suatu hal.

Sebagai contoh, kita ditawari kerja sama. Selain mencoba untuk meyakinkan diri bahwa kita mampu, kita juga membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba nanti terjadi masalah internal antara kedua belah pihak?

Nah, dalam hal ini, kita harus mempersiapkan diri kalau-kalau hal buruk itu terjadi. Sehingga ketika terjadi betulan, kita bisa dengan mudah mengendalikan rasa takut.

Bukan berarti kita berdoa skenario terburuk itu akan terjadi, ya! Kita tidak pernah tahu masa depan akan seperti apa.

Jadi, tujuannya adalah untuk mengantisipasi, bukan untuk menyakiti diri bahkan sampai tidak mau mencoba. Sebab, akan selalu ada pelajaran di balik ketidaksesuaian , kan?

3. Menerima Kenyataan

Kadang kalau hidup mulus-mulus saja, suka merasa curiga tidak sih? Akibat terlalu sering mengecap asam garam kehidupan, tiba-tiba ada rasa manis langsung merasa, “Hm, ada apa ini?”

Tanpa disadari, kalau kita sudah ada di posisi itu, artinya kita sudah bisa menerima kenyataan. Dengan begitu kita pun bisa menghadapi ketakutan.

Sebab, dengan menerima kenyataan, percaya deh, kita akan lebih mudah mengendalikan ketakutan dan kita lebih siap.

Memang, takdir yang terjadi kadang-kadang tidak bisa kita kendalikan. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak bisa melaluinya, ‘kan? Dan untuk melaluinya, ada rasa takut yang harus dikendalikan.

4. Mengidentifikasi Pemicunya

Dari Mental Health Foundation, agar rasa takut dapat dikendalikan, ada baiknya untuk lebih dulu kita ketahui pemicunya. Apa-apa aja yang bikin kita merasa takut?

Kemudian, identifikasi dengan cara menulis catatan harian. Bertujuan untuk mengetahui sesuatu apa yang menjadi pemicu rasa takut kita?

Selain itu dengan menuliskan catatan tersebut, kita bisa merancang target-target yang harus dilakukan kalau-kalau sesuatu yang ditakutkan itu datang lagi.

5. Menghadapi Rasa Takut

Pada akhirnya, kiat paling dekat adalah, ya, dengan menghadapi rasa takut itu sendiri. Untuk mengendalikan sesuatu, bukankah kita harus mengenali bahkan menghadapi sesuatu tersebut?

Intinya adalah kita mesti berdamai dengan ketakutan tersebut. Untuk mengetahui apa kita sudah berhasil mengendalikannya, ya, kita harus mencoba. 

Sebab, tidak mungkin, ‘kan, kita terus-menerus menghindari rasa takut? Kalau begitu, artinya kita dikendalikan oleh rasa takut kita sendiri. Fatalnya, membuat kita jadi tidak berkembang.

Melawan rasa takut
ITULAH kiat-kiat yang bisa dilakukan supaya rasa takut bisa dikendalikan. Selain itu, karena adanya reaksi emosional dari rasa takut, kita bisa belajar untuk mengelola emosi tersebut.

Maksudnya, ketika rasa takut datang, coba untuk tenangkan diri. Yakinkan pada diri kalau kita bisa melaluinya dan layak untuk berada di sana. Atur napas secara perlahan dan temukan ketenangan diri.

Tidak semua hal harus dicoba, kok. Selama itu positif dan sesuai dengan apa yang kita suka, mengapa tidak? Kita tidak pernah tahu, kesempatan mana yang akan mewujudkan impian kita.

Satu hal yang pasti bahwa kita pasti akan menghadapi rintangan. Kita akan terbebas dari rasa takut ketika kita mau melangkah untuk menghadapi rintangan tersebut.

Jadikan rasa takut sebagai pemicu dan ajang persiapan diri. Bersiaplah menjadi diri yang lebih baik dan penuh perkembangan!

Jadi, apakah kamu sudah siap untuk mengendalikan rasa takut dan menjadi si pemberani?

—

Referensi;
https://hellosehat.com/mental/gangguan-kecemasan/cara-menghilangkan-rasa-takut/



Ketidakbahagiaan
BAHAGIA menjadi salah satu impian semua orang. Meskipun, nyatanya kebahagiaan itu sendiri sulit untuk didapatkan. Akan tetapi, bukan berarti kita tidak bisa bahagia.

Hidup itu tidak melulu tentang suka-suka, tetapi ada duka-duka yang mesti dihadapi. Seperti adanya masalah dan beban-beban yang mesti dipikul. Sayangnya memang, semua itu tidak bisa dihindari.

Hal-hal tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Baik faktor eksternal maupun internal. Artinya harus sama-sama diketahui untuk kebahagiaan hidup.

Tanpa disadari, alasan kita tidak bahagia bisa jadi karena diri sendiri. Akibat terlalu sibuk bertanya-tanya tentang ketidakbahagiaan hidup, akhirnya lupa untuk mencari tahu alasan kita tidak bahagia.

Bukan bertujuan untuk menyalahkan diri sendiri. Akan tetapi, ketika dirasa hidup tidak bahagia, bukankah ada baiknya untuk introspeksi diri?

Menemukan Alasan Kita Tidak Bahagia

Untuk menemukan suatu permasalahan, kadang-kadang mesti dimulai dari diri sendiri lebih dulu. Begitu juga ketika sudah lama tidak merasa bahagia. Apa alasannya?

alasan kitaa tidak bahagia

1. Kurangnya Self Love

Kurang mencintai diri sendiri bisa jadi pemicu kita tidak bahagia. Padahal, untuk membahagiakan diri sendiri bukankah harus dimulai dengan cara mencintai diri sendiri?

Kalau kita terus merendahkan diri sendiri, selalu menjustifikasi bahwa kita tidak berguna, merasa minder. Lantas, bukankah itu artinya kita telah membuat diri tidak bahagia?

Jika kita sedang merasakan hal ini, mulailah untuk percaya dengan diri sendiri. Dan jadilah orang bahagia dengan percaya d#ri.

2. Tidak Jujur dengan Diri Sendiri

Pernah membohongi diri sendiri? Bilangnya bahagia, tetapi sedang tidak bahagia. Bilangnya baik-baik saja, tetapi sedang tidak baik-baik saja.

Memangnya kalau kita berbohong seperti itu, kita akan bahagia? Seharusnya, sih, tidak. Daripada bahagia, justru akan makin terasa patah hati dan terbebani.

Mungkin kita punya tujuan baik. Baiklah kalau tujuannya untuk diri sendiri, tetapi kalau untuk orang lain? Ini namanya kita egois.

Sebenarnya, tidak ada masalah untuk pura-pura bahagia di hadapan orang lain. Demi menjaga suasana tetap ceria, sehingga tidak ingin merusak suasana.

Di sisi lain, kita tidak bisa terus-menerus seperti itu. Kadang-kadang kita butuh orang terpercaya untuk sekadar tahu apa yang kita rasakan.

Menyimpan dan mengendapkan beban-beban sendirian itu bukanlah hal baik. Sewaktu-waktu jika sudah menumpuk dalam diri akan menjadi bumerang.

Jujur dengan diri sendiri setidaknya bisa membuat bahagia karena tidak merasa tertekan oleh kebohongan yang dibikin sendiri.

3. Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Ketika melihat orang lain sudah sukses menjadi seperti apa yang mereka impikan. Kemudian kita sibuk membandingkan diri dengan mereka.

Mereka hebat, aku tidak hebat. Mereka bisa, aku tidak bisa. Mereka keren, aku tidak keren. Mereka pintar, aku tidak pintar. Mereka cakep, aku tidak cakep.

Selalu punya pikiran seperti itu sampai waktu kita terbuang sia-sia karena mengomparasikan diri dengan orang lain. Padahal, waktu tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan diri.

Kalau kita berpikir parameter sukses itu seperti mereka. Maka, kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Nyatanya, masing-masing orang punya standar kesuksesan tersendiri.

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa setiap orang punya potensinya masing-masing. Punya porsi lebih dan kurangnya masing-masing. Aku hebat di bidang seni, kamu hebat di bidang bisnis.

Tidak bisa disamaratakan. Segalanya butuh proses dan proses orang beda-beda. Sukses itu bukan tentang siapa paling cepat, melainkan siapa paling konsisten.

Apakah poin ini jadi alasan kita tidak bahagia? Jika iya, fokuslah untuk mengembangkan diri dan mulai membuat makna diri yang berkualitas.

4. Tidak Enakan

Hal paling tidak enak itu ketika kita merasa tidak enakan dengan orang lain. Ketika seharusnya kita ada di situasi tersebut, tetapi situasi itu sudah jadi milik orang lain karena kita mengalah dan tidak enakan.

Ketika kita tidak suka terhadap sesuatu hal, tetapi kita diminta untuk hal tersebut. Namun, kita mengiyakan dan merasa tidak enak untuk menolak.

Siapa pernah seperti itu? Lantas, apakah ada kebahagiaan di sana? Ya, ada, orang lain bahagia, kitanya tidak. Kalau ada yang berkata, “Aku bahagia kalau orang lain bahagia karenaku.”

Serius, apakah dia sedang membohongi diri sendiri? Sejatinya, untuk membahagiakan orang lain, kita harus membahagiakan diri sendiri lebih dulu.

Apa pun, ada baiknya untuk memikirkan diri sendiri lebih dulu. Untuk peduli dengan perasaan orang lain, kita harus pedulikan lebih dulu perasaan yang kita punya.

Bukan untuk menjadi diri yang egois. Akan tetapi, bukankah semua akan lebih baik kalau kita dan orang yang kita pedulikan sama-sama merasa bahagia?

5. Kurang Bersyukur

Tidak ada salahnya untuk mengeluh kok, itu manusiawi. Akan tetapi, kalau kita terus mengeluh tanpa menemukan kebaikan, apa gunanya?

Tahu tidak, hal sekecil apa pun di dunia akan selalu memiliki kebaikan. Bukankah Tuhan menciptakan sesuatu di dunia ini pasti punya tujuan baik?

Begitu juga dengan diri kita sendiri, ‘kan? Kita punya kebaikan yang tidak disadari. Apa pun yang kita miliki dan dapatkan saat ini selama itu baik, mengapa tidak berusaha disyukuri?

Sebab terlalu sibuk merendahkan diri sendiri, akibatnya jadi kurang bersyukur. Semua orang itu tidak sempurna, masing-masing punya keunikan tersendiri.

Yang terpenting adalah tentang bagaimana kita mengolah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Menciptakan pola pikir yang positif.

Berpikir bahwa semua yang ada di dunia ini, sekecil apa pun selalu punya manfaat dan hal baik. Dengan begitu kita akan mudah untuk bersyukur.

Kadang-kadang kita kurang mensyukuri diri sendiri, sampai lupa mengeluh jadi alasan kita tidak bahagia.

bahagia itu sederhana
ITU dia alasan-alasan yang bisa jadi bikin kita tidak bahagia. Kadang-kadang kita terlalu jauh mencari kebahagiaan, sehingga yang didapat hanya rasa lelah.

Sementara, kita lupa untuk memperhatikan hal yang dekat dengan kita, misalnya diri sendiri. Bisa jadi hal terdekat tersebut jadi alasan bahagia.

Bahagia itu sesederhana mencintai diri sendiri, jujur dengan diri sendiri, berani bilang tidak, tidak membandingkan diri, dan bersyukur akan hal kecil.

Apa pun alasan kita tidak bahagia, jangan lupa untuk selalu mendekatkan diri dengan Tuhan. Bagaimanapun kita harus selalu menyertakan Tuhan kita dalam hidup.

Kalau ada yang berkata alasan kita tidak bahagia itu karena kurang dekat dengan Tuhan, ya, cukup dengarkan saja. Kadang ucapan itu memang menyakitkan, tetapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.

Kalau kita menemukan teman yang sekiranya sedang tidak merasa bahagia. Jangan judge dia tidak beriman. Cukup bantu dia untuk menemukan alasannya dengan baik-baik dan mengajaknya beribadah tanpa menghakimi

Jadi, alasan kita tidak bahagia ini sudah saatnya diubah menjadi alasan kita bahagia.



Bersyukur di tengah-tengah tekanan
JANGAN mengharapkan kebahagiaan kalau kita saja masih sukar bersyukur. Manusia memang tidak sempurna. Namun, bukankah manusia diberi ruang untuk berusaha bersyukur?

Iya, manusia memang punya batasan emosi tersendiri. Akan tetapi, kita pun diberi kekuasaan untuk mengendalikan emosi. Kesabaran itu ada batasnya, aku percaya itu. Mengeluh juga hal manusiawi. 

Kalau kesabaran ada batasnya, mengeluh juga ada batasnya, ‘kan?

Apa Bisa, Bersyukur di Tengah-Tengah Tekanan?

Pernahkah kamu berada di situasi yang sangat sulit? Ketika kamu harus diimpit oleh keadaan dari berbagai sudut. Kepalamu mau pecah, dadamu sesak, tenagamu terkuras. Kala itu, tidak ada yang bisa kamu lakukan selain ingin teriak dan menangis.

Syukur-syukur masih bisa berteriak dan menangis. Bagaimana kalau kamu memaksa dirimu untuk tidak melakukannya? Berpikir bahwa kamu adalah sosok kuat. Baik-baik saja, padahal dunia sedang runtuh-runtuhnya. Sejatinya, kamu manusia yang punya masa lemah.

Orang suka lupa kalau dirinya adalah manusia. Namun, orang akan sepenuhnya sadar dan merasakan ketika masalah datang. Nahas, tidak semua orang memahami satu konsep kehidupan: manusia butuh masalah. Meski, manusia itu sendiri tidak menyukai masalah. Akan tetapi, kehidupan menyimpan banyak stok masalah.

Salah satu esensi bahwa kita membutuhkan masalah adalah bersyukur. Bersyukur itu bukan hanya saat kita dalam situasi yang baik-baik saja. Ada satu momen kalau kita berada di jalan buntu, kadang bersyukur adalah solusinya. Memang, tidak semudah itu. Butuh kebesaran hati dan penyerahan diri terhadap masalah.

Bersyukur, Kesederhanaan Menyenangkan yang Tidak Kita Sadari

bahagia itu sederhana
Saat dalam situasi tertekan, banyak masalah. Wajar kalau emosi yang muncul dalam diri kita adalah kemarahan dan kekecewaan. Ketika hampir seluruh diri kita diserap oleh masalah. Tidak jarang, mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat produktivitas tidak berkembang. Di keadaan tersebut, manusia mana yang akan baik-baik saja?

Aku pernah ada dalam masalah yang membuatku merasa dunia ini terlalu kejam. Seperti, aku ingin segera keluar, tetapi akal sehatku meminta untuk bertahan. Aku betul-betul mempertimbangkan risiko dan konsekuensi yang akan kuhadapi jika nekat keluar. Sementara, aku hanya perlu bersabar untuk bertahan sampai waktu itu tiba. Kemudian, aku akan keluar di waktu yang tepat.

Aku memikirkan cara agar kuat bertahan dengan segala tekanan yang ada. Kemudian, aku coba menelisik hal-hal baik di sini yang aku dapatkan secara nyata. Jika aku bertahan, produktivitasku berjalan, pemasukan lancar, fasilitas memadai, dan orang-orang di dalamnya pun orang-orang baik yang jarang ditemukan di luar sana. Lantas, mengapa aku harus tidak bersyukur?

Jauh di lubuk hati, tidak bisa dibohongi ada perasaan tidak enak yang membuatku tidak tahan. Namun, aku sadar itu adalah bagian dari egoku. Kemudian aku berpikir bahwa hidup ini tidak selamanya tentang senang-senang. Kadang, aku perlu untuk merasa tidak aman. Mungkin jika masa tidak aman—masalah itu tidak ada, aku akan jadi orang yang tidak tahu caranya bersyukur.

Siapa Bilang Kita Tidak Boleh Mengeluh?

Ada waktunya mengeluh, kok. Kemudian memulihkan keluhan paling efektif, ya, dengan mensyukuri apa-apa yang kita keluhkan. Misalnya, aku mengeluh karena mataku membuatku susah untuk eksplor ke mana-mana. Namun, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun belajar mensyukuri dan menggali hal baik di balik kekurangan mataku. Kalau mataku normal, mungkin aku akan menghabiskan uang untuk jajan ke depan SD dan PKOR dekat rumah.

Artinya kita perlu mengatur waktu mengeluh agar sesuai porsi. Mengeluh sebagai bentuk bahwa kita juga manusia yang tidak sekuat itu. Perlu disadari pula, kalau mengeluh terus-menerus juga akan berdampak tidak baik buat diri dan kehidupan kita. Selalu mengeluh tidak akan mengubah keadaan, mengeluh merupakan reaksi emosi kita terhadap situasi/keadaan.

Mengeluh bisa jadi salah satu ajang menyadari bahwa kita memang punya masalah. Mengeluh membantu kita menerima bahwa kita sedang dalam masalah. Namun, jika masalah melulu dikeluhkan akan terasa berat dan menambah beban. Sebab, ketika sibuk mengeluh, kadang kita lupa untuk mencari jalan keluar. 

Rasa keluh perlu dinetralisir dengan mencoba untuk bersyukur. Bersyukur jadi hal paling berat yang dilakukan saat dalam masalah. Akan tetapi, ketika kita sudah menerima rasa syukur tersebut, justru kita akan lebih ringan dalam menjalani kehidupan. Ketika bersyukur membuka mata kita untuk mencari hal baik dalam masalah. Bersyukur membantu kita menemukan pelajaran berharga dalam masalah.

Bahkan bersyukur membuat pikiran kita jernih. Sehingga kita dapat dengan mudah menemukan jalan keluar. Memang, tidak semua masalah memiliki jalan keluar. Selama kita masih menggenggam rasa syukur, percaya bahwa akan selalu ada hal baik yang menanti kita setelah serbuan masalah. Kamu pasti pernah mendengar pepatah akan selalu ada pelangi setelah hujan, ‘kan?

Bersyukur itu Teman Seperjuangan dalam Menghadapi Masalah

Belajar untuk bersyukur
Ketika tidak ada satu orang pun yang mengerti dan memahami perasaan kita—bahkan keluarga. Ketika kita terlalu sering dikecewakan karena ekspektasi. Ketika kehidupan bahkan seakan-akan tidak berpihak pada kita. Jangan biarkan diri kita ikut menjadi musuh bagi diri kita sendiri. Ada penggalan lagu milik Nadin Amizah berjudul Taruh: …tapi kita punya kita, yang akan melawan dunia.

Bukankah kita punya diri kita untuk menghadapi dunia? Kadang-kadang kita terlalu sibuk menyalahkan keadaan. Mengapa tidak ada satu pun orang yang mengerti? Mengapa semuanya seakan-akan menyudutkan? Mungkin itu karena kita terlalu berharap orang lain akan menjadi sandaran kita. Makin berharap kepada manusia, tidak jarang kita akan mudah kecewa.

Jangan abaikan diri kita sendiri ketika dunia mengibarkan bendera perang. Tatkala kehidupan menghunuskan pedang dari berbagai arah. Kita punya perisai untuk menghadapi dunia: bersyukur. Bersyukur bisa menjadi teman terbaik dalam melalui berbagai masalah. Meski berat, tetapi perlahan kita akan bertumbuh dengan bijak.

Esensi rasa syukur bisa jadi membuat kita menyadari bahwa kehidupan itu amat baik. Bisa jadi dunia sedang tidak menyerang kita. Bagaimana kalau ternyata kehidupan sedang berupaya menguatkan kita? Kuat bukan berarti tidak lemah sama sekali—ingat, kita adalah manusia—melainkan kuat itu ketika bertahan dalam suatu tekanan, meski sedang lemah-lemahnya.

Jadi, apakah kamu sudah bersyukur hari ini? Hal apa yang membuatmu bersyukur? 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Belajar Mengakui Kesalahan Sendiri
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Alasan Kita Merasa Kecewa
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Persiapan Mental Sebelum Pergi Haji
  • Kiat Menjadi Pribadi yang Berempati
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template