Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
PERCAYA DIRI sudah semestinya ada dalam diri setiap orang. Sebab, dengan kepercayaan diri akan membantu kita dalam karier, kehidupan, lingkungan sosial, dll. Namun, kalau terlalu percaya diri apa akan lebih baik, ya?

Rasa percaya diri terjadi karena adanya keyakinan seseorang terhadap potensi dan kemampuan yang dimiliki. Dengan begitu, seseorang tersebut akan dengan mudah mengembangkan kelebihannya menjadi sesuatu yang baik.

Ini Dia Bahaya Akibat Terlalu Percaya Diri!

Terlalu percaya diri
Percaya diri merupakan nilai hidup yang tidak boleh dihindari oleh siapa pun. Akan tetapi, akibat terlalu percaya diri akan membuat hidup jadi tidak bernilai.

Percaya diri memang penting, tetapi akan menjadi marabahaya kalau-kalau rasa tersebut jadi berlebihan. Dampak yang terjadi, selain merugikan dirinya sendiri juga akan merugikan orang lain.

Orang-orang dengan over confidence biasanya disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan sekitar, budaya, pola asuh, atau bahkan trauma masa lalu. Dikhawatirkan juga cenderung mengalami gangguan borderline personality disorder.

Tidak hanya itu saja, kamu harus tahu apa-apa saja akibat terlalu percaya diri agar dapat dihindari.

1. Tidak Menyadari Kesalahan

Manusia tentunya tidak luput dari kesalahan, tetapi bukan berarti kita mesti bermudah-mudahan dalam melakukan kesalahan, ya! Justru dengan kesalahan yang ada bisa jadi bahan pembelajaran.

Orang yang over confidence tidak akan menyadari kesalahannya sehingga dia tidak akan pernah bisa belajar. Sebab, dengan keyakinan tingginya itu, dia merasa sudah melalukan hal yang benar.

Padahal belajar dari kesalahan itu penting banget untuk kemajuan dan perkembangan terhadap kualitas diri, lho! Menyadari kesalahan juga amat penting karena setidaknya dapat memperbaiki kesalahan yang ada.

Kalau terlalu percaya diri, lantas bagaimana cara kita untuk sekadar sadar akan kesalahan?

2. Tergesa-Gesa dalam Mengambil Keputusan

Seseorang yang percaya diri tentunya berani mengambil keputusan. Namun, orang yang terlalu percaya diri berani mengambil keputusan tanpa dipikir masak-masak.

Orang dengan overconfidence cenderung tergesa-gesa dalam mengambil keputusan karena dia terlalu yakin bahwa yang diambil tidak salah. Sementara, dia tidak melakukan research mendetail dan mendalam.

Selain itu, kalau kita terlalu percaya diri juga akan mengesampingkan pengalaman dan pengetahuan yang dibutuhkan karena lebih mengedepankan intuisi.

3. Si Beban dalam Kerja Tim

Kerja kelompok atau tim pasti kita membutuhkan teman yang saling kooperatif dan memahami satu sama lain. Namun, sifat overconfidence akan menjadikan seseorang sosok yang arogan.

Biasanya mereka akan banyak bicara dan tidak peduli terhadap teman satu timnya. Alhasil, kerja tim jadi gangguan dan saling beradu argumen tanpa solusi. Artinya, akibat terlalu percaya diri satu ini amat tidak ramah untuk diajak kerja sama.

4. Menjadi Toxic Person

Akibat terlalu percaya diri juga dapat menjadikan seseorang menjadi toxic, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sebenarnya, overconfidence itu sendiri sudah menjadi toxic karena dia tidak menyadari kesalahannya itu.

Alhasil, akibatnya akan berimbas pula terhadap orang lain dan menjadi toxic enviroment bagi mereka. Bayangkan kalau ada makhluk yang merasa paling benar dan tidak sadar kesalahan meski buktinya nyata ada di kehidupan kita?

Orang dengan kepercayaan diri berlebih akan mudah mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahannya. Dia juga akan meremehkan atau merendahkan kemampuan orang lain lantaran tidak ingin tersaingi.

Dia juga tidak bisa sekali pun menghargai orang lain karena merasa hal atau sesuatu yang berjalan lancar adalah karena dirinya. Sehingga melupakan dan tidak menghargai usaha serta upaya orang lain yang juga punya andil dalam kesuksesan sesuatu tersebut.

5. Orang-Orang Sekitar yang Menjauh

Sifat overconfidence tersebut mengakibatkan seseorang menyebarkan racun dan hubungan tidak baik bagi lingkungan sekitar. Bagaimana tidak? Orang-orang di sekitarnya pasti makan hati dan terkena tekanan batin karena menghadapi orang seperti ini.

Satu per satu dari mereka akan menjauh, selain karena karakter yang terlalu overconfidence, tetapi juga karena demi menyelamatkan diri dari lingkungan atau orang yang toxic. Tidak ada yang salah untuk dijauhkan, bisa jadi hal ini meningkatkan kesadaran diri orang tersebut.

Namun, memang, ada baiknya bagi kita orang sekitarnya untuk sekadar mengingatkannya. Namaun, kalau dia masih pada perilaku yang sama, silakan untuk dijauhi tanpa membicarakan perkataan buruk tentangnya.

6. Melewati Kesempatan atau Peluang Emas

Memang, ada baiknya juga untuk memperhatikan Kesempatan atau peluang yang ada di depan mata karena akan menyangkut masa depan. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba karena kita tidak pernah tahu kesempatan mana yang bakal mewujudkan keinginan kita, ‘kan?

Beda halnya denga orang yang overconfidence karena terlalu percaya diri dan merasa si paling benar alhasil mudah meremehkan sesuatu. Sehingga dia akan meremehkan kesempatan-kesempatan yang ternyata itu membawa kebaikan bagi dia ke depannya.

7. Sulit untuk Berkembang

Seperti yang sudah kujelaskan bahwa orang yang berlebihan dalam percaya diri tidak akan menyadari kesalahannya sehingga sulit baginya untuk berkembang.

Merasa selalu benar dan tidak mau menerima kritik membangun dari orang lain pun membuatnya jauh dari perkembangan yang seharusnya dikejar.

Sejatinya sebagai manusia sudah sepatutnya mau mendengarkan nasihat, menerima kritik, dan memikirkan saran orang lain demi kemajuan dan kebaikan diri sendiri.

Akibat terlalu percaya diri
TIDAK PERCAYA DIRI memang akan membawa masalah bagi kehidupan kita. Begitu juga dengan akibat terlalu percaya diri yang juga memberi dampak buruk bagi kehidupan kita sendiri.

Segalanya harus sesuai porsi, tidak kurang tidak pula berlebihan. Semua itu kembali lagi dengan bagaimana cara kita menyeimbangkan keyakinan dan kenyataan yang akan dihadapi.

Keraguan itu pasti ada, tetapi hal tersebut juga mesti diseimbangkan dengan keyakinan yang sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang ada.

Dengan melibatkan orang lain dan juga perasaan orang lain merupakan bentuk rasa percaya diri yamg sesuai pada porsinya. Sehingga kita jadi mudah dalam berkembang karena mau belajar dan menerima apa yang menjadi nasihat, saran, bahkan kritik orang lain. 

Kalau-kalau kita merasa ragu, takut, gugup, bukankah itu hal yang wajar dan manusiawi? Maka dari itu, tidak ada salahnya bagi kita untuk bertanya pendapat orang lain.

Jadi, kita mesti pandai dalam meramu rasa percaya diri. Tidak percaya diri dan terlalu percaya diri sama-sama membawa dampak buruk bagi kita bahkan orang lain.

Dengan mengetahui akibat terlalu percaya diri, harapannya dapat membuat kita lebih mengenal diri apa kita termasuk orang yang overconfidence?

Jika tidak, tetaplah pertahankan keseimbangan. Jika iya, maka mulailah untuk perlahan-lahan menghindari satu per satu sifat overconfidence tersebut.

Dengan begitu, setidaknya kita telah terselamatkan dari akibat terlalu percaya diri. Nah, kalau kamu sendiri pernah tidak berurusan dengan orang yang overconfidence?

——

Referensi:

• https://www.alodokter.com/tak-selalu-baik-ini-bahaya-terlalu-percaya-diri

• https://www.sehatq.com/artikel/akibat-percaya-diri-yang-berlebihan-anda-justru-bisa-dirugikan
NONTON serial drakor sudah biasa, tetapi apakah pernah baca novel Korea? Korea juga punya karya novel yang enggak kalah bagusnya. Salah satu k-novel yang telah kubaca adalah Sam Di Gi: Bocah yang Tak Bisa Membaca.

Awalnya sedang mencari buku dari salah penulis asal Korea. Akan tetapi, ternyata enggak ada di iPusnas. Aplikasi perpusnas tersebut justru merekomendasikan novel penulis Korea lain Woo Yousoon. Judulnya eye catching. Ketika mau pinjam, ternyata antre. Makin penasaran karena bwnyak peminatnya.

Sampai akhirnya di hari Senin mencoba mengakses kembali novel tersebut. Syukur, tersisa satu salinan. Langsung pinjam dan berhasil! Ketika dibuka, jumlah halamannya sedikit. Dalam sekali duduk bisa selesai, tetapi aku baru selesai dua hari, hihi.

Reviu K-Novel Sam Di Gi: Bocah yang Tak Bisa Membaca, Novel atau Cerita Anak?

Reviu K-Novel Sam Di Gi
Menceritakan tentang seorang anak kelas 2 SD bernama Um Sam Deok atau dikenal Sam Di Gi. Dia enggak bisa membaca. Dia harus menghadapi hari-hari yang enggak menyenangkan saat sekolah karena diejek oleh teman-teman sekelasnya. Kekurangan Sam Di Gi adalah alasan di balik perundungan.

K-Novel yang ditulis oleh Won Yousoon ini memiliki tebal halaman sebanyak 94 halaman. Novel berbahasa Korea ini kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Enggak hanya bisa dibeli secara fisik, kita juga bisa membaca secara gratis di iPusnas—meski harus antre.

Setelah membaca novel ini sampai habis, aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Sebetulnya ini novel atau cerita anak? Sebab, kalau ditotal pun perkiraan jumlah kata enggak sampai 10.000. Ukuran fon yang digunakan juga lumayan besar. Per lembar pun hanya diisi satu sampai tiga paragraf, empat paling banyak.

Mengangkat Isu yang Cukup Serius

K-novel sam di gi
Terlepas dari kebingungan, ini novel atau cernak. Sam Di Gi: Bocah yang Tak Bisa Membaca punya pesan yang serius. Secara keseluruhan, sebetulnya ringan dan sederhana untuk dibaca. Akan tetapi, isu yang diangkat enggak sesederhana itu.

Enggak bisa dipungkiri bahwa sekolah yang harusnya jadi tempat anak belajar sopan santun dan menghargai sesama. Justru, jadi sarang perundungan dan merendahkan orang lain. Bukan hanya di Indonesia, melainkan di hampir seluruh dunia, salah satunya Korea.

Sam Di Gi anak yang tinggal bersama sang nenek berusia 70 tahun. Ayahnya sudah meninggal, sementara ibunya pergi entah ke mana. Neneknya pun tidak bisa membaca, hal ini membuat Sam Di Gi enggak punya figur yang dapat membantunya untuk belajar membaca. 

Sam Di Gi juga harus menghadapi masalahnya di sekolah. Teman-teman yang mengejek dengan sebutan Si Buta Huruf. Guru yang selalu menyalahkan kesalahannya tanpa memberikan apresiasi. Sam Di Gi dijauhi dan enggak didukung penuh oleh sang guru.

Ironi, ya? Sekolah yang harusnya mendidik, kenapa jadi menghardik? Bukankah sekolah adalah tempat anak belajar dari yang enggak bisa menjadi bisa? Bukankah sekolah punya pelajaran moral dan sikap terpuji untuk para muridnya?

Secara harfiah dan tertulis memang seperti itu. Namun, pada realitas dan eksekusinya? Berbanding terbalik. Aku adalah salah satu orang yang pernah mengalami perundungan saat kelas 1 SD. Satu kelas menjauhi dan enggak ada yang mau menemaniku. Entah apa alasannya. 

Menyentil Stigma Masyarakat yang Beredar

Novel sam di gi
Kemudian, pada k-novel Sam Di Gi: Bocah yabg Tak Bisa Membaca juga menyadarkan tentang stigma yang masih beredar. Kita pasti pernah denger kalimat seperti ini, “Namanya juga anak-anak, enggak apa-apa, nanti juga berubah.”

Dalam beberapa anak mungkin pada akhirnya akan berubah. Namun, hal ini enggak bisa dijadikan acuan untuk membiarkan anak-anak berlaku seenaknya hingga merugikan orang lain. Justru, masa kanak-kanak adalah masa emas yang harus dimanfaatkan para orangtua untuk menanamkan sikap dan perilaku terpuji.

Salah satunya seperti Yeon Bo Ra, anak perempuan pindahan dari desa yang datang bagai malaikat untuk Sam Di Gi. Bo Ra adalah anak yang suka sekali membaca. Bo Ra menjadi satu-satunya anak yang menghargai dan mengapresiasi Sam Di Gi.

‘Yeon Bo Ra kamu adslah guru untuk Ibu. Dan kamu Um Sam Deok, nilai diktemu seratus!
—Ibu Guru, 90.

Yeon Bo Ra adalah satu contoh anak yang tetap bisa memiliki sikap dan perilaku terpuji. Bukankah hal ini bisa diterapkan kepada anak-anak lainnya tanpa hsrus menormalisasikan sikan kurang baik pada anak-anak?

Tanpa mengurangi rasa hormat padaa guru. Enggak ada salahnya guru memberi sedikit apresiasi untuk para murid yang telah melakukan progres sekecil apa pun itu. Bukankah sesuatu yang benar bisa dipelajari karena adanya kesalahan? Tiap guru memang punya cara sendiri dalam mengajar dan mendidik. Akan tetapi, setiap anak pun punya cara sendiri dalam menerima ajaran dan pendidikan.

Begitu pula dengan orangtua yang harus terbuka dan memperhatikan pergerakan sang anak. Sikap perundungan mungkin akan bisa berubah, tetapi dampaknya terhadap korban akan selalu membekas. Bisa jadi ketika seseorang telah mengubah sikap buruknya. Di sisi lain, ada korban yang sampai dewasa masih menyimpan masa lalu pahit dan memiliki kesehatan mental yang kurang baik.

Sam Di Gi: Bocah yang Tak Bisa Membaca memberi pesan kehidupan yang begitu dalam. Ceritanya dibalut dengan ringan, tetapi isunya masih sangat sulit untuk diatasi. Salah satu hal yang aku suka dari k-novel ini adalah sikap Sam Di Gi yang tetap tegas dan lumayan berani. Sam Di Gi enggak takut untuk membalas cacian teman sekelasnya. 

ITU DIA reviu buku k-novel Sam Di Gi: Bocah yang Tak Bisa Membaca. Mengajarkan aku untuk lebih peka dan menghargai keadaan—siapa pun—yang ada di sekitar. Aku sangat merekomendasikan novel atau cerita anak ini. Kalau udah dibaca, coba komentar di bawah, ya!

NOVEL Young Adult jadi salah satu pilihan paling pas kalau lagi enggak mood baca—tapi harus baca. Masih dalam kegiatan yang sama, Reading Challenge ODOP pada pekan keempat atau terakhir ditantang untuk membaca novel Romance. Pilihan jatuh pada Lit: Treat You Better karya Hana Nabilah. 

Sebetulnya, udah lama banget aku mengetahui adanya novel tersebut di iPusnas. Namun, karena novel itu selalu antre dan enggak pernah dapat, alhasil belum pernah dibaca. Sampai akhirnya di suatu Senin, aku mendapatkan novel Lit: Treat You Better juga! Pas banget, sesuai dengan tema tantangan RCO kali ini, Romance.

Reviu Novel Lit: Treat You Better karya Hana Nabilah, Ringan dan Menyenangkan

reviu lit: treat you better

Novel Lit: Treat You Better menceritakan tentang Andrea dan Angkasa yang dipertemukan saat ospek di Fakultas Hukum Universitas Nusantara. Andrea sebagai ketua komisi disiplin dan Angkasa sebagai mahasiswa baru yang mendapatkan beasiswa penuh.

Angkasa tidak sengaja melanggar aturan yang membuatnya harus berhadapan dengan Andrea, si ketua komisi disiplin. Ternyata pertemuan mereka enggak hanya sampai di situ. Takdir kembali' mempertemukan keduanya dalsm sebuah kepanitiaan. Tentunya berselang lama, rasa cinta hadir. Lantas, bagaimana kisahnya? Silakan, biss dibaca di iPusnas—dan harus mengantre, xixi.

Detail lengkap buku
Judul: Lit: Treat You Better 
Penulis: Hana Nabilah
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-04-6121-2

Novel ini menjadi salah satu buku antrean di iPusnas. Artinya, diminati banyak orang karena punya cerita yang bagus. Aku jadi penasaran dan mulai memasang ekspektasi. Setelah menyelesaikan bacaan Lit: Treat You Better, novelnya ringan dan cukup menyenangkan. Akan tetapi, aku pribadi enggak ada niatan untuk membaca berulang kali.

Bukan berarti novelnya enggak bagus, bagus, kok! Bahkan novel ini menjadi jawaban atas keresahan aku selama membaca Young Adult. Sebetulnya, ini masslah selera, tapi aku perlu mengungkapnya karena penting banget.

Pertama, dari segi dialog atau interaksi antartokoh. Biasanya saat membaca novel genre Young Adult, akan selalu ada beberapa dialog yang terlalu mainstream atau basa-basi. Aku adalah pembaca yang lebih suka dialog to the point dan berperan penting memajukan alur atau plot cerita. Dan, itu aku temukan di novel karya Hana Nabilah satu ini. Dialognya to the point, santai, tapi enggak cringe.

Kedua, dari segi latar. Biasanya novel YA berlatar di kampus karena peran-perannya adalah anak kuliah atau anak kampus. Ketika adegan sedang berlatar di kampus, aku sebagai pembaca hanya memahami, “O, iya. Ini layarnya lagi di kampus.” Hanya sebatas memahami, enggak merasakan. 

Berbeda ketika membaca novel Lit: Treat You Better. Latar utama dan adegan didominasi di area kampus. Showing kampusnya sangat kuat, sehingga aku dapat merasakan world building yang dibentuk pengarang. Enggak hanya itu, aktivitas Andrea yang aktif sebagai anggota BEM, aktif kegiatan kampus seperti ospek dan kepanitiaan, membuat vibes kamus jadi makin berasa. Aku yang enggak kuliah jadi punya gambaran. 

Dua hal itu enggak aku temukan di novel YA lain—sejauh membaca YA. Lantas, apa yang membuat aku enggak ada keinginan untuk membaca ulang novel ini? Padahal, di iPusnas mengantre. Nah, ini akan berkaitan dengan masalah atau halangan yang terjadi pada tokoh.

Di prolog, langsung disuguhkan dengan permasalahan Angkasa yang enggak bisa mendatangi pesta ulang tahun Andrea karena harus pulanh kampung. Nah, ini bikin aku tertarik untuk mengikuti kisahnya. Mulai membayangkan apa yang terjadi pada Angkasa dan Andrea? Masalah besar seperti apa yang harus mereka hadapi?

Pada dasarnya, Treat You Better punya konflik yang berat. Andrea adalah anak orang terpandang, ibunya artis papan atas, ayahnya seorang pengacara, kakeknya guru besar di FHUN. Sementara, Angkasa hanyalah anak biasa yang jenius dan mendapatkan beasiswa di FHUN. Angkasa datang dari Solok, menjadi perantau. 

Kita sama-sama tau bahwa masyarakat luas masih memberi perhatian besar soal status sosial. Namun, di novel ini, pengarang kurang menonjolkan sisi ‘menantang’ terkait bagaimana Andrea dan Angkasa menghadapi status sosial mereka. Hanya sekadar Angkasa merasa ‘enggak layak’, tapi enggak ditunjukkan kegusaran Angkasa tentang perasaan enggak layak tersebut.

Kemudian, Andrea diceritakan dipandang memanfaatkan nama kakeknya untuk masuk FHUN. Kegusaran Andrea dalam menghadapi situasi itu pun kurang terlalu ditonjolkan. Bahkan, situasi orang sekitar yang berasumsi buruk terhadap Andrea pun enggak ditonjolkan. Sehingga konfliknya terasa umum dan enggak bikin aku sebagai pembaca geregetan. 

Meskipun begitu, Lit: Treat You Better masih nyaman untuk dibaca. Apa lagi, jadi angin segar buat aku karena dialog yang to the point dan santai. Suasana kampus yang seru banget untuk dibaca. Salah satu bangunan yang aku suka itu minimarket dekat kampus. 

Pesan kehidupan

Selain itu, novel Lit: Treat You Better juga menyoroti kisah keluarga Andrea. Orangtua Andrea yang sibuk, membuat anak  satu-satunya itu merasa butuh perhatian. Menunjukkan dampak orangtua yang jarang hadir untuk mengasuh tumbuh kembang anak.

Terlepas dari itu, satu hal aku pelajari bahwa enggak ada salahnya kita untuk mengubah sudut pandang atau melihat perspektif lain dari suatu masalah. Kadang, masslah yang garisnya bisa selesai jadi terasa kompleks karena kepala kita terlalu mendramatisir. Iya, memang bisa jadi kita adalah orang yang dirugikan dalam masalah itu. Namun, apakah kita pernah memikirkan masalah itu?

Betapa enggak ada salahnya kita untuk mencari tau apa duduk masalahnya? Apakah kita udah menurunkan ego? Apakah kita udah memahami? Kadang, kita terlalu menyalahkan keadaan atau orang lain atas apa yang terjadi dengan diri kita. Padahal, kita hanya butuh berdamai dengan keadaaj dan orang lain untuk bisa menyelesaikan masalah.

Komunikasi orang memang berbeda. Namun, komunikasi adalah kunci dalam menghadapi masalah. Masalah sering kali terjadi karena kesalahpahaman dan enggannya kita dalam menemukan akar masalah. Ditambah kalau kita merasa paling dirugikan dan punya ego tinggi. Jelas, masalah akan terasa kompleks.

Hal Paling Relevan dari Novel Lit: Treat You Better dengan Diri Sendiri 

Momen relevan
Dari awal membaca sebetulnya aku udah hopeless banget akan menemukan hal relevan dengan aku di novel Lit: Treat You Better. Sebab, dari segi gaya hidup dan alur cerita sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku alami. Namun, makin dibaca, akhirnya aku menemukan dua hal yang sangat relevan. Dan itu dilihat dari karakter dan sikap Andrea.

Andrea adalah gadis yang aktif berorganisasi. Dia menjadi bagian dari BEM, bahkan menjadi ketua komisi disiplin. Saat ada acara sharing alumni pu, Andrea berpartisipasi jadi ketua dekorasi. Menunjukkan bahwa Andrea memanfaatkan waktu kuliahnya dengan baik.

Karakter Andrea tersebut sangat relevan dengan aku. Aku adalah orang yang suka banget ikut komunitas dan juga volunter. Saat ini aku aktif di dua komunitas dan aktif sebagai pengurus dan volunteer. Jadi, selama membaca novel ini aku merasakan betapa antusiasnya Andrea dalam mengikuti kegiatan kampus.

Satu lagi, sikap Andrea yang enggak malu untuk mengungkapkan perasaannya. Ada adegan ketika Andrea dan Angkasa setelah menonton konser di kampusnya. Keduanya ada di parkiran, Andrea menyatakan rasa suka dan meminta Angkasa menjadi kekasihnya.

Iya, sikap Andrea satu ini sangat relevan dengan aku. Sejak pertama kali jatuh cinta, aku enggak akan pernah bisa menyembunyikan perasaanku. Gestur dan sikap aku akan terlihat sekali. Terakhir kali aku menyatakan rasa suka aku sama Mas Crush sekitar tahun 2022, bulan Agustus. Momen ini enggak akan pernah aku lupakan.

Kenapa? Ya, karena aku enggak mau keputusan aku untuk suka sama orang jadi sia-sia karena orang itu enggak tau. At least, orang itu tau aku suka sama dia, meskipun perasaan aku pupus. Memang akan patah hati dan enggak enak rasanya, tapi aku akan jauh lebih tersiksa memendam perasaan terus-menerus.

NAH, itu dia reviu novel Lit: Treat You Better. Cocok dibaca di waktu luang atau weekend karena memang ringan. Walaupun kisah cinta suka enggak semula kisah di novel, tapi yang dapat hiburannya!


Novel represi
JADI, udah tiga pekan ini aku mengikuti Reading Challenge ODOP. Tantangan pekan ini adalah membaca buku/novel tentang kesehatan. Aku memilih kesehatan mental—topik sejuta umat. Di sini aku mau reviu novel Represi karya Fakhrisina Amalia. 

Sejak punya blog dan menentukan niche—pengembangan diri—aku suka menelisik kehidupan. Salah satunya dengan membaca seputar ajaibnya kehidupan. Dan, aku belajar tentang kehidupan—lagi—di novel yang menyimpan luka Anna, tokoh utama Represi.

Reviu Novel Represi karya Fakhrisina Amalia: Premis Sederhana, tetapi Bebannya Berat

Menceritakan tentang seorang gadis bernama Anna. Di usianya yang ke-21 sebuah peristiwa memicu gadis itu untuk memutuskan bunuh diri. Untung, sang ibu dengan cepat menemukan dan membawa Anna ke rumah sakit. Anna berhasil diselamatkan. Namun, ada mental yang harus diselamatkan. Sepanjang novel ini memaparkan proses Anna melalui terapi konseling oleh psikolog bernama Nabila.

Detail Lengkap Buku
Judul: Represi
Pengarang: Fakhrisina Amalia
Penerbit; Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 264
ISBN: 9786020611945

Mengulas Represi, Novel yang Harus Dibaca Berbagai Kalangan

Reviu novel represi
Meskipun dari segmentasi novel ini ditujukan untuk anak-anak muda. Namun, aku merasa Represi akan tepat di semua segmentasi. Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil. Dari remaja hingga dewasa. Tentang bagaimana kita sebagai anak muda dapat mengendalikan pikiran dan emosi kita. Dan, bagaimana sebagai orangtua bisa mendidik anak dengan baik dan benar. 

Pada bab-bab awal langsung disuguhkan peristiwa Anna setelah melakukan percobaan bunuh diri. Mulai dari situ muncul tanda tanya besar. Sebenarnya apa yang membuat Anna mengambil tindakan berbahaya tadi? Sempat membatin dan menyepelekan, “Ah, masa cuma masalah beginian doang kena mental?”—kalau Ouji dengar ini, auto ditonjok kali, ya?

Sebetulnya aku menduga-duga dan ternyata benar dugaanku terkait pemicu Anna mengambil tindakan berbahaya. Namun, aku terkejut lagi ketika ada rahasia besar Anna yang disimpan. Kalau aku jadi Anna, aku enggak sanggup. Sikap Anna yang menyembunyikan semua rahasia rapat-rapat pada akhirnya menjadi bumerang di kemudian hari.

Uniknya, Fakhrisina Amalia sebagai pengarang enggak menggambarkan konflik orangtua yang dibilang broken home. Enggak. Ibunya Anna adalah orangtua yang lembut. Ayahnya Anna tipikal orangtua pekerja keras. Namun, ada sikap lain orangtua Anna yang tanpa sadar membentuk karakter dan pengambilan tindakan Anna.

Hal itu menunjukkan bahwa sesuatu yang baik-baik aja bisa jadi enggak baik-baik aja bagi orang lain. Apa lagi kasusnya udah jadi hal normal dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti ungkapan ‘jangan menangis!”. Siapa saat kecil kalau menangis suka disuruh cepat-cepat diam?—aku!

Artinya ada hal-hal kecil yang kalau lengah untuk diperhatikan ternyata bisa jadi dampak buruk bagi orang lain. .Memang udah jadi hal normal, tetapi hal yang normal enggak selamanya baik, ‘kan? Apa lagi kemampuan mental orang beda-beda. Melanjutkan dari sikap aku menyepelekan Anna. Aku belajar untuk menghargai orang lain dalam bentuk memahami mental orang lain.

Di sini Anna beruntun karena punya sahabat yang selalu ada. Klise, tetapi sahabat yang selalu ada dan pengertian berpengaruh terhadap penyembuhan luka Anna. Para sahabatnya Anna—Hani, Nika, Saka, dan Ouji—adalah anak muda yang dewasa.

Aku suka cara pengarang memaparkan plot demi plot. Jadi, plot di sini berjalan saat Anna sedang melakukan terapi konseling dengan psikolog bernama Nabila. Nabil membantu Anna dengan menelisik masa lalu Anna. Baru kemudian akan diceritakan masa lalunya. Bisa dibilang Represi punya alur maju dan mundur.

Bikin alur campuran menurut aku lumayan tricky. Takut-takut ada plot hole. Namun, pengarang di sini sangat jeli dan detail sehingga aku yang membaca pun ikut mengalir dan masuk ke dalam cerita Anna. Ditambah ternyata sang pengarang Fakhrisina Amalia juga adalah seorang psikolog. Jadi, selama membaca novel ini aku merasa ikut konseling karena ada beberapa emosi Anna yang relate sama aku.

Nah, aku mau membahas satu tokoh bernama Sky. Sky berhasil bikin aku kesal dan misuh-misuh. Aku yakin di dunia ini ada manusia macam Sky. Dan, ada juga manusia macam Anna yang begitu takut kehilangan kekasihnya. Sky ini cowok, tetapi mulutnya lemes kayak cewek.

Pada akhirnya, aku pun enggak bisa menyalahkan Sky, meskipun memang apa yang Sky lakukan itu salah, fatal. Lagi-lagi aku memahami dan belajar kalau sikap/karakter seseorang bisa terbentuk karena pola asuh dan/atau apa yang telah dia lalui di masa lalu. Dan, ini benar adanya.

Penjelasan yang ada di novel ini pun seakan mengamini pernyataan aku tentang sebuah kesalahan. Setiap orang melakukan kesalahan. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan kedua ini bukan berarti harus mengulang kisah yang sama. Memaafkan juga jadi salah satu bentuk kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Bahwa kita enggak bisa asal menghakimi orang yang salah. Enggak masalah kalau menyalahkan, tetapi kita harus memahami bahwa akan selalu ada alasan di balik kesalahan seseorang. Akan tetapi, memang ada beberapa kesalahan fatal yang enggak bisa ditolerir, ya, jadi jangan pukul rata.

Dampak Baik Represi terhadap Diri Sendiri

Meningkatkan kesadaran
Sejauh ini aku belum pernah menemukan buku/novel yang berdampak langsung ke diri aku sendiri. Setelah membaca sampai selesai aku baru menyadari sebuah proses yang aku lalui selama ini. Di novel Represi media terapi menggunakan media menggambar karena Anna suka menggambar. Nah, aku baru tau soal itu karena yang aku tau hanya terapi menulis.

Proses aku mulai dari nulis quote di Instagram sampai nulis di blog. Apa yang aku tulis enggak lepas dari bagaimana aku memandang kehidupan. Memang, ada beberapa tulisan berdasarkan pengalaman orang lain. Namun, tulisan-tulisan aku selama ini adalah proses aku menerima dan memvalidasi kepahitan dalan hidup.

Dalam novel ini Nabila sering mengatakan bahwa kita perlu menerima ketakutan kita untuk bisa selesai dengan masalah. Luka akan terus terasa sakit kalau kita belum memaafkan diri kita sendiri dan belum menerima apa-apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita.

Kerennya, pada tampilan feed Instagram aku selalu mengubah warna template desain. Waktu itu enggak ada ketentuan atau acuan ganti warna. Alasannya hanya karena pengin aja dan suka warna monokrom. Kalau dilihat dari Instagram aku. Awal-awal aku menggunakan warna abu, hitam, abu lagi, hitam lagi, lucunya ada warna pink terang—ini saat udah menulis blog. Dan sekarang lagi berkutat di warna cokelat.

Aku memahami perubahan warna itu sebagai bentuk emosi yang masa itu sedang aku lalui. Mulai menulis sejak 2019, tanpa sadar sedang membasuh luka. Makin ke sini warnanya lebih cerah dan kalem. Sekarang aku udah berdamai dengan masa lalu aku sendiri. Semua rasa pahit dan ketakutan, semuanya telah berubah menjadi sebuah pembelajaran hidup paling berharga. 

Rasa khawatir terhadap diri sendiri. Ketidakpercayaan diri. Rasa enggak pantas dsn enggak layak. Merasa diri enggak berguna dan enggak bisa diandalkan. Ketakutan terhadap masa depan suram. Keping-keping kisah enggak bisa aku lupakan karena telah membekas jadi luka.

Lukanya kini membuat aku lebih bersyukur karena bisa belajar dari masalah yang pernah terjadi. Lukanya udah enggak sakit lagi karena aku udah belajar menerima. Lukanya telah menjadi makna karena aku berdamai dengan masa lalu.

Dan semua itu bisa aku dapatkah karena menulis. Menulis membantu aku menemukan kesadaran tentang ajaibnya hidup. Hidup itu misteri, kadang membahagiakan, kadang menakutkan. Kita enggak pernah tau kapan kehidupan akan memberinya. Kita hanya perlu menjalani dan menghadapi.

Menulis punya peran penting dalam perjalan hidup aku. Terutama dalam proses meningkatkan kepercayaan diri.  Bahwa aku pantas menjadi seorang penulis. Dengan menulis aku punya harga diri dan value diri. 

ITU DIA reviu novel Represi karya Fakhrisina Amalia yang bisa kamu baca di iPusnas atau membeli bukunya. Jujur, aku jadi penasaran sama kisah Sky. Terkait apa yang membentuk karakter Sky bisa jadi orang nyebelin begitu. Semoga pengarangnya berminat bikin novel khusus Sky!.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Cara Memiliki Sikap Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
  • Mengenal Sosok ENFJ-T [1/2]: Seperti Protagonis di Film-Film
  • Kebutuhan Bahasa Cinta: What's Your Love Language?
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!
  • Halo, Kak Miah!
  • Manajemen Ekspektasi yang Kita Lupakan

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 7
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template