Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
Bloger Jihan Mawaddah
SELAMA ini kita hanya menilai cahaya itu sesuatu yang terang. Namun, apakah kita ernah menyadari? Betapa cahaya terang pun pernah redup. Bahwa sesuatu yang terang juga berasal dari kegelapan. 

Aku memaknai proses perjalanan hidup seseorang seperti cahaya redup, mati. Kemudian, ketika cahaya itu berkilau, aku memaknai seperti hasil dari proses yang telah dilalui seseorang.

Kadang, kita terlalu fokus dengan terangnya cahaya. Tanpa menelisik, betapa ada proses—jerih payah yang akhirnya membuat cahaya menjadi terang benderang. Bukankah proses punya peran penting?

Seperti yang dialami oleh Jihan Mawaddah. Bloger asal Malang yang kini namanya melelang buana karena berhasil memenangkan pelbagai kompetisi blog. Aku adalah salah satu orang yang mengaguminya.

Jihan Mawaddah, perempuan asal Malang ini lahir pada tahun 1990. Dia adalah lulussn dari salah satu universitas di Malang. Dengan studiS1 Biologi dan D3 Studi Islam dan Bahasa Arab.

Perempuan yang hobi membaca ini, sekarang aktif blogging, mengembangkan komunitas literasi, membantu komunitas dakwah, dan merintis layanan psikologi dan edukasi.

Website/blog milik Jihan Mawaddah 
  • jeyjingga.com
  • pilihbuku.com
  • jendelacaca.my.id
  • situsok.com
  • kapancurhat.com
  • jinggatech.com
  • kelasbiologi.net
  • caravanjingga.com
  • sevenbrothers.id

Lantas, bagaimana perjalanan hidup dan proses menulisnya sebelum menjadi kilau cahaya di dunia bernama blog?

Perjalanan Jihan Mawaddah, Seorang Bloger yang Optimis

Perjalanan hidup Jihan
Anak-anak berseragam merah putih itu tampak antusias saat ditanya tentang impian oleh guru. Ada yang ingin jadi polisi, dokter, pilot, guru, koki, bahkan astronot. Namun, Jihan—anak perempuan manis itu dengan lantang berseru, “Ingin jadi penulis!”

Seperti lembaran kertas, anak-anak SD itu tumbuh dan berkembang. Membuka lembaran baru untuk menjemput impian. Setiap orang memiliki jalan sendiri untuk menjadi seperti yang diimpikan. Begitu pula Jihan, sampai remaja pun kegemarannya terhadap menulis tidak pernah usai. Justru, Jihan mulai menemukan tempat menulis yang siapa sangka akan mewujudkan mimpinya di masa depan?

Tahun 2003, Jihan sudah mengenakan seragam putih biru. Saat itu pelajaran komputer sedang berlangsung. Jihan sibuk berkutat pada layar komputer yang menampilkan WordPress—salah satu platform blog. Dari sanalah, Jihan mengenal dunia blog.

Sejak saat itu, Jihan mulai nge-blog gratisan di Wordpress. Dia mengisi blog hanya untuk sekadar curhat. Sehingga, blognya tersebut tidak disebarluaskan.

Hanya saja, sejak memasuki jenjang SMA dan masa perkuliahan, Jihan tidak fokus menulis. Dia memanfaatkan masa mudanya dengan mengeksplorasi diri. Mulai jadi anak band, gamers, bergabung BDI. Saat kuliah, waktunya disita untuk proyek membuat 7 keturunan lalat.

“Pas kuliah juga hiatus karena sibuk niupin lalat,” ungkapnya jenaka saat hadir sebagai pemateri kelas di OOOP Blogger Squad.

Mulai Serius Nge-Blog dan Alasan di Baliknya

Mulai ngeblog
Bakat alami memang tidak pernah bisa berbohong. Selama apa pun bakal itu dikesampingkan, suatu hari ia akan mencuat juga. Setelah puas dengan masa eksplorasi diri, pada akhirnya Jihan memutuskan untuk kembali pada rutinitasnya dulu, menulis.

Tahun 2013, Jihan telah menemukan pasangan hidupnya. Sebagai anak muda yang sebelumnya aktif dalam pelbagai kegiatan. Dia mulai memutuskan untuk mengembalikan bakat alaminya. 

Jihan mulai menulis di media-media massa seperti IDN Times dan Kompasiana. Bahkan, sempat pernah mengikuti workshop IDN Times di Surabaya. Akan tetapi, apakah semua itu berjalan mulus?

Sebuah pertanyaan terbesit dalam benak Jihan, “Kok enak, ya, dia dapat duit banyak dari sponsor? Aku nulis empot-empotan, bahkan kadang juga ditolak, pending-nya lama, dapatnya (fee) dikit. Gimana, ya, caranya bisa bikin web kayak gitu?”

Ada salah satu momen yang membuat Jihan merasa kecewa karena tulisannya ditolak oleh media lokal. Kemudian bertekad untuk membuktikan bahwa tanpa media tersebut, tulisannya dapat mengudara dan dikenal banyak orang. 

Sambil terkekeh Jihan menambahkan, “Momen setelah punya anak di tahun 2019 kemarin. Aku merasa sendirian di rumah, sepi. Merasa mellow engak ada yang mau bantuin—padahal, ya, enggak gitu.”

Mulai dari pertanyaan dalam diri, perasaan ingin membuktikan, ditambah merasa ‘sepi’. Akhirnya, dibantu dengan modal dari support system—sang suami—Jihan membeli domain dan hosting. Ketika itulah lahir blog bertajuk jeyjingga.com. 

Momen Berkesan Jihan Selama Proses Nge-Blog

Momen Berkesan
Kecintaan Jihan terhadap menulis berhasil mengantarkannya menjadi seorang bloger. Namun, tentu bukan hal mudah baginya untuk melalui tantangan. Kita tidak boleh melupakan bahwa setiap orang memiliki proses yang tidak mudah. Proses adalah peran penting dalam perjalanan hidup seseorang. Dan, tantangan pun dimulai.

“Rentang 2018—2020 itu enggak ada duit sama sekali. Jadi, sponsor murni dari suami buat bayar domain dan hosting,” ujarnya masih dalam kelas ODOP Blogger Squad.

Hal itu tidak membuat Jihan menyerah dan ragu. Perempuan asal Malang itu memiliki tekad kuat untuk meraih impian. Dengan kemauan belajar tinggi dan usaha keras sampai berduit. Jihan mulai mengikuti berbagai lomba dan mengikuti komunitas blogger. Di sana, Jihan mengenal banyak bloger. Dia belajar memahami ritme dan idealnya menjadi bloger. 

Semenjak bergabung di Komunitas ODOP (One Day One Post), selalu ada yang kurang jika tidak menulis satu hari pun. Atas konsistensi tersebut, sampai saat ini Jihan berhasil menerbitkan 1200-an artikel di blog jeyjingga.com. begitu giat dan tekun mengikuti berbagai kelas blog—gratisan hingga berbayar.

“Hampir setiap lomba kuikuti karena enggak tahu mana yang jadi rezeki, ‘kan, ya? Apa lagi waktu itu pandemi. Jadi hampir enggak ada kegiatan offline.”

Dengan pola pikir tersebut, Jihan tidak pernah berhenti mencoba. Tidak mudah goyah meski mengalami kegagalan berkali-kali. Bloger asal Malang ini tidak pernah menghitung dan mengingat kegagalan yang sudah dialami. Jihan menyebutkan, “Yang jelas banyak (kegagalan), mungkin 50:50 sama kemenangan yang udah pernah diraih.”

Bersabarlah bagi pemimpi yang masih berproses. Akan ada masanya, kesabaran itu berubah menjadi kebahagiaan. Jihan telah membuktikan bahwa proses tidak pernah berbohong. Atas usaha dan konsistensinya selama beberapa tahun, Jihan berhasil membuka gerbang tahun keemasan. 

Pada 2021—2022, hampir semua kompetisi blog di era itu tertera nama Jihan Mawaddah sebagai juara. Perempuan berprestasi ini mengakui tahun itu merupakan masa keemasan dan berlimpah nikmat. Hebatnya, hal itu tidak membuatnya tinggi hati. Jihan tetap produktif dan aktif dalam kegiatan sosial.

Salah saatu momen yang membuat Jihan gemetar adalah ketika dia berhasil mendapatkan motor. Kemudian, dalam waktu dua tahun nge-blog mampu meraih 100 juta pertama dari website. Baca kisah lengkapnya di Raih 100 Juta Pertama, Penghasilan dari Website dalam 2 Tahun. Why Not?

Sampai saat ini Jihan telah meraih prestasi memenangkan berbagai kompetisi sebanyak 72 kali. Berikut di antaranya:
  • Juara 1 Lomba Blog Perubahan Iklim 2020 Tema #AirUntukKehidupan yang diadakan oleh KBR Indonesia
  • Juara 3 Lets Read Blog Competition II 2020 yang diadakan oleh Lets Read
  • Juara 2 Lomba Blog Masterweb Network 2020
  • Juara Favorit 1 Lomba SEO Seva Tempat Mobil Online 2020
  • Juara Favorit Lomba Blog SADARI Kanker Payudara Adi Husada Cancer Center 2021
  • Juara 2 Lomba Blog Meluaskan Manfaat Bersama LMI dan Forum Lingkar Pena 2023
  • Juara 3 Lomba Blog Pekan Imunisasi Dunia 2023 yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  • Juara Favorit Lomba Blog Miyako dan Blogger Perempuan 2024

Ketika Datang Badai dalam Kehidupan Jihan Mawaddah

Ketika masalah datang
Hampir semua orang memiliki titik terendah dalam hidupnya. Di balik perjalanan nge-blog, Jihan menyimpan cerita titik terendah dalam hidupnya. “Ada pasti. titik terendah itu pas aku sakit dulu, sekitar tahun 2014—2015,” ungkapnya sambil mengembuskan napas. 

Pada masa-masa tersebut, Jihan jatuh sakit. Untuk pergi ke kamar mandi pun, dia harus menggunakan kursi roda. Hal itu membuatnya merasa mudah sensi. Mangaku merasa jadi orang yang tidak berguna dan tidak bermanfaat. 

Meskipun begitu, Jihan tidak pernah menyalahkan keadaan. Justru dia berjanji kepada Allah Ta’ala, jika sudah sembuh nanti dia akan produktif dan akan bermanfaat untuk banyak orang. Tuhan tidak pernah tidur, buktinya doa Jihan didengar dan diamini.

MENGINJAK dewasa muda. Rasa-rasanya tidak afdol, ya, kalau tidak mengalami yang namanya quarter life crisis? QLC sudah seperti gerbang besar yang mesti didobrak dengan effort besar untuk bisa menjadi dewasa seutuhnya. Baik secara usia maupun pemikiran. Nyatanya, banyak orang tua yang masih belum dewasa secara berpikir. Banyak cara untuk menjadi dewasa, salah satunya dengan menghadapi quarter life crisis.

Di usia mendekati 25 tahun ini, aku mulai merasakan kekhawatiran tentang masa depan. Masalah karier dan juga persoalan asmara. Kadang-kadang meragukan diri sendiri, apa impian bisa tercapai? Impian itu seperti langit yang tinggi, hanya bisa dilihat dari bawah. Oleh karenanya, aku tidak berani menggantungkan mimpi setinggi langit. Aku hanya bisa menggenggamnya sekuat tenaga. Aku cuma modal percaya diri dan konsisten. 

Menjadi Dewasa: Menghadapi Quarter Life Crisis 

Kehidupan persimpangan
Beberapa waktu lalu aku membaca buku berjudul Quarter Life-Crisis yang ditulis oleh seorang psikologis klinis, Yulius Steven. Ketertarikanku membaca buku tersebut didasari karena sering kali menerima curhatan dari teman sekitar tentang kegalauan mereka di usia 20-an ke atas, baik masalah karier atau percintaan. Dari situ aku merasa bahwa usia-usia quarter memang jadi salah satu fase yang berat karena musuh terbesar bukan hanya dari faktor eksternal. Diri sendiri pun punya andil menjelma jadi musuh.

Sebenarnya, masing-masing orang pasti punya impian. Namun, tidak semua orang begitu percaya dengan realitas impian. Impian itu rasa-rasanya seperti kisah inspiratif yang hanya dimiliki orang lain atau bak motivasi di film-film. Katanya, impian itu butuh modal, butuh uang, butuh orang dalam. Akhirnya, pesimis karena kurangnya modal. Akhirnya, menjalani hari dengan quarter life crisis.

Bermimpi di era sekarang memang harus diakui, sulit. Mau kerja di perusahaan terhambat orang dalam. Mau buka usaha, tetapi tidak ada modal. Semua mimpi ada hambatannya. Namun, pada akhirnya pola pikir kita juga yang akan menentukan usaha untuk meraih impian tersebut. Aku yakin, bahwa siapa pun berhak meraih impiannya, ya, hambatan tetaplah hambatan. Tinggal gimana kita bisa melaluinya aja, ‘kan?

Kalau pola pikir kita sudah menyerah dengan hambatan yang ada… ya, susah. Ada orang dalam bukan berarti kita tidak bisa kerja di perusahaan, ‘kan? Tidak punya banyak uang bukan Berarti kita tidak bisa memulai usaha, ‘kan? Ada hambatan bukan berarti tidak bisa dilalui, ‘kan? Pun, kita juga tidak bisa berharap orang lain akan membantu kita. Berharap pada manusia, berpeluang mengecewakan.

Aku pun begitu, berusaha percaya bahwa aku bisa meraih impianku. Dengan kemampuan yang kumiliki, setidaknya tahu arah dan jalan mana saja yang mesti ditempuh. Yang pasti, sebisa mungkin menghindari rasa minder dan suka membandingkan diri dengan orang lain. BIG NO. Sama saja memasukkan diri ke dalam jurang. Insecure yang berlebihan itu cikal bakal kesulitan meraih impian.

Hampir semua orang mengalami quarter life crisis, kok, bukan kamu saja. Semua orang mengalami kegalauan di usia dewasa muda.  mau jadi apa? Mau punya pasangan yang seperti apa? Mau nikah kapan? Mau lanjut kuliah atau kerja? Mau kerja apa? Mau gaji tetap atau kerja sesuai passion? Dan pertanyaan lainnya. Usia dewasa muda seperti kita berdiri di persimpangan jalan, mau jalan yang mana? Dan, setiap jalan harus membuat keputusan besar. Wajar apabila kita merasa terimpit dengan berbagai pilihan sulit. Belum lagi menghadapi tuntutan orang sekitar.

Dalam buku Quarter Life-Crisis, Yulius Steven membeberkan data. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dr. Oliver Robinson dari Universitas Greenwich di London bahwa 86% dari 1.100 dewasa muda usia 20-30 tahun mengalami Quarter Life-Crisis.

Masalah yang Kerap Terjadi: Work Life and Love Life

Ada pembahasan yang menarik untuk dipaparkan kembali di sini. Masih dalam buku sama yang ditulis oleh Yulius Steven. Sebelumnya sudah sempat kusinggung. Terkait masalah yang sering terjadi pada fase QLC ini, work life dan love life. Mari kita bahas dan aku memasukkan sudut pandangku juga, ya. 

Work Life

kehidupan pekerjaan
Kalau sudah lulus kuliah, biasanya akan dihadapkan dengan dua pilihan. Antara mau gap year atau mau langsung cari kerja? Dan, kalau memilih kerja, mau kerja dengan orang lain atau buka usaha? Mau pilih gaji bagus atau sesuai passion? Untung, kalau-kalau passion kamu sesuai dengan gaji yang oke. Kamu harus mulai menentukan karier kamu seperti apa dan pikirkan gimana cara mendapatkannya?

Tidak ada yang salah, kok, kalau kamu memilih untuk kerja dengan gaji besar. Ya, realistis saja tidak, sih? Hari gini, segalanya butuh uang. Dan, tidak ada salahnya juga untuk memilih menekuni passion, memilih menjadi idealis dan biasanya akan mulai jadi freelancer. Semua itu hak kamu, asalkan kamu memahami risiko dan konsekuensinya. 

Kalau kerja freelance, kita sama-sama tahu kalau gajinya tidak tetap, nominalnya pun kadang tidak begitu besar. Namun, selama kerja dilakukan dengan hati, giat mengembangkan passion dan meningkatkan kualitas diri, tidak menutup kemungkinan punya potensi karier yang lebih baik lagi, ‘kan?

Lah, kalau aku kerja karena memang tuntutan beban. Harus bayar tagihan ini-itu. Suka tidak suka, ya, harus kerja banting tulang. Yang penting gaji tetap dan bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Dilema. Kadang kita juga bekerja dengan terpaksa karena banyaknya tekanan sana-sini. Tidak ada pikiran untuk mengembangkan passion karena ada kebutuhan hidup diri dan orang lain yang mesti dipenuhi—kadang malah melupakan kebutuhan diri sendiri. Akhirnya, sibuk kerja sampai tidak ada waktu untuk keluarga dan lupa dengan kondisi kesehatan.

Kerja sesuai passion, uangnya tidak tetap dan butuh waktu untuk punya pendapatan yang banyak. Kerja dengan orang lain, suka tidak suka, mau tidak mau harus dijalani. Tergantung dan balik lagi ke diri kamu sendiri. Kalau kata Yulius Steven, untuk apa kerja kalau tidak bahagia, stres, dan tidak punya waktu untuk keluarga?

Pastinya kita harus punya work life balance. Tidak bisa ditepis, mau kerja sesuai passion ataupun tidak, sama-sama ada masalahnya. Supaya karier lebih seimbang, jalani dengan enjoy. Kalau kita berusaha untuk santai, kita akan lebih mudah menikmati hidup dan bahagia.

Bahagia itu sederhana, kadang yang bikin kita juga susah bahagia, ya, karena standar bahagia yang terlalu tinggi.”

Love Life

Kehidupan percintaan
Is she/he the one?

Salah satu impian di usia 20-an adalah menikah. Menikah menjadi salah satu fase kehidupan yang hampir semua orang inginkan. Namun, tidak jarang, menikah merupakan salah satu kekhawatiran tersendiri karena membutuhkan pikiran dan keputusan besar. Sebab, banyak sekali berbagai rintangan yang harus dihadapi.

Pernikahan, momen sakral yang harus terjadi sekali seumur hidup. Sehingga banyak yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan. Salah satu yang paling penting adalah calon pasangan. Tentunya, kita harus memilih calon pasangan yang cocok dan sesuai dengan diri kita dan kita juga bisa menyesuaikan diri dengan calon pasangan.

Punya tipe ideal itu wajar, kok, tetapi kita harus memahami kalau tipe ideal tidak bisa dijadikan acuan dalam memilih pasangan. Apakah bebet-bobot idealnya calon pasangan kita bisa memberikan kenyamanan saat berkomunikasi? Apalah bebet-bobot idealnya calon pasangan kita bisa menjadi support system terbaik dalam setiap langkah yang kita ambil?

Fisik tidak melulu bisa dijadikan acuan. Semua orang pasti menginginkan punya calon pasangan yang baik, tetapi apakah dia bisa bertanggung jawab dan membersamai kita dalam suka dan duka? Kecocokan ini bukan diukur dari tipe ideal, melainkan punya cara pikir, pandangan, dan nilai kehidupan yang sama. Kuncinya adalah komunikasi.

Satu hal yang harus kita sadari bahwa, pernikahan itu memang membahagiakan, tetapi pernikahan juga memiliki banyak sekali rintangan yang harus dihadapi oleh pasangan. Artinya, kita harus memilih pasangan yang benar-benar bisa diajak menghadapi segala rintangan yang terjadi di depan mata.

QUARTER LIFE CRISIS merupakan fase yang tidak mudah untuk dilalui. Namun, layaknya jalan, fase QLC tetap harus kita tempuh untuk bisa sampai tujuan. Selama kita punya tujuan, setidaknya kita mengetahui jalan mana yang ditempuh. Kalau masih belum punya tujuan, duduk dulu di pinggir jalan sebelum mulai melangkah.

Hidup memang banyak pilihan, persimpangan jalan seakan-akan menghantui, sementara orang-orang sekitar sibuk mendorong kita untuk maju dan melangkah menuju salah satu jalan. Semua orang mengalami quarter life crisis dan kamu bisa melaluinya.



Ketika kita tumbuh dewasa
BERUNTUNG karena dulu aku bukanlah anak kecil yang berharap cepat dewasa. Masalah dalam hidup telah menyita waktuku. Sehingga tidak punya kesempatan untuk sekadar berharap.

Saat beranjak dewasa, ternyata aku tidak begitu terkejut. Tidak beda jauh dengan pengalaman sebelumnya. Jadi, aku hanya menjalani seadanya. Kemudian masalah itu menyisakan pelajaran hidup paling berharga.

Pertanda Seseorang Sudah Dewasa, Bukan Soal Usia

Realitasnya, kedewasaan seseorang tidak diukur dari sejauh mana usianya melaju. Masih banyak orang tua yang masih melambungkan ego. Kedewasaan terlalu sempit jika mengacu pada usia saja.

Secara teori, perkembangan otak manusia akan lebih siap ketika sudah memasuki usia 20-an. Sayangnya, hal itu tidak dimanfaatkan oleh kebanyakan orang yang seharusnya dewasa.

Melansir pijarpsikologi.org, dewasa adalah tentang memaknai kembali semua pengalaman hidup, berfokus pada pengembangan diri di saat ini, dan bersiap menghadapi jatuh bangun yang akan terjadi di masa mendatang.

Pertanda seseorang sudah dewasa tidak bisa dinilai dari pencapaian material. Jauh dari itu, proses pendewasaan diri adalah tentang cara kita memandang kehidupan.

Dewasa tidak lepas dari pola pikir, emosional, dan sikap. Salah satu tanda proses pendewasaan diri seperti quarter life crisis. Fase ini mengharuskan kita mengambil keputusan bersama risiko dan konsekuensinya.

Menjadi dewasa itu bukan perjalanan yang mudah. Perjalanan ini tidak bisa dihindari. Sebab, semua orang akan mencapai titik ini. Tinggal bagaimana kita menjalaninya?

Setelah itu kita akan mengetahui. Apakah kita sudah dewasa atau belum? Berikut ini pertanda seseorang sudah dewasa. 

Pertanda seseorang sudah dewasa

1. Punya Sikap Menghargai 

Salah satu pembelajaran dari proses pendewasaan diri adalah menghargai. Dewasa bukan lagi tentang mengenyangkan ego. Namun, kita punya tugas untuk mengendalikan ego agar tidak kelaparan dan tidak kekenyangan.

Kedewasaan seseorang ditandai dari cara dia menghargai waktu—dirinya bahkan orang lain. Sesederhana tidak datang terlambat dari waktu yang sudah ditentukan. Selain menunjukkan kredibilitas, juga menghargai waktu orang lain.

Tidak hanya itu, seseorang yang sudah dewasa akan lebih mudah menghargai perbedaan. Memiliki rasa toleransi yang baik. Tidak merasa dirinya paling benar.

Sebab, dia memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda. Tidak selamanya perbedaan itu salah. Masing-masing orang menilai suatu pandangan dari cara berpikir. 

Menghargai diri sendiri juga jadi salah satu fokus utama. Betapa diri sendiri memiliki potensi dan value yang harus dihargai. Maka, penting bagi kita untuk menikmati proses pendewasaan diri.

2. Lebih Banyak Mendengarkan

Pertanda seseorang sudah dewasa dapat dilihat dari sikapnya. Biasanya dia adalah sosok yang lebih sering mendengarkan daripada bercerita. Artinya, dia telah menekan ego untuk orang lain.

Tidak bisa dibohongi terkadang ada perasaan ingin didengar. Namun, kita mesti menyadari bahwa tidak hanya kita yang terus-menerus didengar.

Dengan menjadi pendengar baik, orang yang sudah dewasa berpikir mendapatkan pelajaran berharga dari cerita orang lain. Kedewasaan seseorang ditandai dengan kesadaran pentingnya pelajaran hidup.

Pelajaran hidup tidak hanya berasal dari kehidupan pribadi. Kita harus tahu bahwa setiap orang memiliki permasalahan berbeda. Sehingga kita bisa memandang kehidupan lebih luas lagi.

3. Memiliki Pola Pikir Positif 

Selalu berpikir positif dalam kondisi tidak baik-baik saja memang sulit. Kadang ingin menyalahkan keadaan dan orang lain. Namun, pikiran positif akan membantu kita lebih damai dalam menjalani hidup.

Pertanda seseorang sudah dewasa salah satunya adalah ketika dia mampu menemukan sisi positif dari hal negatif. Misal, saat masalah datang, dia akan mencoba bersyukur. Sebab, masalah itu datang sebagai bentuk pembelajaran diri.

Membandingkan diri dengan orang lain adalah sikap yang dihindari oleh orang dewasa. Sebab, dia memahami bahwa setiap orang memiliki waktu keberhasilan sendiri.

Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu dengan mengadu nasib. Baginya, ada yang lebih penting dari itu, yaitu mencapai impian.

4. Fokus Mengembangkan Diri 

Daripada sibuk membandingkan diri, orang yang sudah dewasa lebih memilih fokus terhadap dirinya sendiri. Bukan untuk menjadi egois melainkan fokus untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Daripada membuang-buang waktu merasa tertinggal karena orang lain jauh lebih sukses. Orang yang sudah dewasa lebih memilih menikmati proses untuk mencapai impiannya. Banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan diri.

Pertanda seseorang sudah dewasa adalah ketika dia menyadari punya potensi. Kemudian dari potensi itu akan dia kembangkan dengan kegiatan produktif. Dengan begitu, tidak ada waktu baginya untuk merasa insecure.

5. Mampu Mengelola Emosi

Salah satu aspek pendewasaan seseorang dapat dinilai dari caranya mengelola emosi. Dia tidak akan membiarkan dirinya dikuasai rasa marah. Sebab, itu dapat membuatnya menyesal karena di luar kendali.

Berempati merupakan salah satu pertanda seseorang sudah dewasa. Dia mengesampingkan ego untuk menerima emosi orang lain. Salah satu contohnya seperti menjadi pendengar yang baik. 

Dengan berempati kita jadi lebih menghargai perasaan orang lain. Dengan mengelola emosi akan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Tentunya kita akan merasa risi dengan orang yang mudah marah.

6. Berkomitmen dan Bertanggung Jawab

Makin dewasa kita dituntut untuk punya komitmen dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita pilih. Di sinilah letak kedewasaan kita diuji. Apakah kita mampu berkomitmen dan bertanggung jawab? 

Pertanda seseorang sudah dewasa ditandai dengan keseriusan dia dalam suatu hubungan. Tentunya makin bertambahnya usia kita akan makin realistis dalam hal asmara. Hubungan asmara di usia 20-an akan berorientasi pada komitmen yang lebih serius.

Tidak hanya itu, komitmen juga berkaitan dengan keputusan yang kita ambil. Misal ketika kita diberi amanah untuk mengemban tugas. Orang yang sudah dewasa akan berani dalam mempertanggungjawabkan komitmennya. Artinya tidak lari dari tugas meskipun ada masalah.

Kehidupan adalah Esensi dari Kedewasaan Seseorang

Hidup membuat kita dewasa
MUNGKIN kita akan mengeluhkan masalah yang kerap kali datang. Merasa bahwa tidak ada satu pun sudut di dunia ini yang bikin kita bahagia. Tidak jarang kita berpikir bahwa dunia ini terlalu kejam. Namun, itulah proses pendewasaan diri.

Satu hal yang tidak pernah kita sadari bahwa kehidupan akan selalu terikat dengan masalah. Kita adalah manusia yang tinggal dalam lingkup kehidupan. Maka, tidak tepat rasanya menyalahkan kehidupan karena melulu memberikan masalah.

Setiap orang memiliki masalah dengan porsinya masing-masing. Masalah yang dialami pun waktunya berbeda-beda. Kebanyakan dari kita suka mengadu nasib dan merasa masalah kita paling berat.

Hal tersebut membuat kita sulit untuk memahami keadaan orang lain. Sulit bagi kita untuk memandang kehidupan lebih luas daripada itu. Betapa kehidupan memiliki misteri yang tidak pernah kita tahu dalamnya.

Hidup terlalu sempit jika hanya dimaknai dari sudut pandang kita sendiri. Proses pendewasaan diri seharusnya menyadarkan kita tentang betapa bermaknanya hidup ini bagi diri kita.

Barang kali alasan kita tidak bahagia selama ini bisa jadi karena kita kurang bersyukur. Kita berpikir bahwa kebahagiaan itu datang seperti tamu. Sementara, kebahagiaan kita yang mencari. Salah satunya dengan bersyukur.

Pertanda seseorang sudah dewasa adalah ketika orang tersebut punya keseimbangan antara dirinya dan orang lain. Pertanda seseorang dewasa adalah ketika menerima makna kehidupan bersama dengan masalah. 

cara jadi kritis
KAMU punya teman yang banyak tanya tidak? Pertanyaannya macam-macam. Dia harus mendapatkan jawaban valid.

Mungkin sikap tersebut terkesan tidak mempercayai informasi atau asumsi yang kita berikan. Tidak jarang membuat kita risi. 

Kiat Berpikir Kritis dalam Kehidupan Sehari-hari

Berpikir kritis atau critical thinking adalah sebuah kegiatan ketika pikiran kita memproses suatu permasalahan untuk divalidasi faktanya. 

Sebelum berpikir kritis kita harus menerima perbedaan pendapat ataupun perbedaan fakta dengan apa yang diasumsikan. Berpikir kritis akan membantu kita memproses sebuah informasi. 

Kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari itu bukan untuk menyalahkan pendapat atau bahkan sebuah fakta. Kemudian merasa pendapat kita paling benar.

Justru berpikir kritis membantu kita menemukan informasi valid dan fakta. Artinya, sebelum melakukan critical thinking, kita harus menanamkan mindset menerima dan terbuka atas perbedaan pendapat. 

Apabila informasi yang kita percayai adalah hal benar. Kita bisa memberi tahu fakta dan data valid kepada seseorang yang keliru dalam informasi berkaitan.

Di samping itu, beberapa hal di hidup ini kadang-kadang bukan tentang benar atau salah. Akan selalu ada perbedaan pendapat dan asumsi dari suatu permasalahan.

Di situlah kita belajar menghargai pendapat orang lain. Sebab, setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda.

Pun, sering kali orang berpikir kritis dianggap terlalu banyak mengkritik. Keduanya tentu merupakan istilah yang berbeda.

Kritik berarti kita mengatakan hal yang tidak seharusnya diperbuat disertai saran. Sementara, berpikir kritis adalah kinerja otak kita dalam memproses informasi. 

Dengan kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mendapatkan dampak yang baik, lo. Kita dapat memilah informasi yang benar dan tidak. 

Kita dapat mengetahui banyak hal. Sebab, dalam proses critical thinking, kita akan menganalisis dan membaca banyak referensi sehingga wawasan pun bertambah. 

Berpikir kritis juga akan membiasakan kita mandiri dalam mempertanyakan dan menemukan permasalahan hidup, bahkan dapat menemukan solusi. 

Kiat berpikir kritis

1. Menghentikan Pikiran Otomatis Sejenak

Kita pasti sedang memikirkan sesuatu tanpa diminta dan dikendalikan. Hal ini menunjukkan bahwa pikiran kita bersifat otomatis.

Misal, ketika pergi ke restoran atau kafe, kemudian kita memilih menu makanan. Kadang kita akan berpikir otomatis dan langsung memutuskan untuk memilih salah satu makanan. 

Apakah kita pernah berpikir lama ketika dihadapkan pilihan antara liburan ke Jogja atau ke Bali? Nah, di sinilah kita sedang berpikir kritis.

Kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari satu ini perlu kesadaran penuh terkait pikiran kita sendiri. Sehingga ketika dihadapkan suatu masalah, kita bisa pause pikiran otomatis menjadi kritis. 

Kadang pikiran otomatis bersifat spontan, sehingga akan berdampak pada pengambilan keputusan. Dengan berpikir kritis kita bisa memecahkan masalah dengan baik. 

Memang, critical thinking akan membuat pergerakan jadi lambat karena kita harus melakukan analisis. Jadi, kita bisa gunakan pikiran kritis dan otomatis sesuai kebutuhan dan keadaan.

2. Membaca dan Mengecek Informasi dengan Baik

Untuk bisa meningkatkan critical thinking, caranya dengan membaca berbagai informasi. Baik dari buku, jurnal, artikel, ataupun majalah. 

Tidak semua orang mengetahui semua hal dengan sempurna. Nah, bisa jadi dengan membaca berbagai informasi tersebut, akan ditemukan hal baru dan menganalisisnya.

Kemudian, kita bisa mengecek informasi tersebut untuk divalidasi faktanya. Dengan begitu kita telah menerapkan kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari. 

Pastikan sumber informasi yang didapatkan adalah sumber terpercaya dan tidak mengandung unsur hoaks. 

Kalah kita menemukan informasi beredar dan banyak disebar. Jangan mudah percaya. Lakukan critical thinking dan dari situ kita akan menemukan kebenarannya. 

3. Mempertimbangkan dengan Segala Sudut Pandang

Untuk mengambil keputusan, ada baiknya kita melakukan proses critical thinking. Apa lagi kalau keputusan tersebut akan berpengaruh bagi orang banyak. 

Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan segala sesuatu dengan berbagai sudut pandang. Sebab, dari situ kita mengetahui kelebihan dan kekurangannya. 

Misal ketika di sekolah kita akan memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelompok tugas. Di sini kita mulai memilih, ketua seperti apa yang layak memimpin?

Kemudian, kira-kira di antara kelompok tersebut siapa yang sekiranya cocok untuk dijadikan ketua? Masing-masing orang kita bayangkan kelebihan dan kekurangannya ketika memimpin ke depannya. 

Cari yang kekurangannya dapat dipikul bersama dan kelebihan dapat memimpin dan membawa nama kelompok menjadi baik. Sebab, ini akan berlaku ke jangka panjang.

4. Belajar Menulis

Hmm, kenapa disuruh belajar nulis, deh? Bukannya hampir semua orang di dunia ini bisa menulis, ya? Memangnya apa yang bisa dipelajari dari menulis?

Eits, jangan salah kaprah, ya! Di era digital saat ini, skill menulis punya jenjang karier yang menjanjikan, lo! Yakin tidak mau belajar menulis?

Selain itu, proses kreatif menulis pun di dalamnya terdapat kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-har, yaitu ketika kita harus melakukan riset. 

Menulis di sini bukan hanya sekadar menulis. Ketika tulisan kita bertujuan untuk disampaikan ke pembaca, tentu dibutuhkan riset yang valid. 

Dengan menulis, membantu kita untuk menemukan dan memecahkan masalah. Menggali lebih dalam masalah. Sebab, ads tanggung jawab di dalamnya. Supaya informasi kita tidaj hoaks ketika sampai pada pembaca. 

berpikir kritis

5. Belajar Mendengarkan

Siapa di sini yang suka jadi tempat curhat dan menjadi pendengar yang baik? Pendengar yang baik adalah mereka yang mendengarkan dengan aktif. Di mana kita membutuhkan kemampuan berempati. 

Mereka yang mendengarkan aktif artinya mereka berusaha memahami perasaan dari lawan bicara. Kemudian, orang tersebut akan memahami dan menerima perspektif lawan bicaranya. 

Nah proses tersebut pun dapat meningkatkan critical thinking. Kenapa? Berpikir kritis bukan hanya menemukan informasi, tetapi memahami informasi. 

Di sisi lain, kadang kita suka berbeda perspektif dengan lawan bicara. Sehingga, di sini kita belajar untuk mempertahankan perspektif kita sendiri tanpa berdebat.

Dengan mendengarkan dan memahami merupakan penerapan dari kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari. 

6. Banyak Bertanya sesuai Porsi

Yups, orang yang berpikir kritis pasti akan banyak bertanya. Memiliki rasa ingin tahu dan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang tidak diketahui dan kebenarannya. 

Kita pun bisa mulai belajar untuk sering bertanya. Ketika kita tidak tahu, tidak perlu malu atau gengsi untuk bertanya. Justru, Bertanya adalah langkah yang bagus. 

Kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mengikuti kelas, webinar, seminar, ataupun komunitas. Biasanya dalam forum seperti itu akan terjadi diskusi. 

Tidak hanya itu, biasanya dalam kelas akan ada sesi tanya jawab. Kita bisa meningkatkan critical thinking dengan mempertanyakan terkait isi materi. 

7. Open Minded

Dengan berbagai kiat yang ada. Kiat-kiat tersebut tidak lepas dari bagaimana caranya kita untuk terbuka dalam berpikir. 

Sebelumnya, disinggung betapa critical thinking bukan entang mempertahankan pendapat kita adalah benar dan fakta.

Bagaimanapun, otak manusia berbeda dan pikiran pun punya asumsi dan pendapat yang berbeda. Nah, perbedaan tersebutlah membuat pikiran kita teruji. 

Kalau apa yang kita ketahui ternyata adalah hoaks, kita terima kebenarannya. Akan tetapi, apabila bersifat asumsi dan opini, kemudian masing-masing punya fakta dan data valid, maka terima juga. 

Berpikir kritis secara tidak langsung mengajari kita untuk berpikir dewasa. Jadi, yuk, terapkan kiat berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari!

Referensi:

https://glints.com/id/lowongan/meningkatkan-kemampuan-berpikir-kritis

https://youtu.be/2et4fGH2wTk

https://youtu.be/qJE6HNhldXo

https://youtu.be/6vbYkN_Hqdg

https://youtu.be/wNbGPibxtUI



Pentingnya Selfi esteem
MENCINTAI diri pun masih tidak cukup kalau kita masih belum bisa menghargai diri sendiri. Sementara, menghargai diri sendiri adalah hal paling mendasar.

Ketika kita mengaku telah mencintai diri sendiri. Akan tetapi, di sisi lain kita masih kesulitan untuk menghadapi konflik dengan diri sendiri. 

Katanya. sih, self love, tetapi masih suka membandingkan diri dengan orang lain. Masih butuh pengakuan atau validasi orang lain atas pencapaian kita. 

Seakan-akan proses dan usaha kita didasari orang lain, bukan karena diri sendiri. Klise, tetapi masih banyak orang abai akan hal tersebut. 

Pada akhirnya, kita akan selalu merasa rendah diri karena terlalu mematok penilaian orang lain daripada diri kita sendiri. Hal ini akan membuat kita jadi sulit untuk berkembang.

Kiat Menghargai Diri Sendiri untuk Jadi Versi Terbaik

Tindakan menghargai diri sendiri, dalam ilmu psikologi disebut self esteem. Dengan self esteem yang sehat, seseorang dipastikan akan lebih mudah menjalani hidup dan menghadapi tantangan. 

Sebelum kita benar-benar mulai untuk mencintai diri sendiri. Ada kalanya kita mesti memperkuat fondasi tentang bagaimana kiat menghargai diri sendiri?

Self love bukan hanya upaya mencintai diri, melainkan harga diri atau apresiasi yang telah kita beri ke diri kita sendiri. 

Pentingnya menghargai diri sendiri karena dapat menentukan proses kita dalam mencapai tujuan dengan percaya diri.

Selain itu, self esteem yang baik akan membuat kita lebih leluasa lagi dalam mengekspresikan pendapat dan membuat hubungan baik terjaga. 

Perlu diperhatikan bahwa hasil tidak bisa melulu dijadikan patokan, tetapi ada proses yang harus dihargai dan dinikmati. Begitu juga dengan kehidupan kita sendiri, butuh dihargai. 

Dengan menghargai diri dan kehidupan kita, akan lebih mudah untuk berkembang. Bukankah manusia selain bertumbuh, juga butuh mengembangkan dirinya?

Kiat menghargai diri sendiri

1. Tulis Kelebihan dan Kekurangan

Kiat menghargai diri sendiri yang bisa dilakukan adalah dengan memetakan terkait kelebihan dan kekurangan. Tunggu, bukannya menghargai diri itu tentang hal positif, ya? Kenapa harus mencatat kekurangan juga?

Kita harus tahu kalau tidak ada manusia yang sesempurna itu. Kadang, sikap perfeksionis itu jadi hambatan untuk kita berkembang dan menghargai diri. 

Dengan mencatat kelebihan dan kekurangan. Bertujuan untuk memahami dan lebih mengenal siapa diri kita? Sebab, bukan hanya kelebihan yang butuh dihargai, melainkan kekurangan juga. 

Tidak perlu minder sama kekurangan sendiri, orang lain juga punya, kok. Kalau kita masih denial, berarti kita menutup mata atas kekurangan orang lain. 

Lagian, mana ada, sih, orang yang mau menunjukkan kekurangannya. Jadi, tidak usah insecure, tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki. 

O, iya, kalau merasa kesulitan deskripsikan kelebihan sendiri. Bisa ajak diskusi tentang kelebihan kita dengan orang lain orang tepat.

2. Self Talk

Coba, deh, luangkan waktu dalam sehari setidaknya beberapa menit untuk self talk. Yups, momen ketika kita berbicara dengan seseorang dalam diri kita. Bukan berarti alter ego, ya!

Suka merasa tidak, sih, kita selalu mager atau takut ketika kita akan memutuskan sesuatu? Artinya, kita seperti punya dua sisi yang berbeda.

Nah, self talk ini membangun interaksi intim dengan diri sendiri yang selalu menjadi penghambat atas tujuan kita. Mungkin kita suka dengar atau baca motivasi, tetapi tetap saja penggeraknya diri sendiri, 'kan?

Katakan pada diri kita kalau kita layak dan kita mampu. Kasih apresiasi semacam kita hebat dan terima kasih karena sudah melalui proses dengan baik, meski hanya sedikit, tetapi setidaknya ada progres. 

Minta maaf ketika kita mulai merendahkan diri sendiri, membandingkan diri, atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Katakan juga kalau kita harus bisa berusaha untuk lebih baik lagi. 

Mungkin awalnya akan terasa aneh, tetapi hal tersebut bisa memunculkan perasaan menghargai diri. 

3. Self Reward

Self talk memang mampu memantik percaya diri dan semangat dalam diri. Namun, tidak ada salahnya untuk kita memberikan self reward atas pencapaian sendiri. 

Sebetulnya hal tersebut tergantung pribadi masing-masing. Ada orang yang merasa cukup hanya dengan melakukan self talk dan ada pula orang yang suka dengan self reward.

Keduanya tidak ada yang salah karena setiap orang punya cara sendiri untuk bahagia, 'kan? Jadi kembalikan pada diri kita sendiri, ya!

Dengan self reward akan membuat diri kita menjadi lebih merasa dihargai. Misalnya, setelah memberanikan diri menghadapi tantangan dan akhirnya berhasil. Rayakan kesuksesan tersebut dengan self reward. 

Self reward bukan hanya merayakan keberhasilan. Ketika kita berhasil melakukan sebuah progres, misalnya membangun kebiasaan sehat, mulai rutin olahraga, ketika ada perkembangan, tidak ada salahnya untuk memberikan reward. 

4. Pengakuan Orang Lain bukan Patokan

Kiat menghargai diri sendiri yang satu ini memang sedikit sulit. Sebab, kadang masih ada terbesit rasa ingin diakui hasil atau karya yang telah kita buat. 

Misalnya, ketika kita memposting suatu karya di media sosial. Awalnya kita berharap bahwa akan mendapat atensi dari pengikut atau setidaknya teman kita sendiri. 

Ketika atensi tersebut tidak ada dan tidak sesuai harapan, alhasil kita akan merasa kurang bersemangat dan merasa kecewa. 

Jika begitu, berarti kita sudah memasang penilaian orang lain sebagai patokan kualitas karya kita. Memang, ketika orang lain memuji karya kita, itu menandakan karya kita bagus. 

Bukan berarti hal itu lantas dijadikan patokan, tetapi dijadikan bahan evaluasi. Kalau karya kita kurang disambut baik, setidaknya ada diri kita yang menghargai karya kita sendiri.

Jadi, kita tidak bisa melulu butuh pengakuan orang lain atas hasil kita. Akan tetapi, kita lebih butuh diri kita sebagai support system terbaik. Dengan begitu akan lebih mudah bagi kita untuk evaluasi. 

5. Berekspektasi Sewajarnya

Ekspektasi yang ketinggian hanya akan membuat kita sakit saat terjatuh. Ekspektasi yang tinggi bagus, tetapi kita juga harus menyadari bahwa hasil adalah hal di luar kendali kita. Sementara, kita hanya punya kendali untuk berproses. 

Eits, bukan berarti kita malah berhenti berekspektasi. Ekspektasi boleh, kok, tetapi wajar-wajar saja. Harus dibarengi dengan proses.

Pahami bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Segalanya membutuhkan proses. Proses inilah yang menjadi pelajaran dan pengalaman berharga dalam hidup. 

Pasang ekspektasi sesuai kemampuan. Step by step, layaknya naik tangga, kita harus memijak satu per satu dari tangga paling bawah untuk bisa sampai di atas, 'kan?

6. Positive Circle

Kadang nih, ya, hal yang bikin kita jadi kurang menghargai diri sendiri bisa jadi karena faktor lingkungan sekitar. 

Misalnya kita merasa rendah diri saat lingkungan sekitar memandang sebelah mata diri kita. Atau bahkan, berani mengolok-olok secara verbal. 

Bertahan pada circle seperti itu hanya membangun emosi negatif dalam diri, sehingga dapat memengaruhi mental kita dalam menghadapi sesuatu. 

Kalau kita merasa tidak nyaman, takut, dan sulit berekspresi pada suatu circle. Yuk, sudah saatnya ditinggalkan dan cari circle yang bisa mendukung dalam memberikan kritik dan saran membangun. Ini merupakan kiat menghargai diri sendiri.

Manajemen pola pikir

7. Mindset bahwa Kita Layak menjadi Versi Terbaik

Kiat menghargai diri sendiri pada akhirnya tidak lepas dari bagaimana cara pikir kita terhadap diri sendiri. Nyatanya, pola pikir punya kendali besar terhadap emosi dan mental kita. 

Kalau pikiran berkata kita tidak bisa, ya tidak akan bisa. Sebaliknya, kalau pikiran bilang kita pasti bisa, pasti bakal bisa. Sebab, ada usaha untuk mencoba. Kalau berpikir tidak bisa, ya, gimana mengetahui hasilnya kalau belum atau takut mencoba?

Mulai sekarang coba tanamkan pola pikir dari tidak bisa jadi belum bisa dan mulai mencoba. Mencoba adalah langkah awal kita untuk berkembang. Meskipun hasilnya tidak sesuai, tetapi setidaknya kita sudah naik level karena proses. 

Pahami bahwa setiap manusia itu punya keunikan sendiri. Aku unik, kamu juga unik. Kamu tidak punya sesuatu yang aku punya. Pun, aku tidak punya sesuatu yang kamu miliki.

Bisa dibilang itu merupakan faktor X. Tinggal bagaimana kita menggali faktor tersebut menjadi sesuatu yang potensial. Kalau kita masih suka membandingkan diri dengan orang lain, percayalah itu hanya akan membuang waktu. 

Penilaian dan pengakuan orang lain atas hasil kita, itu bukan sebagai patokan untuk validasi. Namun, lebih dari itu. Sebab, menghargai diri sendiri adalah ketika kita menikmati proses dan kita mengapresiasi hasil dari proses itu sendiri. 

KIAT menghargai diri sendiri itu bukan tentang menjadi egois melainkan mengevaluasi diri. Jadi, sudahkah kamu menghargai diri sendiri hari ini?



Manusia harus punya empati
MENYENANGKAN banyak orang bukanlah kapasitas kita sebagai manusia. Namun, bukan berarti kita boleh untuk tidak berempati sama sekali. 

Kita pasti pernah dicurhatin teman atau kerabat tentang keresahan yang dirasakan. Tentu, hal ini akan menimbulkan respons dari kita. 

Tidak bisa dipungkiri, ketika kita merasakan perasaan orang yang sedang curhat. Artinya, dia sedang menyalurkan emosinya kepada kita.

Bagi kita yang pernah ada di posisi teman yang curhat, mungkin akan lebih mudah untuk berempati. Namun, akan sulit bagi kita memahami perasaan dia kalau belum merasakannya.

Dengan berempati, setidaknya kita punya fondasi dalam merespons baik secara tindakan berpikir dan bersikap maupun emosional. 

Empati penting bukan hanya dalam aspek mendengarkan, melainkan juga berbagai aspek lainnya. 

Kiat Menjadi Pribadi yang Berempati: Mengapa Kita Harus Berempati?

Empati menjadi alasan seseorang nyaman berada di sekitar kita. Orang berempati biasanya jadi sasaran empuk sebagai tempat curhat.

Setiap manusia memiliki empati. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan baik. Jadi, kita perlu mengetahui kiat menjadi pribadi yang punya empati itu seperti apa, sih?

Empati adalah kemampuan dalam memahami dan menyadari orang lain baik secara emosional maupun kognitif. Sehingga, hampir sepenuhnya kita menyediakan sejenak waktu untuk sang objek. 

Selain membuat orang nyaman berada di sekitar kita. Berempati juga punya dampak baik bagi diri kita sendiri. Seperti berguna dalam melatih kepemimpinan diri. 

Kiat menjadi pribadi yang berempati juga membantu kita untuk meningkatkan inovasi dan dapat berpengaruh dalam perubahan yang baik. Orang yang berempati pun dapat berkomunikasi dengan baik. 

Sebab, ketika kita berempati harus sda kepekaan. Artinya, sensitivitas kita akan berusaha menangkap perasaan, kesadaran, ataupun sikap yang terjadi di sekitar. 

Kiat menjadi pribadi yang berempati

1. Rasa Ingin Tahu

Saat teman sedang mencurahkan isi hatinya kita mesti mendengarkan secara aktif. Artinya, kita berperan sebagai pendengar yang baik. 

Memang, tidak mudah bagi kita untuk menelisik apa yang sedang diceritakan. Atau malah, kita jadi si sok paling paham dengan apa yang terjadi. 

Kita harus ambil sikap hati-hati. Jangan sampai apa yang ada dalam pikiran kita terlontar begitu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu yang sebenarnya terjadi.

Selama mendengarkan cerita, secara otomatis akan menciptakan sebuah asumsi di kepala. Namun, asumsi itu bukan untuk diutarakan kepada pencerita. 

Daripada itu, coba kita mulai dengan sebuah pertanyaan. Mengapa dan apa? Perhatikan konteks pertanyaan, bertujuan memperjelas cerita. 

Hal itu supaya kita tidak salah dalam berasumsi. Sebab, setiap orang punya emosional dan kognisi yang berbeda. Apa yang kita rasakan, belum tentu dirasakannya juga.

Maka, dengan rasa ingin tahu yang tinggi sudah menunjukkan kalau kita punya empati. Kita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus berasumsi. 

Jangan terlalu kepo, ya! Hargai juga privasi objek. Bahwa, tidak semua harus diketahui. Rasa ingin tahu hanya sekadar menghindar asumsi yang salah. 

2. No Judging

Tidak perlu susah-susah berasumsi yang akhirnya hanya terkesan menghakimi. Nyatanya, hal ini sering terjadi di era media sosial sekarang. 

Misal, ketika kita melihat salah satu teman yang tampak seperti pendiam dan cuek. Jangan pula kita asumsikan dia sombong tanpa mengetahui alasan di baliknya. 

Atau ketika melihat seseorang sedang marah dan kita tidak bisa langsung judge dia arogan. Pasti ada alasan di balik semua itu.

Mudah bagi kita untuk menciptakan asumsi. Namun, tidak mudah bagi kita untuk tidak menghakimi dan berempati. 

Kiat menjadi pribadi yang berempati satu ini memang dibutuhkan kecerdasan pikiran dan emosional. Sebab, ini bukan tentang kita, melainkan orang lain. 

Empati membantu kita untuk menelisik alasan di balik apa yang kita lihar. Fan ketika kita berempati, kita tidak akan main menghakimi.  

Bukan berarti kita dapat memaklumi segala perilaku tidak baik, ya. Memang, di balik perilaku tidak baik ada alasan mendasar atau faktor penyebab. 

Biarkan objek belajar dari kesalahan tanpa harus kita maklumi dan kita pun secara tidak sadar juga dapat belajar darinya.

3. Validasi, bukan Invalidasi

Kiat menjadi pribadi yang berempati, Teman-Teman harus tahu lebih dulu, nih, dua istilah yang dapat membantu kita berempati. 

dr. Jiemi Ardian dalam kanal YouTube-nya menjabarkan dua istilah tersebut: validasi dan validasi. 

dr. Jiemi menyatakan invalidasi merupakan statement atau pendapat yang menyangkal kondisi emosional seseorang. 

Artinya, kita akan berkata pada pemilik emosi seperti, “Kamu kurang bersyukur, kamu kurang ibadah.” Kurang ini dan itu. Ini merupakan hal yang sebaiknya dihindari. 

Invalidasi dapat menyebabkan pemilik emosi makin terasa tidak enak hati dan kecewa. Sehingga, dia akan mengurangi interaksi dengan kita. 

dr. Jiemi melanjutkan, validasi adalah emosi apa pun yang muncul disadari dan diakui oleh sang pemilik emosi dan diterima oleh pendengar. 

Kita tidak menyangkal perasaan pemilik emosi. Bahkan, meski kita sama sekali tidak setuju sekali pun dengan tindakannya, tetapi kita menerima kalau perasaan itu nyata. 

Dengan mengedepankan validasi, fondasi empati kita akan makin kuat. Pun, pemilik emosi akan merasa nyaman dengan diri kita. 

4. Memosisikan Diri sebagai Orang Lain

Kita harus sama-sama memahami kalau setiap manusia punya kemampuan emosional dan pikiran yang berbeda. Apa yang kita pikirkan dan rasakan belum tentu sama dengan orang lain. 

Oleh karena itu, kita perlu aware dalam memosisikan diri. Kiat menjadi pribadi yang berempati kita harus bisa memosisikan diri sebagai sang pemilik emosi. 

Ini bukanlah hal mudah. Apa lagi, kalau kita sama sekali belum pernah ada di posisi tersebut. Sehingga membuat kita harus fokus. 

dr. Jiemi Ardian mengatakan ketika sang pemilik emosi tengah mengutarakan keresahan. Maka, kita harus fokus di perasaannya, bukan pada permasalahan yang terjadi. 

Misal teman bercerita betapa dia kesal dengan dosen yang susah ditemui. Sedih karena sikap orangtuanya tidak suportif terhadap kinerja skripsinya.

Kita jangan langsung judge dia seperti, “Kamu seharusnya berusaha lebih kuat.” Atau malah kita mengadu nasib, “Mending kamu daripada aku.”

Daripada itu, coba fokuskan pada perasaannya. Dia hanya butuh validasi atas emosionalnya yang sedang tidak baik-baik saja.

Kita coba merasakan apa yang dirasakan dengan membayangkan bagaimana kalau kita ada di posisi tersebut? Ini merupakan beban yang berat. 

Atau, jika masih sulit bagi kita untuk merasakan karena tidak pernah merasakan hal yang sama. Cukup dengarkan tanpa mengatakan atau memberi petuah nasihat. 

Kadang, pemilik emosi lebih mengetahui solusinya dibanding kita. Jadi, sekiranya kita bisa mengeluarkan kalimat yang suportif, bukan menyudutkan. 

Menurunkan ego

5. Menekan Ego

Ego tidak perlu diberi makan banyak-banyak. Nanti gemuk dan sulit untuk menyusutkannya menjadi ramping. Supaya lebih mudah menelisik perasaan orang lain. 

Berempati berarti kita mengesampingkan ego. Mendedikasikan sejenak waktu kita untuk menjadi pendengar, perasa, pendukung pemilik emosi. 

Membiarkan bahu kita sebagai sandaran, sesekali basah oleh isak tangis. Kita mau menerima saluran emosi dari pemilik emosi yang tidak baik-baik saja.

Bahkan, kita tergerak untuk membantunya jika diperkenankan. Berempati membutuhkan jiwa besar, membutuhkan perasaan bijaksa, dan membutuhkan pikiran yang jernih.

Dunia ini tidak melulu tentang kita. Alangkah sempit sekali pembelajaran kalau segala sudut bumi hanya tentang kita. Bukankah kehadiran orang lain juga sarana pembelajaran bagi kita?

BEREMPATI memanag bukan sikap yang mudah. Namun, perlu bagi kita berempati untuk kebaikanmu hidup. Barang kali, kita dapat membantu orang lain.

Kita memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Namun, kita bisa berempati kepada semua orang. 

Kita memang peran utama dalam hidup kita. Namun, kita adalah peran pendukung dalam kehidupan orang lain.

Kiat menjadi pribadi yang berempati ini adalah sebuah pelajaran berharga untuk kita semua.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Belajar Mengakui Kesalahan Sendiri
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Alasan Kita Merasa Kecewa
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Persiapan Mental Sebelum Pergi Haji
  • Kiat Menjadi Pribadi yang Berempati
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template