Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
unsplash

DAUN-DAUN pepohonan berguguran, dari yang warnanya hijau hingga kuning, berjatuhan melapisi tanah. Suara gergaji saling beradu satu sama lain. Sementara, sinar matahari perlahan-lahan bisa dengan mudah memasuki ruangan rimbun milik para pohon. Orang-orang itu—maksudnya mereka dengan kostum keamanan, helm proyek, dan rompi—dengan sigap dan penuh kekuatan mengikis perlahan sampai satu pohon berhasil ditumbangkan oleh gergaji sakti. Tumbangnya pohon adalah pelepas dahaga dan kebahagiaan bagi perusahaan hak operasional.

Namun, orang-orang itu tidak pernah tahu, kedatangan mereka adalah sinyal bahaya dan ancaman bagi para pohon. Orang-orang itu entah tidak menyadari atau tidak peduli akan riuhnya pengiriman sinyal pertahanan melalui jaringan mikorizhosphere akan kepanikan nasib mereka yang sebentar lagi tumbang. Belajar dari yang sudah-sudah, para pohon di hutan itu tidak percaya lagi. Mana janji setelah ditebang akan ditanami ulang? Lihat, ekosistem mereka justru makin menipis, hari-hari mereka seakan-akan menanti giliran untuk ditebang.

Itu keadaan di perhutanan, belum lagi apabila memijak di hiruk pikuk perkotaan. Kutantang kamu untuk menemukan setidaknya sekumpulan pohon dalam satu kawasan di tengah kota. Namun, daripada itu, pandangan mata dibuat mencolok dengan kilauan dinding kaca para gedung setinggi langit yang memantulkan sinar matahari. Bahkan udara yang dipasok untuk bernapas pun rasa-rasanya sesak—bayangkan asap kendaraan dan terik panas menyatu di udara kemudian dihirup. Lantas, lebih nyaman di dalam rumah atau gedung di bawah dinginnya air conditioner yang melepaskan gas rumah kaca. 

Ini bukan fiktif. Apa yang kutulis bukan tentang hiperbola akan lingkungan. Ini kenyataan dan fakta yang tidak dipedulikan banyak manusia. Apa itu peduli lingkungan? Sekarang zaman sudah modern, mau tidak mau kita dipaksa hidup dalam modernisasi. Sementara, ancaman alam telah menggaung. Sampah kekurangan penampungan, perairan kotor karena limbah, udara terpolusi asap pabrik. Lantas, sampai kapan kita akan terus diam dan tidak peduli? Di mana orang muda milik bumi yang mampu menjadi harapan bagi masa depan bumi?

Ketika Fakta Diabaikan, Sementara Sibuk Menyalahkan Sana-Sini saat Bumi Marah

unsplash

Bumi menyediakan tameng berupa atmosfer untuk melindungi manusia dari paparan matahari secara langsung. Bumi menenangkan manusia, katanya, "Tidak usah risau, di dalam sudah disediakan para pohon untuk menyerap gas karbon dioksida sehingga kalian tetap merasa sejuk hidup di tempatku."

Seperti yang kita ketahui, kondisi bumi—terutama cuaca—mengalami peningkatan yang tidak baik, cenderung mengancam. Pelepasan gas rumah kaca (GRK) di udara makin bertambah setiap tahunnya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melansir bahwa setiap tahunnya aktivitas manusia telah melepaskan 30 miliar ton karbon dioksida (CO²) ke atmosfer. Hal ini meningkat 40% lebih sejak sebelum era industri. 

Sementara, salah satu penyebab peningkatan perubahan iklim terjadi lebih cepat adalah karena sinar matahari terperangkap oleh gas rumah kaca di atmosfer. Keberadaan gas rumah kaca di lapisan atmosfer sebetulnya memberikan efek hangat pada bumil sehingga layak dihuni oleh makhluk hidup. Akan tetapi, gas rumah kaca yang berlebihan akan memerangkap sinar matahari dan membuat suhu di bumi makin panas. Alhasil, terjadilah fenomena perubahan iklim atau sekarang lebih kita kenal sebagai pemanasan global.

Tentunya perubahan iklim telah mengubah teori para ilmuwan menjadi sebuah fakta. Apa saja faktanya?

freepik

1. Kontribusi Fesyen terhadap Pemanasan Global

Sektor industri merupakan salah satu penyumbang dengan konsentrasi tinggi terhadap perubahan iklim. Bagaimana tidak? Proses industri tekstil cenderung mencemari lingkungan karena menggunakan bahan berbahaya seperti serat sintetis, poliester, dan juga kapas yang dasarnya diolah menggunakan pestisida non-organik. Bahan tersebut juga terindikasi dari penggunaan bahan bakar fosil yang juga memberi emisi GRK.

Dilansir dari CNN Indonesia, pada tahun 2018 industri tekstil berkontribusi sebanyak 2,1 miliar metrik ton emisi GRK, hal ini setara 4% dari total emisi global. 70%-nya diakibatkan dari pengolahan proses industri tekstil itu sendiri yang mencemari lingkungan. Faktanya, limbah tekstil ini berperan besar mengotori air dan lingkungan sekitar. Apabila proses ini tidak ditindaklanjuti, para ahli mengatakan pada 2030, fesyen akan berkontribusi sebanyak 2,7 miliar ton per tahunnya.

2. Timbunan Sampah Plastik

Penggunaan plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Bahannya yang murah dan mudah didapatkan, sehingga banyak dari kita yang tidak sedikit mengonsumsi plastik setiap harinya dalam berbagai aspek baik sandang maupun papan. Namun, di balik mudah dan merajalelanya produk plastik, hal itu berbanding lurus dengan limbah atau sampah plastik yang dihasilkan. Bahkan, produksi plastik yang dihasilkan tidak seimbang dengan pengelolaan sampah plastik. 

Program lingkungan PBB mengungkapkan bahwa manusia setiap tahunnya menghasilkan 400 juta ton sampah plastik. Hal itu dinilai hampir setara dengan berat manusia di seluruh dunia. Bahkan, dari KLHK menyatakan Indonesia sendiri menjadi negara ke-2 dengan sampah plastik di lautan terbanyak. Padahal Indonesia tercatat memproduksi plastik nomor 5 lebih sedikit dari 4 negara lainnya. Sepanjang tahun 2022 tercatat 12,5 juta ton sampah di Indonesia dan hanya sedikit yang terkelola. Dikatakan oleh Direktur Pengelolaan Sampah KLHK bahwa timbunan itu didorong karena masyarakat sering mengonsumsi sampah plastik sekali pakai.

3. Beberapa Kota di Indonesia Terancam Tenggelam

Perubahan iklim yang terjadi dan terus meningkat pun mengungkap fakta akan banyak kota-kota besar di dunia tenggelam karena tanah mengalami penurunan dan air laut makin tinggi. Di Indonesia sendiri, kota-kota besar juga tidak luput dari ancaman tenggelam. Hal itu bukanlah ancaman belaka, melainkan peneliti dari Climate Central telah memprediksi ada beberapa kota di seluruh dunia yang akan tenggelam pada 2050.

Kota-kota di Indonesia yang disebutkan di antaranya: Bali, Banda Aceh, Semarang, Surabaya, Pangkal Pinang, Medan, dan tentunya Jakarta. Bahkan, kota Jakarta sendiri diprediksi akan tenggelam pada 2030. Hal ini dikarenakan permukaan dan volume air laut meningkat. Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti bahwa setiap tahunnya air laut mengalami peningkatan hingga 3-8 mm.

4. Perubahan Pola Cuaca

Teman-Teman pasti tiga bulan terakhir ini sudah merasakan suhu yang meningkat drastis. Dimulai dari 33* sampai paling tinggi di 38*. Hal ini tentu merupakan angka yang tinggal, tidak lain tidak bukan dikarenakan banyaknya emisi GRK yang menerangkap sinar matahari di atmosfer, sehingga menyebabkan suhu bumi meningkat. Selain itu, juga berkaitan dengan pola cuaca. Di mana, kita lebih sering menghadapi musim panas dibanding musim hujan. Hal ini dilansir pula oleh United Nations bahwa sejak 2011-2020 hampir seluruh daratan di dunia, daratan lebih sering dilanda musim panas. Perubahan pola cuaca ini pun dapat mengganggu keseimbangan alam.

5. Berkurangnya Sumber Daya Air

Perubahan iklim sangat mempengaruhi ekosistem bumi, salah satunya adalah sumber daya air. Akibat kenaikan suhu, air laut jadi meningkat karena lelehan es, mencairnya es pun terjadi karena pemanasan global. Sementara, air tanah tidak bertambah. Di samping itu, air amat krusial bagi kelangsungan hidup manusia seperti untuk operasional industri, sektor pangan, dll. Survei Geologi Amerika Serikat menyatakan bahwa 72% bumi tertutupi oleh air, tetapi 97%-nya merupakan air asin yang tidak bisa dikonsumsi. Studi tersebut juga menunjukkan jumlah air di bumi saat ini mencapai 1,36 miliar km³. Faktanya bahwa hanya ada 1% air tawar yang bisa diakses dengan mudah dan 70% terkunci di lapisan es. Kabar baiknya Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan air tawar terbanyak yaitu 50% lebih.

Dampak Perubahan Iklim Sudah Terjadi dan Akan Terus Berjalan


unsplash

Perubahan iklim setidaknya sudah terjadi ratusan ribu tahun lamanya. Memang, manusia harus melakukan kegiatan yang mau tidak mau melepaskan gas rumah kaca. Akan tetapi, kadar konsentrasi cuaca panas makin hari makin meningkat. Hal itu dikarenakan aktivitas manusia dalam melepaskan gas rumah kaca secara konsisten dan berlebihan. Dampaknya memang tidak terlihat saat itu juga, tetapi masa depan sudah pasti terkena imbasnya. Namun, kenyataannya hal itu masih membuat banyak masyarakat justru bersikap acuh tidak acuh. Menganggap bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi tidak ada aksi yang dilakukan—daripada aksi justru berkontribusi meningkatkan pemanasan global.

Perubahan iklim membawa dampak nyata seperti: bencana alam, kebakaran hutan, suhu bumi meningkat, pencemaran air. Dampak tersebut bersatu paru memberikan efek langsung kepada manusia itu sendiri. Berikut ini dampak yang secara langsung berimbas pada makhluk hidup

freepik

1. Kemiskinan Merajalela

Perubahan iklim nyatanya mampu menempatkan manusia di posisi sulit. Kemiskinan di mana-mana. Bagaimana tidak? Banjir dan tanah longsor menyerang perkotaan dan pedesaan, ketersediaan air yang langka dan berpengaruh pada proses dan hasil pangan, belum lagi kemiskinan geografis dari daerah yang sudah ditenggelamkan oleh air. KLHK menyebutkan setiap tahunnya ada 23,1 juta orang mengungsi akibat perubahan iklim.

Masalah kemiskinan bukan hanya tentang krisis ekonomi, yang perlu menjadi perhatian juga adalah dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan di kalangan masyarakat. Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi pada 2030 pemanasan global akan meningkat dan artinya kemiskinan ikut melonjak, mencapai hingga 100 juta orang miskin.

2. Pangan Makin Langka

Sebelumnya sempat disinggung bahwa air merupakan sumber daya krusial bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satunya bagi sektor pangan, baik pertanian, peternakan, dan perikanan. Semua bidang terkena imbasnya. Air laut yang asam memicu kerusakan makhluk hidup di bawah laut. Pertanian yang kesulitan air. Kesulitan pangan ini berdampak pada kondisi gizi buruk dan kelaparan.

FAO juga mengatakan pada 2030 akan terjadi peningkatan harga pangan sampai 12%, sementara pengeluaran orang miskin terkait pangan mencapai 60%. Selanjutnya, diperkirakan pada 2050 produksi tanaman pangan mengalami penurunan 10-25%, mengancam ketahanan pangan, dan menciptakan 1 miliar penduduk migran.

3. Mengganggu Kesehatan

Kesehatan pun akan mendapatkan imbas dari perubahan iklim. Mulai dari kemarau berkepanjangan yang menghadirkan bakteri-bakteri atau mikroorganisme, dari situ akan memunculkan penyakit yang berkaitan dengan bakteri tersebut. Kemudian, polusi udara yang tidak jarang menyergap perkotaan disebabkan oleh asap industri, asap kendaraan, dan bahkan kebakaran hutan, sehingga udara tidak bersih. Belum lagi kurangnya ketersediaan air minum bersih pada rumah tangga.

Prof. dr. Ova Emilia, Guru Besar Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK} UGM mengatakan perubahan iklim memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsungnya seperti cuaca ekstrem. Dampak tidak langsung berupa perubahan iklim yang mempengaruhi penyebab penyakit (seperti nyamuk) bertahan lebih lama atau berubah perilaku.

4. Spesies Hewan dan Tumbuhan Punah

Cuaca ekstrem dan suhu bumi yang meningkat otomatis akan membuat spesies hewan dan tumbuhan mau tidak mau ikut beradaptasi. Artinya hewan yang tidak bisa beradaptasi dengan iklim saat ini akn mengalami kepunahan. Sementara tumbuhan di bawah laut pun mengalami kepunahan akibat keputihan, limbah, dan air laut asam. Pohon-pohon ditebang. KLHK menyebutkan rata-rata saat ini dunia kehilangan spesies sampai 1000 kali lebih besar. Diperkirakan pula 1 juta spesies dalam risiko ancaman kepunahan beberapa dekade ke depan. 

5. Meningkatnya Suhu Bumi

Cuaca panas yang terjadi 3 bulan terakhir ini membuat kita jadi lebih suka mendekam di dalam ruangan ber-AC. Hal ini tentunya disebabkan karena emisi GRK di atmosfer semakin tebal dan menerangkap panas matahari, alhasil suhu bumi pun meningkat. Ini akan terus terjadi apabila aktivitas manusia masih berlebihan dalam melepaskan gas rumah kaca. Ditambah tidak ada penanganan dan kesadaran yang baik dari sebagian masyarakat. Disebutkan oleh Badan Meteorologi Britania Raya (Met Office) memprediksikan peluang meningkatnya pemanasan global sekitar 50% mencapai 1,5 derajat pada lima tahun mendatang (2022).

Orang Muda Bisa Berdedikasi dan Berkontribusi untuk Masa Depan Lingkungan

freepik

Cara sederhana orang muda menjaga lingkungan dan menekan laju perubahan iklim adslah dengan mengubah pola hidup.
Gaya hidup kadang kala menjadikan diri egois. Pura-pura buta untuk melihat ancaman di masa depan. Pura-pura tuli akan pentingnya menjaga lingkungan. Tahan banting akan cuaca panas yang kian meningkat. Bukan tanpa alasan, apa lagi kalau bukan karena gengsi?

Pada akhirnya yang akan merasakan imbas dari perubahan iklim adalah generasi muda. Perubahan iklim bukan lagi tentang isu semata, melainkan kenyataan yang harus dihadapi bersama-sama. Pada dasarnya, kita tidak akan pernah bisa menghentikan perubahan iklim itu sendiri karena memang aktivitas manusia yang kerap terjadi setiap harinya. Namun, konsentrasi aktivitas manusia yang berlebih membuat perubahan iklim makin dekat terjadi dan seakan-akan tampak di pandangan mata. 

Hanya saja, seperti yang kita lihat, saat ini banyak aspek kehidupan bersikap acuh tidak acuh terhadap perubahan lingkungan. Jangankan lingkungan, kadang kala kita tidak tahu atau menutup mata dan telinga akan ancaman perubahan iklim. Katanya, perubahan iklim hanya fenomena biasa yang akan cepat berakhir. Padahal, hari-hari kita dihantui oleh kecaman pemanasan global sana-sini. Lantas, apabila orang muda tidak acuh, bagaimana masa depan kita?

Pohon dan hutan, bagaimana dengan dua elemen penting bumi itu? Pohon bersedia menampung udara dan menghasilkan oksigen untuk kita bernapas. Menyimpan banyak sekali cadangan air dan makanan untuk sumber daya manusia. Sebagai penangkal terjadinya bencana banjir maupun longsor. Paling penting, pohon menyimpan karbon dioksida dan melindungi manusia. Namun, manusia sendiri yang menebangnya dan memusnahkan keajaiban pohon itu. Parahnya membakar hutan. Bahkan, beberapa oknum kian mengeksploitasi untuk kepentingan tertentu. Lantas, di mana letak balas budi kita terhadap pohon dan hutan?

Sebagai orang muda harus melek akan isu lingkungan. Jika tidak bisa berkontribusi banyak, maka kita mendedikasikan diri kita untuk menambah wawasan terkait lingkungan sekitar dan tidak ketinggalan informasi soal perubahan iklim. Di era internet serbacepat ini seharusnya dipergunakan sebaik mungkin. 

Harapannya adalah reboisasi kembali dilakukan. Sebab, hal yang membuat resah adalah ketika penebangan pohon yang kemudian dibiarkan gundul tanpa adanya reboisasi.

Salah satu hal yang membuat kita tutup mata terhadap perubahan iklim adalah pola hidup. Betul tidak? Bahwa kita terlalu pemain gengsi, ingin mengikuti tren yang ada. Membeli baju baru dengan harga murah mengikuti perkembangan mode. Alhasil baju menumpuk dan tidak terpakai kemudian berakhir menjadi limbah rumah tangga. Belum lagi mengonsumsi produk plastik sekali pakai yang terus dilakukan setiap hari. Sehingga bumi dapat terjaga.

source: astra.bkb.digital

SATU per satu pohon besar berjajar, daunnya menjadi atap, sampai-sampai tidak sedikit pun mentari diberi ruang untuk bertamu. Berbisik-bisik di tengah semilir riuh angin. Percakapan alam tentang bagaimana nasib kita ke depannya? Apakah kita akan habis dimakan zaman dan teknologi? Apakah kita akan musnah digerus terus-menerus untuk diproduksi? Ataukah kita hanya tinggal kenangan di masa depan penuh bangunan tanpa alam?

Di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bukan di pusat kota, melainkan di pinggir kota. Berdiri sebuah kampung yang hampir jauh dari peradaban, kala itu. Di bawah payung-payung daun lebat hutan hujan tropis, beragam vegetasi dan satwa berlindung dan bertahan hidup. Di sisi lain, hutan itu hadir sebagai alam yang menyediakan makanan dan obat-obatan bagi warga Kampung Merabu. Kala itu, hutan Kampung Merabu 60% menjadi hutan lindung, sisanya 40% menjadi hutan produksi. 

Butuh waktu sekitar enam jam dari kabupaten Berau untuk akhirnya menjejaki kaki di Kampung Merabu. Perjalanan jauh tidak akan mengkhianati lelah. Sebab, saat ini Kampung Merabu telah berevolusi menjadi desa wisata berkelanjutan. Tepat berada di kecamatan Kelay. Berada di kawasan hamparan Karst yang menjadi keindahan tersendiri. Diimpit oleh Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Kampung yang kaya akan sumber daya alam. Dari Kampung Merabu sendiri butuh waktu 45 menit berjalan kaki menuju sungai dan menembus hutan lebat, hingga akhirnya sampai di Danau Nyadeng dengan air berwarna biru toska. Dari atas danau, tampak sebuah Puncak Ketapu. Melalui medan curan dan dan berjalan kaki selama dua jam menuju puncak, terpampang keindahan kawasan Karst berwarna hijau nan asri.

Sudah jarang sekali ditemukan di perkotaan. Dahulunya hampir setiap daerah penuh sumber daya alam. Kini, telah lenyap dan tumbuh menjadi bangunan pencakar langit. Sisa-sisa alam seakan-akan menepi di pinggir dan di ujung daerah. Tinggal bagaimana kita menjaga 'sisa-sisa alam' tersebut tetap hidup dan berdiri kokoh. 

Si Penjaga Hutan, Franly Aprilianto, Mengevaluasi Kampung Merabu menjadi Desa Wisata Berkelanjutan

source: astra.bkb.digital

Siapa pun dapat menjadi penggerak dan inspirasi. Namun, apalah arti semua itu tanpa rasa peduli dan keinginan besar untuk banyak orang? Perkenalkan, Franly Aprilianto, seorang pemuda inspirasi. Dengan kegigihan dan keyakinannya, dia mampu mengembangkan Kampung Merabu menjadi lebih berkembang dari berbagai aspek.

Lahir dan besar di Manado, kemudian pada tahun 2009 merantau ke Kalimantan Timur. Bekerja sebagai tukang kayu dan membangun sekolah. Kemudian, lelaki itu ditawarkan dan mengajar sebagai guru bahasa inggris. Pada tahun 2011, di usianya yang masih amat muda 22 tahun, Franly dipercaya menjadi kepala desa Kampung Merabu. 

Tidak banyak pemuda dengan pikiran dan jiwa menyatu dengan alam. Memikirkan masa depan orang banyak, terlebih orang-orang sekitar. 22 tahun adalah usia di mana pergolakan anak muda. Namun, Franly penuh tekad mensejahterakan warga Kampung Merabu.

Diberi kepercayaan menjadi kepala desa Kampung Merabu pada tahun 2011, selama itu pula Franly memperjuangkan hal alam, terutama hutan lindung untuk akhirnya dikelola langsung oleh warga Kampung Merabu. 

Awalnya hutan tersebut dijamah warga setempat. Oleh perusahaan lokal dan bakal usaha kayu hutan sebagai titik lewat untuk menuju sarana mencari sarang burung walet dan hasil hutan lainnya. Berangkat dari situ, sebuah keresahan muncul di benak Franly. Kekhawatiran akan sumber daya alam—hasil hutan yang akan habis karena tidak dijaga.

Berangkat dari keresahan tersebut, pada 2011 Franly saat menjadi kepala desa membentuk sebuah lembaga bernama Kerima Puri. Melalui lembaga Kerima Puri, Franly dan warga Kampung Merabu berjuang mendapatkan izin pengelolaan ke Kementerian Kejutan dan menjadikan Kampung Merabu sebagai desa wisata berkelanjutan. 

Bukan waktu yang sebentar, melainkan perjuangan akan selalu memberikan hasil yang baik. Dua tahun setelahnya, sebuah surat keputusan hadir sebagai kabar bahagia. Bahwa perjuangan tersebut membuahkan hasil baik dan mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPDP) seluas 8.245 hektar. 

"Sederhana saja. Kami percaya kalau mengelola hutan dengan bijak maka hal2 baik juga akan menghampiri Merabu," ujar Franly. 

Sejak lahir tinggal dan tumbuh di Manado, merantau dengan memiliki peran besar dan berjasa bagi Kampung Merabu. Bukan tanpa alasan, Franly melihat adanya potensi hutan Kampung Merabu memungkinkan untuk dikembangkan. Hidup adalah pilihan, dengan adanya potensi hutan tersebut, akan dibiarkan saja atau dikelola? Lantas, apabila dikelola haruskah bekerja sama dengan perusahaan swasta? Namun, pada saat itu Franly bertekad untuk mengelola hutan Kampung Merabu secara mandiri dibantu oleh Non Governmental Organization (NGO).

"Pada saat itu berkat wawasan yang diberikan oleh NGO setempat kami mengambil langkah untuk mengelola hutan secara mandiri."

Tidak mudah untuk memperjuangkan hak pengelolaan hutan. Namun, Franly mampu meyakinkan warga Kampung Merabu untuk mengelola hutan. Sebab, pada akhirnya hutan akan menjadi sumber kehidupan mereka tersendiri. Kemudian, Franly juga mengungkapkan bahwa hutan yang memiliki fungsi hutan lindung dan hutan produksi pun sempat terjadi kesepakatan dengan perusahaan lokal kayu. 

Kesempatan tersebut mengajak mengelola bersama dengan mengikuti langkah atau pembangunan Kampung Merabu. Artinya, perusahaan tersebut tidak lagi memproduksi hutan kayu di Kampung Merabu. Tentunya ini adalah sebuah angin segar dan pencapaian luar biasa karena hutan dan sumber daya alam di dalamnya dapat terjaga.

Bersama Lebih Peduli dengan Hutan Indonesia

source: astra.bkb.digital

Kita sama-sama tahu bahwa hutan Indonesia saat ini makin lama makin diproduksi. Yang mana hal ini perlu diperhatikan dan diseimbangkan. Memang, kebutuhan manusia makin zaman makin bertambah, makin membutuhkan pembaruan. Bahkan perusahaan selalu membuat inovasi yang menarik perhatian masyarakat. Di sisi lain, ada alam yang dikorbankan untuk kemudian diabaikan kepentingan. 

Hutan merupakan salah satu elemen vital bagi kehidupan manusia. Namun, tidak sedikit manusia punya kesadaran akan pentingnya alam, terutama hutan. Daripada instrospeksi diri, mereka lebih mengedepankan asumsi saling menyalahkan berwenang. Sementara, ada hutan yang butuh dilindungi lagi.

Tentu, Franly menjadi salah satu figur yang patut menjadi contoh. Betapa kepeduliannya terhadap lingkungan membawa dampak besar untuk hari ini dan masa depan. Di usianya yang masih muda, mampu membangun Kampung Merabu menjadi sejahtera baik dari segi ekonomi, estetika, dan kesehatannya.

Satu Franly pun berhasil membuat suatu kampung menjadi bersinar. Bagaimana apabila ada Franly-Franly lain yang menjadi penggerak dan inspirator untuk masyarakat setempat. Menyongsong semangat untuk hari ini dan masa depan.

Yuk, mulai kobarkan semangat kepedulian dan kesadaran. Memahami bahwa hutan akan memberikan oksigen pada kita semua. Apabila satu per satu hutan mulai gundul, lahannya berubah menjadi bangunan. Lantas, apakah bangunan kokoh itu akan menjamin keselamatan dan keamanan kita di masa depan? Pada kenyataannya, bangunan pencakar langit pun akan runtuh juga karena bencana alam akibat kerusakan lingkungan. Jadikan hutan sebagai salah satu keluarga alam kita. Mulai bergerak, minimal untuk keselamatan diri sendiri, baru kemudian orang lain.

konsep pembangunan








SUSTAINABILITY atau hidup berkelanjutan sudah saatnya menjadi perhatian masyarakat luas, bahkan bagi para pendiri sektor-sektor yang berhadapan langsung dengan lingkungan hidup. Tidak jarang—setidaknya salah satu perubahan iklim dan pemanasan global terjadi karena faktor industrial. Sehingga menciptakan produk dan limbah di saat yang bersamaan. Tentu ekosistem tersebut menjadi tugas besar bagi para pengembang proyek untuk tidak berkontribusi terhadap penghambatan hidup berkelanjutan.

Dilema, masyarakat juga bergantung pada suatu produk akan kebutuhan sehari-hari. Kita harus memikirkan, bagaimana bisa memberikan dampak positif bagi pelaku pengembang dan juga masyarakat secara bersamaan. Dengan visi misi saling menjaga agar lingkungan tetap lestari. Sebab, keberadaan lingkungan merupakan alat vital bagi kehidupan manusia. Meskipun, saat ini tidak jarang perusahaan yang masih saja menggunduli lahan hutan, menebang pohon, membangun proyek di area mangrove beraktivitas. Alhasil, bencana akibat ekologis pun terjadi—banjir, longsor, kemarau, polusi, bahkan cuaca ekstrem. Semua itu salah satunya disebabkan oleh pembangunan yang bersinggungan dengan kelestarian lingkungan.

Di sisi lain, mengingat masyarakat juga bergantung pada perusahaan untuk mengonsumsi produk guna menunjang kehidupan sehari-hari. Ketika pembangunan menjadi salah satu dasar ancaman isu lingkungan, sehingga perusahaan industrial perlu melawan kenyataan tersebut dan mengubah sistem standarisasi proses dan konsep pembangunan dengan tujuan menekan isu lingkungan tersebut. Melakukan minimalisir dampak buruk produksi terhadap lingkungan, menggunakan alat ramah lingkungan, dan mengolah limbah sebaik mungkin, serta memberi jarak jauh dengan lingkungan masyarakat dari daerah pabrik agar terhindar dari polusi. Artinya pelaku pengembang.dan masyarakat luas pun perlu bahu-membahu dalam produksi dan konsumsi suatu produk. Benar-benar harus memperhatikan dampak dan efek terhadap lingkungan, sehingga saling berkorelasi positif untuk keselamatan bersama di masa depan. 

Implementasi Standar ESG (Environmental, Social, and Governance) Upaya Menekan Isu Lingkungan 

Implementasi Standar ESG

Isu lingkungan telah menjadi momok yang kian mengancam kehidupan manusia. Masa depan dihantui dengan kekeringan dan suhu panas meningkat. Kerugian bukan hanya melibatkan kelangsungan hidup manusia, melainkan juga para faktor ekonomi sosial maupun bisnis. Ancaman tidak hanya datang di Indonesia, seluruh dunia memiliki kecemasan akan masa depan lingkungan. Berangkat dari isu lingkungan dan sosial, sebuah standar mulai digunakan oleh para perusahaan untuk menjaga keseimbangan alam—hal ini pula menjadi salah satu kriteria investor untuk berinvestasi pada perusahaan ESG (Environmental, Social, and Governance) adalah standarisasi yang sudah harus diterapkan oleh perusahaan untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan konsep-konsep menekan ancaman lingkungan di masa depan. Selain itu, ESG juga menunjukkan citra baik bagi para investor di pasar modal dan menjadikan korelasi yang positif.

Beriringan itu, konsep pembangunan berkelanjutan ramah lingkungan pun mulai diterapkan oleh perusahaan. Konsep Livable City menginterpretasikan suatu wilaya kota layak huni, memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat dalam berbagai aspek. Mulai dari hunian layak, fasilitas umum, keamanan dan kenyamanan, serta sanitasi. Tentunya, konsep tersebut harus merujuk pada tujuan isu lingkungan itu sendiri. Salah satu perusahaan yang sudah menerapkan standar ESG dan mengimplementasikan konsep Livable City adalah perusahaan pengembang terbesar Sinar Mas Land.

Kesadaran bahwa operasional memiliki dampak terhadap lingkungan, komunitas, dan pemangku kepentingan perusahaan termasuk penyewa, pelanggan, dan penduduk yang tinggal dan bekerja di dalam atau di sekitar pengembangan. Sinar Mas Land berkomitmen untuk berperan memperjuangkan isu-isu lingkungan. Tentu sebagai pengembangan properti terkemuka, dapat menjadi contoh bagi organisasi lain. Pengembang properti ini berkomitmen untuk menerapkan keberlanjutan untuk kemudian menjadi pemimpin dalam industri real estate di Asia Tenggara. Konsep dan komitmen keberlanjutan tersebut diinterpretasikan dalam Visi Keberlanjutan Sinar Mas Land. 

4 Pilar Visi Keberlanjutan Sinar Mas Land dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

  • Real Estat Terbaik di Kelasnya
  • Perubahan Iklim & Lingkungan
  • Komunitas Berkelanjutan
  • Perlindungan Pendidikan 

Interpretasikan Konsep Livable City, Kepedulian akan Kualitas Hidup Manusia

Konsep Livable City

Didasari oleh kepedulian terhadap kualitas hidup manusia, Sinar Mas Land kembangkan konsep Livable City untuk menunjang konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep Livable City tersebut dibagi menjadi empat pilar.

  • Live, menyediakan sarana dan juga prasarana guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. (Hunian, pusat perbelanjaan, akses jalan, keamanan, dan ruang publik), 
  • Learn, menyediakan sarana dan juga prasarana untuk kebutuhan pendidikan masyarakat. (Sekolah formal, sekolah vokasional, sekolah dasar hingga atas, serta universitas nasional dan internasional),
  • Work, menyediakan sarana dan prasarana untuk kebutuhan profesional dan lapangan kerja. (Pusat perkantoran, green office, kota industri, serta area komersial)
  • Play, menyediakan sarana dan prasarana untuk kebutuhan emosional dan rekreasi masyarakat. (Pusat olahraga, taman rekreasi, exhibition halls, hingga pusat kuliner)

Pada operasional, Sinar Mas Land bertanggung jawab terhadap proses produksi dan meminimalisir jejak lingkungan. Menyadari perubahan iklim diakibatkan adanya emisi gas rumah kaca (emisi GRK) penyebab dari kegiatan operasional perusahaan. Berangkat dari kesadaran itu, Sinar Mas Land berkomitmen terhadap konservasi hutan, di mana tidak melakukan pembangunan di lahan gambur dan yang paling penting prinsip kebijakan nihil toleransi menggunakan metode bakar. Komitmen tersebut menjadi wujud kontribusi besar terhadap lingkungan untuk mengurangi emisi GRK. Beriringan dengan itu, Sinar Mas Land pun memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam penelitian dan pengembangan langkah inovatif untuk merespons tantangan perubahan iklim. Penerapan itu pun berkesinambungan dengan konsep pembangunan Livable City. Sebagai perusahaan pengembangam properti terbesar dan berhasil menorehkan berbagai awarding sebagai bukti nyata kualitas. Sinar Mas Land mampu merealisasikan konsep Livable City yang jelas.

Sinar Mas Land kembangkan konsep Livable City, bukti nyata terealisasikan dalam proyek pengembangan township seperti BSD City, Grand Wisata, Kota Wisata, Kota Deltamas dan Grand City Balikpapan. Tentu dengan fasilitas yang mempermudah aktivitas dan kualitas berkelanjutan. Sehingga keseimbangan antara aktivitas manusia dan alam saling interaktif untuk menjaga isu lingkungan tetap lestari.

—

Referensi:

https://www.smart-tbk.com/berkelanjutan/produksi-yang-bertanggung-jawab/

https://www.smart-tbk.com/berkelanjutan/perubahan-iklim/

https://www.sinarmasland.com/sustainability

https://lindungihutan.com/blog/environmental-social-and-governance-esg/?amp=1

https://cakrawalaide.com/dampak-pembangunan-terhadap-lingkungan#:~:text=Dewasa%20ini%2C%20banyak%20sekali%20kasus,nyaris%20punah%20karena%20daerahnya%20dirusak.

http://kelompokduateoriperencanaan15.blogspot.com/2015/12/teori-livable-city_29.html?m=1



dokumentasi pribadi
TERIK SIANG tidak memudarkan semangat para anak muda milik Kampung Sawo—salah satu kampung di Bandar Lampung—untuk memeriahkan kemerdekaan Indonesia yang ke-78. Segelintir memilih melindungi diri di balik dinding rumah, tetapi anak-anak itu berbondong-bondong untuk kemudian berkumpul di tengah kampung.

Meski paparan matahari begitu menyengat hingga menciptakan bulir keringat di sekujur tubuh. Namun, apalah arti sentuhan terik itu tatkala anak-anak saling berteriak riang, memanggil satu sama lain, bersiap bertarung untuk menjadi pemenang. 

Kampung Sawo, meski memiliki banyak sekali penduduk, tetapi tidak luput dari kehangatan yang begitu akrab. Baik para ibu dan para bapak mau memberi ruang untuk para anak muda berekspresi. Di samping itu, para anak muda mampu memanfaatkan ruang dan kepercayaan dengan baik.

Sehingga, adanya simbiosis mutualisme tersebut pun mampu menciptakan berbagai acara sering kali diadakan dan membuat meriah Kampung Sawo setiap tahunnya. Salah satu acara penting yang menjadi konsistensi tanpa henti adalah tatkala Indonesia tengah memperingati perayaan kemerdekaan.

Hari Merdeka Indonesia menjadi Momen Anak Muda Menghargai Jasa Pahlawan

dokumentasi pribadi
Setiap tahunnya Kampung Sawo akan memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Anak-anak muda yang selalu mengalami regenerasi pun memperkuat bahwa Kampung Sawo tidak akan pernah runtuh karena tidak pernah lupa untuk menghargai makna kemerdekaan. 

Bagi Arif Setiawan selaku ketua panitia perayaan acara tujuh belasan di Kampung Sawo banwa makna kemerdekaan adalah bagaimana anak-anak di kampung bisa menjadi lebih percaya diri lagi dengan mengikuti lomba karena anak merupakan bibit unggul dan akan melanjutkan generasi emas. 

Arif pun mengatakan, kemerdekaan juga punya makna dalam bagi anak remaja dan dewasa. Meski memiliki kesibukan masing-masing, baik sekolah, kuliah, maupun kerja, tidak bisa dielak bahwa kemerdekaan menjadi titik kumpul untuk tetap kompak dan menjaga silaturahmi. 

Bagi Ratna sendiri, selaku salah satu panitia penyelenggara yang setiap tahunnya selalu aktif berpartisipasi pada acara tujuh belas di Kampung Sawo juga mengatakan, "Alasan saya tetap masih ingin berpartisipasi menjadi panitia tujuh belasan di tiap tahunnya karena rasa nasionalisme terhadap Indonesia, serta berkesempatan untuk berkontribusi pada perayaan penting Indonesia, dan mempererat hubungan sosial dengan warga sekitar."

Tentunya Ratna mewakili anak muda Kampung Sawo yang memiliki rasa nasionalisme. Perempuan itu pun juga memaparkan bahwa betapa kemerdekaan memiliki makna keadaan bebas dari penindasan atau kendali eksternal, sementara Kampung Sawo adalah tempat di mana dia dilahirkan, tumbuh, dan berkembang yang mana sangat memiliki banyak kenangan yang tidak bisa dia lupakan.

Para anak muda itu telah hidup dan menciptakan cerita bersama sejak kecil di Kampung Sawo. Maka tidak heran betapa mereka menghargai tempat tinggalnya yang sederhana karena Kampung Sawo menyimpan berjuta cerita pertumbuhan mereka. 

Begitu pula dengan Indonesia. Sampai saat ini penghuninya begitu mencintainya. Bukan hanya cerita para penghuni masa kini, melainkan cerita perjuangan pada masa penjajahan. Para pahlawan yang berhasil dan berjasa mempertahankan tanah air dengan segudang harta karun. Lantas, bagaimana bangsa ini tidak begitu bersemangat setiap 17 Agustus singgah?

Khususnya Kampung Sawo yang menghiasi bulan kemerdekaan dengan acara-acara hiburan. Namun, hiburan bukan sekadar hiburan. Acara seperti perlombaan yang diadakan pun memiliki tujuan dan harapan bagi para peserta—terutama anak-anak. Betapa untuk mendapatkan hadiah, mereka harus bertarung dalam lomba. Artinya, sebuah keinginan atau tujuan dapat dicapai dengan sebuah perjuangan.

Arif berkata, "Impact-nya bagi anak-anak itu lebih ke menghargai kalau kemerdekaan itu, 'kan, susah juga. Istilahnya kalau mereka kalau mau dapat hadiah, 'kan, harus berjuang gitu. Ya, begitu pula yang dirasakan sama pahlawan kita."

Dengan persiapan penuh beberapa bulan sebelum acara dimulai. Para panitia—anak muda Kampung Sawo—pun siap memulai perlombaan. Perlombaan tersebut meliputi sebelas cabang perlombaan; mewarnai; balap karung; memasukkan pensil ke dalam botol; kelereng; makan kerupuk; makan pisang; estafet karet; estafet tepung; mencantolkan besek; mobile legend; dan sepak bola.

Pada tahun ini, dengan kepekaan tajam para panitia memutuskan untuk menambahkan cabang perlombaan baru, yakni mobile legend dan mencantolkan besek. Tentunya ini menjadi angin segar karena perlombaan mobile legend sendiri telah diikuti oleh delapan tim dengan orang dewasa. 

Terdapat perlombaan dengan segmentasi khusus seperti mobile legend yang hanya bisa diikuti oleh orang-orang dewasa. Kemudian, menariknya para ibu dapat mengikuti lomba secara khusus yaitu estafet tepung pada saat jalan sehat. Sementara, lomba mewarnai pun diikuti oleh anak-anak. 

Acara tujuh belasan dimulai sekitar pukul 9 pagi kehijauan anak-anak sudah mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih di sekolahnya masing-masing. Panitia telah siap beraksi dengan seragam senada dan anak-anak mulai berbaris melakukan pendaftaran lomba secara gratis untuk bertarung. 

dokumentasi pribadi
Meski hari Kamis kali ini begitu terik, tetapi itu bukan masalah selama tidak ada polusi yang menyelimuti atap langit sehingga awan-awan pun ikut bersorak tatkala anak-anak bersaing satu sama lain. Para panitia pun kompak dengan tugasnya masing-masing. Selain aksi para peserta, panitia yang bertugas menjadi host atau MC pun membuat suasana makin heboh dan ceria. 

Para warga berkumpul di bawah tenda yang telah disediakan. Saling berseru memberi semangat kepada para peserta, tidak jarang gelak tawa terpecah karena aksi lucu para bocah yang mengikuti lomba ataupun celetukan kocak dari host yang memandu acara. 

Pemandangan klise, tetapi menyenangkan dan memiliki makna dalam adalah anak-anak itu di lapangan memang berlomba dan bersaing, tetapi ketika perlombaan selesai atau berganti cabang, anak-anak itu bersatu kembali dan saling merangkul. Berbagi cerita terkait perasaan mereka mengikuti lomba. 

Secara tidak langsung, kemerdekaan juga mengajarkan anak-anak untuk bersikap dewasa. Mampu memahami situasi dan menempatkan posisi. Dapat membedakan kapan harus menjadi lawan yang sehat dan kawan yang bersahabat.

Momen kemerdekaan di Kampung Sawo pun menjadi momentum paling tepat untuk untuk para warga saling berkumpul dalam suasana riang gembira sehingga kekeluargaan makin terjalin erat. Tidak luput para pedagang yang terbantu karena mampu memanfaatkan keramaian sebagai peluang bisnis. 

Totalitas Tanpa Batas, Anak Muda Berekspresi, Orang Tua Mendukung

dokumentasi pribadi
Namun, yang membedakan semarak tujuh belasan ala Kampung Sawo berbeda dengan yang lainnya adalah jalan sehat dan malam puncak. Jalan sehat ini diikuti oleh seluruh warga Kampung Sawo yng yang akan diadakan pada 20 Agustus 2023 mendatang di pagi hari. 

Sementara, malam puncak sendiri menjadi akhir sekaligus penutupan acara tujuh belasan ala Kampung Sawo. Dalam acara malam puncak tersebut biasanya akan menghadirkan berbagai hiburan seperti menyanyi, fashion show oleh anak-anak, dan juga pengumuman pemenang lomba sebelum-sebelumnya. Malam puncak sendiri akan digelar pada tanggal 26 Agustus 2023 di lapangan voli. 

Keaktifan para anak muda dalam memeriahkan acara tujuh belasan pun memancing warga untuk mendukung penuh. Setiap tahunnya, para warga akan memberikan iuran atau anggaran untuk keberlangsungan acara. Dimulai dari hadiah, perlengkapan lomba, hingga malam puncak. Terdapat pula donatur yang membantu tujuh belasan makin berkesan. Uniknya, pada jalan sehat nanti, para ibu akan menyiapkan snack untuk para peserta jalan sehat.

Dukungan itu pun menjadi salah satu bentuk respons positif terhadap anak-anak muda Kampung Sawo karena dapat dipercaya. Setiap tahunnya selalu berhasil menyelenggarakan tujuh belasan yang berkesan dan penuh cerita. 

Dengan adanya respons baik dari warga, sambutan gembira dari anak-anak, dan kerja sama antarpanitia, Arif mengungkapkan harapan terkait acara tujuh belasan di Kampung Sawo, "Harapannya sih, meskipun acara kali ini mungkin ada kekurangan, ya, tahun depan bisa lebih baik lagi dan lebih kompak. Seenggaknya konsisten dengan apa yang sudah kita laksanain."

Postingan Lebih Baru Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Halo, Kak Miah!
  • Cara Memiliki Sikap Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Mengenal Sosok ENFJ-T [1/2]: Seperti Protagonis di Film-Film
  • Kebutuhan Bahasa Cinta: What's Your Love Language?
  • Manajemen Ekspektasi yang Kita Lupakan
  • Pura-Pura

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 6
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

CONTACT FORM

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template